Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
Episode 107 : Anak Kecil Tapi ... Begitulah ...


__ADS_3

Aldy membuka telinganya sama sekali tidak mendengar apapun, menatap kakaknya ia memberikan pistol yang ada di tangannya. Paham dengan apa yang dimaksud dia menerimanya lalu pergi keluar, mendapati kalau Fauzan juga sedang kesakitan akibat suara itu.


Mendatangi SentryGun melihat kalau rekannya pingsan dan darah keluar dari lubang telinganya, merasa kalau ini tidak sopan tapi Aldy melakukannya. Ia menjatuhkannya paksa dari tempat duduknya mengambil alih, membidik mereka gencar peluru menembak ke para kelelawar walau mereka mencoba menghindar tetap saja terkena.


Aldy menghidupkan Earbuds, "AI .. berapa jumlah mereka.. ?"


"Menghitung ... 23 ... 34 ... 56 ... 75 .. total 75 di kota."


"Sebanyak itu ? Apa kau punya Saran ?"


"Pertanyaan tidak dimengerti."


"Hahhh.. sudah, akhiri program!" Ucapnya. Earbuds langsung mati setelah mendengar suaranya, hanya saja tetap saja mereka takkan habis kalau begini terus pikirnya. Menggunakan terus senjata di hadapannya tidak lama ia merasakan panas, lalu SentryGun meledak membuatnya kaget walaupun tidak terlalu besar ledakannya.


Terlalu banyak menembak membuat senjata ini panas, menghembuskan napas Aldy turun dan menggendong rekannya ke hadapan pintu masuk. Melihat kalau Fauzan sedang menembak mereka, namun ia hanya bisa membunuh satu persatu karena serangannya difokuskan pada satu musuh.


"Sial! Seranganku bukan tipe area! Kenapa bisa tiba-tiba muncul sebanyak ini, pasti tidak kebetulan dengan jatuhnya Adly.. aku yakin.."


"Fauzan, apa ada DyntalGear di sini ?"


" Tidak ada.."


"Jumlah mereka terlalu banyak! Membunuh sepuluh ekor saja sudah membuat SentryGun panas dan meledak."

__ADS_1


"Ya sepertinya tidak ada pilihan lain sela---!"


"Fauzan!"


"Kenapa mereka bertambah banyak ?! Jumlahnya menjadi ratusan sekarang!" Ujarnya dengan suara setengah bentakkan. Ia tidak lama jatuh pingsan Aldy sontak kaget, melihat ke dalam juga sama semuanya pingsan tidak terkecuali membuatnya sadar kalau situasi ini sangatlah gawat dan sebentar lagi pelindung akan hancur ataupun kehabisan daya.


Memikirkan cara untuk membunuh mereka, ia tidak punya pilihan lain selain menggunakan robot infanteri walaupun mereka akan hancur jika keluar dari tempat ini tetapi itu lebih baik daripada mereka semua kehilangan nyawa. Hendak ingin pergi ke tempat dimana para robot itu disimpan ia teringat kalau jumlahnya begitu banyak.


Sedangkan mereka hanya punya 50 robot saja membuatnya bingung, apalagi pergerakan mereka sangatlah sederhana dan tidak bisa dipungkiri lagi kalau akan hancur dalam beberapa detik saja. Mendatangi kakaknya ia merasakan sakit lalu bertekuk lutut.


"Kenapa rasanya aku mengantuk sekali!" Ucapnya dalam hati. Menatap kakaknya dia ingat kalau kakaknya tidak sadarkan diri maka dirinya juga sama, kecuali untuk tidur. beberapa saat kemudian Fidya datang dan membangunkan ayahnya penuh kepanikan, Aldy melihat kalau gadis kecil ini tidak terkena efek suara para zombie terbang itu.


Memanggilnya dengan pelan Fidya datang dan bertanya apa yang terjadi..


"Aldy! Oi oi! Sial, apa yang terjadi sih ?!" Ucapnya kesal. Menatap keluar jendela ada zombi kelelawar yang sedang berterbangan, menghembuskan napasnya Fidya berjalan keluar sembari mengangkat kedua tangannya mengeluarkan cahaya biru. Menatap para zombie yang sedang mencoba masuk ke dalam ia melemparkan bola cahaya ke atas.


Bola tersebut terpecah belah menjadi kecil-kecil menembakan diri mereka kepada para zombi, menghabisi mereka dengan cepatnya seperti senapan serbu. Menoleh ke samping kalau Fauzan sudah tergeletak pingsan membuatnya bingung, melihat ke arah manapun juga tidak ada yang sadar selain dirinya.


Anak itu menendang tubuh Fauzan hingga terpental masuk ke dalam gedung, matanya melirik sekitar kalau ada tiga zombi raksasa yang sedang menuju kemari. Akan merepotkan jika ayah, ibu, dan kakaknya tertimpa bangunan yang ada di hadapannya membuat dia takut akan kehilangan keluarganya.


Anak gadis ini menyeringai jahat seperti ayahnya. Ia keluar dari pelindung dan menghentakkan kakinya mengeluarkan sejumlah kristal runcing menusuk semua zombi yang menginjak tanah, sedangkan para kelelawar menyemburnya dengan cairan hijau yang keliatan menguap.


Fidya mengangkat tangannya membuat pelindung disekitarnya..

__ADS_1


"Siapa itu ? Kenapa dia masih tidak pingsan ?!"


"Itu anak Adly, profesor!" Jawab Zyred kaget. Ia melihat kalau sudah jelas anak itu menembakkan serangan yang hebat, tidak lama pasukan zombi mereka dihujani tembakan serpihan kristal menghabisi semua zombi kelelawar tanpa tersisa satupun dan zombi biasa juga sama. Hanya menyisakan tiga zombi raksasa.


Anak itu melompat ke atas langit dan terbang ke arah salah satu zombi raksasa, ia memutar tubuhnya di udara menendang wajahnya hingga kepalanya hancur berkeping-keping menyisakan tubuhnya saja. Tidak membiarkan kepala zombi tumbuh lagi anak gadis itu menciptakan pedang raksasa terbuat dari kristal merah, membelah tubuh zombi menjadi dua membuat Zyred bersama pria di sampingnya terheran-heran dengan kekuatannya.


Sekalipun Adly ia bisa membuat pedang sebesar itu dalam satu jam atau lebih, terlihat jelas kalau dia sangat kuat melebihi siapapun. Zombi raksasa sekarang tinggal dua. Fidya melompat ke arah keduanya karena mereka berjalan bersama, lompatannya begitu tinggi sampai menaiki atas gedung.


Di atap gedung dia menyilangkan tangan dekab dada, "Hmmm.. mereka ingin menghancurkan gedung ? Ayah, bisakah kau bangun kalau kubiarkan mereka masuk ? Ah, tidak.. kurasa mereka akan membunuhnya."


Fidya menghilang dari tempatnya tiba-tiba muncul di belakang zombi raksasa, ia mencengkram besi yang tertancap pada tangannya dan membantingnya ke tubuh zombi raksasa di sampingnya. Keduanya tumbang lalu terlihat seperti susah untuk berdiri.


Menatap kenapa keduanya tidak bisa berdiri Zyred melihat ke tempat dimana mereka berpijak, kalau ada cahaya ungu keluar dari tanah. Menyadari kalau anak itu bisa mengendalikan gravitasi membuatnya sedikit merinding melihat kekuatan anak ini, ia menghembuskan napas lalu menatap profesor di sampingnya.


Menyadari tatapannya itu profesor menghela napas dan mengangguk pelan menerima kekalahan mereka dari anak kecil sepertinya, memerintahkan kepada semua zombi untuk mundur pasti hanya akan membuat mereka mengalami kerugian saja kalau meneruskan ini semua tanpa persiapan matang untuk melawannya.


Semua zombi yang sedang dibawa menuju kemari kembali ke tempatnya masing-masing membuat Zyred agak kaget karena kemunculan anak Adly sangat berakibat buruk, melihat dia punya sifat dari ayahnya membuatnya sedikit merinding. Karena ia bisa membunuh kedua zombi raksasa sekali pukulan, namun ia menusuk-nusuk tubuhnya terus menerus menyiksanya hingga kedua zombi itu bisa berteriak keras kesakitan.


Adly kekuatannya tidak buruk dan masih bisa diatasi namun anaknya bagaikan gunung, ayahnya hanya sebuah pohon kecil. Menghembuskan napasnya ia tahu kalau semakin kesini, mereka akan terus berkembang walaupun dengan jatuhnya Adly yang sudah tidak bisa bertempur lagi digantikan anaknya yang bahkan melebihi kemampuannya.


Menghembuskan napas, ia menatap gedung Belati Putih yang masih dilingkari pelindung dan sangat membuatnya sedih karena tempatnya itu sudah dibangun olehnya dengan waktu yang lama. Tetapi, hari ini ia berusaha menghancurkan kerja kerasnya bertahun-tahun.


Demi menuruti perintah profesor yang tidak jelas ini, ia sekarang memperlihatkan wajah kebingungan karena kemunculan anak ini.. sedikit membuat Zyred lega karena kemunculannya bisa menyelamatkan semuanya..

__ADS_1


__ADS_2