Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
Episode 125 : Kata-kata Mereka Semua


__ADS_3

Belati Hitam sekumpulan orang-orang yang berada di bawah perintah Zyred, mereka tidak digunakan untuk bertarung melainkan pengintai atau mata-mata di negara lain. Dikatakan mata-mata juga mereka sama sekali tidak keluar dari negara, dan karena regu pengintai cukup untuk mengintai satu negara mereka dibubarkan begitu saja.


Namun, kini dengan mata kepalanya sendiri Aldy melihat seragam hitam yang sudah tidak dilihatnya Bebe tahun sebelumnya. Terakhir kalinya bertemu dengan mereka adalah 3 tahun yang lalu, itupun hanya memberikan surat keterangan dan memberikan beberapa pesan.


"Jadi, kalian berdiri sendiri ya ? Setelah mendengar kabar kalau Belati Putih bubar ?"


"Yah, aku juga tidak mengharapkan negara ini berubah menjadi kadal lagi, bukan ?"


"Apa maksudmu ?" Tanya Aldy tidak memahaminya.


"Negara yang awalnya biasa-biasa saja, tiba-tiba berubah menjadi negara dengan kekuatan militer terkuat di dunia. Sampai kita disebut sebagai naga, dari kadal berubah menjadi naga."


"Ah, kurasa itu tidak begitu penting.. karena seluruh negara juga sudah berdamai, negara manapun yang menyatakan perang akan dianggap musuh dunia, bukan." Adly berkata sambil tersenyum tipis.


Gadis di sampingnya terdiam cukup lama memperhatikan Aldy yang sedang membuat sesuatu, terpikir untuk membantunya gadis ini mengurungkan niatnya dan diam berdiri di belakangnya. Ia mengambil ponselnya lalu memanggil seseorang untuk datang ke tempatnya.


Mendengar perkataannya barusan Aldy menatapnya tajam lalu bertanya, "siapa yang kau panggil ?"


"Zaky ketua kalian, bukan ?"


"Apa yang kau lakukan ?! Aku bersama kakak lari darinya!" Bentak Aldy sembari mencengkram erat kerah bajunya. Beberapa saat kemudian, Aldy melepaskannya dan mundur beberapa langkah mendekati kakaknya lalu memasukan darah serta dagingnya ke dalam wadah seperti kaca.


Ternyata Zaky sudah berada di pintu gua menunggu mereka keluar, dengan alat teleport di belakangnya dan beberapa DyntalGear di sampingnya.


"Siapa namamu ?" Tanya Aldy.


"Viera."

__ADS_1


"Viera, sekarang kau bawa toples ini dan bawa ke gurun pasir.. apapun yang terjadi, dari yang kulihat kau punya kekuatan dan uang yang cukup untuk melakukannya. Anggap ini perintah dariku, sebagai ketua regu Pembantai!"


"Sesuai pinta anda, ketua." Viera tersenyum tipis lalu menyimpan toples ke dalam storagenya. Bajunya bersinar dan berubah menjadi baju compang-camping, ia mendekati Aldy lalu membisikan sesuatu padanya. Mendengar perkataannya Aldy lega dan langsung mendaratkan tendangan padanya.


Ia terlempar jauh keluar dari pintu gua, dan Zaky pun menangkapnya.


Jauh di dalam Aldy menarik pedangnya dan mendekat, matanya bersinar merah di kegelapan sama seperti kakaknya. Namun, selemah apapun dirinya ia takkan bisa menyerahkan kakaknya begitu saja pada siapapun di dunia ini selain orang kepercayaannya saja.


Angin berkumpul di telapak kakinya, angin tersebut mendorongnya dengan kuat hingga Zaky tidak sempat menghindar ketika tahu Aldy datang dengan kecepatan tanpa suara. Terkena tebasan langsung di wajahnya, dia terselamatkan karena kacamatanya yang terbelah menjadi tiga.


Dalam sekejap 3 tebasan, kau memang adiknya Adly.. tapi, kakakmu bisa melakukannya sebanyak 10 kali!" Ujarnya penuh emosi. Tangan kanannya mengeluarkan asap hitam, asap hitam mengumpul membentuk beberapa bilah pedang melayang di atas kepalanya. Aldy kaget berniat untuk menghindari beberapa pedang tersebut, akan tetapi ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh.


Tanpa sungkan DyntalGear menembakinya dengan tembakan beruntun, terdengar jelas suara keras dan bising dari tembakan mereka. Tubuhnya berlubang-lubang dan penuh dengan darah, walau tubuhnya bisa beregenerasi cepat dan tidak bisa merasakan sakit tetap saja Aldy kesusahan untuk pergi.


Zaky mendekat padanya dan menarik kerah bajunya kemudian bertanya, "dimana Adly ??"


"Cepat katakan padaku! Dimana dia!"


"Sampai aku mati sekalipun! Takkan aku katakan padamu!" Teriaknya membalas. Mereka berdua berbicara dengan nada tinggi, sehingga Viera yang sedang menjauh berbalik badan dan menatap keduanya sama-sama ribut. Namun, perasaannya tidak enak dan merasa tidak nyaman berada di tempat ini.


Seperti firasatnya ada naga yang terbang dan membawanya pergi, refleks ia berteriak lalu mengambil senapannya menambaki leher naga yang tidak lain adalah Dragrise. Gadis itu kehabisan peluru dan mencoba melepaskan diri, namun, di saat berusaha melepaskan diri dari naga ini ada pesawat tempur yang mengejar mereka.


Dragrise yang mengetahui kalau sedang dikejar melempar Viera yang ada di kakinya berpindah ke punggungnya, sedangkan pilot pesawat yang mengejarnya menunggu perintah. Tiga pesawat mengejar mereka, salah satunya dinaikin oleh Ezra mengejar energi Elentry yang dikeluarkan oleh gadis itu. Entah mengapa rasanya seperti merasakan keberadaan Adly bersamanya pikir Ezra sambil mengejarnya.


Ezra menghubungi dua pilot lain berkata, "Kalian diizinkan menembak mau bagaimanapun juga jatuhkan naga itu.."


"Tapi.. bagaimana dengan gadis itu ?" Tanya pilot pertama.

__ADS_1


"Ya kita tidak bi--"


"Nyawa Adly lebih penting, saat ini Dragrise membawanya dalam keadaan tidak tenang alias marah kita tidak boleh membiarkannya begitu saja dan apa kalian lupa ? Jika tubuhnya hancur, maka ingatannya juga akan menghilang. Kalau naga itu membawanya ke Zyred bagaimana ?!" Ucap Ezra memotong perkataan rekannya.


Mereka terdiam lalu mempercepat kecepatan, mulai membidik sasaran. Meskipun hanya seekor naga tetap saja kulitnya tebal, dan peluru biasa takkan mempan padanya maka dari itu mereka hanya bisa mengandalkan misil.


Misil meluncur dan mengenai sayapnya, mereka bertiga sempat berpikir kalau itu mempan tapi tak lama sesudahnya ketiganya kaget tidak main. Sisik naga itu berubah menjadi kristal merah, dan ia berbalik badan dengan mulut menganga lebar bersiap menyemburkan apinya. Ezra menekan tombol pilot otomatis lalu keluar dari pesawat dengan kursi pelontar.


Didorong dengan api di belakangnya ia melesat seperti api, belum sempat melepaskan semburannya Dragrise menerima pukulan yang menghancurkan sisiknya.


"Biar dia manusia sekalipun,.. tetap saja ia berdiri di sampingnya Tuan, aku tidak boleh lengah!" Ucapnya dalam hati.


Semua sisiknya mulai bergetar hebat setelah Ezra menjauh dari tubuhnya, melihat sisiknya yang melakukan hal aneh Ezra menyiapkan api birunya di tangan dengan ukiran setengah dari tubuhnya. Api membara di atas langit, di bawah mereka terdapat kota yang menyaksikan kejadian tersebut hanya bisa mengharapkan tidak ada korban dalam kejadian ini apalagi yang tengah menonton pertarungan itu salah satunya Widya dan Alia.


Sisik naga mulai terlepas dan seperti peluru menembaki Ezra, pesawat tempur tentu langsung kabur setelah melihat serangan itu. Takkan mungkin mereka bisa selamat dari sekumpulan sisik kristal dan bisa dikendalikan sesuka hati.


"Kau memang merepotkan.. kau pikir dirimu itu Adly yang bisa mengendalikan pisau sebanyak itu ?"


"Ya aku memang tidak bisa,.. tapi kuharap tubuhku berguna untuk kalian dan jangan salah gunakan."


"Apa maksudmu ?" Tanya Ezra sambil memperlihatkan wajah siap siaga.


"Kalian pasti bertanya, mengapa batu saja bisa mengubah kalian jadi seperti ini.. jawabannya sederhana."


"Apa ?"


"Ras manusia naga sempurna, kuharap kalian bisa menjadikan dunia ini menjadi lebih baik tidak seperti dunia sana."

__ADS_1


"Apa maksu--!" Ezra mengentikan kata-kata dan mengelilingi dirinya dengan dinding api. Seluruh kristal mendatanginya dan mencoba masuk ke dalam, saking panasnya kristal yang ada malah retak dan hancur berkeping-keping karena panasnya.


__ADS_2