
Bayangkan seorang lelaki memojokkan lelaki lain ke tembok membuat keadaan yang romantis sekali bagi orang yang tidak normal, mungkin yang memikirkannya juga tidak normal. Ya bisa saja. Adly merasa kesal, dia tetap bertanya pada Zaky kenapa dia bisa mendapatkan suara gadisnya.
Zaky bertanya, "apa kau pikir dia tidak bisa bicara ?"
"Maksudku, pengubah suara membutuhkan seseorang untuk mengucapkan semua huruf agar bisa meniru."
"Lalu ?"
"Kau mengatakan lalu, kalian melakukan apa hah !?"
"Dia mempunyai akun streaming di internet, aku mendapatkannya dan mengambil suaranya dari salah satu videonya."
"B-begitu ya ? Tapi.. kenapa kau melakukannya ?!"
"Bukan hanya itu saja, semuanya dari Sarah dan juga yang lainnya aku lakukan."
"Hah ?! Kau ini punya rencana apa sih ?!" Tanya Adly dengan jengkel. Dia menggoyangkan tubuh Zaky dengan cepat, keduanya terlihat jengkel tapi Ryan dan Vina memperhatikan mereka berdua dengan wajah yang heran.
Pikir mereka semuanya telah selesai. Hanya saja, mereka tidak tahu apa yang terjadi dan kenapa padukan zombi itu bisa menghilang begitu saja tanpa jejak apapun. Kecuali cairan itu. Mereka menghembuskan napas, lalu Rani masuk ke dalam ruangan dan Ryan segera pergi keluar lewat jendela.
Vina saat itu juga teringat kalau harus menjaga rahasia ini rapat-rapat, dia tidak ingin dicap sebagai mulut ember.
Rani bertanya sambil lihat mereka berdua, "kenapa mereka bertengkar ?"
"Mungkin Zaky mau merebut Widya dari Adly."
"Uwaa.. apa kamu serius ?" Tanya Rani. Vina tentu saja menggelengkan kepalanya, dia kemudian meminta meninggalkan mereka sendirian. Hanya saja Zaky melemparkan batu ke kepala Vina, dia merasakan sakit walau itu hanya batu kecil.
"Aww.."
Rani menatap Zaky sinis, "Sial, apa yang kau lakukan ?!"
"Jangan mengada-ada, aku tidak melakukan apapun pada istri Adly.. terlebih lagi dia bukan perawan lagi!" Kata Zaky yang mulai pusing digoyangkan Adly. Merasa mulai pusing, dia melawan dan terjatuh dari tangan lelaki itu.
Mereka keluar dari kelas dan Rani melihat, "ada seseorang yang datang dan dia perdana menteri ?!"
"Hah ?! Bagaimana ini, Zaky ?! Aku ingin menjadikan matanya sebagai koleksiku dan kakinya seb--!"
__ADS_1
"Wah! Bapak ada urusan apa dengan saya ?" Tanya Rani menyela. Kakinya memukul Adly hingga terlempar jauh, gadis itu tersenyum dan dia melihat perdana menteri dengan badan gemuknya. Wajahnya memerah, dia menatap Rani dengan agak begitu deh.
Vina pamit pada mereka semua pergi keluar menghampiri Widya, sedangkan Zaky serta Rani pergi ke tempat yang bagus untuk mengobrol bersama pria ini. Mereka menuju ke ruangan kepala sekolah, ada orangnya juga di dalam.
Perdana menteri dengan umurnya yang sudah tua dia duduk dan menyimpan tingkatnya, "kalian bisakah menjelaskan video apa ini ?"
"Video.."
"Cepat perlihatkan videonya!" Perintahnya pada adalah satu anak buahnya. Memberikan ponsel pada Rani, dia melihat sebuah video dengan isinya Fauzan yang sedang memukuli anak kecil yang memiliki pengidap heartlosive. Judul videonya terbaca buruk, seorang anggota Belati Putih memukuli anak kecil tanpa ampun, sungguh tidak manusiawi!!!
Rani tersenyum kemudian meminta Zaky untuk keluar dari ruangan. Lelaki itu menurut dan pergi keluar dari ruangan, sekarang Rani berhadapan dengan perdana menteri yang terkenal dengan keburukannya. Kota ini juga jadi aneh berkatnya.
Rani bertanya, "lalu apa yang ingin Anda inginkan ? Bukannya kami melakukan tugas untuk mengurus pengidap heartlosive ?"
"Kalian harusnya melakukannya di tempat yang sepi."
"Kalau begitu itu kelihatan seperti disengaja, bukan ?"
"Hahh.. Anda perlu menuruti semua perintah saya."
"Umm.. karena Anda adalah pemimpin saya tidak bisa menolak, baik!"
"Mana aku sudi!" Ucap Rani sambil menendang wajahnya. Semua orang yang melihatnya terkaget, kemudian pria itu tergeletak di lantai dan bawahannya menodongkan senjata pada Rani yang sedang menginjaknya. Gadis itu tersenyum kemudian senjata itu hancur.
Seketika pengawal kaget hendak memukul namun, ada pisau terbang mengelilingi Rani dan gadis itu tersenyum sambil memperhatikan semua pengawal perdana menteri. Dia masih menyeringai jahat.
Rani masih tersenyum, "hei pak tua, kau jangan sombong yah! Mana mau aku melakukannya, dasar buruk!"
"Sial...!"
"Heeee.. mana ada wanita yang tenang di dekatmu, dengan kekuasaan kau melakukan hal-hal semacam itu. Mana bisa aku maafkan, kau bisa saja membubarkan organisasi kami. Tapi, bagaimana dengan kasus zombi dan semacamnya ? Para prajurit kami sudah dilatih khusus, memerlukan latihan dari kecil untuk menguasai peralatan tempur dari kami. Bagaimana ? Apakah sekarang Anda bisa menuruti saya ?"
"Mana mungkin aku takut dengan omonganmu itu."
"Heee, begitu ya ? Nah, kami takkan bergerak selama sebulan dan kita lihat situasi kota ? Apa baik, juga kami akan menghentikan kegiatan prajurit di negara lain juga, bagaimana ?"
"Kau.. perempuan licik! Tapi, memangnya ada buk--"
__ADS_1
"Aku sudah merekam semuanya, dari kampung ataupun kota! Memangnya aku mengancam tanpa membawa apapun! Bego banget!"
"Ayahmu sama sekali tidak pernah...!"
"Diam!.. yah, baiklah.. sekarang mungkin Fauzan tak perlu untuk menjalankan rencananya," kata Rani sambil memperkuat injakannya. Dada pria itu itu diinjak dengan kuat, dia terlihat kesakitan dengan kaki gadis itu yang terasa semakin berat srtyao detiknya.
Sedangkan semua pengawalnya memojokkan diri. Di tempat lain di mana Fauzan berada, dia bersin dan menguap merasakan kantuk. Sedang ada di pangkuan kekasihnya, di sampingnya ada Widya dengan Adly yang saling menyuapi. Maksudnya bukan suap uang.
Vina juga sedang menyender pada Ryan di balkon rumah, hanya saja semua orang terlihat punya masing-masing pasangan. Hanya Ezra yang diam di atas pohon.
Ezra memukul dahan pohon, "arrgghh! Bagaimana ini, aku sama sekali tidak menemukan satupun gadis yang mau denganku! Dan kau Zaky! Bisakah memberikan satu surat cinta itu padaku, satu saja...!"
"46 ... 47 ... 48 ... Dan 49 surat.. bukannya ini berlebihan ?"
"Ahhh!! Dasar, melihat semua orang punya pasangan dan ni orang rese amat! Bawa jauh-jauh!"
"Oh ya, ada seorang gadis yang memintaku untuk mempertemukannya denganmu. dia ingin ketemu Ezra dari Belati Putih katanya."
"Benarkah ?!" Ezra turun tergesa-gesa. Zaky tersenyum kemudian memintanya duduk dan membantunya membuka semua surat lalu mengumpulkannya, Ezra terpaksa dan melakukannya dengan penuh paksaan.
Setelah beberapa lama Zaky selesai membaca semuanya, dia mengambil satu kertas dan menuliskan kata maaf dengan huruf kapital. Ukuran tulisan itu memenuhi kertas, Ezra yang menunggu sudah tidak sabar dan meminta Zaky mengatakannya.
Zaky berkata, "yah.. akan aku fotocopy lalu kirimkan ke mereka semuanya."
"Anjir, gak berperasaan! Tapi, bukan itu!"
"Soal gadis tadi ?"
"Ya!" Ucap Ezra semangat. Dia menunggu jawaban dari rekannya ini, kemudian Zaky berdiri dan melihat kalau Alia sedang digendong oleh Adly atau ayahnya.
Lalu dia tersenyum di hadapan Ezra.
Dia tersenyum polos, "Anaknya Adly ingin bertemu denganmu."
"Eh ?"
"Anaknya Adly, namanya Alia.. cukup imut, kan ? Lihat dia sedang digendong ayahnya!"
__ADS_1
"Huhu.. yang bener dong!" Kata Ezra sambil mendekat. Zaky tersenyum lebar dan mengangguk, kemudian lelaki itu naik ke dahan pohon lagi menutupi wajahnya. Menyadari kalau dia hanya dimanfaatkan saja oleh Zaky.