
Bab 32.
Wewe datang dan Sangga naik ke atas punggung Wewet. Leon menjaga Sangga disampingnya.
"Hahahahaha, hanya itu ilmu dan keahlian dari khodammu?? Hahahaha."
"Aku tak tau apa maksud kedatanganmu! Kau sudah melukaiku, biadab!!" Sangga marah karena makhluk itu berdiri kokoh.
"Hahahaha, sambutlah kematianmu anak bau kencur!!" Tiba-tiba udara seakan ditekan, telinga Sangga berdengung keras. Dia menutup kedua telinganya. Dari hidungnya keluar darah.
"AARRGGGHHH....!"
AAUMMMM
DUAAARR
Leon menyerang ke arah makhluk itu. Dia melesat seperti panah dan makhluk yang tak siap tadi sempat melihat tapi tak bisa menghindar, sehingga dia terlempar sejauh sepuluh meter.
Kondisi kembali normal. Sangga membuat lingkaran yang membentengi tubuhnya dan Wewe. Benteng yang sangat kuat dan berlapis-lapis.
"Leon datang!" Sangga mengusap hidungnya yang mengeluarkan sedikit darah. Makhluk itu berdiri lagi.
"Baiklah kalau kau jual, kubeli!!" Sangga kembali mengeluarkan sebuah angin ****** beliung dari telapak tangannya yang makin lama makin besar. Sangga mejentikkan ke dalamnya petir dan aliran listrik kuat. Angin berputar di depannya dan mengarah ke makhluk yang ada 10 meter di depannya. Makhluk itu melempar kapaknya.
DUAAR DUAAR
DUAAR
BRAAAKKK.
"ARRRGGHH..." Sangga terpental bersama Wewe, ternyata kapak itu bisa menghancurkan benteng dan menghancurkan angin ****** beliung tadi. Sangga berdiri dan kembali lagi duduk diatas punggung Wewe dan mengusap darah yang makin banyak keluar dari hidungnya.
Dia mengeluarkan pecut Ki Bewok yang sudah dia punya. Pecut itu dia arahkan ke atas dan Sangga merapalkan doa, tiba tiba pecut tersebut mengeluarkan sinar biru yang menjulang ke atas langit. Seperti petir menyambar-nyambar langit.
Makhluk tadi duduk bersila dan merapalkan sebuah mantera. Sangga melihat sebuah kapak berbeda bentuk, agak kecil dan melayang-layang makin lama makin banyak.
'Gawat, sudahlah hadapi saja!'
Sangga yakin bahwa pecutnya yang lebih kuat. Sangga melompat ke Leon. Benteng yang kuat kembali dibuat. Energi liontinnya dia tambahkan menjadi 40%. Sangga mengayunkan beberapa kali pecut tadi memutar, sehingga udara di sekitar mereka terdistorsi, udara mendingin.
Sangga mengayunkan pecut itu ke arah mahkluk tadi dua kali.
CETARRR
CETARRRR
DUAAAARR
DUAAARRRR
"ARRRRGGGHHH...." Makhluk itu terlempar sejauh 150 meter dan tak bergerak kembali.
Kapak yang melayang ikut hancur. Udara kembali normal sedikit demi sedikit.
AAAUUUMMM
Leon berjalan ke arah makhluk itu. Jarak 1 meter, Sangga turun dan mendekat ke makhluk tadi yang tampak jantungnya sudah hancur terkoyak. Tangan
kanannya putus.
"Hm, siapa yang mengirimnya?"
"Assalamualaikum, Sangga!" Sangga menengok ke belakang. Dia melihat kakek Gurunya berdiri dengan diapit oleh dua ekor macan.
__ADS_1
Tampak kakek guru datang. Sangga duduk dan menundukkan kepalanya hormat.
"Waalaikum salam Kakek Guru, apa kabar?" tanya Sangga.
"Baik cucukku. Kamu makin lama makin hebat saja. Kresna tak pernah setinggi ini ilmunya. Mungkin karena kamu masih muda, jadi kamu bisa habiskan mereka semua!"
"Ini semua karena doa dari kakek Guru dan kakek Kresna!" Jawab Sangga.
"Nak, sebentar lagi, kamu akan dihadapkan oleh ujian yang sangat berat! Banyak fitnahan yang akan mendatangimu, terutama dari orang yang iri terhadapmu. Kamu harus kuat dan sabar. Kesabaranmu yang akan mengantarkanmu bertemu dengan Mangok!"
"Terima kasih kakek Guru. Saya akan banyak melatih kesabaranku lagi." Sangga masih menundukkan kepalanya, tak berani melihat ke atas.
"Hm, baiklah. Kapak pemecah langit milik makhluk ini juga sudah menjadi senjata yang bisa membantumu menghadapi para begundal-begundal yang akan melawanmu....Terimalah...!"
Sangga mengangkat kedua telapak tangannya dan menerima sebuah kapak yang bernama Kapak Pemecah Langit.
"Terima kasih kakek Guru!"
"Ya. Tetaplah kau bantu banyak orang.Tinggalkan semua keinginanmu memiliki harta dunia, karena kamu akan hancur. Carilah dan pelajari banyak ilmu kanuragan yang akan membawamu menguasai dunia!"
"Baik kakek Guru!"
"Kakek pamit dulu,tetaplah berjuang untuk orang lain dan agamamu! Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam." Kakek Guru menghhilang.
Sangga berdiri dan memegang kapak tersebut yang beratnya tidak seberapa. Sesudah mengucapkan Bacaan doa, kapak tadi menghhilang masuk ke dalam badannya.
"Ayo Leon, Wewe, kita kembali!" ajak Sangga. Sangga naik keatas punggung Leon dengan sekali lompatan bersalto dari jarak 10 meter.
Sangga kembali ke dimensi nyata. Dan masuk kembali ke raganya.
"Uhuk uhukk uhukkk.." Sangga bangun sambil batuk. Masih terasa bekas cekikan di lehernya.
"Sang, ini minum." Dirga memberikan air minum mineral. Sangga meneguknya.
"Oke, untung lo cepet kembali. Ini sudah tengah malam. Nungguin lo masuk ke raga lo hampir tiga jam!"
"Hahahaha, masa sih? Lama amat! Boong kau, palingan aku di sana cuma 15 menit.
"Sang, kenapa hidung lo? Berdarah!" Dirga memberikan tisue.
"Oh iya ini, tadi aku perang sama makhluk yang mencekikku tadi!"
"Cerita ya nanti!?"
"Oke, AKP!"
"Nak Sangga, sehat?" tanya pak Rajasa dari belakang.
"Sehat pak, cuma lapar! Hahahaha!"
"Oke, kita makan nasi goreng dulu langganan saya. Mau?" tanya Rajasa.
"Ya maulah pak, saya juga lapar! Hahaha." Dirga tertawa lepas.
"Ya sudah. Oke lanjut!"
Sampai di sana, mereka turun dan memesan nasi goreng. Sesudah makan, Dirga penasaran dengan pengalaman Sangga tadi.
"Sang, elo kenapa tadi? Kok langsung kayak orang kecekik??" tanya Dirga sambil merokok.
"Emang aku dicekik! Itu, dia gurunya Ki Jangkrik!"
__ADS_1
"Terus?"
"Ya, aku hajarlah! Senjatanya aku ambil tadi!"
"Wah,senjata pusaka apa tadi? Elo kan sudah punya pecut?"
"Hm, Iya. Senjata nya Kapak Pemecah Langit!"
"Weh keren, namanya aja sudah keren!" Dirga salut kepada kekuatan Sangga.
"Tapi tadi kakek Guru datang, mas. Dia bhilang kalau aku nanti dapat ujian fitnah dari beberapa orang!" ucap Sangga.
"Tenang Sang, gue akan membela elo! Santai aja, gue kan sehari-hari sama elo!" sahut Dirga sambil menepuk pundak Sangga.
"Ya, mungkin aja fitnahnya dari elo bro!" Sangga meledek Dirga.
"Ngaco kau! Tidak mungkin. Gue tidak punya niat jahat sama elo, Sang!" Dirga meyakinkan Sangga.
"Ya msudah-msudahan saja. Hehehe."
"Yuk sudah, kita pulang saja. Besok mas Sangga beneran ya, kita ke dimensi lain lagi!" tukas Pak Rajasa.
"Iya pak, tenang saja."
"Acara besok mau kemana?" tanya Pak Rajasa.
"Hm, palingan antar Istikah ke kampus lagi. Kemarin saya tidak kuliah, hehehe."
"Oh iya, maaflah!"
"Besok kita antar Istikah terus ketemu dengan Jenderal Prana ya di Polda!"
"Oke bos, abis itu gue kuliah malamnya!"
"Sip!" Dirga mengacungkan jempolnya. Mereka kembali ke rumah dan istirahat.
Paginya mereka bangun dan sudah nongkrong di gazebo. Sangga kembali melihat ban mobilnya kempes. Dia melihat bahwa Dira yang mengempeskannya dibantu oleh DIto, pacarnya.
"Hm, Sang, kok kempes?" tanya Dirga.
"Ya mana aku tau? Kan kamu juga tau kan, tadi malam tidak kempes, aman aja!"
"Iya Sang, elo tau siapa yang berbuat?" tanya Dirga.
"Tau, Dira dan pacarnya!" bisik Sangga ke telinga Dirga.
"Hm, kenapa dia melakukannya?"
"Entah bro, dia iri hati, waktu itu aku diberi mobil itu sama papanya. Sedangkan dia sendiri kayaknya tidak pernah dibolehin pakai!"
"Oh gitu doang masalahnya?"
"Bukan itu juga, kan aku dikasih kartu kredit oleh pak Rajasa,sedangkan dia tidak!"
"Hm, elo tau dari mana? Sampe sedetail itu! Jangan suudzon broo!:
"Hehehehe, tidaklah. Gue bisa denger pikiran orang bro sekarang!" jawabSangga dengan jujur.
"Wadduhhh.... Gawat! Ampun Sang. Gue takut nih dengan elo sekarang! Hahahaha."
"Tidak tau mas, gue dikasih kebisaan itu, tapi gue berusaha tidak makai itu. Soalnya itu juga harus dengan doa membukanya!" tukas Sangga.
........
__ADS_1
.......
BERSAMBUNG