
Zaky dan Adly mulai heboh ketika markas mereka diobrak-abrik Ezra bersama Fauzan, mereka membalas dengan item seadanya. Permainan yang mereka mainkan begitu curang, sebuah game di mana dua tim saling menyerang dengan mengumpulkan bahan-bahan untuk menyerang.
Hanya saja sesuai map, akan ada tim yang diuntungkan dan salah satu tim yang dirugikan. Mereka sekarang mendapatkan poin.
"Yahh!! Parah dah! Ganti, ganti!"
"Hooh ganti map!"
Zaky dan Adly mulai geram, kemudian mereka mengganti map memulai lagi permainan kembali. Kini keadaan mulai terbalik, karakter Adly mengeluarkan meriam langsung menghancurkan markas milik musuh. Sedangkan Zaky sedang berburu.
***
" Kak Widya, apa Fauzan ada di sini ?" Tanya Sarah. Dia masuk melewati jendela, Widya menggelengkan kepalanya dia juga tidak mendapati Adly dari tadi malam juga. Sarah menghela napas dia juga mengatakan kalau Fauzan sudah tidak pulang selama tiga hari tidak ada kabar.
Mereka berdua ke dapur menenangkan dirinya meminum teh, ketika Alia datang dia memeluk widta dari belakang. Gadis itu melirik ke anaknya dia mulai tenang, menggendongnya walaupun dia cukup berat sekarang. Alia menyender pada pundaknya. Dia menguap dan memejamkan mata.
Widya memperhatikan Alia yang kelihatan begitu mengantuk, sesaat kemudian ketukan pintu terdengar dengan panik. Kedua gadis itu menatap pintu, Sarah menghampiri pintu membuka pintu memperlihatkan seorang Rani yang sedang berdiri dengan cemberut di mukanya.
Sarah, apa kau melihat Zaky ?! Tugas kami menumpuk tapi dia malah pergi tanpa pesan atau apapun!" Rani menghentakkan kakinya ke lantai dengan cukup marah. Sarah menelan ludah, dia sama sekali tidak tahu kalau Rani begitu seperti mencemaskan Zaky karena pekerjaan biasanya tidak akan terlalu diperhatikan.
Pertama-tama Sarah memintanya untuk masuk dan karena ini pasti bukan kebetulan, mereka bertiga yang selalu bersama tidak ada. Mungkin saja Ezra juga tidak bisa dihubungi.
Rani masuk dan dia melihat Widya langsung melontarkan pertanyaan, "di mana Adly ?! Keluarkan dia cepat! Aku akan menghabisinya!"
"Apa salah Adly oi ?! Cari Zaky kenapa mau membunuh suamiku ?!"
"Aku bercanda.. nah, di mana dia ?!"
__ADS_1
"Fauzan juga tidak ada, Sarah kemari buat mencarinya, Adly juga tidak ada di rumah, kalau Zaky tidak ada juga.. Ezra mungkin bersama mereka, bagaimana jika kita menelepon Ezra saja!" Usul Widya sambil menepuk-nepuk kelapanya Alia yang sedang mengantuk. Dia menguap lagi dan memeluk ibunya dengan erat.
Rani masuk ke dalam mereka bertiga duduk di sofa, Alia masih berada di pangkuan ibunya dan sedang tidur pulas. Ibunya mengelus rambut anaknya, dia memastikan tidak ada hal yang serius di matanya karena Adly sudah mengatakan hal yang sebenarnya.
***
Beberapa hari yang lalu saat Alia sedang sekolah. Adly dan Widya sedang berada di kasur, Widya tengah tidur siang di pangkuan lakinya. Hanya saja Adly membangunkannya, dia teringat kalau mata Alia memerah sebelumnya dan wajahnya pucat. Dia takut kalau anaknya akan jadi zombi lagi.
Beberapa saat Widya bangun, dia melihat wajah Adly dan menguap lagi. Merentangkan kedua tangannya sambil menguap, dia menggosok matanya dan bertanya ada apa.
"Ini soal Alia, apa kamu bisa dengarkan ? Ini sangat penting!"
"Baiklah, ada apa ?"
"Dia zombi."
"Baik ? Apa ?" Tanya Widya dengan wajah heran. Tiba-tiba Adly mengatakan itu tanpa ada hal yang jelas, dia langsung ke intinya membuat Widya tidak paham dengan apa yang dikatakan suaminya barusan. Dalam hitungan detik Adly menghidupkan lampu dan melihat jam tangannya, lokasi Alia masih berada di sekolah serta tidak ada orang lain.
Sampai Alia mati karena heartlosive dan orang itu atau orang tua angkatnya tidak berani mengurusnya, karena dia memiliki penyakit semacam itu dan membuangnya. Karena penyakit itu dia mati, lalu bangkit menjadi zombi dan kebetulan ada Adly yang sedang berpatroli.
Dia merasakan suatu bahaya dan melihat-lihat, dan menemukan Alia yang jadi zombi.
Widya bertanya dengan dipenuhi rasa kaget, "K-kenapa kamu rahasiakan ini ?"
"Besar kemungkinannya kamu tidak akan menyayanginya jika tidak mengurusnya dulu."
"Aku tidak peduli! Hanya saja, kenapa kamu merahasiakan ini! Kemarin matanya berubah aneh dan dia bersikap aneh!" Widya menangis. Dia juga menebak kenapa Alia seperti bertingkah seperti mahkluk tidak berakal itu, kemarin hari dia seperti mengeluarkan busa dan air liur.
__ADS_1
Pertama kali Widya menganggap Alia memiliki penyakit ayan, namun bukan.. karena ini sama sekali tidak sama. Kemudian, dia memikirkan hal aneh-aneh yaitu Alia setengah zombi. Karena itu hanya perkiraan saja dia tidak memusingkannya, saat mendekati Alia dia lihat kalau wajahnya pucat.
Badannya lemas.. saat melihat itu Adly sontak mengambil Alia, dia langsung berlari membawanya ingin ke rumah sakit katanya.
"Kamu tunggu di rumah!" Adly berteriak keras. Dia pergi membawa anak itu, sedangkan Widya terdiam di jendela dia cukup khawatir dengan keadaannya dan sekarang dia sudah tahu kebenarannya. Karena sangat cemas dia membuntuti mereka berdua, Adly bukannya membawanya ke rumah sakit melainkan ke sebuah gang.
Dilihat oleh mata kepalanya sendiri, Adly menyuntikan sesuatu ke leher Alia dan langsung melemparkannya. Gadis itu tidak paham refleks ingin mengambil Alia, hanya saja dia terhenti ketika Alia bangun dan dia berdiri menatap ayahnya.
Adly mengeluarkan sebuah pisau, dia nampak bersiap-siap untuk bertahan bila Alia menyerang. Namun, Alia memukul tong sampah dan mulai seperti kesakitan memukul-mukul dadanya sendiri. Seperti seorang pengidap heartlosive yang ingin meredakan rasa sakit.
Dia tidak tahan lagi, melihat itu langsung Widya pergi dengan penuh ketakutan dan agak tidak bisa menerima kenyataan. Dia juga tahu kalau matanya agak berbeda dengan biasanya, sekarang dia berpura-pura tidak melihatnya.
"Kenapa Alia harus setengah mahkluk itu ??"
"Ah, awalnya aku menganggap dia sebagai anak yang beruntung.. namun, perlahan-lahan ketika aku mengurusnya untuk mengawasinya, mulai tumbuh rasa sayang."
"Jadi, kalau dia mengamuk di kota.. bagaimana ?"
"Aku akan menghentikannya, walau dia akan memakan diriku sekalipun."
"Bagaimana jika ada orang yang ingin membunuhnya ?"
"Tidak akan aku biarkan itu, kalaupun itu kamu.. tapi ya kamu ibunya, kan ? Mana mungkin!" Adly tersenyum sambil mencubit pipi istrinya. Gadis itu tersenyum dan mengangguk, dia memeluk lelaki yang bersamanya. Saat bersamaan ketukan pintu terdengar di pintu, pintu terbuka seseorang masuk dan kedua orang tuanya menyambut.
Anak itu segera datang dan menerjang mereka berdua, mereka menangkapnya lalu Alia memberikan sebuah kertas nilai ujian. Ada banyak sekali nilai A+ membuat Widya tersenyum bahagia. Sedangkan Adly memikirkan soal teman sekelasnya, karena pemikiran Alia itu seperti anak SMA pasti akan berat jadi saingannya.
"Alia mau hadiah!"
__ADS_1
"Ohh.. mau apa, sayang ? Ibu dan ayah bakal lakuin apapun buat kamu, asalkan jangan minta gergaji mesin!"
"Ahh! Padahal aku mau itu!" Adly merengek minta benda itu. Widya tidak mempedulikannya, dia bertanya pada Alia yang saat ini sedang berpikir. Dia langsung menyebutkan keinginan dia.