Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
Episode 98 : Selamanya Akan Kulindungi Kalian Bertiga


__ADS_3

Dia melesat ke dada kanannya dan memukulnya sekali tinju, api mulai menjalar dari tubuh ke tubuh yang lainnya zombi itu berteriak keras. Menambah kekuatannya lagi Ezra membuat api semakin besar bahkan sampai mengenai bajunya, beberapa saat kemudian ada laser yang mengenai kepalanya dan meledakan kepala itu.


Ezra tersenyum masam, dia menoleh ke atas kalau DyntalGear sedang terbang menuju ke arahnya dengan perlengkapan baru.


Ezra mengaktifkan Earbuds miliknya, "Aihh.. mereka terus berkembang, dulu penampilannya seperti kerangka rusak."


"Jangan mengatakan robot kami kerangka.. yang itu belum selesai, nah sekarang akan kami tunjukan kalau Belati Putih tak ada apa-apanya dengan ka---!"


"Sudah pak, jangan mengatakan hal yang tidak-tidak berikan perintahmu.. robot ini akan segera.."


"Penyeimbang tidak aktif, persiapkan diri untuk benturan!" Suara robot perempuan kembali lagi. Mendengar suara itu Surya sama sekali tidak menyukainya karena kalau ada dia pasti mereka mengalami kerusakan, menghela napas dia menyender pada kursinya dan tidak lama kursi mengembung mengeluarkan pengaman menutupi seluruh tubuhnya.


Ezra yang diluar melihat mereka tidak mengendalikan robot itu malah menabrakkan diri ke salah satu gedung, dia hanya bisa tersenyum masam melihatnya. Seluruh pasukan mendatangi robot tersebut sedangkan Ezra melihat kalau zombi ini tidak beregenerasi setelah kehilangan kepalanya, mungkin karena kesadarannya telah hilang.


"Jantungmu ada di kanan, kuharap otakmu tak ada di kaki!" Ucapnya sembari menyiapkan tinjunya. Kepalan tangannya mengeluarkan api biru lagi, dia memukulnya tepat pada dada kanannya untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak ingin terjadi. Tubuhnya bolong dan masih ada bekas api kecil di dalamnya.


Tidak mencemaskan dia akan bergerak lalu mengamuk lagi Ezra pergi dari tempat itu dan melompat mengarah pada tempatnya robot itu mendarat, seperti batu api dia menghantam tanah menghancurkan area sekitar. Regu miliknya hanya bisa tersenyum masam melihat kelakuan ketuanya.


Regu api, mereka semua dilengkapi dengan perlengkapan ketahanan tinggi terhadap panas untuk menghindari serangan ketua mereka dan mereka menyerang menggunakan senapan peluru panas. Perlengkapan seperti grappling hook dan yang lainnya semua anggota memilikinya tidak terkecuali.


Hendak mendekati DyntalGear robot itu berdiri namun dengan kerusakan pada kepalanya, dan ada beberapa serpihan tubuhnya jatuh ke bawah. Kokpit terbuka mengeluarkan sebuah bola-bola besar seukuran manusia, mereka menggelinding dan tidak lama benda itu terbelah jadi dua mengeluarkan manusia serta kursi.

__ADS_1


"Apa ini ? Jangan bilang pengaman," kata Ezra dengan senyum mengejek.


"Kerusakan tidaklah parah hanya saja.. entah kenapa si kakek tua itu kepikiran membuat pengaman semacam ini, lucu katanya ?! Kursi lontar dengan parasut lebih baik! Tapi... Entah kenapa dia memilih ini!" Kata Surya berkata penuh amarah dan nada keras.


Tim-nya memperbaiki kerusakan robot dan yang lainnya beristirahat di sebuah tenda yang telah didirikan, Ezra menatap secangkir teh yang dipegangnya dan melamun. Dia memikirkan tentang keadaan Adly saat ini yang sudah tidak mampu lagi, manusia memiliki batasan waktu begitu juga dirinya.


Bertanya-tanya siapakah selanjutnya, apakah dirinya atau temannya dia tidak tahu soal itu karena dia tidak bisa melihat masa depan seperti Adly.


"... Waktu ?!" Teriaknya. Sontak semuanya kaget ketika dia berteriak seperti itu setelah melamun keras, Ezra sendiri ingat kalau Fidya anaknya punya kekuatan waktu bisa mengembalikan kekuatannya. Kalau dia bisa menguasai kekuatannya sepenuhnya dan setelah dewasa. Masih ada harapan untuk temannya bangkit, dia tidak bisa menunggu dan akan menyapu bersih lawannya hingga habis.


"Nah! Saatnya kita pergi ke lokasi berikutnya!" Teriaknya penuh semangat dan keras. Semua orang terdiam, baru saja beberapa orang hampir sedikit lagi meneguk minuman mereka sudah ada perintah. Mereka semua menghembuskan napas panjang.


***


Saat ini dia sedang berjalan sembari menunduk memikirkan bagaimana soal keuangan mereka, kata Fauzan dia akan memberikan uang sebagai ganti gaji Adly namun, Widya tahu kalau dia mengambil uang tersebut dari upahnya sendiri dan digabungkan dengan upah Zaky serta Ezra bersama-sama. Tidak bisa terus-terusan seperti ini, dia perlu bekerja untuk keperluannya sehari-hari.


Mau bagaimanapun juga Adly tidak bisa bekerja lagi, dengan tubuh yang sekarang dia mungkin takkan bisa menembak satupun zombi. Menghembuskan napas dia berjalan mempercepat langkahnya dan mendapati kalau Alia sedang membaca buku di halaman, dengan kedua kaki terangkat beserta permen batang di mulutnya.


"Alia, udah ibu bilang kalau makan permen jangan tiduran nanti tertelan!" Ucap Widya agak marah. Mendengar kata-kata ibunya dia bangun dan duduk, mengigit permennya lalu membuangnya setelah terbelah jadi dua hanya meninggalkan batangnya saja.


Masuk ke dalam rumah mereka berdua melihat kalau Adly sedang mengigit tangannya, dan Fidya kelihatan tertidur dipangkuan ayahnya. Sontak keduanya kaget ketika melihat Adly mengigit jarinya, keluar regenerasi yang lambat dan ternyata kekuatannya masih tersisa walau hanya sedikit saja.

__ADS_1


Menyadari kalau suaminya bukan mengigit jarinya untuk memastikan kekuatan regenerasinya masih ada, dilihat kalau dia sedang menghisap darahnya sendiri. Mendatangi Adly dia menghentikan tangannya dan mengambil sebuah minuman kaleng.


"Minumlah ini.. jangan lupa kalau masih ada kami bertiga, sudah cukup kami lindungi kami selama ini dan ya sudah cukup untuk menyelamatkan begitu banyak nyawa!" Ucapnya sembari menahan tangisan. Dia melihat keadaan Adly yang begitu memprihatinkan, dengan kaki kirinya yang telah dipotong dan tidak bisa tubuh kembali membuatnya sedih.


Adly tersenyum dan membuka matanya, iris matanya abu-abu dengan pupil merah yang terang. Dia berkata dengan senyuman, "selamanya... Selalu, aku akan melindungi kalian bertiga apapun yang terjadi akan aku pastikan itu.. selama aku masih bisa bergerak, walaupun hanya jariku saja yang masih bisa bergerak."


"Kamu bodoh ya ? Mana mungkin.."


"Pendengaranku masih bisa digunakan walaupun harus memakai alat pengeras suara, jangan remehkan suamimu karena dia bisa memprediksi keberadaan musuh dengan pendengaran dan bau darah."


"Itu terlalu berbahaya.. mana mungkin aku membiarka--"


"Tidak, pasti akan ada waktunya aku bangkit lagi untuk kalian semua!" Ucapnya dengan senyum. Melihat senyuman tanpa ragu itu, gadis ini terdiam menatap wajahnya dan dia mengambil kaleng kopi pada tangan lelaki di hadapannya. Membuka penutupnya dia meminumkannya pada Adly membuatnya kaget, sedangkan Alia yang melihat ini tersenyum masam.


Dia berkata dalam hati, "wah wah.. kayaknya aku bakal punya adek lagi nih!"


"Kak, jangan mikir macem-macem, loh."


"Fidya... Sudah berapa kali jangan mengintip atau melakukan telepati pada siapapun itu."


"Hump! Aku mau intip pikiran kakak!"

__ADS_1


"Jangan!" Tolaknya. Memutuskan telepati Fidya bangun dan memeluk ibunya, dia menghalangi ibunya untuk memberi minum ayahnya. Widya tersenyum masam, dia mencubit pipi anaknya lalu mengangkatnya dan duduk dipangkuan suaminya.


Sedikit merasa kaget dan sakit, Adly sudah terbiasa merasakan kalau paha ataupun pundaknya selalu pegal kalau gadis ini sudah tidak bisa jauh darinya.


__ADS_2