
Mereka mulai bertengkar lagi. Sedangkan Adly hanya menatapnya dengan mata yang kelihatan sinis sekali, Zaky yang tidak hentinya menolak perintah Rani sedangkan gadis itu tetap kekeuh pengen. Melihat situasi juga Adly cukup memilih apa yang diinginkan Zaky, hanya saja itu terlalu berbahaya dan perintah Rani juga bodoh.
Sambil melihat ke bawah dari atap gedung matanya hanya melihat seorang anak yang sedang bermain game di kursi. Mereka terlihat marah-marah, dia tersenyum sambil mengingat saat-saat bersama temannya di masa lalu.
Lelaki itu menghembuskan napas, Adly kemudian mengeluarkan sebuah senapan dan membidik seseorang.
Adly bertanya, "bagaimana, apa bisa kena ?"
"Sebentar... Dia memakai pelindung di kepalanya, bidik lehernya saja."
"Aku tidak pandai menggunakan sniper, kamu aja, Fauzan."
"Hahhhh.. yasudahlah!" Jawab Fauzan. Dia mengambil pistol kecil yang memiliki scope, dia membidik dan menembakkan peluru itu. Adly memakai teropong melihat orang itu sudah mampus, dia berpikir kalau skill membidik Fauzan sangatlah bagus melebihi siapapun yang berada di organisasi.
Bahkan harusnya dia masuk ke grup pengintai saja, hanya saja mungkin dia lebih baik tetap tinggal di grup pembantai saja. Keberadaannya sangatlah diperlukan saat ini.
Fauzan bertanya, "lalu ? Bagaimana ?"
"Bagaimana apanya ?"
"Setelah kita menghabisi orang-orang yang menyebarkan virus itu, apalagi yang harus kita lakukan ?"
"Mana aku tahu, lihat saja... Atasan kita sedang ribut bahkan mereka main senjata."
"Yah, apa kau tidak tahu kalau pertengkaran bisa memperkuat hubungan ?" Tanya Fauzan sambil tersenyum. Adly lahan kemudian melemparkan sebuah bom asap, lalu dia masuk ke dalamnya dan dalam hitungan detik kedua orang itu sudah terikat oleh rantai.
Mereka berdua meronta-ronta, kini takkan bisa kemana-mana. Zaky tidak akan bisa menghancurkannya kecuali memakai tenaganya sendiri, semua senjatanya takkan bisa menghancurkan rantai yang ada di tubuhnya. Karena kekuatannya adalah lubang hitam, jika digunakan akan jadi senjata makan tuan.
Sedangkan dua orang sedang terdiam dalam canggung, mereka tidak bicara sepatah kata sekalipun. Bahkan huruf... Ezra hanya terdiam saja dengan tatapan dingin, seseorang datang dengan membawa sebuah koper dan menyimpannya di atas meja.
Semua orang duduk di tempatnya masing-masing, Rani menarik napasnya. dan menatap Fauzan dengan sinis, "kau sudah mengerjakan semua hukuman yang aku berikan, bukan ?"
__ADS_1
"Sudah..."
"Membereskan toilet perempuan ?"
"Mana aku mau!" Tolak Fauzan sambil membanting meja. Semuanya terdiam, mereka melihat pipi kiri Fauzan merah berbentuk tangan. Tentu sudah jelas itu tamparan dari seseorang, mungkin lebih sakit dari kelihatannya juga.
Rani menghembuskan napas.. dia menjelaskan apa yang harus dilakukan hari ini, Vina yang bersamanya keliatan mengantuk dan tidur di kursinya. Atasan mereka menjelaskan tentang kegiatan organisasi kedepannya, mereka sama sekali tidak bersemangat satupun karena hanya membasmi kejahatan biasa.
Mendengarkan penjelasan tentang zombi juga mereka enggan. Apalagi grup Pembantai yang terbiasa bertarung, mereka tidak kuat mendengarkan ceramah atau apapun bahkan dari guru sekalipun.
Rani bertanya, "apa ada yang keberatan ? Kalau iya cepat angkat tangan."
"Saya," jawab orang-orang bersamaan. Semuanya mengangkat tangannya, Vina juga sama. "Kenapa kamu malah ikutan ?" Tanya Rani dalam hatinya. Dia bertanya apa alasannya kemudian dengan alasan yang sederhana dan agak bodoh.
Adly tersenyum, "kurang seru aja."
"Kita harus mengubah sedikit cara berpikir kalian! Kesenangan bukanlah dari membunuh penjahat!"
"Begitu ? Tapi, bukannya itu bagus ?" Tanya salah satu orang. Semuanya mengangguk-angguk menerimanya, Rani tidak tahu lagi harus melakukan apa dan membubarkan semuanya. Dia tidak bisa mengubah cara pikir dari semua anggota Belati Putih yang lama, orang-orang baru akan terbiasa dan memahaminya dengan baik.
Vina bertanya, "kenapa kamu ingin merubahnya ?"
"Aku tidak suka saja."
"Mereka hanya mengatakan itu saja, tidak sampai melakukannya.. dan yang salah hanyalah mereka terlalu mengandalkan kekerasan, seperti saat sandiwara Adly menghajar kamu."
"Jujur saja aku tidak memahami apa yang dipikirkan orang-orang yang sudah lama di tempat ini."
"Yah kurasa kamu harus lebih berusaha lagi," kata Vina sambil tersenyum. Kedua gadis itu saling menatap, Rani tahu apa yang dimaksud sahabatnya dan dia tidak ingin terlalu memikirkan ini lebih dalam. Lebih baik dia memikirkan bagaimana caranya agar mengambil negara ini saja, tentu dia akan bebaskan negara ini dari cengkraman orang tidak waras.
Kalau tidak adanya organisasi ini mungkin saja seluruh dunia sudah hancur akibat kedatangan wabah zombi, dia pikir akan menambah kekuatan militer dan mesin tempur. Selanjutnya, dia akan mendatangi pabrik yang menyiapkan alat tempur.
__ADS_1
***
"Oo.. kamu masak enak juga."
"Yah aku mau belajar sedikit saja."
"Ibu, punyaku terlalu manis dan kenapa ayah pedas ? Aku mau itu."
"Adly, kenapa kamu tidak pernah mengajarkan hal yang baik pada anak ?" Tanya Widya dengan wajah memelas. Dia kemudian ingin melahap makanannya kembali, hanya saja ada tangan yang menarik bajunya dan menariknya untuk ikut bersamanya.
Widya bertanya dengan nada panik, "ada apa, tani ?!"
"Tani ?"
"Rani.. ada apa ? Salah sedikit dianggap."
"Aku mau menyeretnya ke hotel, aku kesepian karena Ryan sudah meninggal."
"Hah ?! Apa yang kau bicarakan ??" Tanya Widya kaget. Dia menarik Adly sekuat tenaga, walau Rani hanya bercanda dia seakan serius membuat tubuh Adly seperti tali dan mereka menariknya sekuat tenaga mereka. Alia menontonnya sambil memakan bekal ayahnya, terlihat cabai yang belum dipotong ditengah roti isi itu.
Zaky mendatangi mereka bertiga kemudian menendang Adly ke atas, Adly terpikir kalau mungkin sebentar lagi beberapa tulangnya akan patah. Dia bicara dalam hatinya, "semoga regenerasi aku bisa kuat menahannya."
"Adly!" Teriak Widya. Zaky menangkapnya dengan kedua tangannya, dia terlihat begitu panik dan lelaki itu meronta kesakitan. Ada sesuatu menusuk tubuhnya, Adly mengambil pedang dan menebas leher Zaky membuat wajahnya tertebas.
Semua orang kaget dengan masuknya seorang penyusup. Mereka menyiapkan senjata, tapi ada yang membuat Adly aneh ketika dia melihat ada yang aneh dengan Zaky yang ada di depannya. Dia memandangnya sebentar, kemudian tersenyum masam membanting robot dihadapannya.
Seseorang bertepuk tangan ketika robot itu hancur sedangkan Zaky yang asli sedang menutup matanya dengan tangan kanannya, dia tidak menyangka kalau dirinya bisa disalin. Maksudnya orang itu berhasil membuat salinannya, dia tidak menyangka hal ini bisa terjadi tapi mungkin karena kebetulan saja. Itu yang dipikirkan lelaki itu saat ini.
Rani bertanya, "siapa kamu ?"
"Kekasihmu."
__ADS_1
"Umm.. kau tidak tahu aku siapa ?"
"Lupakan itu, dimana atasanmu ?" Tanya orang itu. Rani yang sangat jengkel mengeluarkan senjatanya, dia memasukannya ke dalam mulutnya dan mau menarik pelatuknya. Vina terdiam dalam takut ketika melihat sahabatnya begini, tidak ada orang yang bisa seserius gadis ini ketika dia sedang marah. Semuanya pun terdiam, mereka akan mengangkat tangan ketika berhadapan dengannya. Harusnya.