Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
44. Fauzan


__ADS_3

Hendak ingin melakukan sesuatu Fauzan dihadang ibunya membuat semua orang yang sedang lewat membuang waktunya untuk melihat kejadian ini, sesaat kemudian Fauzan melihat anggota Belati Putih sedang membawa sniper dengan peluru obat bius. Hanya saja, ini anak terlalu kecil untuk ditembak walau takkan terluka.


Dia mengangkat tangannya ke atas kemudian memberikan kode untuk tidak menembak dahulu. Mereka yang paham menurunkan senjata mereka, merekapun turun dari atas gedung.


Fauzan bertanya, "ini anak ibu, kan ?"


"B-begitu!"


"Biar saya lihat anak Anda, saya takkan melakukan apapun," kata Fauzan sambil menarik tangan anaknya dengan pelan. Ibunya tidak membiarkannya kemudian lelaki ini terpaksa, dia menginjak tangan ibunya dan menarik anaknya dari pelukannya. Walau memaksa tapi ini diperlukan.


Fauzan mengambil sebuah obat dan memasukan obat itu ke mulutnya, beberapa saat tubuh anak ini berhasil lemas. Segera memukul dadanya menggunakan lututnya, Fauzan merasa kasihan tapi mau bagaimana lagi karena nantinya akan menjadi hal yang serius bila dibiarkan.


Sekilas seperti seseorang sedang melakukan kekerasan. Namun, semua orang hanya bisa berdoa kalau anak itu akan baik-baik saja. Karena itu untuk kebaikannya sendiri, Fauzan juga tahu apa yang sedang dilakukan olehnya.


Dia mengangkat anak itu dan menghampiri bangku terdekat, "kamu baik-baik saja ?"


"Ya, terimakasih kak. Kakak hebat," jawab anak itu sambil sedang didudukan oleh Fauzan. Lelaki itu heran alasannya berterimakasih kepadanya karena mau bagaimanapun juga dia memukulnya beberapa kali, ibunya datang pada mereka dan melihat keadaannya.


Melihat anaknya kelihatan sakit dan menahan perih dua menggeram, "kenapa kau memukul anak kecil ?!"


"Maaf.. untuk itu, kami akan mengusahakan agar semua nyawa selamat dengan usaha semaksimal mungkin. Tapi, pukulan dan tendangan itu tidak bisa dihindari."


"Itu terlalu...! Kejam! Harusnya kalian cepat membuat obat atau apapun itu!"

__ADS_1


"Ibu mohon bantuannya untuk tidak membuat keributan, kami dan semua negara sedang berusaha untuk mencari tahu soal ini.. lalu obat ? Bahkan satupun juga tidak ada yang berhasil di buat, tingkat keberhasilan obat saat ini hanya 0,99% atau mustahil untuk sembuh, malahan akan mati."


"Kenapa kalian berpikir seperti itu ?"


"Obat yang masih tidak sempurna itu bisa membunuh 175 sapi dewasa saja dengan tetesan dari obat itu. Apa berani Anda memberikannya pada anak Anda ?"


"Menyebabkan kematian ya ? Lalu, kenapa kalian seperti berusaha menyembunyikan sesuatu ?! Orang-orang seperti kalian hanya mengambil keuntungan saja!"


"Ibu.. kami ini bukan orang-orang seperti itu, bahkan Anda tahu kalau ada banyak rekan saya yang mati karena misi ataupun penyakit ini ?"


"Mana ku peduli! Itu bukannya kewajiban kalian sebagai pembela negara hah ?!" Tanya ibu itu dengan wajah marah. Pembicaraan mereka menjadi tontonan bagi muka publik, secara tidak langsung anggota Belati Putih yang sebelumnya melihat kalau wakil ketua mereka salah.


Jika ada kejadian semacam ini atasan mereka meminta semua anggota untuk tidak menghiraukan ucapan para warga, hanya harus pergi saja tanpa mengatakan apapun bila situasi jikalau pengidap heartlosive sudah membaik.


Fauzan tersenyum kemudian memberikan hormat, menundukkan kepalanya ke bawah dan memegang pedang yang ada di punggungnya. Mengepalkan tangannya yang lain di depan dadanya, terlihat kalau lelaki itu meneteskan air matanya walau tidak terlalu terlihat.


Fauzan bicara sambil tersenyum, "Saya menghargai pendapat Anda dan semuanya, hanya saja.. biarkan saya sebagai Fauzan, Wakil ketua dari Unit Pembantai melakukan tugas-tugas.. serta ini semua demi semua orang."


"Kalian hanya membantai saja kerjaannya! Grup seperti kalian memang rendahan!" Teriak seseorang. Orang itu langsung disergap anggota Belati Putih sebelumnya, semua orang sudah tahu soal grup ini. Mereka bersikap seperti biasanya menghargai usaha mereka, membunuh tidaklah semudah kelihatannya karena kehidupan juga punya hak.


"Begitulah, saya juga.. karena harus menyelamatkan semua orang yang ada di desa, dengan kedua tangan ini membunuh teman, dan saudara hingga membuat mereka seperti menghantui saya. Anda tahu ? Bahkan, sekalipun saya tidak berani untuk menghadap kuburan mereka.. apalagi meminta maaf pada adiknya, itu gak terberat bagi saya saat ini.. entah apalagi yang akan datang di masa depan."


Semua orang terdiam kemudian Sarah datang dari langit dan turun dari gedung, dia melihat kalau kejadian ini jadi tidak biasa. Jarang Fauzan bicara di depan umum begini, walau dia senang saat menemukan lokasi Fauzan tapi sekarang dia tidak senang. Karena semua orang melihat kejadian ini, lalu reporter juga ada.

__ADS_1


Sarah menunduk dan meminta maaf pada semua orang.. dia mengambil tangan Fauzan kemudian pergi meninggalkan tempat itu, sedangkan anak itu melihat Fauzan dari bangku itu.


***


"Bagaimana perasaanmu ?" Tanya Sarah sambil membawakan minuman untuk Fauzan. Mereka duduk di kursi depan jalanan, ada banyak orang lalu lalang dan asap kendaraan tercium oleh mereka.


Fauzan menatap langit, "hey Sarah, misalnya Ezra tidak memaafkan aku karena membunuh kakaknya ? Bagaimana ?"


"Membunuh teman dan kakak dari teman ya ? Mana aku tahu, jujur saja Adly juga selalu menjawab dengan seadaanya dan kejujuran kalau denganmu, maka aku juga akan jujur."


"Makasih, ok..lupakan. kenapa kamu berada di sini ?" Tanya balik Fauzan padanya. Sarah menghembuskan napas, dia mengambil ponselnya kemudian memberikan misi pada Fauzan dan saat itu juga Fauzan sudah tahu alasan Rani memanggilnya begitu. Kenapa dia memanggil dengan cara yang heboh begitu.


Sarah bertanya, "apa kita harus melanjutkan sekolah ?"


"Kurasa tidak usah, lagipula sudah terlambat karena setahun lagi kita akan kenaikan kelas."


"Jujur saja aku ingin seperti gadis yang pada umumnya, mereka sekolah, bermain dengan teman remajanya, dan sebagainya.. enak sekali ya ? Orang-orang seperti mereka menganggap kita bersenang-senang."


"Setiap pandangan orang berbeda, sesuai dengan pikiran mereka soal itu, jadi jangan pikirkan!" Kata Fauzan sambil mengelus rambutnya. Sarah memerah tapi menyenderkan kepalanya ke pundak Fauzan, dia terlihat begitu nyaman serta wajah malunya itu membuat nilai tambahan untuk kecantikannya.


Hanya saja ada yang menganggu ketika Fauzan melihat batas waktu misi sampai sore ini, Sarah langsung kembali ke tempat jurang sebelumnya. Dia pergi dengan wajah cemberut, Fauzan melambaikan tangan pada Sarah yang sedang memudar memakai teleport menuju tempat sebelumnya.


Lelaki itu berdiri beranjak dari tempat duduknya dia melihat ke sekitar kalau sudah sepi, melihat ke atas bangunan dan lokasi tempatnya. Saat melihat apk GPS kalau lokasinya tidak terlalu jauh, dia memakai grappling hook naik ke atas bangunan dan melompati bangunan demi bangunan.

__ADS_1


Melihat ke samping ada juga rekannya yang sedang berpatroli, mereka saling menyapa dengan mengangkat tangan. Fauzan sudah cukup bersyukur dengan hidupnya, kalaupun ada masalah saat ini dia perlu memikirkan dan mencari solusi untuk ini karena takdir takkan berjalan dengan sendirinya. Dia perlu mengendalikannya agar bisa maju, lelaki itu perlu banyak melakukan sesuatu dan masih punya tanggung jawab. "Lari adalah pencapaian terakhir! Aku masih punya waktu, tenaga, dan tekad! Benar, kan ?! Kalian berdua!" Ucapnya sambil terlihat menangis dah tersenyum.


__ADS_2