
Adly terdiam depan pintu sembari melihat pesan-pesan yang dikirimnya diabaikan, sama sekali tidak dijawab dan hanya dibaca saja. Mengirim pesan kalau dirinya sudah ada di depan rumah saja percuma, tidak ada jawaban apapun ia menghembuskan napas lalu berbalik badan.
Melemparkan peledak menghancurkan pintu berpura-pura pintu hancur bukan karena dirinya. Dia memasuki rumah, melihat kalau di dalamnya tertata rapi dan tidak ada yang berantakan. Akan tetapi, suasana rumah ini sangat membuatnya heran dan sedikit bingung. Sangat luas dan sepi.
Berjalan dengan pelan Adly mencari-cari orang yang tujunya, sama sekali tidak ada hawa keberadaan manusia di rumah ini pikirnya. Namun, melihat satu kamar Adly tersenyum lalu membuka pintunya dan tidak ada siapapun di sini.
"Fauzan! Keluar sekarang juga! Atau akan ku ledakan rumah ini!" Teriaknya. Tidak ada jawaban.
Melihat sekitarnya memperhatikan seluruh isi ruangan ini hanya terlihat kekosongan saja, padahal upahnya sudah cukup untuk mengisi barang-barang di rumah ini dan pastinya tidak harus seperti ini juga. Mendekati ranjang ia duduk dan menunggu rekannya keluar dari tempat persembunyiannya, ia menatap bantal yang terlihat basah dan selimutnya juga sama.
"Apa dia mengom---tidak, kurasa bukan karena itu dan mana mungkin juga." Adly mengambil bantal tersebut lalu memeluknya. Melihat kalau jendela di hadapannya mengalir air, air itu menetes ke handphone yang sedang di isi dan tahu kalau itu berbahaya Adly menyingkirkan bantal dari pelukannya. Kemudian menjauhkan handphone dari air.
Air yang bercucuran datang dari hujan gerimis, tahu akan hal itu Adly sadar kalau sedari tadi dia mendengar suara keran air dari kamar mandi. Menghela napas sebentar, ia mendekati pintu mengetuknya beberapa kali hingga membuahkan hasil yaitu ada jawaban dari Fauzan yang ada di dalam.
"A-ada apa ?!"
"Keluarlah! Aku ingin bicara denganmu!"
"Sebentar, aku akan mengganti baju dulu."
"Cepat!" Bentaknya. Segera setelah bentakan itu pintu terbuka, memperlihatkan anak kecil seumuran dengannya tersenyum kecil dan menatap wajahnya dengan tatapan mata kosong. Tangan Adly terangkat ke atas lalu mengelus kepalanya, agak bingung mengapa temannya ini terlalu banyak pikirannya.
Menarik tangan membawanya keluar dari rumah, Adly duduk di teras dan memintanya untuk duduk juga di sampingnya. Menuruti permintaannya ia duduk di sebelahnya. Setelah beberapa saat, Adly menyender ke bahunya dan menguap.
Membiarkan bahunya dipinjam Fauzan diam menatap langit sebentar, sekitar beberapa menit selesai memandangi langit cerah ia melihat ke bahunya kalau Adly tidur dengan pulas. Biasanya hal semacam ini terbalik.
__ADS_1
"Terlebih lagi... Berat sekali!" Keluhnya dalam hati. Akan terapi, Adly terbangun lalu melihat Fauzan sedang menatapnya dengan pandangan heran membuatnya sedikit paham dengan apa yang terjadi. Mengapa bantal di kamarnya begitu basah, dan setiap malam Adly selalu melihat kalau handphonenya selaku saja aktif. Itu juga alasannya sering mengantuk.
Adly berdiri dan berkata, "kamu pandai menipu."
"Heh ?"
"Aku juga Seung begitu ... Tidak apa-apa, biarkan para gadis mentertawakan dirimu karena menangis atau mengeluh. Jangan sekiranya kau laki-laki bisa tegar melewati apapun di dunia ini."
"Aku sama sekali.." Fauzan tersenyum dan menundukkan kepalanya.
"Hahhh.. sekarang, terus tersenyum seperti itu juga tidak ada gunanya.. buka topengmu itu dan menangis di tengah jalan sana."
"Jangan di jalanan dong, aku tidak sebaik itu disuruh ditabrak mobile menurut saja."
Fauzan mulai meneteskan air matanya terus dan terus mengalir dari pipi sampai leher, tak lama akhirnya ia benar-benar melepaskan apa yang dipendamnya beberapa waktu ini. Adly yang tahu hanya diam untuk beberapa waktu, mengharapkan kalau dia bisa mengatasi semua hal itu sendirian.
Dia mengambil ponselnya dan memanggil Zyred menerima tawarannya, dalam panggilan telepon mereka berdua membicarakan tentang wujud Elentry miliknya yang sama dengan Adly. Mendengar kalau tugasnya akan berdarah-darah dikarenakan satu regu bersama Adly, Fauzan kembali bingung harus masuk ke regu mana.
"Ah, kalau kamu bingung kenapa tidak memilih bebas saja ?"
"Bebas ?"
"Ya, kau bebas pindah ke manapun semaunya asalkan jangan terlalu sering.. yah sebulan sekali tidak masalah tapi jangan setiap hari atau setiap Minggu, itu akan merepotkanku dan ketua lainnya."
"Baiklah, tidak masalah.. untuk pertama aku akan masuk bersama Adly saja ke regu itu. Kalau begitu aku tutu--"
__ADS_1
"Sebentar! Soal itu aku ingin kau mendengarkan aku terlebih dahulu!" Zyred menyela perkataan Fauzan dan menjelaskan mengapa Adly bersikeras ingin membawa dirinya masuk ke regu tersebut, dan saat mendengarkan penjelasannya Fauzan serentak sangat kaget mendengar jawabannya.
Ketua regu Pembantai yang dibicarakan oleh banyak orang mengenai bagaimana kejam dan sadis sifatnya itu, ternyata selama ini bersama terus disampingnya.
"Adly ketua regu itu," gumamnya. Zyred menutup telepon seusai mendengar gumaman Fauzan. Fauzan melihat layar ponselnya, merasa kalau semua orang juga mempunyai topengnya sendiri begitu juga Adly yang selama ini tersenyum hangat di hadapannya. Entah bagaimana saat ia tersenyum menyeringai di hadapan musuhnya.
Besoknya Fauzan berkumpul bersama puluhan orang lainnya, mereka berada di tengah lapangan dan diminta untuk menghabisi mayat hidup. Setiap satu orang dilengkapi dengan satu pisau saja, tidak diberikan senjata lain selain itu. Memperhatikan sekitarnya Fauzan ditatap orang dewasa, mereka menatap dirinya dengan tatapan remeh.
Selang beberapa lama kemudian ada suara zombi dan injakan kaki mendekat, sontak semuanya kaget melihat kalau zombi mengepung mereka. Sekitar ratusan zombi berada di sini.
"Apa-apaan ini ?!"
"Jumlah mereka..!"
"Wah.. wah.. wah.. apa kalian menyerah begitu saja ? Sekarang, kalian maju dan habisi mereka. Cepat." Suara seseorang menggema di gendang telinga mereka. Semua orang merinding mendengar perkataannya.
"Apa kau gila ?!" Teriak seseorang membalas. Tak lama kemudian, Adly muncul di hadapan mereka semua dengan satu pisau di tangan.
Ia menghembuskan napas lalu berbalik badan menghadap zombi yang sedang berkumpul, dihalangi dinding atau penghalang transparan agar mereka tidak bisa masuk. Akan tetapi, Adly menghilang sekejap mata dan berada di tengah kumpulan zombi. Tentu mereka menyerang dengan membabi buta karena kelaparan.
Walaupun memang jumlah, satu persatu para zombie terbunuh olehnya dan dalam hitungan menit Adly berhasil membunuh 30 zombi. Dan kembali ke hadapan orang-orang yang menatap dirinya dengan tatapan tidak percaya. saat mendekat Adly tersenyum lalu berkata, "siapapun yang masih hidup kalian boleh masuk ke dalam regu Pembantai. Yah kalian mungkin bertanya mengapa musuhnya begitu banyak.."
"Ya! Musuh terlalu banyak!" Teriak mereka bersamaan.
"Aku menamai regu ini Pembantai karena ini adalah pembunuhan secara kejam dengan musuh lebih dari satu orang.. malahan, segini saja belum cukup.. dan yang ingin mundur dari sini silakan kemari. Tapi, kalian takkan pulang dengan 3 jari, dan kedua tangan kalian."
__ADS_1
Semua terdiam melihat ketua ini memotong jarinya satu persatu dan memakannya. Walau jarinya beregenerasi, tetap saja semua orang mual melihat apa yang dilakukannya.