Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
Episode 116 : Suara Tembakan Yang Terdengar Keras


__ADS_3

Meminta bantuan pada tentara angkatan darat untuk membantu Fauzan paham kalau situasi sedang tidak memihak mereka, seluruh prajurit sekarang sudah tidak ada yang kelihatan main-main tidak seperti biasanya. Sekarang sifat psikopat mereka berubah menjadi sikap langsung menghabisi musuh, tanpa bermain-main lagi.


Hanya dia ketua yang masih bisa berdiri sampai saat ini entah mengapa, sekuat tenaga ia memberi perintah dan melakukan semua ini sendirian. Apalagi untuk memerintahkan regu penyerang sangat sulit, karena mereka seperti sukar untuk mendengarkan perkataannya.


"Zaky.. mengapa regu yang kau pimpin tidak mau mematuhi perintah dari ketua lain sih ?" Batin Fauzan mengeluh.


Tak lama kemudian ia mendengar suara ledakan keras yang mulai bermunculan, pesawat tempur menembakan misil mereka ke leher zombi raksasa mencoba menjatuhkannya. Tapi, itu takkan mempan terhadap zombi raksasa dengan ukiran sebesar itu bahkan dari yang dilihat Fauzan dari pesawat ukurannya hampir 20 meter menjulang ke atas.


Pesawat tempur mulai berputar, mereka melakukan strategi seperti biasanya. Mengalihkan lalu menghabisi musuh, walaupun Fauzan tidak terlalu yakin karena rencana itu selalu gagal kalau zombi raksasa ada dua dan itulah mengapa pengintai selalu dibutuhkan di saat yang seperti ini.


Tiba-tiba radio aktif dan ada panggilan masuk dari tim pengintai. Fauzan mendiamkannya sebentar dan menekan tombol untuk menjawab, di belakangnya Zaky menunduk bersama Ezra tidak bisa melakukan apapun.


"Ketua!"


"Ketua!"


"Ya ya ya!" Akhirnya Fauzan bisa menjawab setelah beberapa lama mengalami sinyal kacau.


"Penembak ... Satu raksasa sedang menuju ke tempatmu, bersiap siaga."


[Baik."


"Sekumpulan zombi kelelawar datang, bersiap untuk memakai pelindung. Kami akan mundur."


"Ya! Kalian hati-hati!"

__ADS_1


Suara di radio menghilang dan Fauzan melihat keluar kalau pesawat pengintai mundur ke belakang menghindari sekumpulan zombi kelelawar, Fauzan memerintahkan kepada seluruh pasukan untuk memakai pelindung lengkap. Bagi prajurit yang mengalami kerusakan pada pelindung diusahakan untuk bergabung dengan temannya, agar tidak terlalu banyak korban di pertempuran kali ini.


Dalam sekejap Fauzan lihat kalau zombi yang ada di sini takkan bisa di lawan oleh mereka kalau begini terus, pasti akan ada waktunya mereka diperintahkan untuk mundur dari terlebih dahulu. Mustahil membunuh mereka kalau keadaan orang-orangnya tidak dalam keadaan prima.


Ia melihat kompas khusus untuk menunjukan keberadaan Adly masih ada di barat, menghembuskan napas lega karenanya Fauzan bisa fokus. Misi kali ini membawa Ryan bersama dokumen yang dibawanya aman, dan melindungi Adly sekuat tenaga apapun yang terjadi karena entah apa yang ada dalam memori itu pasti dara yang sangatlah penting.


Sebisa mungkin mereka perlu membasmi sebanyak mungkin zombi yang berada di kota ini, hampir semua yang ada di penjuru dunia berkumpul di sini dan pengeboman secara masal dilarang karena bisa menyebabkan banyak masalah lain yang lebih gawat. Maka dari itu angkatan darat mau membantu.


Fauzan menghampiri Zaky dan memberikan minum padanya, dengan wajah pucat Zaky menerima gelas berisi air itu dan meneguknya.


"Tak kusangka kau bisa menyiapkan semua ini dengan cepat."


"Ahahaha.. terimakasih."


"Walaupun begitu, bagaimana dengan Adly ?" Tanya Zaky dengan tatapan tajam. Sama sekali tidak berani menjawab ia hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban tidak tahu, memahami apa maksudnya Zaky juga tidak yakin akan menjawab apa kalau berada di posisinya saat ini.


Earbuds di daun telinga Fauzan lampunya berkedip Beberapa kali dan ada panggilan masuk.


"ArctalGear 04 akan menembak dari jarak 100 meter. Apa diizinkan ?"


"Eh ?! Apa kau bisa ?!"


"Akan saya usahakan."


"Tembak dia sampai tubuhnya berserakan. Aku mengandalkanmu, ArctalGear 04!" Jawab Fauzan dan setelah bicara seperti itu ia menutup panggilan. Dia mengambil senapannya menembaki mereka dari atas hingga prajurit lain mulai semangat dengan turunnya Fauzan, mereka berteriak-teriak memanaskan medan tempur hingga semangat mereka membeludak.

__ADS_1


Jauh dibelakang pilot ArctalGear menarik napas dalam-dalam dan membidik musuhnya, ia menarik pelatuk menembakan beberapa misil hingga zombi tengkorak itu kehilangan keseimbangannya. Melihat ada celah dibalik tulangnya setelah ia hampir terjatuh karena ledakan misil, pilot itu menembakkan senapannya dan mengenai lehernya.


Langsung tak lama kemudian kepalanya jatuh ke bawah bersama dengan tubuhnya yang mati, setelahnya semua orang yang tadinya kelelahan sekarang menjadi semangat. Kemenangan sedikit lagi berada di tangan mereka. Semuanya serentak maju, dan menggunakan pedang mereka menebas semua zombi yang ada.


***


Di paling belakang semua bersiap siaga kalau ada serangan mendadak dan ini kesempatan bagus untuk menangkap profesor itu, Adly sebagai umpan memanglah bagus tapi buruk untuk menjalankan rencana mereka di kota. Akan lebih mudah kalau banyak pepohonan seperti yang ada di sekitar mereka saat ini.


Widya terus menelepon Alia memastikan mereka baik-baik saja, cukup kebetulan Fidya tidak ingin ikut bersama ayahnya itu sangatlah aneh dan pastinya tidak ada yang menyangka. Sekarang ayahnya sedang berbicara dengan teman-temannya, melihat pemandangan Adly bisa tersenyum bahagia seperti ini Widya senang melihatnya.


Tapi, tak lama kemudian ia mendengar kalau ada suara tembakan yang amat keras dari ArctalGear yang berada di dekat mereka.


"Apa yang terjadi ? Pertarungan sudah dimulai ?" Tanya Adly pada orang-orang di sekitarnya. Mereka mengiyakan pertanyaannya, lalu beberapa orang pergi untuk mempersiapkan barusan pertahanan dan Adly dilindungi oleh banyak pasukan serta robot.


Tiga ArctalGear yang melindunginya di kanan, kiri, dan belakang sedangkan depannya ada regu Pembantai yang selalu bersamanya. Mereka semua menyadari kalau ada tengkorak yang datang, dan tak lama seusai kedatangannya tengkorak itu ternyata bukan hanya satu melainkan banyak sekali.


Regu Pembantai yang memiliki 13 orang maju 3 orang untuk menyerang, dan Adly melihat dengan kata yang buram rekan-rekannya sedang melindunginya. Tangannya gemetaran memegang erat pisaunya yang belum menyentuh darah beberapa bulan, dan sekarang matanya mengeluarkan air.


Tidak ada satupun dari mereka menyadari air matanya termasuk Widya juga, walaupun begitu Adly tetap ingin bertarung bersama yang lainnya. Hendak dia maju ke depan lelaki yang di hadapannya menghalanginya, dengan pedang berwarna hijau serta baju hitam ia menghalangi Adly untuk maju.


"Ada apa, Azka ?"


"Ketua tidak boleh pergi kemanapun."


"Kenapa begitu ? Aku bis--!"

__ADS_1


"Tidak! Kami takkan membiarkannya!" Teriaknya membalas. Sontak Adly kaget mendengar teriakannya itu, karena selama ini Azka sama sekali belum pernah berteriak sekencang ini sebelumnya membuat Adly cukup kaget. Karena matanya tidak bisa melihat dengan jelas, ia hanya bisa melihat wajahnya saja dan tidak bisa melihat air matanya yang menetes.


Bagaikan hujan gerimis yang menjadi badai, air matanya itu membanjiri pipinya hingga basah dan teman-temannya juga sama dengannya. Tidak ada yang bisa menahan air matanya itu untuk keluar.


__ADS_2