Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
28. Ryan


__ADS_3

Seorang anak lelaki sedang berteriak-teriak kesakitan dengan sembari memegang erat bantal, dia seperti mengeluarkan busa sabun dari mulutnya dan tubuhnya penuh luka cakaran. Siapapun yang melihat atau mendengar suaranya, dia pasti akan tahu kalau orang itu sedang kesakitan kecuali orang tidak waras yang mendengarkannya akan bersenang-senang alias joget.


Ya itu adalah aku, aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi padaku sebelumnya. Tetapi.. yang pasti hanyalah aku saat sedang kesakitan berlari keluar dari rumahku dan menyenderkan tubuh ke batang pohon ini. Kukira aku tidak akan sampai ke tempat lain selain ini, tubuhku sangatlah lemas hampir tidak ada tenaga.


Aku kehausan.. hanya menelan kembali ludahku yang sudah tercampur dengan darah yang mengalir dalam mulutku. Rasa aku begitu tidak berdaya saat ini, menoleh ke atas atap ada seseorang yang memegang sebuah senapan jarak jauh. Dia kelihatan dari organisasi itu. Membuat senyuman aku mencoba melambaikan tangan, "ya.. apa kau mau bicara denganku ? Aku tidak ada... Teman ngomong sebelum mati..."


"Aku bisa mendengar dan membawaku mati bersamamu hanya sebuah candaan."


"Oi oi.. aku ini masih waras dan masih punya harga diri."


"Lalu apa yang ingin kau bicarakan ?" Tanya dia padaku dengan wajah heran. Setelah menurunkan senjatanya dia membuka maskernya, aku lihat kalau dia cukup cantik dan ... Bukannya dia Widya ? Aku tersenyum masam, dia datang padaku lalu mengambil saputangan dari kantongnya.


Mengusap pipiku dengan wajah memelas, saputangan itu akan penuh dengan darah. Tidak lama setelah dia menjauh, aku lihat wajahnya cukup berbeda. Aku hanya berimajinasi saja.. kukira dia orang lain, hanya saja ternyata sebelum mati akan mengalami halusinasi juga cukup menarik.


Menghembuskan napas rasanya begitu berat, aku tidak ada tenaga lagi untuk bergerak selain berkedip dan bicara saja sudah membuatku bersyukur. Dalam hitungan detik aku rasakan sesuatu mulai menggerogoti tubuhku. Rasanya perih, dingin, dan ya tentu sakit emang apa lagi ?


Wanita itu pergi masuk ke dalam rumahku dia melihat-lihat ruangan, tidak lama keluar dengan membawa sebuah cangkir dan sebuah teko. Dia berada di sampingku sambil duduk, memberikanku sebuah minuman. Tanganku lemas, nona cantik..


Sadar akan hal itu dia langsung meminumkan teh itu ke dalam mulutku, aku merasa kalau tenggorokan aku sudah tidak kering lagi. Dalam beberapa saat angin berhembus.. seperti ada yang menarik pandanganku aku langsung memperhatikan langit, begitu indah tapi menyeramkan.


Ada banyak bintang yang terlihat tetapi, aku tidak ingin tahu apa yang ada dalam langit itu. Apa berbahaya atau tidak, begitu juga.. aku mulai ngawur kalau sudah mau mati. Angin barusan menyibakkan rambut kami berdua, mataku melihat ke kumpulan daun yang berterbangan.


Wanita yang di sampingku ini menghembuskan napas membuatku menoleh padanya, "kamu kenapa ? Kalau tidak mau menemaniku tidak apa. Naiklah lagi ke atap rumahku, tapi tolong jangan rusak gentengnya kalau rusak aku akan menghantui anda."

__ADS_1


"Hihi.. bodoh amat, hanya saja dari info yang aku dapatkan sebelum mengambil misi ini.. kamu itu ceria dan punya banyak bakat serta prestasi, kupikir sia-sia orang kayak kamu mati."


"Makasih untuk itu tapi... Kurasa hidup manusia itu tidaklah membosankan, ya 'kan ?"


"Umm..?"


"Kalian..." Ucapku lirih pelan. Aku lihat banyak orang yang sedang tertawa, ada juga diriku yang sedang tengah tertawa bersama mereka. Zian membawakan kami kue ulang tahun bersama Sarah, mereka masih kelihatan mesra walau gadis itu masih malu-malu. Begitu juga Adly yang masih bersikap sama, aku begitu ingin ke sana.


Terlebih lagi orang yang aku cintai dan orang yang mencintaiku ada di sana, sangat ingin datang pada mereka. Hanya saja... Ryan itu menoleh padaku segera membuat orang-orang yang bersamanya terdiam, wajah senang itu berubah menjadi kesedihan dalam sekejap.


Ryan itu datang padaku mengusap pipiku dengan lembut, "sudah ya... Kamu udah cukup buat menderita."


"Eh ?"


"Ya baiklah," jawabku. Dia meraih tanganku langsung menarikku untuk berdiri, teman-teman kami tersenyum dan kedua orang yang sama datang pada mereka. Diiringi dengan senyum serta kebahagiaan, mungkin ini juga pertama kalinya aku sebahagia ini! Terlebih lagi ada ayah dan ibuku yang sedang menyambutku dalam pesta, ini yang aku mau!


Selalu saja aku merasakan takut ketika menghadapi mereka, namun aku selalu mencoba menjadi optimis walau keadaan mendorongku untuk jadi pesimis.


Semua orang yang berharga bagiku bersamaku, aku meniup lilin dan semuanya berakhir dengan anak lelaki yang menghembuskan napas terakhirnya, yaitu aku.. ya kuharap mereka takkan membuatku jadi hantu gentayangan, yahh.. walau kuharap sedikit kematianku agak epik sedikit!


*****


Gadis itu masih tenggelam dalam tangisannya, di pangkuannya itu seorang remaja lelaki yang telah meninggal sedang berbaring. Vina hanya bisa mengelus rambutnya hingga petugas dari pemakaman datang, walau dia mengingkari janjinya untuk tidak kembali kemari pada mayat ini.

__ADS_1


Hari sudah pagi, wanita yang semalam sudah pergi dengan kabar sedih kalau Ryan sudah mati pada Adly yang sedang menidurkan anaknya. Matanya langsung terpejam, memberikan doa untuk Ryan semoga diterima masuk ke dalam surga. Dia tersenyum, "ya kalaupun surga itu ada."


"Apa maksud Anda ?"


"Ya tidak apa, kamu temani saja Alia.. dia habis latihan semalaman."


"Baik!" Jawab wanita itu dengan keras. Setelahnya Alia membuka kelopak matanya, Adly yang jengkel menatap sinis pada orang yang telah membangunkan anaknya. karena Alia ini masih anak-anak jadi walau pikirannya sudah dewasa tetap masih punya keinginan untuk ditemani ayahnya atau ibunya sebelum tidur. Kini dia bangun.


Adly menghembuskan napasnya dengan terpaksa, dia mengelus rambut anaknya dan tatapan matanya hanya menatap pada wanita itu. Dia tersenyum tanpa adanya rasa bersalah. Adly kembali mencoba menidurkan anaknya kembali, dia terlihat sebagai seorang ayah saat ini.


Namun, hanya saja dia masih tidak tahu mahkluk apa Alia ini. Hanya saja itu tidaklah cukup baginya untuk mendapatkan informasi dari anak ini, banyak yang telah mati tapi.. hampir semua pengidap heartlosive memiliki darah yang sama seperti Alia, awalnya lelaki itu menganggap itu hanya kebetulan.


Walau saat masih hidup pengidap memiliki golongan darah yang berbeda, setelah mati darahnya akan berbeda. Menurut lelaki itu cukup mustahil baginya. Adly menoleh pada wanita yang masih berdiri tegap di belakangnya, "apa mungkin untuk bisa mengganti golongan darah seseorang ?"


"Dengan teknologi sekarang ini memungkinkan. Keberhasilan hanya 48% saja."


"Di mana tempatnya ?"


"Rumah sakit yang berada ditengah kota."


"Rumah sakit mewah dan mahal itu ?" Tanya Adly sekali lagi. Orang itu menjawab dengan anggukan, tidak lama wajah Adly sangat serius memikirkan ini dan dia berspekulasi mengenai anaknya. Wajahnya cukup pucat kemudian pergi begitu saja, saat pertama kali dia menemukan anak itu tidak lain dan tidak bukan berada disebuah markas yang sudah ditinggalkan.


Entah sebuah halusinasi atau apa tetapi itu mungkin sebuah kenyataan kalau anaknya itu bukan hanya manusia biasa, walau dia belum pasti yakin tentang ini. Dia menghembuskan napas sembari berjalan, "ya aku bicarakan saja dengan Zian.. maksudku Fauzan, aihss.. nama itu mirip.. kukira sebaiknya panggil dia dengan nama itu saja saat masih SMP itu lebih baik."

__ADS_1


Dia membuka pintu dan sempat melihat anaknya sambil berharap itu adalah pemikirannya semata.. bukanlah kebohongan belaka..


__ADS_2