Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
54. Zaky, Adly


__ADS_3

Semuanya bersorak-sorai melihat Adly yang melakukan tugasnya, naga itu bertarung bersamanya dan dia berkali-kali mencakar semua musuhnya. Dua pedang yang di bawa Adly dilempar, menusuk dua kepala robot dan tiba-tiba muncul Adly di hadapan mereka mencabut kembali pedangnya.


Mengambil sesuatu benda seperti pil kecil, dia melemparkannya ke tengah arena dan benda itu mengeluarkan asap tebal. Lelaki itu masuk ke dalamnya, kemudian naga itu naik ke atas langit dan terbang.


Dibabak kedua ini, musuh mereka sangat tangguh karena memiliki banyak pasukan. Satu melawan puluhan lawan, itu bukan apa-apa bagi Adly sendirian saja. Keluar ratusan peluru dan suara peluru berjatuhan terdengar.


Zaky tersenyum kecil, "hebat sekali dia.. kupikir nanti kalau kami berduel akan kesusahan buat mengalahkannya."


"Bukannya kau itu lebih kuat ?"


"Secara kekuatan iya, namun.. kekuatan milikku takkan bisa terus-terusan digunakan sedangkan dia bisa menyerang bertubi-tubi, jujur sekali serang dia bisa langsung tumbang. Tapi juga, aku tidak tahu kalau dia terus menyerang dan aku akan kalah."


"Bisa dibilang kalian akan seri ?"


"Ya begitulah," jawab Zaky menanggapi Rani yang bertanya dari tadi. Setelah menjawab pertanyaannya itu, Zaky melihat kembali ke arena dan gencar peluru itu semakin menggila di arena. Begitu juga rantai yang mengamuk menusuk sampai menghancurkan mereka berkeping-keping, Adly dalam asap merasa agak cemas.


Melihat ke sekitarnya ada banyak sekali misil yang berdatangan, dia membiarkan misil itu datang padanya dan membelahnya secara bersamaan dengan tiga tebasan. Akibat kelebihan menggunakan kekuatannya, dia merasa tidak enak badan.


Karena itulah dia ingin mengakhiri ini semua dengan cepat. Naga di atas yang sedang terbang berubah bentuk menjadi sebuah kristal kecil, berbentuk layang-layang dan berwarna merah serta putih. Adly mengambilnya, dia menyatukan dua katana menjadi satu dan tercipta pedang dua bilah.


Menempelkan kristal itu pada bilahnya, ada cahaya keluar dan pedang itu menjadi lebih tajam dari biasanya. Pedang yang bisa memotong segalanya.


Adly tersenyum, "hey, apa kalian tahu ini apa ? Pencongkel nyawa kalian, loh!"


"Apa yang kau bicarakan ? Mereka robot!"

__ADS_1


"Dragrise, jangan begitu. Biarkan mereka mati!" Ucapnya. Dia tersenyum jahat, seketika tubuhnya menghilang dan muncul di atas mereka semua. Yang awalnya robot-robot itu yang menyebar tiba-tiba berkumpul, seperti ada magnet yang menarik mereka semua ke satu titik.


Sebuah kotak kecil berwarna hitam menarik mereka semua layaknya magnet menarik besi, Adly yang tepat berada di atasnya menyiapkan pedangnya. Ada pusaran angin di punggungnya lalu mendorongnya ke bawah, seperti kilatan cahaya dia menebas sekumpulan robot yang sedang berkumpul.


Tubuh mereka acak-acakan dan semuanya telah berakhir, dengan kemenangan Adly membuat mereka mendapatkan kemenangan. Widya melambaikan tangannya, dia berteriak lagi membuat Adly melihat kepadanya. Lelaki itu membalas teriakan Widya hanya dengan senyuman.


"Giliran kamu, selesaikan ini dengan cepat! Ketua grup Penghancur!" Rani memukul pundaknya. Zaky ikut tersenyum, dia memasuki arena dan berpapasan dengan Adly yang sedang berjalan menuju pintu keluar. Mereka bersalaman sebelum pergi.


Zaky berdiri di tengah arena, dia tahu kalau nasib organisasi berada di tangannya saat ini. Jika kalah dia akan keluar dari organisasi dan menanggung malu selama dia hidup, kembali melihat ke sekitarnya ada robot yang mendatanginya.


Sebuah mesin dengan ukuran besar berdiri di hadapannya, sekitar 4 meter robot itu berdiri. Zaky menghela napas, kemudian saat bel berbunyi mereka saling berhadapan. Keluar sebuah senapan dari tangannya, menembak Zaky yang terdiam.


Lelaki itu tersenyum dan mengeluarkan secuil batu kecil berwarna hitam pekat, itu bergerak cepat menerima setiap serangan yang dilancarkan robot melindungi Zaky yang sedang diam.


"Memancing amarah ya ? Tapi kan, itu robot."


"Entah.. hanya saja mungkin itu hanya kebiasaannya."


"Kalian sudah berapa lama bersama ?" Tanya Widya. Adly tidak tahu harus menjawab apa, dia memilih untuk diam saja tidak menjawab dan menggelengkan kepalanya sedikit. Lalu, saat pandangannya kembali ke arena Zaky mengeluarkan sebuah pisau dan melemparkannya ke dada robot.


Walau peluru dari senjata mesin itu mengenai pisau yang sedang terlempar, sama sekali tidak hancur atau apapun. Walau harusnya pisau berbalik terlempar atau hancur, namun tidak terjadi apapun seakan pisau itu menembus semua peluru yang ada.


Di tengahnya ada lampu kecil dan saat tertancap di dada robot, lampu kecil itu berkedip beberapa saat dan meledak. Semua orang juga tahu kalau itu bom, sekarang Zaky menghentakkan kakinya ada sebuah lubang hitam di tanah melahap robot itu sekali. Hap!


Babak satu selesai, namun ada banyak robot datang lagi dan tanpa membiarkan lawan mereka berisitirahat sebentar aja tidak ingin. Suara gemuruh mesin terdengar, suara itu membuat telinga Zaky gatal membuatnya agak kesal.

__ADS_1


Dia menghitung semua musuhnya, ada 20 robot yang jadi lawannnya. Dia mengangkat tangannya setengah dada.. dari telapak tangannya itu keluar sembilan pisau yang mengapung, mengelilingi dirinya dan saat semua robot mengeluarkan misil bersamaan semuanya terdiam.


Widya memperhatikan dengan saksama, "kenapa Zaky membuat rubik ?"


"Memang aneh, tapi.. lihatlah dulu. Ini sama seperti saat aku menghentakkan kaki membuat duri menusuk semua musuh."


"Tapi agak..."


"Aku bisa menghindar dari serangan musuh-musuh, hanya saja Zaky tidak bisa melakukannya seperti diriku jadi dia masuk ke dalam rubik agar bisa melancarkan serangan dan tetap diam."


"Kamu lari saat melakukan serangan, sedangkan Zaky berlindung dari serangan ? Begitu intinya ?" Tanya Widya. Lelaki yang menyender padanya tersenyum dan mengangguk kecil, saat gadis itu sedikit paham apa yang terjadi dia kembali lihat ke arena yang dipenuhi robot.


Bahu mereka tetap mengeluarkan dan menembakan serangan, Zaky yang ada di dalam rubik memejamkan matanya. Di luar rubik yang awalnya tidak memiliki warna yang tepat berubah, setiap warna bergabung dengan warna yang sama. Saat itu juga ada duri menusuk salah satu robot.


Setelah beberapa menit menyelesaikan rubik itu, 19 robot sudah habis dan semua pisaunya menghilang memudar. Rubik yang menjadi penghalang pun ikut menghilang, Zaky menatap salah satu robot dan menunjuk dengan jari telunjuknya.


"Hancurlah.."


"Pembakaran maksimal!" Ucap robot mengaktifkan serangan api. Semburan api seperti saat menyerang Adly keluar. Jari telunjuknya mengeluarkan peluru hitam dan melesat dengan cepat, saat ada dalam api bukannya meleleh atau hancur malah peluru itu menghisap api itu.


Semua penonton sontak kaget, kemudian saat menembus badan robot peluru itu mengeluarkan api. Serangannya sebelumnya berbalik padanya, Zaky tersenyum dan mengangkat tangannya. Dengan ini mereka menang, walaupun ada tiga babak karena mereka mendapatkan tiga kemenangan mereka jadi pemenang.


Hanya saja lawan mereka perusahan robotika mengeluarkan semua robot dan pasukan yang mereka miliki, mereka mengakui kalau sudah kalah. Hanya saja yah.. setidaknya, mereka ingin menang melawan Adly dan Zaky sebagai pasukan terbaik yang telah mendapatkan pengakuan dunia.


Begitu juga mereka akan mendapatkan keuntungan, karena kalau berita tersebar membuat perusahaan mereka sukses. Kalau sebaliknya mereka kalah, kepopuleran mereka akan bertambah. Tidak bagi Adly, karena di mata umum dia sudah mati harusnya. Sedih juga.

__ADS_1


__ADS_2