
Seperti biasanya Ryan dibangunkan oleh gadis yang tinggal bersamanya, dia bangun dengan rasa ngantuk yang masih menguasainya. Selang beberapa menit dia mengantuk kembali, Vina merasa jengkel tapi menghela napas mengurungkan niatnya untuk menguyur lelaki yang masih mengantuk ini.
Mengambil semangkuk bubur kacang di atas meja yang dibuat oleh Vina sebelumnya, Vina mengambil sesendok memberikannya pada Ryan namun karena masih mengantuk lelaki itu tidak sengaja berguling ke meja hingga membuat mangkuk itu terjatuh dan pecah. Ryan sontak bangun melemparkan selimut, kain itu menutupi seluruh badan Vina.
Dia melihat ke arah pecahan mangkuk serta Vina yang tertutup selimut. Menelan ludahnya dia menarik selimut agar Vina terbebas, "maaf.. aku gak sengaja. Ya maafin.."
"Besok kamu tidur di sofa sana!"
"Hah ? Y---ya... Jangan lah, please!"
"Kubilang enggak, ya enggak!" Tolak Vina dengan tegas. Ryan menghembuskan napasnya hanya bisa pasrah saja, tetapi saat mengingat besok adalah akhir dia membuka matanya lebar dan segera menenangkan dirinya. Nampaknya Vina lupa soal hari terakhirnya.
Hanya saja saat kemarin beberapa hari yang lalu, itu sangat membuat Ryan begitu ingin bicara pada seseorang yang bisa meminjamkan sandaran untuknya dan bicara menenangkan hatinya. Orang itu sangatlah baik sebagai orang yang membuatnya bertanya-tanya, setidaknya bagi seorang rekan Adly baginya.
Saat itu dia tengah keramaian kota merasakan rasa sakit heartlosive yang sungguh menyakitkan, banyak orang juga disekitarnya. Pergerakannya terhenti karena seluruh rasa sakit menjalar pada seluruh tubuh, dia hanya bisa pasrah karena banyak polisi yang sedang bertugas maupun beristirahat.
Sudah ada peraturan untuk menembak mati pengidap heartlosive jika dia mengamuk ditengah keramaian, hanya saja Ryan masih tau diri untuk tidak melukai orang lain. Hanya saja dia sudah tidak kuat hingga terjatuh ke tanah.
Saat itu juga semua orang sadar dengan apa yang terjadi pada Ryan, seorang tentara datang membawa senapan. Banyak orang yang terburu-buru untuk pergi dari tempat itu, bahkan dua tentara siap menembak Ryan yang sedang merasai sakitnya. Tidak bisa menahan sakit Ryan berteriak dan memukul-mukul tanah, pelatuk hampir ditekan.
Tapi seseorang datang bergegas padanya, memakai kacamata dan pakaian yang dikenakan olehnya begitu mencolok. Dia datang ke depan Ryan dan menjungkirbalikkan tubuhnya, sigap mencengkram kuat-kuat kedua tangan Ryan.
__ADS_1
Orang itu menekannya kuat-kuat kemudian bicara padanya dengan sedikit berat, "tahanlah..! Tarik napas dan lupakan rasa sakitnya, ya.."
"Hahh.. hahh.. Hahh...!"
"Bagus, sekarang kamu tenang dan untuk kalian berdua jangan langsung membunuh penderita penyakit ini. Segera tangani dulu dengan menjungkirbalikkan tubuhnya lalu tahan dia sampai tenang."
"Baik, ketua!" Jawab mereka. Ryan tersadar kalau orang yang menolongnya anggota militer juga, kalau dipikirkan lagi pasti dia bukan orang sembarangan pikir Ryan saat itu. Karena sudah tenang lelaki itu berdiri dari tubuh Ryan, Ryan juga segera berdiri lalu membungkuk berterima kasih padanya.
Lelaki itu menatap lama ke Ryan dengan saksama, tidak lama memintanya untuk meluangkan waktu bersamanya sebentar. Setelah Ryan mengangguk mau dia mengenalkan dirinya sebagai ketua baru dari Belati Putih yang sudah kehilangan ketuanya, begitu juga wakilnya.
Dia memberikan tangan kanannya untuk bersalaman dengan Ryan, mengenalkan dirinya, "namaku Zaky, siapa kamu ?"
Mereka pergi ke sebuah restoran yang terlihat biasa saja hanya saja Ryan tahu kalau makanan di tempat ini sangatlah enak, walau tidak banyak pengunjungnya. Kini mereka duduk di meja dan memesan menu yang tersedia, pertama kalinya Ryan lihat Zaky serasa ada yang mengganjal dalam pikirannya saat ini.
Zaky memperhatikan muka Ryan yang heran padanya begitu juga membuatnya heran, "kamu kenapa ? Gak usah cemas, aku takkan melakukan apapun padamu. Hanya ingin mengobrol saja."
"Lalu apa yang Anda ingin bicarakan ?"
"Hanya ingin bertanya, sesakit apapun derita kamu dan sebagainya.. memang aku sadar diri betapa kurang ajarnya bertanya begini, tapi ya sebagai orang yang akan membunuh seseorang seperti kamu. Aku hanya ingin tau.. itu saja.."
"Kalau ditanya begitu ya saya biasa saja, kalau rasa sakit ya.. tetap saja menyakitkan, rasanya seakan ingin bunuh diri tapi ada yang takut pada kematian dan ada juga yang tidak bisa pergi karena masih memiliki orang tersayang."
__ADS_1
"Lalu kamu milih mana antara dua itu ?"
"Aku masih bisa bertahan karena ada seseorang yang menunggu di rumah, walau besok mungkin saja aku mati."
"Gejala akhir ya ? Pantas kamu mengeluarkan liur dari tadi."
"Ah, maaf..!" Jawab Ryan sambil menyeka air liurnya. Dia tahu kalau gejala akhir biasanya orang itu akan mengeluarkan cairan dari tubuhnya, dari keringat, ludah, dan sebagainya. Sekarang makanan sampai mereka bicara satu sama lain, Zaky tersenyum padanya tapi tidak mengatakan apapun.
Lelaki itu menghembuskan napasnya dengan durasi yang cukup panjang, dia meneguk minumannya dan mulai bertanya kembali. Saat itu Ryan masih tengah malam, "kami mendapat informasi tentang seseorang yang mau melakukan pencangkokan organ pada pengidap heartlosive, jika aku tidak salah namanya Rani.. apa kau mengenalnya ?"
"Uhuk.. akh.. tidak..!" Jawab Ryan dengan panik. Dia sempat tersedak saat mendengar nama Rani, dia sekarang menghentikan makannya dan Zaky walau tahu kalau Ryan akan beraksi seperti itu wajar saja. Hanya saja begitu aneh baginya karena dari penjelasan Adly.. Ryan itu mencintai orang yang akan dibunuh untuk diambil organnya, tapi Ryan terlihat jelas mendukung Vina apapun yang terjadi.
"Kenapa kamu membiarkan kekasihmu untuk mati ? Apa karena besok kamu mati dan ingin kalian berdua mati saja ? Atau mungkin kamu tidak ingin sampai dia dimiliki orang lain makanya ingin dia mati bersamamu ? Agar Rani tetap hidup ? Apa yang kamu inginkan ?"
Setiap pertanyaan menghantui Ryan sampai sekarang mempertanyakan apa yang diinginkan olehnya sebenarnya, dia hanya mengikuti arus tanpa tahu apa yang terjadi. Namun hal ini sudah diujung, tidak lama Zaky meminta alamatnya dan Ryan mengangguk memberikan alamatnya. Dia pun pergi dengan rasa sedih dan bingung.
Saat ini Ryan sedang sarapan bersama Vina, gadis itu tersenyum dan mereka bicara berdua dengan kegembiraan yang menguasai seisi rumah. Awal sebelum penderitaan masuk maupun tengah penderitaan rumah ini begitu besar, tapi diakhir rumah ini jadi sangat terisi. Begitu sepi berubah jadi ramai karena satu orang.
Dia bingung kenapa hanya Vina saja yang diinginkan olehnya untuk bersamanya hingga akhir, lalu semuanya terlintas dalam pikirannya. Besok adalah sesuatu yang akan menjadi akhir semuanya, Ryan hanya bisa memegang tangannya dan berharap semuanya akan baik-baik saja.
Hujan deras datang membuat suasana haru jadi semakin membingungkan bagi Ryan, dia sangat ketakutan dengan apa yang akan terjadi. Beberapa saat setelahnya semua kesedihan itu hilang seketika digantikan rasa sakit, benci dia rasakan karena rasa sakit inilah yang mengambil semuanya darinya. "Andai saja heartlosive tidak ada!!" Teriaknya dalam hati.
__ADS_1