Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
56. Ezra, Fauzan


__ADS_3

Setelah kejadian kemarin hari, banyak orang yang bertanya-tanya kenapa semua veteran dari Belati Putih takut pada Humanoid. Sampai saat ini tidak ada yang bisa menjawabnya, dan orang-orang yang mengetahuinya juga tidak paham alasannya. Sedangkan saat ini Adly sedang berbaring di kasur, disebuah bantal yang sangat empuk dia sedang dalam kenyamanan.


Widya berkata sambil merapihkan rambutnya, "a-apa kamu mau ?"


"Mau apa ?"


"Apa yang diteriakkan Alia kemarin."


"99 ? Y-Yah.. itu terlalu banyak, udah kek panti asuhan, dah."


"Bener sih! Apa yang aku pikirkan!" Widya bergetar. Merasakan getaran Adly menjauh darinya, keadaan lelaki itu juga sama yaitu Zaky yang sedang terbaring di kasurnya sendirian di kamar. Hanya saja saat ini dia tak sendirian lagi.


Seseorang mengetuk pintu, Zaky yang mendengar ketukan pintu mengizinkan seseorang itu masuk. Saat pintu terbuka dan Zaky melihat orang yang masuk, katanya terbuka lebar sambil memperhatikan orang itu. Atau kedua orang itu, dia sangat ketakutan.


***


Si tempat lain Fauzan diam terduduk di kursi taman, dia menunggu seseorang datang wajah yang cukup gelisah. Saat memikirkan apa yang ingin dibicarakan tubuhnya bergetar, merasakan kalau dirinya mungkin akan mendapatkan dosa yang begitu besar.


Dari jauh Sarah melihatnya. Dia tahu kalau kekasihnya sedang tidak dalam keadaan baik, kalaupun tidak mana mungkin dia akan bersikap aneh saat keluar dari kamarnya. Mereka serumah namun, bersama banyak orang yang tinggal. Tempat itu seperti panti asuhan, banyak sekali anak-anak yang diasuh.


Calon para pasukan Belati Putih, yang kini sudah diketahui keberadaannya oleh para pemerintah. Mereka menentang ini karena mereka anak kecil, walaupun latihan mereka bertahap juga terlalu berbahaya.


"Kalaupun Ezra memaafkannya, aku tidak yakin Fauzan bisa melupakannya," gumam Sarah sambil memperhatikannya. Tidak lama Ezra datang sambil membawa sekantung gorengan, dia melihat Fauzan dan mengingat janjinya. Kemudian, dia duduk di sampingnya.


Fauzan ingin langsung ke intinya tapi Ezra menyimpan gorengan pada tangannya, lelaki itu paham dan berterima kasih padanya.

__ADS_1


Ezra menjawab, "sama-sama!"


"Lalu, ada yang ingin aku bicarakan denganmu, ini hal yang sangat penting."


"Sebelum kamu bicara, kenapa kamu seperti menghindariku ?"


"Justru itu, aku ingin membicarakannya dan bukannya kamu suka memakan gorengan ditemani kopi ?" Tanya Fauzan sambil tersenyum. Lelaki di sampingnya tidak menjawab, dia menghentikan giginya yang sedang ******* hancur makanan yang ada dalam mulutnya.


Dia sama sekali belum pernah mendengar Fauzan bercanda seperti ini, Ezra tahu kalau ini yang pertama kalinya dan begitu aneh. Dalam sekejap dia tahu kalau temannya ini ingin mengatakan sesuatu yang berat, dia tersenyum dan menepuk pundaknya.


"Yah! Katakan saja, aku akan tetap menganggap dirimu temanku!" Ujar Ezra debgan suara agak tinggi. Fauzan merasa kalau dia sangat berat ingin mengucapkan ini, dia berdiri dan melahap satu gorengan itu sekali hap.


Meminta Ezra untuk ikut dengannya dia mengangguk dan mereka berdua pergi, sedangkan saat Sarah ingin mengikutinya dia mengurungkan niatnya. Dia tahu kalau sudah cukup dirinya mengurusi kekasihnya, masalahnya adalah masalahnya sendiri. Dia tahu kalau lelakinya itu kalau menghadapi kesulitan yang tidak bisa dihadapinya, dia akan meminta bantuan.


Pada teman, kekasih, dan siapapun yang dipercayai olehnya. Sarah tahu betul tentang Fauzan, hanya saja di juga tahu kalau dia terlalu ikut campur karena itulah dia ingin membiarkan lelaki itu mengatasi masalah ini sendirian.


Ezra tersenyum, "jangan terlalu khawatirkan itu, aku baik-baik saja!"


"Namun, aku tidak bisa melupakannya."


"Aku paham, hanya saja bukannya.. maksudku.. kakak pasti tidak suka melihatmu menangis begini," ucap Ezra menatap Fauzan dengan tatapan heran. Saat air katanya menetes, Ezra hanya terdiam saja menatapnya dan Fauzan langsung roboh jatuh.


Ezra tidak tahu kalau keadaannya bisa memburuk dan entah apa keinginan orang itu, padahal dia mengurus Fauzan, Adly, Zaky, dan dirinya. Namun, melakukan hal kejam tanpa tujuan yang jelas dan membuat semua orang tidak bisa mempercayainya.


Sekarangpun orang itu harusnya sudah jadi kakek-kakek.. namun, karena kekuatan Elentry membuatnya jadi memiliki umur panjang, begitu juga yang lainnya dan itu membuat mereka semua tidak tahu lagi harus berbuat apa.

__ADS_1


Dulu sekali, empat atau lima tahun yang lalu. Terjadi sesuatu yang membuat semua orang tidak tahu lagi, saat Adly membuka ke-7 frame miliknya dan Zaky yang syok tentang ayahnya. Begitu juga Fauzan yang menjadi punya rasa bersalah pada Ezra, Ezra juga yang kehilangan ingatannya.


Semua kejadian itu membuat luka dalam pada keempat orang itu, hamparan padang rumput luas ini bekas dari pertempuran dashyat sampai pertempurannya menyebabkan ratusan orang jadi korban. Lawan mereka hanya satu orang, tapi dengan kekuatan itu tetap saja kalah.


Tempat ini adalah sebuah desa kecil, yang begitu damai dan begitu juga warganya sangatlah baik... Hanya saja kejadian itu membuat hampir keempat orang itu berpecah belah, sekarang Ezra paham kalau Fauzan merasa sangat bersalah.


Ezra bertanya sembari tersenyum, "kita duduklah dulu dan bicarakan ini berempat saja, bagaimana ? Apa kau setuju ?"


"Mereka berdua ?"


"Ya.. Zaky dan Adly, Fauzan dan diriku. Itu saja."


"Baiklah, aku akan meminta mereka buat kemari..." Jawabnya sambil menunduk. Dia mengambil Earbuds lalu memasangnya di daun telinga, kemudian kedua orang yang dipanggil menjawab dan langsung tanpa basa-basi Fauzan meminta mereka untuk datang ke tempatnya.


Nama tempat tidak disebutkan, dia membagikan lokasi pada mereka berdua. Lewat GPS Zaky melihatnya, matanya terbuka lebar sedangkan orang yang ada di hadapannya juga ikut terlibat. Alias orang yang merawatnya dari bayi hingga sekarang.


Zaky tersenyum kecil, "ayah.. ketiga temanku itu mau ke tempat kita bertengkar, apa kau mau ikut ?"


"Hah.. ? Kalian mau mengulangi lagi pertempuran itu ?"


"Kenapa kau malah tersenyum..!"


"Kau ingat saat Adly mengamuk ? Seperti anjing saja yang kehilangan kendali saja, begitu juga Fauzan yang membunuh dua orang saja terlihat seperti orang tidak waras dan kau ?.. aya-- aku masih ingat saat wajahmu yang pucat itu."


"Kurang ajar kau, Zyred!!" Teriak lelaki itu sambil melayangkan pedangnya. Zyred menggenggam pedangnya, kemudian hancurlah bilahnya dan dia menendang kepalanya hingga dia jungkir balik. Zaky menatap ayahnya, dia menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan kebencian. Saat kemarahan merasukinya, keluar burung kecil membuka mulutnya dan menembakan secuil batu.

__ADS_1


Seketika Zyred pergi tanpa jejak, pertemuan mereka sama sekali tidaklah seperti ayah dan anak yang menganggap masing-masing. Zaky memukul lantai, dia menggeram menahan amarahnya. Hanya saja dia tahu kalau ini seperti sebelumnya, dia terpancing kemarahan membuatnya kalah.


Mengingat kalau Fauzan meminta agar mereka bertemu di tempat itu, Zaky berpikir kalau ayahnya ingin membuatnya marah dan membuat mereka bertengkar sampai saking membunuh. Karena itu dia mencoba untuk tenang.


__ADS_2