
Setelah sekian lama taksi yang sedang berjalan tiba-tiba terhenti di tempat yang sepi, Widya merasa heran dan bertanya pada supir pria yang ada di depannya. Hanya saja matanya terbuka lebar karena dia menodongkan pistol padanya, Alia juga sama kagetnya. Napasnya terengah-engah melihat Widya.
Widya bertanya dengan tenang, "mau apa kamu ? Uang...,Kah ?"
"Bukan.. tempat ini sama sekali tidak ada orang jadi takkan ada yang bisa menolongmu."
"Lalu apa ? Cepat katakan."
"Bersenang-senang denganku sebentar," jawab supir dengan senyuman jahatnya. Widya menghela napas kemudian melihat Alia yang biasa saja tidak ketakutan, namun di tangannya sudah ada belati ayahnya yang sudah digenggam. Ya dari wajahnya juga sudah tahu kalau anaknya itu bisa mengatasinya.
Widya tersenyum, "dasar penjahat kelamin. Tapi kalau kau bisa mengalahkan anak ini kau boleh semalaman denganku sepuasnya."
"Kala--!"
"Dasar orang gila!" Ucap Alia sambil menebas tangannya. Kakinya menendang kursi mobil dengan kencang hingga kepala supir terkena ke kaca, Alia mengambil pistolnya dan menembak tangan serta kakinya. Salah satu yang diajarkan ayahnya adalah jangan memutuskan untuk membunuh seseorang dulu, pikirkan tiga kali sebelum melakukannya.
Keluar dari mobil mereka menatap supir dengan sinis dan dia sedang menangis kesakitan. Alia yang melihatnya jijik, "bahkan ayah yang tertembak belasan peluru juga tidak tumbang atau menangis."
"Kurang ajar...!" Ucap pria itu. Mendengar itu Widya datang padanya, dia tersenyum di depannya dan menendang kepalanya dengan keras dari pintu mobil. Menjambak rambutnya dengan tangannya, dia melemparnya keluar dari mobil dengan amarah yang meluap-luap.
Mengambil ponselnya dia menelepon polisi untuk datang kemari untuk meringkus orang ini. Alia datang padanya, dia mengambil pisau miliknya dan menyodorkannya ke pipinya. Setelah selesai menelepon Widya mengambil tangan anaknya dan tersenyum masam, "gak boleh."
"Hump.. ayah suka mengkoleksi," jawab Alia dengan cemberut di mukanya. Gadis itu menghela napas dan mencubit pipinya dengan pelan, "Ya mata manusia gak boleh."
Beberapa berlalu polisi datang dengan sirene yang berisik, seseorang datang dan melihat kalau pelaku memiliki luka bekas tembakan pistol. Dia mendatanginya melihat kalau ini bukan peluru biasa, melainkan dari organisasi terbesar dan paling berperan penting bagi negara. Dia langsung menelan ludahnya.
Melihat gadis yang sedang menceritakan apa yang terjadi, dia memiliki wajah yang ketakutan karena dia memiliki hubungan dengan ketuanya. Dia berdiri dan menghampiri rekannya, mereka tidak meminta kesaksian apapun dan langsung pergi membawa penjahat itu. Tapi orang itu ingin bertanya pada Widya.
__ADS_1
Widya menunduk, "terimakasih atas bantuannya."
"Ah, ya tidak apa hanya saja.. apa Anda punya hubungan dengan ketua ?"
"Maksudnya... Belati putih ?"
"Iya.. maaf untuk bertanya seperti ini, tapi saya punya pesan dari beliau dan hal itu tidak disebarkan olehnya lewat televisi."
"Pesan ?!.. soal apa ?" Tanya Widya dengan nada tinggi. Orang itu membicarakan semuanya dan wajah mereka berdua sangat lega dengan mengalir air mata, keduanya berterima-kasih lalu meminta pria itu untuk ikut dengannya dan memulai semuanya.
Orang itu adalah salah satu orang yang mendengarkan pesan dari Adly atau salah satu anggota dari tim penyelamat, mereka senang dan pergi bersama menjalankan semua yang harus dilakukan. Hingga saatnya takkan pulang dari semuanya.
***
Disebuah rumah Ryan hanya terdiam duduk bersama Rani setelah mendengarkan semua cerita soal kejadian di rumah ini. Sebelumnya.. gadis itu masih saja tidak bisa merelakan lelaki yang ada di depannya, sekarang perlahan banyak orang yang dekat dengannya pergi.
"Tidak, dia tidak mengatakan apapun sebelum pergi membawa koper dan Alia."
"Begitu yah," jawab Rani dengan menunduk dan merasa kalau semuanya perlahan hilang. Menghembuskan napas, dia berdiri dari tempat duduknya lalu pergi menuju dapur mau mengambil beberapa camilan dan teh untuk Ryan karena dia kelihatan murung.
Mau bagaimana sekalipun juga Rani tahu kalau Adly adalah satu-satunya orang yang membuat Ryan jadi berani dan bisa berdiri tegak kembali, tapi tidak ada yang bisa menyangka kalau orang itu akan pergi. Begitu juga Rani, dia bahkan tidak menyangka kalau dia adalah ketua dari organisasi itu.
Sesudah menyiapkan teh untuk Ryan, dia berjalan ke tempatnya dan menyimpan nampan di atas meja dengan senyuman. Beberapa saat kemudian Ryan melihatnya dengan serius, "hey Rani.. besok aku akan pergi juga karena kau tahu, bukan ? Temanku bukan hanya kamu saja."
"Oh begitu ya.. aku paham, kok."
"Soal perasaanmu, aku sudah mengatakannya agar tidak terlalu mengikat pada seseorang banyak lagi lelaki yang melebihiku."
__ADS_1
"Tetap saja.. dia akan jadi yang kedua, bukan yang pertama. Lalu kenapa kamu nolak ? Padahal aku masih perawan, loh."
"Kenapa kamu mengungkitnya lagi ? Dasar..."
"Ahahaha, maaf..!" Tawa Rani membuat lelaki itu tenang kembali. Mereka meneguk tehnya bersama, suasana rumah begitu hening dan sepi sekali karena ibunya tidak ada di rumah. Hanya mereka berdua dan pelayan rumah yang ada, rumah sangatlah besar begitu juga suasananya besar.
Merasakan kalau tenggorokannya kering. Ryan meneguk tehnya dengan begitu cepat, dia sangat kehausan.. melihat itu Rani menambah teh ke cangkirnya, lelaki itu membalasnya dengan senyuman. Karena suasana yang hening, Ryan menyalakan televisi dan melihat kalau masih ada berita sebelumnya.
Hendak ingin memindahkan acara tapi tidak jadi karena mereka membahas sesuatu yang kedengarannya menarik, ada yang mengungkap sesuatu tentang organisasi Belati Putih yang sangat tidak wajar. Mereka memiliki semacam kekuatan dari sebuah batu kristal kekuatan, mereka menyebutnya dengan sebutan batu kehidupan.
Setiap anggota yang memiliki kemampuan hebat dan berprestasi akan diberikan batu ini, semua yang memegangnya akan mendapatkan kekuatan yang besar. Terlebih lagi setelah setahun batu itu dipegang oleh seseorang kekuatannya alam berpindah pada tubuhnya, nanti setelah orang itu punya keturunan. Anaknya juga akan punya kekuatan spesial.
Rani menatap heran televisi, "apa Adly juga punya kemampuan itu ?"
"Ya itu bisa menjelaskan kenapa dia bisa melawan banyak orang sekaligus, padahal ada ratusan loh musuh itu. Tapi aku heran..."
"Heran mengapa ?"
"Musuh Adly *******, bukan ? Kenapa mereka punya batu itu juga ?... Maksudku, jikalau mereka tidak punya begituan pasti Adly akan pulang dengan selamat."
"Bisa saja Adly kalah karena melawan terlalu banyak musuh dan setiap musuh punya senjata, kan."
"Di tempat pertarungan banyak seperti panah dari kristal dan sebagainya," jawab Ryan sambil memejamkan matanya dan berpikir soal itu. Sedangkan Rani hanya terdiam bingung, dia menunduk melihat ke cangkir teh miliknya. Dia tahu dari video yang tersebar dan sedang viral, itu membuatnya mengetahuinya.
Walau batu itu dijaga oleh pemerintah pasti untuk mengambilnya akan sangat susah kecuali jika seseorang memberontak dan berpihak pada musuh, itu yang ada di pikirannya tapi melupakannya sejenak. Namun, Rani terlihat aneh dan mengambil tangan Ryan dengan cepat sontak membuat Ryan merasa kaget.
Bertanya padanya Ryan dengan wajah heran, "ada apa ? Kok.. kamu bikin aku kaget gitu.''
__ADS_1
"Maaf..! Tapi, aku tahu kalau Adly punya rahasia!" Ungkap Rani dengan wajah serius. Ryan mengangguk dan bertanya padanya, mereka kemudian bicara dengan serius.