Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
82. Surya, Adly


__ADS_3

Di depan gedung Belati Putih banyak orang yang sedang berkumpul untuk mendapatkan pekerjaan, begitu banyak hingga para ketua juga sama sibuknya. Tapi, agar rencana mereka berhasil harus melakukan ini daripada ada pertempuran besar menunggu. Mereka lebih memilih untuk kedamaian.


Yah walaupun Adly kelihatan kecewa akan kedamaian, dia mungkin akan Fauzan tempatkan pada keamanan negara ketika mengambil alih negara ini untuk sementara sampai penggantinya ada kembali. Itu membutuhkan waktu lama juga.


Fauzan menatap langit-langit, "Umm.. bagi yang tidak sekolah sekalipun.. hahh ini agak merepotkan, tapi kita berikan saja pekerjaan bangunan saja."


"Mereka menghasilkan uang dari kejahatan melebihi gaji dari pekerjaan itu.. mereka takkan kembali pada pekerjaan jahat itu, kan ?"


"Kita tambahkan gaji mereka sekitar 35% dan berikan makanan, biasanya maksudku.. umm.. yah rokok dan sebagainya."


"Oh begitu ya ? Jadi mereka akan betah ?" Tanya Ezra agak tersenyum kecut. Membicarakan ini agak membuat Ezra sedikit heran, dengan begini gaji mereka akan dipotong dan mendapatkan sedikit uang. Pekerjaan yang taruhannya nyawa dan tenaga ini gajinya akan dipotong, namun tidak ada yang protes sama sekali.


Entah kenapa dia juga memikirkan kalau ini memang yang terbaik untuk negara ini, lagipula dia tidak terlalu membutuhkan uang banyak dan ya atasan mereka juga tidak terlalu pusing soal uang.


Namun, soal negara ini sampai saat ini pemimpin mereka terlihat jujur dan baik hati. Nyatanya dia begitu kejam, bahkan dengan mata kepalanya sendiri Ezra melihat tumpukan uang dan kenikmatan yang ada dalam istananya itu. Sistem di negeri ini juga agak aneh kalau dipikirkan lebih dalam.


Setelah pembicaraan selesai Fauzan mulai mengacak-acak dokumen lagi dan kelihatan serius, melihatnya seperti ini Ezra tidak ingin menggangu dan pamit untuk pergi..


"Yah dia pekerja keras tapi.. Sarah sebaliknya. Parah banget!" Ezra berkata sambil berjalan menuju lift yang berjarak beberapa langkah lagi.


***


Di lantai bawah Adly menatap tajam pada para penjahat yang sedang berjalan masuk menuju gedung, ada beberapa orang yang pernah menjadi sasarannya. Mereka ketakutan ketika melihat Adly yang sedang diam.


Tidak disangka, ternyata berita itu hanya sebuah kebohongan saja.. dia masih hidup dan tidak mati membuat heboh kota sementara. Tapi, ada juga orang yang ketinggalan berita dan malah kaget sendiri melihatnya masih hidup.


Mengabaikan semua orang itu Adly melihat Surya datang bersama dengan pengawalnya itu, dua gadis dan satu humanoid. Tapi, melihat humanoid itu mereka semua sudah biasa dan tidak mendapatkan pengaruh intimidasi lagi.


Dalam alat yang selalu dibawa mereka semua ada semacam plat besi yang membuat ketakutan terhadap humanoid itu, itu membuat repot dan mereka memutuskan untuk melepasnya.

__ADS_1


Surya tertawa dan berkata, "yah.. kau ini rela melakukan ini ? Padahal sebelumnya kamu mengejar orang-orang seperti mereka seperti dulu!"


"Jangan berkata seperti itu, seakan kita sudah kenal lama saja.."


"Maaf.. maaf.. aku hanya ingin bicara denganmu saja."


"Soal apa ? Duduklah dulu!" Adly menepuk kursi di sampingnya. Surya duduk di sana dan menatap dua gadisnya, melihat ini Adly cukup kesal karena dari tadi banyak orang yang menatap gadis ini. Lelaki itu berdiri dan merobek pakaian keduanya.


Sontak Surya kaget karena kelakukan Adly, hanya saja siapapun sadar soal ini. Mesin..


"Sebegitu menyedihkan kamu ini ya ? Sampai menjadikan robot sebagai gadismu!"


"Oi! Aku juga punya istri.. tapi, dia sama sekali tidak memperhatikanku dan hanya anak kami saja."


"Kau cemburu pada anakmu ? Menjijikan!"


".. ok lupakan, aku ingin bicara serius denganmu dan pakaikan pakaian itu lagi pada mereka!" Ujarnya dengan nada keras setengah membentak.


Surya menjelaskan tentang bagaimana caranya dia membuat agar robot memiliki data pertarungan agar bisa bertarung seperti Adly dengan merekam pergerakan, dan menyimpan datanya.


Adly memukul meja, "maksudnya apa sih ?! Gak paham aku! Simpel sedikit!"


"Ada semacam alat di kepalamu! Itu membaca setiap gerakan dan pengalaman bertempur milikmu!"


"Hah ?"


"Cih dasar! tidak paham ya.. maksudnya itu ada alat yang membaca gerakanmu dan menyimpannya dalam data, data itu nanti bisa menggerakkan robot! Kemampuan tempurnya akan sama denganmu!"


"Gak paham! Hehe!" Katanya sambil tersenyum polos.

__ADS_1


"arrgghh! Kau ini ya ?! Cepat bawa Fauzan kemari atau Zaky agar bisa paham apa yang aku katakan!" Katanya agak membentak. Karena tidak memahaminya Adly menekan tombol pada Earbuds dan memanggil Fauzan dan Zaky untuk datang, hanya saja mereka tidak menjawab panggilan.


Menghela napas, dia terpaksa harus masuk ke dalam dan memanggilnya ke lantai atas...


Melihat ada Widya yang sedang makan di cafe, Adly mengambil dompetnya yang kosong hanya menyisakan beberapa ribu saja. Sehari dia bisa menghabiskan 200 ribu dalam setengah hari.


"Apalagi gajiku dipotong.. sekarang dia sedang banyak makan lagi ? Ah, bagaimana ini ? Apa pantas bagi ketua Belati Putih sampai kerja sampingan hah ?" Ucapnya dalam hati. Sembari berjalan masuk ke dalam kebetulan Fauzan sedang bicara dengan resepsionis yang sedang duduk di kursinya, karena dia kelihatan sangat sibuk Adly menunggu sampai pembicaraan mereka selesai.


"Kalau begitu mohon bantuannya ya!" Kata Fauzan sembari pergi. Mengabaikan Adly yang menunggu, lelaki itu menghela napas dan memakai topengnya membawa pedangnya melesat pada Fauzan yang sedang berlari.


Sontak Fauzan kaget dan hampir menembak Adly dengan senapannya, dia muncul di hadapannya seperti musuh memberikan serangan kejutan saja.


Agak heran diapun bertanya, "ada apa ? Kenapa kamu kelihatan jengkel ?"


"Surya dan gajiku."


"Eh ? Apa Widya ngidam sesuatu yang mahal ? Kalau begitu kamu bisa ambil tabungaku saja."


"Bukan itu, aku masih ada uang hanya saja Surya menunggu Zaky dan kau di luar.. dia awalnya ingin bicara denganku tapi aku tidak paham."


"Kalau begitu cari Zaky saja, bukan ? Aku lagi sibuk banget, maaf..!"


"Ayolah sebentar saja, ini menyangkut soal bumi ini katanya inti planet kau hancur.."


"Hah ?!" Fauzan kaget tak main. Dia langsung mengangguk dan pergi bersama Adly keluar, walaupun sedikit kebohongan tidak apa-apa asalkan dia mau ikut keluar bersamanya Adly merasa tidak apa-apa. Hanya saja dia masih memikirkan Widya yang sedang hamil itu.


Cherry itu agak mahal namun, kalau tidak dituruti dia akan merengek dan memintanya terus sampai pada Alia sekalipun.


"Bahkan demi ibunya Alia menghancurkan celengannya yang sudah ditabung selama 6 tahun itu, kalau begitu ayah macam apa aku ini!" Ucapnya dalam hati. Hanya saja, dia akan miskin kalau terus begini karena dia langsung meminta 2kg dan langsung habis dalam sehari, apalagi dia cemas pada kandungannya jika berlebih memakan buah itu.

__ADS_1


Menghela napas, dia tidak ada pilihan lain untuk meminjam uang pada Fauzan lagipula dia menawarkan pinjaman sebelumnya... Yah itu lebih baik daripada dia menangis...


__ADS_2