
Ryan menghela napas melihat isi surat yang diberikan padanya dari Zaky sebelumnya karena tugas ini hanya diberikan padanya saja, orang yang punya darah spesial dan bisa berinteraksi dengan para zombi walaupun ia kesusahan melakukannya. Zombi yang berada di sini kebanyakan zombi suhu membuat Belati Putih kesusahan untuk melawan, dan mengambil mereka semua.
Maka dari itu Ryan harus bisa bertahan di kota ini sendirian, dengan suplai yang telah disebarkan di kota ini sebelum kota mati ini lahir. Remaja ini memperhatikan sekitarnya kalau semua zombi di sini berjalan biasa saja, menghiraukannya seakan-akan dia adalah bagian dari mereka.
Melanjutkan perjalanan Ryan melewati pusat kota dan melihat toko buku yang terlihat hancur, tempat lain sama sekali tidak ada barang apapun yang bisa digunakan olehnya. Hanya toko yang yang harusnya ada sesuatu yang bisa berguna.
"Kuharap tidak ada zombi pemuntah di dalamnya," ucapnya sembari memasuki pintu. Sudah menyadari kalau dugaannya benar, ia lari keluar dari toko dan mengambil pedangnya melihat kalau zombi itu sedang memuntahkan cairannya. Menghindari cairan hijau itu Ryan melesat ke arahnya seusai zombi muntah, ia langsung membelah tubuhnya hingga terbelah menjadi dua bagian.
Ryan paham kalau beberapa jenis zombi akan menyerangnya, namun, ada juga yang tidak tetapi tetap saja Ryan tidak bisa tinggal di kota ini terus-menerus karena sepi, dan sama sekali tidak ada teman yang bisa diajak bicara selain AI yang menjawab pertanyaannya dengan nada suara kaku.
Setelah mendapatkan beberapa peluru, ia berjalan menuju bandara tempat tujuannya untuk mengambil barang-barang dan sebuah memori. Entah apa data yang ada di dalamnya hingga harus diambil olehnya, namun ia memikirkan soal mengapa dia yang harus mengambilnya kalau memori itu sangatlah penting.
Kalaupun bisa harusnya mereka bisa mengirim orang lain bukan dirinya karena akan lebih baik, sembari memikirkan itu ia menembak ke depan mengarah pada zombi pemuntah. Tiga zombi setinggi 3 meter sedang berlari ke arahnya, dengan cepat Ryan menembak kaki salah satunya. Ketika yang satu terjatuh Ryan mengambil kesempatan dengan menghunuskan pedangnya dan menebas leher zombi satunya, lalu mencabik-cabik tubuhnya hingga terpotong-potong.
__ADS_1
Namun, zombi yang masih bergerak memuntahkan cairan lagi membuat Ryan jengkel.. ia melompat ke belakang menghindari muntahan itu. Tidak lama kemudian ia menoleh ke belakang kalau satu tengkorak datang padanya, bersiap-siap untuk menghadapinya bilah pedangnya mengeluarkan listrik dan langsung memotong tulang rusuknya hingga semuanya patah.
Sesuai menyelesaikan tengkorak, ia mengganti senjata ke senapan dan menarik pelatuk tiga kali menghancurkan kepala zombi. Menghembuskan napasnya dia lihat kalau sekitarnya sangat tenang, tetapi banyak zombi yang sedang menuju ke arahnya membuatnya tahu kalau dalam beberapa menit kedepannya ia takkan bisa santai melawan mereka.
Suara langkah kaki terdengar pelan, berbalik badan Ryan menendang zombi dengan pakaian ibu-ibu dan menembak tubuhnya hingga berlubang. Tidak lama kemudian zombi lainnya berdatangan, dengan cepat Ryan mengambil pedangnya dan memotong tiga zombi sekali tebasan pedang. Suara pistol terdengar lagi menghabisi zombi yang disekitarnya memancing zombi lain berdatangan.
"Saatnya menghabisi kalian!" Ucapnya sembari menikmati pertarungannya. Dua zombi berjaket menerjangnya dari depan, lelaki ini berputar dan melemparkan listrik dari pedangnya. Tak perlu lama mereka tidak lagi bergerak setelah menerima listrik dari pedangnya, Ryan menatap pedangnya tidak percaya kalau Belati Putih bisa membuat senjata sehebat ini. Tapi tidak percaya atau percaya tetap saja Ryan sedang memegangnya saat ini.
Mengisi senapannya kembali, ia membidik zombi pemuntah dan zombi yang berlari cepat terlebih dahulu sebelum mengurus zombi lainnya. Melihat zombi terbang membuatnya mengeluh, tidak lama zombi kelelawar datang ingin menabrak wajahnya karena menyadari bahaya Ryan menunduk dan menembaknya dengan tepat dari bawah.
***
"Fiuhh.. akhirnya selesai!" Ucapnya sembari mengelap keringat yang membasahi wajahnya. Sekitarnya adalah kumpulan tubuh manusia yang terpotong-potong, juga peluru yang bertebaran di jalanan membuat adiknya ketakutan melihat kakaknya yang begitu cepat membunuh mereka semua sekaligus. Ryan yang menyadari keberadaan adiknya tidak mempedulikannya dan segera menuju bandara seperti tujuan awalnya.
__ADS_1
Tidak perlu waktu yang lama ia menemukan bandara tanpa penghuni selain zombi, tidak ada zombi yang akan menyerangnya di sini membuatnya lega. Melihat sebuah colokan listrik ia tambah lega karena bisa mengisi daya pedangnya, saat dicolokkan ternyata sama sekali tidak ada listrik yang mengalir.
"Yah kurasa aku tidak ada waktu untuk menghidupkan cadangan energi di sini, apa tidak ada benda yang bisa aku manfaatkan ?" Ujarnya sembari melihat sekitar. Ada mobil diparkiran yang telah ditinggalkan oleh pemilik, segera mendapatkan ide Ryan mendekati mobil itu dan mengambil aki yang ada di dalam mobil, alat untuk menghimpun tenaga listrik.
Ia bersyukur tidak bolos saat berada di pelatihan sebagai prajurit, membuatnya sedikit paham tentang keadaan semacam ini dan bisa selamat. Mau bagaimanapun juga dia tidak bisa terus mengandalkan senjata api terus-menerus, karena itu ia membutuhkan pedang dan bukan sekadar pedang biasa. Memang ada pedang lain seperti pedang api tetapi Ryan merasa kalau benda ini lebih baik.
Menang beberapa kali terasa tangannya tersengat listrik tetapi dia baik-baik saja, sedangkan pedang api rasanya begitu panas sampai membutuhkan sarung tangan.
"Butuh beberapa menit untuk terisi.. apa aku cari saja benda itu ? Tunggu, Zaky tidak memberi tahu dimana memori itu berada... Benda kecil seperti itu berada di bandara seluas ini dan aku sendiri ?" Ucapnya mengeluh. Kemudian, ia berpikir akan melihat ke ruangan yang penting terlebih dahulu sebelum pergi ke tempat yang sekiranya benda penting tidak disimpan.
Setelah pedangnya terisi ia pergi memasuki bandara melihat pesawat yang telah ditinggalkan dan sudah terlihat karatan, melihat kalau ada zombi yang sedang mendekatinya Ryan membidiknya. Namun, ukuran tubuhnya sekitaran 2 meter membuat Ryan tahu kalau ia tidak usah menggunakan senapan dan akan menghemat peluru saja.
Mendekati tubuhnya yang besar itu ia mengangkat tangannya hendak memukul, namun karena tangannya mengenai langit-langit membuat pergerakannya terhenti. Ryan menghembuskan napas dan menghunuskan pedangnya, ia membelah kepalanya sekali tebas hingga terbelah dua. Akan tetapi ia masih bisa bergerak.
__ADS_1
Melihat ini Ryan sedikit ngeri, menusuk tubuhnya beberapa kali ia lihat kalau setelah beberapa tusukan zombi ini tidak bergerak lagi dan tidak sedikit mengherankan zombi ini berada di tempat seperti ini. Karena pintu masuk begitu kecil untuk tubuhnya takkan muat untuk keluar.
Hanya saja lelaki ini baru menyadari kalau ada zombi sebesar dia pasti yang lain masih berada di tempat ini, teman-temannya pasti sudah menunggu kedatangan Ryan untuk datang. Mencoba untuk tenang Ryan menoleh ke belakang kalau para zombi sudah memblokir jalannya, dan ia terkepung oleh semua zombi yang ada membuatnya kesal.