Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
78. Ibu Adly


__ADS_3

Sesampainya di kantor polisi zaky memaduki tempat ini dan diantar oleh penjaga, dia langsung menghadap ke depan jeruji besi. Tanpa mengatakan apapun juga ayahnya Rani tahu kenapa Zaky berada di sini, dia hanya menghela napas dan pergi ke ranjang. Langsung tidur tanpa mempedulikannya.


"Anakmu koma," ucapnya Zaky tersenyum manis. Ayahnya langsung bangun dan mendatanginya, dia terlihat geram teringat kalau Elentry miliknya bisa meledak jika terus dibiarkan tertidur. Dia hanya bisa terdiam saja, akibatnya dalam tubuhnya ada sesuatu.


Ayahnya tersenyum, "bawalah kertas Perjanjian itu."


Namun, pria ini di hadapan Zaky menggerakkan tangannya dengan berbagai gerakan seperti memberikan perkataan.


"Hah ? Kenapa kau bicara den--! Baiklah.."


Melihatnya dengan fokus Zaky sontak kaget. Memahami apa yang dikatakannya secara tidak langsung itu, dia menghela napas dan meminta petugas membawa kertas.


"Baguslah..biar cepat urusannya!" Ayah Rani tersenyum. Melihat gerakannya barusan, itu cukup tahu kalau apa yang akan dikatakannya akan menjadi hal yang semakin merumitkan. Terlebih lagi, itu cukup tidak bagus untuk diketahuinya.


Setelah petugas membawa kertas bersama pena dia memberikannya pada ayahnya Rani, pria itu kemudian menuliskan sesuatu di atasnya. Beberapa menit sesudahnya Zaky membaca apa yang ditulisnya, itu cukup berbahaya dan kenapa ayahnya terlibat lagi ? Dia sudah sangat bosan.


Menghela napas dia mengambil kertas itu dan pergi tanpa mengucapkan salam atau apapun, dengan mata terbuka lebar agak ketakutan. Bahkan mungkin saja semuanya tidak akan percaya dengan apa yang didapatkan olehnya, jujur ini akan membuat masalah yang cukup besar.


Akan ada dua pihak, salah satunya akan merepotkan sekali. Pertama, mereka akan meminta agar Rani cepat-cepat dibunuh agar tidak menjadi andalan dan kedua, mereka ingin agar Rani menjadi senjata tempur. Itu yang merepotkan.


"Aku harus cepat bicarakan ini dengan yang lain!" Zaky bergegas.


***


Gedung tempat Belati Putih seperti biasanya penjagaannya ketat, cukup membuat orang lain ternganga melihat pasukan yang berjejer. Namun dengan keberadaan pasukan robot juga membuat kekuatan mereka bertambah, sekarang mereka akan menjadi kekuatan militer terbaik di dunia.


Yah.. itu hanya bagi semua negara, tidak bagi kedua orang itu yang sangat penting bagi Zaky dan itu belum diketahui olehnya.


Saat ini Fauzan sedang sibuk di dunianya sendiri dan mengacaukan ruangan ini, penuh dengan kertas di lantai dan begitu banyak sekali barang-barang yang berjatuhan dari tempatnya. Vas bunga juga pecah.

__ADS_1


Adly tersenyum masam, "bisakah kau.. tidak kacaukan ?"


"Ini sangat penting, Adly! Bisa saja.. kau jadi pemimpin berikutnya!"


"Eh ?! Ah, tidak ingin.. yah kalau menguasai dunia aku mau saja."


"Serakah sekali..!" Widya tersenyum. Mereka membantu membereskan kekacauan ini, namun, tidak akan ada yang menyangka hal ini.


Seseorang masuk lewat jendela menghancurkan kaca dan membuat angin memasuki ruangan, kertas yang sudah terkumpul menumpuk di atas meja dengan rapi berhamburan lagi. Jengkel dengan apa yang terjadi, Adly membuka pintu dan membantingnya.


Disusul dengan Widya dan ibunya, mereka berdua keluar meninggalkan Fauzan sendiri bersama Zaky yang baru sampai. Mengetahui kalau dia membuatnya marah, dia akan meminta maaf nanti karena itu tidak cukup penting.


Di memberikan kertas sebelumnya pada Fauzan yang agak tersenyum masam, dia membacanya sedikit dan dia sudah tidak peduli lagi. Menghela napas, dia melihat sekitar dan menekan satu tombol di ponselnya.


Dinding mengeluarkan sesuatu menutupi seluruh ruangan, untuk agar tidak bisa ada yang menguping ataupun mendengar pembicaraan mereka. Kalaupun yang lain tahu tidak apa, hanya saja asalkan tidak disebarkan olehnya karena ini bisa jadi kekacauan.


"Kalaupun kamu bertanya padaku, aku juga tak tahu harus berbuat apa, loh."


"Rumit ya ?.. kupikir juga begitu, hanya saja bukannya ini aneh ?"


"Apanya yang aneh ?"


"Karena dia perempuan!" Fauzan tersenyum polos. Mendengar perkataannya barusan Zaky hanya bisa terdiam, itu sama sekali tidak masuk akal karena tubuh gadis itu lemah. Rani mungkin tidak akan bertahan selama beberapa tahun.


"Hey, Elentry tidak masuk akal ... Seperti mengeluarkan api, kristal, lubang hitam, dan sebagainya.. apa kau pikir itu masuk akal ? Tidak."


"Tapi, tetap saja kita perlu.."


"Kalaupun kau itu dokter tapi mungkin saja ini bisa terjadi.. aku jamin itu, dari pengalamanku!"

__ADS_1


"Hahh.. yah pengetahuan dan pengalaman, itu cukup baik. Tapi sekarang bagaimana ?" Zaky bertanya sekali lagi. Mendengar pertanyaannya itu membuat Fauzan cukup kesal, dia tidak memahami keadaan yang mulai ribet ini walaupun semuanya mulai terhubung satu sama lain.


Mengambil Earbuds miliknya dia memanggil beberapa orang dan memulai rencananya, menggeser pemimpin itu dan menggantinya dengan yang baru. Yaitu dengan penduduk, mereka pasti tidak akan terima dengan apa yang dilakukan pemimpin mereka di belakangnya.


Saat ini Fauzan cukup senang, dia memiliki ekspresi yang sama seperti Adly saat sedang tidak waras. Kalau dipikir-pikir lagi mereka berdua memang mirip, jangankan mirip mereka berdua saat SMP kelas dua selalu bersama. Kecuali saat kelas tiga hanya saat istirahat dan pulang saja.


Menjilat bibirnya dia sangat menakutkan saat ini, Zaky juga menyadarinya...


"Lalu bagaimana ?"


"Ah, ya tidak apa-apa.."


"Ibu mertua! Jangan begitu, dia anakmu bukan ?!"


"Adly, kau memilih gadis yang tidak ramah, tidak sopan, tidak bisa masak, pekerjaan rumah tidak becus, Alia jadi tambah barbar, dan yang lainnya.. ditambah lagi dia sudah hamil.. mau tidak mau kau harus mengurusnya, padahal kamu ini bisa punya dua atau mungkin lebih kalau mau, tapi jangan seperti ini anak."


"Sudah hampir jadi tanah juga!" Widya mulai marah. Dia mendengarkan ocehan dari ibu mertuanya, hanya saja saat ini dia mulai kehilangan kesabaran lagi sembari memikirkan bagaimana cara Adly bisa mengurusnya saat remaja. Ibu seperti dia cukup merepotkan, tapi disisi lain begitu hebat bagi Adly. Yah hanya anaknya yang bisa paham.


Adly menarik tangan istrinya dan mendudukkannya di pangkuannya, "yah sabarlah.. kau sedang ngisi, bukan ? Dan ibu, bisakah tidak terlalu keras padanya ? Dia ini gadis impianku."


"Eh ? Jangan-jangan..!"


"Yah! Dia punya banyak sekali keinginan yang aku mau!" Ucapnya sambil tersenyum. Lalu, Widya mulai merinding mendengarkan Adly bicara semacam wanita yang sadis dan sebagainya, dia pikir suaminya sudah tidak waras dengan impikannya memiliki istri semacam itu.


"Apa Adly.. masokis ? Yah, aku udah lihat dia kumpulin bola mata musuhnya, pisau di setiap kota bahkan negara, dan ... Tangan orang!" Ucap gadis itu dalam hatinya. Sedangkan ibunya sendiri mendengarkan perkataan Adly sedari tadi sambil memperhatikan Widya, dia tidak percaya kalau anak ini bisa seperti ini.


Kalaupun itu kebohongan belaka dia tetap ingin mempercayai anaknya apapun yang terjadi, sekalipun dia berbohong juga untuk kebaikan banyak orang termasuk ibunya sendiri. Salahnya tidak mempercayai anaknya, itu cukup menjadi kesalahan terbesarnya menjadi seorang ibu dan soal Widya ini dia cukup tidak bisa membiarkannya.


Melihat ketidakmampuannya sebagai istri membuatnya khawatir pada anaknya, dia tidak mendapatkan perlakukan sebagai suami. Malah terlihat lebih seperti teman, bagi ibunya...

__ADS_1


__ADS_2