
"Aku ingin adik! Ibu kapan hamil ? Setiap malam jam satu aku dengar ibu mendesa---! Umm..!" Adly dengan sigap menutup mulut Alia dengan bantal. Dia ingin mengatakan sesuatu yang tidak pantas Dikatakan untuk anak-anak seperti dirinya, sedangkan ibunya memerah malu dan dia langsung berbaring ke kasur memendam wajahnya ke dalam bantal.
***
Hal-hal kecil bersama anak ini membuat Widya sudah terlanjur sayang padanya, hanya saja sekarang keadaannya agak tidak terlalu bagus karena seperti mulai ingin kembali menjadi mahkluk tanpa akal itu. Gadis itu agak ketakutan sambil memeluk anaknya.
Kedua gadis berada di depannya sedang memanggil Ezra memakai telepon, hanya saja tidak dijawab olehnya dan sama sekali tidak ada kabar sekalipun. Mereka tau kalau Ezra dan Fauzan baru saja berbaikan, namun terlalu lama untuk merayakan hal semacam ini selama beberapa hari.
Rani terlihat panik, dia memang biasanya tidak terlalu memikirkan pekerjaan hanya saja ada hal buruk dan mereka berempat tidak ada. Sekalipun markas diserang sekalipun, mereka perlu tahu tentang Alia yang ada di hadapannya.
Keempat orang itu sama sekali tidak ada. Rani menghela napas dan dia berdiri, "Widya, sebenernya.. Alia itu apa ?"
"Apa maksudmu ? Aku gak paham.."
"Gen miliknya berbeda dengan manusia, jantungnya seperti memiliki heartlosive tapi belum pernah ada gejala apapun. Maksudnya apa itu ? Apa Adly dan Zaky menyembunyikan sesuatu dari kita ?"
"A-apa maksudmu ?"
"Jangan berpura-pura lagi," ucapnya sambil berjalan menuju karpet. Dia mengangkat karpet itu dan mendapati sebuah alat penyadap kecil, serentak Widya kaget dan berdiri membuat Alia bangun dari pangkuannya. Anak itu bangun.
Rani sudah tidak tahan lagi, dia berharap Alia bisa membuat penawaran ataupun obat untuk heartlosive apapun yang terjadi. Dia harus mengambil Alia dari tangan ibu maupun ayahnya, perlu dia lakukan karena itulah dia mengambil senjata mencoba mengambil Alia dari tangan ibunya.
Tentu Widya tidak bisa membiarkannya, dia mengambil katana miliknya dan mempertahankan dirinya bersama anaknya.
"Apa yang kalian lakukan ?! Berhenti sekarang juga!" Sarah berteriak. Adik Widya ingin mengambil Alia dengan niat agar dia tidak terluka karena pertarungan keduanya, tapi Widya salah sangka dan menghentakkan kakinya. Keluar akar menjalar dari lantai mengikat kedua kaki mereka.
__ADS_1
Segera mengambil Alia dia berlari sambil menggendongnya, melihat ke atas bangunan keluar sebuah cahaya dari cincin kawinnya. Mengeluarkan grappling hook dan dia memakainya memanjat gedung, dia begitu ketakutan Alia akan dibawa oleh Rani dan di apa-apakan.
Lebihnya lagi Adly sedang tidak ada, tidak bisa dihubungi oleh siapapun. Keadaannya begitu tidak bisa membuatnya tenang, dia berlari di atas gedung dan melewati semua rintangan seperti orang gila.
Sebuah misil kecil menembak, ukirannya seperti sebuah pena tapi ledakannya seperempat seperti misil biasa. Rani berdecak, dia memadukan empat misil pena bersamaan ke dalam penembak dan membidik mereka berdua.
Widya tahu kalau dia tidak akan bisa lari dari Rani yang saat ini. Dia terlihat sangat menginginkan Alia saat ini, Widya berhenti mengeluarkan alat teleport dan melemparkan Alia ke dalamnya. Seperti sebuah cincin, melingkar di kaki Alia itu bercahaya biru dan mengeluarkan partikel di dalamnya.
Seketika seperti sebuah kaca, ada yang memutari Alia seperti penghalang. Badannya pun memudar menghilang, Widya langsung memberikannya pesan sebelum pergi.
"Lagi kalau ketemu siapapun dari anggota Belati Putih! Kecuali ayah atau Zaky! Siapapun jangan! Cari mereka berdua!"
"I-ibu! Apa yang terjadi ?!"
Gadis itu menghela napas, Sarah yang bersamanya tidak paham apa yang terjadi saat ini dan siapa yang harus memilih pihak yang mana, karena itulah dia terdiam jauh sambil memperhatikan. Dia akan melerai jika akan terjadi pertumpahan darah.
Tanpa pikir sambil membawa kapak besar dia menerjang Widya, Widya bertahan memakai pedang dan kekuatannya tidak bisa dibandingkan. Rani melepaskan kapak dari tangannya, dia menendang Widya yang kesulitan menjauhkan kapak itu darinya.
Tubuhnya terpental cukup jauh, dia terhempas ke sebuah pagar dan hampir terjatuh ke bawah. Ini gedung dia bisa saja mati.
Rani bertanya, "kenapa kau melindungi anak kecil itu ? Dia bukan anak kandungmu, lupakan saja.."
"Mana mungkin, heh.. biar aku kasih tau! Aku sudah bersamanya setahun lebih, mana bisa kubiarkan begitu saja!"
"Merepotkan sekali, baiklah.. akan aku bunuh kau saja.. aku sudah tidak peduli lagi, asalkan dunia ini bebas dari heartlosive akan aku habisi siapapun yang menghalangiku!"
__ADS_1
"Hoo.. Rani, pantas saja Ryan tidak ingin bersamamu."
"Berisik!" Teriak Rani. Kapak itu berubah jadi dua pedang besar, memiliki gerigi dan sudah jelas itu bukan pedang biasa.. melihat itu wydta berdiri, dia mengambil cincinnya menjatuhkannya dari tangannya.
"Maaf, Adly.." lirihnya pelan. Dia memegang erat pedangnya, mengigit lidahnya sembari merasakan panas ke seluruh tubuh dia melesat menebas pedangnya itu. Mereka beradu pedang, saat ini mereka seimbang. Dengan kecepatan Widya dan ketahan Rani, mereka berdua sangatlah imbang setiap serangan tidak berlaku pada Rani.
Begitu juga dengan serangan Rani yang tidak terkena pada Widya setebasan sekalipun, katana di tangannya itu mulai mengeluarkan asap dari bilahnya dan menusuk pedang itu. Sontak Rani kaget dengan apa yang terjadi.
Ketika melihat mulut Widya mengeluarkan asap membuat Rani begitu kaget, dia juga terpikirkan sesuatu karena ada banyak sekali hal yang disembunyikan oleh Adly saat ini. Seperti memberikan kekuatan Elentry miliknya pada Widya, memberikan pelatihan hingga Elentry di tubuhnya berkembang.
Elentry bisa muncul karena perwujudan dari kekuatan itu, seperti Adly seekor naga tercipta dan sekarang dibagi menjadi beberapa bagian. Membuatnya tidak bisa mengeluarkan kekuatan aslinya, gadis itu penasaran dengan apa yang akan dikeluarkan Widya saat ini.
Dia menebas leher Rani, namun tidak terkena menyabet dengan sebuah senjata tidak menghasilkan apapun. Dengan geram Widya menembak dengan pistol, dia mengeluarkan banyak sekali peluru sekaligus dan hanya berfokus ke satu arah membuat Rani paham.
Ini jurus Adly, semuanya di berikan pada istrinya begitu juga nyawanya juga.
"Begitu ya ?! Jika aku membunuhmu dia akan tahu kalau kau mati! Kekuatannya akan kembali ke tubuhnya, apa kau tahu itu ?!"
"Kau sudah gila karena ingin mengungkap heartlosive ya ? Rani ?"
"Jika aku membunuhmu, dia akan datang dan memberikan informasi! Akan aku lakukan apapun!" Rani menerjang lagi. Dia membawa empat misil pena, melempar dengan kedua tangannya keempat kedalam beruntun terdengar dari basah gedung sekalipun.
Keluar lima belas Drone mengeluarkan senapan di bawah badan mereka, serentak Widya kaget dia mengeluarkan pelindung dan kaca keluar dari tanah melindunginya. Tidak ingin terus bertahan, dia menghentakkan kakinya mengeluarkan akar dari lantai dan menusuk semuanya.
Rani berdecak lagi, dia mengeluarkan dua pistol dan menembak gencar dilakukan olehnya. Widya tidak bisa menahannya, dia melompat ke belakang dan memukul balik peluru yang datang padanya dengan satu pedang. Satu menggores pipinya, dua menembak antingnya, tiga rambutnya, dan terus menerus.
__ADS_1