
Ryan menatap gedung dengan tatapan jengkel disertai marah, bersama Vina mereka duduk di bangku jalan sambil melahap roti. Anaknya sedang duduk di pangkuan ibunya. Senyum kecilnya terlihat jelas dan tatapannya mengarah pada ayahnya, ibunya yang sadar akan hal itu memukul pelan pundak suaminya.
Menoleh ke arahnya Ryan tersenyum dan menggendong anak perempuannya, dengan tangan gemetaran ia memaksakan diri menggendong anaknya. Walau wanita disampingnya melihat sebuah kristal mengambang di bawahnya, ia tahu kalau Ryan jikalau menggendong anaknya selalu berhati-hati.
Vina pernah sekali melihat Ryan yang kelelahan menggendong anaknya, namun saat hampir terjatuh ditopang oleh kristalnya. Itu cukup membuatnya lega akan tetapi ia tetap takkan tenang.
Vina menunduk terus bertanya, "Ryan, apa kamu tidak bisa keluar saja dari Belati Putih ?"
"Panggil aku papah atau apa kek.. dari dulu kau memanggilku begitu, tapi kau menyuruhku untuk memanggilmu 'sayang' bukannya itu kejam ?"
"Apanya yang kejam ? Dan kenapa mengalihkan pembicaraan ?!" Vina membentak. Mendengar bentakkan dari ibunya anak ditangan Ryan tertawa, berkebalikan dengan anak yang mendengar bentakkan biasanya langsung menangis. Menjelaskan mengapa alasannya tak keluar dari organisasi ini Ryan menceritakan semuanya sambil merasa iba pada orang-orang di dalamnya.
Dia baru tahu kalau dirinya bukan orang pertama yang dihidupkan kembali oleh mereka, melainkan adik-adiknya yang berubah menjadi mayat hidup. Bersama ayahnya. Itu sudah beberapa tahun yang lalu, dan dokumen yang harusnya berisi informasi tentang hal tersebut diambil oleh Zyred dan rekannya saat itu karena kelalaian penjagaan.
Begitu juga memori yang sudah payah didapatkan dan pengorbanan yang sia-sia, organisasi yang bertahan dari awal sampai sekarang. Mereka hanya berdiri sendiri tanpa bantuan pemerintah, dan Ryan merasa kalau Adly sudah membantunya dari dulu sampai sekarang.
"Karena itulah kau ingin menemukan Adly dengan bantuan mereka ?"
"Ya,.. dia orang baik bahkan sudah kuanggap seperti kakakku sendiri dan jika tidak ada dia aku takkan keluar dari halusinasi itu."
"Halusinasi ?"
"Ya,.. kemampuan yang aku dapatkan sejak lahir dan jika aku sampai takluk pada kemampuan itu mungkin saja aku takkan berada di sini. Dan takkan bisa menggendong Fitri."
__ADS_1
"Jadi,.. apa kamu akan meninggalkan mereka jika Adly kembali ?" Tanya Vina memandang suaminya serius. Ryan mengangguk pelan membalas.
Wanita yang tengah duduk menghembuskan napasnya lega melihat jawaban dari suaminya. Namun, beberapa saat kemudian suara langkah kaki DyntalGear terdengar keras dari jalanan dan mobil-mobil menyingkir memberikannya jalan. Ada empat unit yang lewat, membuat Ryan heran karena jumlah mereka sangat sedikit.
Akan tetapi, ketika melihat mobil pengangkut di belakang mereka membawa bangkai zombi harimau besar Ryan langsung paham. Kalau varian baru muncul dan mereka cukup sudah untuk dilawan, tapi berita bagusnya Zyred bersama rekannya tidak bisa mengontrol mereka karena bukan manusia. Yang awalnya berakal budi.
Salah satu DyntalGear menghampiri mereka berdua, kokpit di dadanya terbuka dan Zaky melompat keluar dari sana. Mendarat di depan Ryan, di tangannya ia membawa sekantong plastik penuh darah dan anehnya Ryan seperti melihat benang di dalamnya berkumpul. Menggumpal membentuk daging.
"Apa itu ?" Tanya Ryan. Zaky terdiam tidak mengatakan apapun, ia memberikan kantong plastik penuh darah pada Ryan dan berkata, "Adly.. berada di kota."
Sontak membuatnya kaget tidak main karena baru saja ia mengharapkan Adly kembali, sekarang harapannya terkabul membuat dirinya begitu senang. Dia memberikan Fitri pada ibunya memintanya untuk pulang. Vina yang paham lelakinya akan melakukan apa mengangguk, ia beranjak pergi dari bangku jalanan kembali masuk ke dalam mobil. Supir yang sedari tadi menunggu di depan mobil kemudian masuk ke mobil.
Meminta Zaky untuk mempertemukan dirinya dengan Adly namun lelaki berkacamata di depannya terdiam, rambut ungu gelapnya terlihat memudar memutih. Matanya sayu, terlihat sedih begitu juga dengan kedua tangannya yang gemetaran seakan ingin mengatakan sesuatu pada Ryan.
"Sudah, kami.. nampaknya sudah tidak terselamatkan lagi."
"Kami sekarang takkan pernah bisa melawan zombi," ujar Zaky sambil memegang erat bilah pedangnya sehingga tangannya berdarah. Dan tidak lama Ryan kaget dengan pemandangan yang berubah di sekitarnya, ia melihat kalau hari sudah malam akan tetapi tidak ada lampu yang hidup hanya cahaya dari bulan saja menerangi dunia.
Lelaki ini menghembuskan napas lalu berjalan tenang memasuki salah satu gedung, ia mencari sesuatu semacam senjata tajam ataupun yang bisa membuatnya mati. Dia berjalan cukup lama menuju gudang, menemukan sebuah golok di atas meja bersama asahan batu di sampingnya.
Ryan meraih golok tersebut dan melukai dirinya sendiri, tak lama kemudian suara Zaky terdengar nyaring memanggil namanya.
"Ryan!" Teriak Zaky. Ryan membuka matanya, ia melihat sekitarnya kalau pemandangan sudah berubah menjadi sediakala. Lelaki ini teringat ilusi yang selalu dihadapinya setiap saat, entah mengapa saat terpikir keadaan Adly membuatnya tidak tenang dan ia berpikir kalau hal itu mungkin saja karena kemampuannya.
__ADS_1
Terkadang ia melihat kejadian di depan matanya seperti nyata, akan tetapi itu hanyalah ilusi semata dan tidak nyata ibaratnya mimpi. Zaky terdiam menatap Ryan dengan wajah bingung, diapun bertanya apa yang terjadi padanya.
"Kekuatan Elentry ... Ilusi lagi," jawabnya. Mendengar jawabannya Zaky menghembuskan napasnya panjang, ia mengulurkan tangannya membantu Ryan berdiri dan mereka pergi ke gedung untuk bicara lebih banyak lagi mengenai Adly karena mungkin saja Ryan bisa melakukan sesuatu. Pikir Zaky saat ini.
Ryan sembari berjalan melihat ke belakang kalau kekuatannya itu tidak bisa dipakainya dengan bebas, namun bisa menjadi hal buruk kalau digunakan pada orang lain. Contohnya adalah Rani. Sama sekali tidak disangka olehnya kalau gadis itu akan koma selama empat tahun lebih, awalnya Ryan mengira kalau dia akan bangun setelah satu tahun ternyata tidak.
Ryan menatap telapak tangannya, "Harusnya aku tidak menggunakannya saat itu."
"Ya benar,.. aku kaget melihatmu pingsan setelah Vina pergi loh."
"Ahaha..." Tawa Ryan tersenyum kecut. Mereka memasuki gedung, saat melewati pintu Ryan melihat rambut ungu Zaky masih sama seperti sebelumnya membuatnya lega kalau mimpinya tidak menjadi kenyataan. Namun, ia berpikir kembali kalau rambut Adly warnanya putih platinum baginya untuk melihat kekuatannya masih ada atau tidak sangatlah sulit.
Karena perbedaannya hanya putih bersih saja, Ryan melupakan itu sejenak dan duduk bersama Zaky di sofa dekat jendela. Tangannya menyimpan sekantong plastik berisi daging, melihat kalau daging ini membentuk kaki Ryan terlihat mual melihat benda ini. Walau dirinya sudah melihat darah terus menerus tapi ini lebih menjijikan daripada melihat ratusan mayat.
"Sekarang aku butuh bantuanmu untuk membawa Adly kembali bagaimanapun juga."
"Apa yang harus kulakukan ?"
"Dilihat dari darahnya yang menjadi kaki ini, nampaknya Adly bisa meregenerasi tubuhnya dengan cepat dengan satu syarat."
"Apa itu ?"
"Dia telah membunuh ratusan bahkan mungkin jutaan mahkluk hidup dulu, namun sekarang ia lebih menyiksa korbannya daripada membunuhnya secara langsung." Zaky melipat kedua tangannya sambil menatap kantung plastik di hadapannya dengan sorot mata serius.
__ADS_1
Sedangkan Ryan kebingungan sedang mencerna kata-kata yang terlontar dari mulut Zaky, dari awal sampai akhir ia sama sekali bingung dan tidak paham dengan perkataan Zaky sedikitpun. Tak lama setelahnya Ezra datang berjalan membawa seorang gadis berambut hijau limau. Tangannya terlihat jelas diborgol.
"Ini dia orangnya, namanya Viera.. dia yang membawa Adly keluar dari negara ini!" Kata Ezra penuh dengan emosi yang memuncak.