Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
Episode 113 : Dokumen Di Bandara


__ADS_3

Seseorang masuk ke dalam ruangan mereka berdua, keduanya berdiri lalu memberi hormat pada siapa yang datang dan Zaky meminta langsung kepada mereka untuk melakukan tugasnya. Sekelompok orang untuk membantu Ryan harusnya cukup dan mereka memiliki informasi yang bisa dimanfaatkan.


Nama profesor yang bersama ayahnya itu ialah Herry awalnya ia hanya meneliti bersama peneliti lainnya, akan tetapi ada suatu kejadian membuatnya berubah dan agak aneh. Mereka mengawasinya lalu membuat gas aneh, saat ingin ditangkap Zyred menyelamatkannya dan membawanya kabur.


Hari itu bertepatan dimana Zyred mengkhianati mereka berempat sekaligus semua anggota Belati Putih saat itu, dan peneliti atau teman-temannya berkata kalau Herry memiliki sebuah dokumen tentang gas itu. Gas itulah yang membuat para warga menjadi zombi dan sudah tersebar ke seluruh dunia sampai terjadinya kiamat seperti ini.


"Kami akan mengirim beberapa orang untuk membantu kalian mencari dokumen itu."


"Baiklah.. carilah orang bernama Ryan dan bantu dia. Pastikan kalian memilih prajurit yang berpengalaman karena kami akan kesusahan kalau rekan kami bodoh."


"Ahaha tentu saja, akan saya siapkan sekarang,.. permisi!" Ucapnya sembari keluar dari ruangan. Di atas tempat duduknya Fauzan sama sekali tidak mengatakan apapun.


Dan Zaky memainkan pena di jarinya pena itu berputar mengikuti arahan darinya, saat ini yang ada dipikirannya hanyalah mengapa ayahnya menanamkan kartu memori pada kepalanya. Dan kalau bukan karena kekuatan Elentry mereka yakin kalau Adly sudah tiada dari dulu, akan tetapi mengapa bisa sampai begitu.


Temannya yang berada di samping menatap cangkir teh dan mengelus rambut kekasihnya, sembari bermuka sendu ia terus menerus memikirkan apa yang harus dilakukan. Kehilangan Adly sama saja kehilangan setengah padukan, terlebih lagi yang paling penting dia adalah sahabatnya.


"Hey Zaky.."


"Apa ?" Sahut Zaky menjawab.


"Apa kau menyadari kalau kita berkembang dengan cara yang berbeda ?"


"Apa maksudmu ?"


"Aku hanya berlatih untuk menembak tapi entah mengapa kekuatanku melebihi siapapun yang ada di sini.. yah, kecuali Fidya... Dan kau menguatkan kekuatanmu dengan ilmu."

__ADS_1


"Ezra dengan menahan panas, sedangkan anak itu membunuh mahkluk hidup dan menyakiti dirinya sendiri, begitu ?" Kata Zaky melanjutkan perkataan Fauzan yang belum keluar dari mulutnya. Seseorang yang dilahirkan memiliki kemampuan di atas rata-rata dan orang yang dilahirkan dengan kemampuan biasa saja, merangkak naik sampai sederajat dengan orang yang di atasnya.


Namun, entah kapan ia akan terjatuh dari tangga dan siapapun yang jatuh terlebih dahulu sebelum mencapai puncak. Tidak ada yang tahu.


***


Ryan melemparkan granat ke dalam rumah menghancurkan bagian dalam rumah beserta para zombie itu, walaupun begitu ia bersyukur adanya persediaan peluru di tempat ini. Dilihat dari kotaknya nampaknya ada sekelompok tentara yang meninggalkannya, Ryan tidak menyia-nyiakannya dan membawa semuanya.


Sama sekali tidak ada petunjuk dimana dokumen itu disimpan akan tetapi saat melihat Lokasi yang di tunjukan di peta, memang berada di sekitaran sini dan Zaky juga tidak tau pasti apakah bisa dipercaya atau tidak. Karena sudah lama mereka tahu dimana keberadaan ayahnya dan lelaki gila itu, jadi mungkin ini jebakan dan Ryan hanya bisa tersenyum kecut ketika mendengarkan perkataannya.


"Nampaknya kalau aku mati dia takkan merasa kehilangan." Ryan berkata sambil tersenyum. Beberapa saat kemudian ia mendengar zombi pemuntah, dia berbalik dan menembaknya segera hingga tubuhnya berlubang-lubang.


Yang lainnya datang dengan cepat Ryan mengambil pisaunya dan menangkap zombi ini lalu membunuhnya, pisau itu susah berkarat apalagi pegangannya sudah rusak dan hampir patah. Melepaskan zombi yang sudah tak bergerak Ryan mengambil senapannya.


Zombi gendut mulai berlari ke arahnya dan Ryan melihat ukurannya yang tidak main, ia mengambil pistolnya menembak kepalanya beberapa kali akan tetapi masih bisa bergerak walau kepalanya telah hilang. Mengganti senjata ke senapan serbu, Ryan menembaki lehernya tapi tetap saja sama.


Melihat kalau peluru tak mempan maupun peluru ledakan sekalipun, melihat ke samping zombi ada mobil ia menghembuskan napas dan menembak mobil itu hingga meledak. Zombie-zombie mulai berdatangan karena suara itu walau zombi tadi sudah terbakar dan tidak bergerak lagi tetap saja.


"Andaikan Adly di sini!" Keluhnya. Mendengar kabar soal Adly membuatnya sedikit kesal, mengapa hal semacam itu bisa terjadi pada orang sebaik dan sejahat dia.


Para mayat hidup mengelilingi dan mengepungnya sampai tidak ada celah untuk kabur, bersiap untuk meledakan semua mobil yang ada di sini ia mendengar suara helikopter. Dan tidak lama kemudian suara tembakan dari udara terdengar, ada helikopter tempur menembaki zombi dari udara.


Ryan mengangkat tangannya memberi isyarat untuk berhenti menembak, pilot itu mengangguk dan menghentikan serangannya. Melihat apa yang akan dilakukan Ryan mereka lihat kalau ia menggunakan mobil untuk diledakkan, semua zombi yang ada sudah hancur tapi tubuh mereka tergeletak di sana sini. Pemandangan yang menjijikan.


Helikopter itu turun dan seseorang keluar dari sana mendekati Ryan dengan pakaian pakaian tentara, menyimpan senjata di punggungnya Ryan mendekat padanya dan lelaki ini menyodorkan tangannya. Dengan heran Ryan menerimanya lalu berkata, "kamu siapa ya ?"

__ADS_1


"Maaf atas ketidaksopanan saya!" Ia mencari-cari sesuatu di tas punggungnya. "Ini surat dari atasan kami!" Ucapnya sembari memberikan sebuah amplop. Melihat ini Ryan menghembuskan napasnya dan mengambil amplop, ia hendak membuka tapi menatap lelaki di depannya lagi.


"Kau bilang 'kami' sebelumnya ?"


"Ah ya! Karena di sini banyak musuh jadi kami berpikir untuk menggunakan helikopter untuk memberitahumu soal ini."


"Sebenarnya aku tak butuh bantuan.. tapi ya, sudahlah lagipula aku tidak bisa menjalankan tugas kalau sambil melindungi anak kecil."


"Anak kecil ?"


"Ya, sekarang mungkin ia sedang dirawat zombi dan adikku!" Ucapnya sembari membaca pesan yang sedang dipegangnya. Penuh dengan rasa kaget ia sangat tidak paham mengapa banyak tugas yang diberikan padanya, padahal satu saja belum selesai sekarang ditambah lagi pekerjaannya.


Saat dia sedang fokus membaca ia mendengar suara geram zombi lalu mengambil pistolnya, dengan segera ia berbalik badan namun melihat siapa yang datang dia menyimpan pistolnya lagi. Akan tetapi prajurit yang bersamanya mengambil senapannya.


Ryan kaget dan refleks menarik tangan Shinta lalu memeluknya, prajurit ini kaget dengan apa yang dilakukan oleh Ryan membuatnya bingung.


"Kenapa anda melindunginya ?" Tanyanya.


"Akan aku jelaskan tapi.. lain kali, kalau kalian mau membantuku kuharap bisa tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang harus tidak dilakukan."


"Semacam perintah ?"


"Ya." Ryan mengangguk dengan senyum polos.


"Kata-kata anda terlalu banyak," ucapnya membalas. Kemudian, mereka mendengar suara mobil sedang datang dari belakang dengan suara yang bising. Saat Ryan melihat ke belakang kalau ada prajurit lain, dari yang dilihatnya ada empat orang. Ryan langsung berkata dalam hati. "Beban." Ucapnya.

__ADS_1


__ADS_2