
Wanita di sampingnya memejamkan matanya sembari memeluknya, dia tidur dalam dekapan Zyred sebagai suaminya. Hanya saja, bukan sepenuhnya tidur melainkan mode tidur membuat semua sistemnya mati hingga akan aktif semua ketika jadwalnya sudah waktunya untuk bangun.
Memikirkan hal ini Zyred dari dulu tahu kalau dia bukan Lyna yang dulunya dia kenal sebagai istri tercintanya, hanya sebuah mesin yang punya sifat yang sama dan memuaskan kerinduannya hanya sebentar saja. Hanya dengan ini bayarannya adalah menghancurkan dunia dan membunuh hampir semua umat manusia, secara keseluruhan.
Jika saja dia tidak membuat insiden itu, maka hal semacam ini takkan terjadi seperti Zaky yang mulai tersenyum padanya dan ingin bicara dengannya malah tambah menjauh. Semakin dia dewasa, selain juga dia memahami kalau ayahnya juga sedih akan kematian ibunya.
Tapi, dia malah melakukan hal yang tidak bisa dimaafkan dengan membuat Adly membunuh banyak orang dan Ezra serta Fauzan juga. Mana mungkin Zaky akan memaafkannya, itu juga kalau dia tidak sampai melakukan hal itu pasti pria itu akan menghancurkan dunia ini sekali tekan pada sebuah tombol.
"Maafkan aku anakku, aku akan mencoba melakukan apapun agar aku bisa mendapatkan status ayahmu kembali.. setelah itu aku akan mati sebagai bayaran atas semua dosaku, tapi aku tidak bisa mati sekarang karena dengan keberadaanku aku bisa mengawasi dia dan membocorkan semua rencananya perlahan-lahan.." batinnya.
Dia menghela napas dan memeluk robot itu, merasakan hangat yang dibuat dari mesin ini cukup untuk berkhayal bahwa dia sedang bersama istrinya. Ini cukup untuk pendosa seperti dirinya.
***
Ryan dan Vina keluar dari sebuah rumah yang kelihatan cukup megah, setelah pindah ke rumah ini bersama Ryan dia cukup senang. Gadis itu membawa kantong belanjaan pergi bersama Ryan membeli bahan makanan.
Vina membuka dompetnya dan bertanya, "Kamu mau makan apa malam ini ?"
"Daging manusia."
"... Hah ? Jangan meniru Adly karena kau belum cukup keren melakukan itu terlebih lagi dia sudah jagoan dalam candaan seperti itu."
"Ah, ya.. ya baiklah! Harusnya kamu itu lebih memperhatikan suamimu bukan lelaki lain!" Ryan mencubit pipinya. Gadis ini menghela napas, dia memeluk tangannya ketika berjalan membuat Ryan senang dengan hal ini. Cukup senang.
Mereka menghentikan angkutan kota dan memasukinya duduk di bangku yang sempit karena banyak orang, hanya saja saat melihat pakaian Belati Putih milik Ryan mereka agak sedikit heran. Kenapa orang seperti dia naik angkutan kota ? Heran sekali.
Ryan yang tentu sadar akan tatapan heran dari pada penumpang bertanya pada salah satu orang di sebelahnya, seorang gadis cantik berpakaian baju sekolah SMA yang memakai pita di kepalanya.
__ADS_1
Dia menjawab, "ah itu.. karena Anda bukannya dari Belati Putih ?"
"Ya.. maafkan untuk ini, aku mau menghantar istri ke pasar dulu dan langsung bekerja, karena kalau pulang dulu untuk ganti pakaian atau membawa pakaian ganti akan merepotkan.. jadi aku memakainya sekalian. Tidak ada hal yang serius atau apapun, bahkan... Pencopet sekalipun!"
"...!"
"Sudah kuduga, dia memang pencopet.." Ryan berkata dalam hati. Dia memperhatikan salah satu penumpang samping pintu, tangannya itu memegang dompet merah muda milik salah satu penumpang yang ada di sini. Ryan tahu akan hal itu.
Menghentikan supir dia meminta berhenti dan turun membuat Vina heran karena tujuannya masih jauh, Ryan tersenyum dan mengeluarkan pedangnya. Mengacungkan pedangnya depan leher pencopet.
"Baiklah.. kau turun dan simpan kantong belanjaanmu itu di sana!" Ryan menatapnya tajam. Pencopet itu menurutinya, dia tahu seberapa kejam dan menakutkannya orang-orang dari Belati Putih bahkan yang paling rendah sekalipun.
Ryan mengeluarkan borgol dari sakunya, "Nah, diam kau di sini!"
"S-saya mau diapakan ?" Tanya pencopet dengan penuh ketakutan. Beberapa saat kemudian setelah Ryan memborgolnya, dia meminta Vina untuk mengeluarkan semua belanjaannya dan tentu istrinya itu melakukannya sesuai permintaannya.
Vina menghela napas lega dia pikir Ryan telah salah sangka, namun ternyata benar.. dan terpikir kalau ajaran dari Zaky dan Adly begitu bagus sampai dia bisa menyadari hal semacam ini. Melihat dompet ini yang begitu banyak Vina tidak tahu harus apa.
"Nah, kau aku lepaskan takkan aku laporkan tapi jangan melakukan ini lagi! Kalau kau mencopet lagi, kami bisa mencari informasi dan menangkapmu hidup atau mati, kalau dilakukan lagi kau akan kami bawa ke tempat penelitian dan akan kami hancurkan bola matamu, menghancur---"
"Baik-baik! Saya tidak akan melakukan ini lagi!"
"Baguslah, dan apakah rumahmu masih jauh ?"
"Dekat!"
"Yah, kalau kau tidak punya pekerjaan pergi saja ke gedung Belati Putih dan bawa teman-teman copetmu sekalian... Kami akan memberikan pekerjaan yang layak!" Ryan tersenyum sambil mengatakannya.
__ADS_1
Orang ini mengangguk dan menunduk, Ryan menghela napas dan memasuki angkutan kota lagi meninggalkannya di tepi jalan.
Vina menatap Ryan yang di sampingnya, "kenapa kamu melepaskannya ?"
"Mungkin dia tidak punya pekerjaan.. dan ya kami juga bisa menyediakan pekerjaan untuknya."
"Lalu, kenapa kamu menyuruhnya membawa teman ? Kalau temannya banyak gimana ?"
"Belati Putih menyediakan tim untuk ini khusus, mereka akan mencarikan kerjaan di manapun sesuai kemampuan."
"Kemampuan bagaimana, kak ?" Tanya gadis SMA di sampingnya. Ryan menjelaskan semuanya, dia juga meminta agar mereka menyebarkan ini pada semua orang agar tingkat pengangguran dan kejahatan di negara ini berkurang. Karena juga ini rencananya Fauzan agar Belati Putih semakin memiliki posisi aman kalau sampai ketahuan. Soal rencana penggeseran itu.
Menjelaskan ini khusus untuk orang yang tidak mempunyai pekerjaan karena tidak punya ijazah untuk melamar, karena suatu penyakit, dan sebagainya dia terangkan.
Ada seseorang yang bertanya pada Ryan, dia juga kebetulan tidak punya pekerjaan dan bertanya beberapa hal. Ryan sedikit bingung.. dia belum pernah mendapatkan pertanyaan ini, agak berbeda dengan syaratnya tapi Ryan memintanya untuk pergi ke Belati Putih saja terlebih dahulu.
Orang itu paham dan menunduk, "terimakasih! Saya baru kena pecat jadi mencari pekerjaan baru.."
"Ya.. karena atasanku juga meminta agar bisa mengumpulkan orang-orang yang tidak punya pekerjaan, jadi sedikit sibuk padahal baru menikah dua Minggu yang lalu."
"Ahaha.. begitu ya ? Tapi, kalau saya ke sana harus bilang bagaimana ?"
"Eh ? Ah, ya katakan saja ke orang yang ada di sana mau satpam atau anggotanya, bahkan langsung ke ketua juga tidak apa-apa! Asalkan niatnya begitu!" Ucapnya sambil tersenyum. Orang ini bernapas lega, setelah sekian lama dia bisa mendapatkan pekerjaan untuk istrinya. Dia cukup lega sekali.
Namun, Ryan menghela napas dia pikir tugas ini agak merepotkan karena dia dan yang lainnya perlu berkeliling kota untuk mencari penjahat membujuknya untuk mencari uang dengan cara yang diizinkan. Dengan kekerasan atau bicara, mereka boleh membujuk dengan cara apapun.
Hanya saja melihat situasi, jika penjahat itu kekeuh tidak mau, maka tidak ada jalan yang lain selain kekerasan. Kalau mau mendengarkan bujuk dengan kata-kata, agar Belati Putih di mata masyarakat terlihat bagus...
__ADS_1