
Sebuah desa yang nyaman begitu juga dengan warganya yang ramah serta suasana yang nyaman, merasa bingung harus bagaimana menyelesaikan masalahnya Aldy hanya berjalan-jalan di jalanan kota melihat para warga. Merasa bersalah jika sampai menculik beberapa orang di sini tapi Aldy tahu kalau ini tindakan yang salah.
"Kalau kakak sampai tau mungkin dia akan bunuh diri, aku tidak bisa melakukan hal sekejam ini," gumamnya. Tak lama setelahnya seseorang menepuk pundaknya dari belakang, segera ia menoleh ke belakang dan kaget melihat seorang gadis cantik sedang berdiri. Dengan pakaian compang camping.
Dia bertanya dengan gugup, "anu.. apa kamu tersesat ?"
"Eh ? Ah, bukan.. aku sedang liburan itu saja!"
"Nampaknya kamu bohong, apa ada masa---!" Perkataannya terhenti dan ia membuka matanya lebar kaget. Menyadari apa yang salah Aldy menghembuskan napas, lalu mengeluarkan pistolnya menembak langit membuat semua orang di sekitarnya melihat ke arahnya.
"Saya dari Belati Putih, ada segerombolan zombi berada di hutan ini! Saya mengharapkan kalian semua tidak keluar dari rumah!" Teriaknya memberikan peringatan. Semua orang yang mendengar bergegas masuk menuju rumah mereka, begitu juga dengan orang tua yang menyeret anak mereka masuk ke dalam rumah.
Aldy melirik ke gadis di sampingnya, ia menunduk seperti takut padanya.
"Tenang saja, saya sendirian cukup untuk membunuh mereka semua."
"Tidak, maafkan saya.. p-permisi!" Ucapnya sambil menunduk dan segera pergi. Melihatnya menjauh Aldy menghembuskan napasnya lega, memang kenyataannya ada segerombolan zombi di dekat sini walaupun mereka belum mencium darah atau menemukan warga di sini. Akan tetapi, baginya cukup aneh melihat gadis itu tidak masuk ke rumah manapun di sini dan malah menjauh darinya.
Hendak melangkah jam tangannya bergetar, ternyata para zombi mulai memasuki sekitar kampung ini dan anehnya Aldy melihat bapak-bapak yang membawa golok di tangan mereka. Tersenyum masam melihat mereka membawa senjata itu, Aldy mendekat lalu meminta mereka pergi.
"Kami bisa membantu."
"Kalian hanya membebaniku saja, yah itupun jika aku tidak menghiraukan kalian tapi lebih baik kalian pergi saja. Jumlahnya ada tiga puluh lebih loh."
__ADS_1
Mereka semua terdiam, tidak ada yang mengatakan satu katapun melihat reaksi mereka Aldy tahu kalau organisasi mereka telah dikenali oleh banyak orang di penjuru dunia. Menatap ke dalam hutan Aldy heran mengapa gadis itu tidak pergi.
"Gadis itu bukan penduduk di sini."
"Eh ? Jadi, itulah mengapa ia tidak masuk ke rumah manapun ?"
"Ya itu benar dan kami tidak bisa menerima gadis sepertinya masuk."
"Sudahlah... Kalian masuk, dasar beban!" Keluh Aldy sambil berjalan mendekat ke si gadis. Melihat kalau satu zombi sudah masuk menabrak pagar langsung saja mengincar mangsanya yang tidak lain adalah gadis itu, dengan cepat Aldy menembakkan grappling hook ke salah satu rumah dan melesat ke arah zombi.
Membelah tubuh zombi sekali tebas, mengambil pistolnya ia menembak zombi kedua dan ketiga tanpa membiarkan mereka masuk ke dalam. Akan tetapi, gadis ini kelihatan ketakutan dan berlindung di belakang Aldy.
Merasa heran mengapa gadis sepertinya berada di tempat semacam ini Aldy bertanya, "kenapa harus seperti dirimu berada di tempat seperti ini ?"
"A-Aku diusir karena ayahku menikah lagi dan ibu tiriku.."
"Maaf.. tapi, aku takut untuk pergi dari punggungmu."
"Sekarang, nampaknya aku harus meledakan mereka saja sekaligus lagipula aku tidak punya waktu banyak mengurusi mereka semua," ucapnya dalam hati. Beberapa saat kemudian, ia menancapkan pedangnya ke tanah dan matanya terpejam tertutup kelopak matanya.
Rantai keluar dari tanah menghancurkan beberapa pohon dan menimpa para zombie sekaligus, terkecuali satu zombi berukuran sebesar beruang dengan tinggi tiga meter bisa selamat. Ia melihat Aldy dari kejauhan lalu geram, tak lama kemudian dia berlari mendekati mereka berdua.
Tangannya terangkat ke atas, melihat kalau semua zombi sama saja Aldy sama sekali tidak beranjak dari tempatnya satu langkah sekalipun. Tangan besar lawannya hampir mendekati kepalanya, dengan gesit Aldy memotong tangannya sehingga zombi mundur beberapa langkah. Duri kristal tumbuh dari tanah seperti duri menusuk kedua kakinya yang menginjak tanah.
__ADS_1
Sama sekali tidak dibiarkan menjerit Aldy memasukan granat tangan dengan daya ledak sedang ke dalam mulutnya, ledakanpun terdengar jelas begitu juga dengan tubuh zombi yang hancur tak tersisa. Hanya menyisakan kumpulan daging.
Aldy menatap tajam ke tanah melihat kumpulan daging zombi dan teringat kakaknya, wajahnya kembali kesal. Dengan wajah seakan-akan mengatakan "aku terpaksa melakukannya" ia memunguti daging yang berserakan di tanah.
"Terimakasih atas pertolonganmu, aku sama sekali tidak tahu harus berbuat apa untuk membalasnya."
"Bantulah aku mengumpulkan daging ini saja sebagai balasannya."
"Ah, baiklah akan aku lakukan." Balasnya. Gadis di sampingnya berjongkok dan ikut memungut daging busuk layaknya sampah, akan tetapi Aldy melihat gadis ini begitu lama dan heran karena dirinya sama sekali tidak kelihatan jijik ataupun ketakutan. Terlintas di pikirannya gadis ini langka.
Beberapa menit berlalu para warga yang ada di sini berterimakasih dan bertanya harus diapakan mayat-mayat yang ditimpa batang pohon, Aldy meminta mereka untuk tidak melakukan apapun selain membiarkan dirinya mengurus semua itu sendirian. Dan semua orang pun mengangguk.
Bersama gadis di sampingnya Aldy berjalan dengan memeluk kumpulan daging menuju tempat kakaknya berada, mereka berdua berjalan cukup lama lalu mendapati gua yang di pintu gua terdapat serigala dan hewan buas lainnya. Melihat hewan buas yang sama sekali tidak berani masuk Aldy tersenyum.
"Mencium bau makanan tapi kalian menyadari kalau di dalamnya juga terdapat bau ketua regu Pembantai, kah ?" Aldy berkata sembari tersenyum seolah-olah memberikan ejekan pada mereka. Melihat mereka berdua semua hewan langsung ingin menerkam, akan tetapi rantai di tanah seperti ular mencekik leher mereka semua dan melemparkan seluruh hewan buas di sekitar mereka jauh-jauh.
Keduanya memasuki gua dan gadis yang bersamanya mencium bau darah, bersamaan dengan perasaan yang tidak enak.
Aldy mendekat padanya dan berkata, "Berikan dagingnya padaku.. kau takkan sanggup bertemu dengannya."
"Apa di dalam ada Adly anggota Belati Putih ?"
"Cih! Kami bukan lagi anggota dari kelompok itu! Mereka hanyalah pengkhianat sama seperti atasan!" Sangkalnya dengan sorot mata tajam. Melihat tatapannya itu ia paham kemarahan Aldy, namun, melihatnya secara langsung sama sekali tidak membuatnya paham karena sekalipun tidak pernah bertemu harusnya baginya Adly tidak bisa dikalahkan begitu saja.
__ADS_1
Ia menghembuskan napas lalu memberikan semua daging di tangannya, lalu mengambil pistol di pinggangnya. Melihatnya juga Aldy tahu sudah tahu siapa yang tengah berada di depannya ini setelah membuka penyamarannya, sebuah baju hitam dengan warna serba hitam. Walaupun disebut prajurit Belati Putih juga sama, tapi sedikit berbeda.
"Sejak kapan Belati Hitam berdiri kembali ?" Tanya Aldy dengan senyum. Tidak bisa menjawab apapun dia hanya berjalan kembali mendekati gumpalan daging, seperti slime warna merah yang terus berubah bentuk. Melihatnya secara langsung juga ia langsung sadar kalau perasaan tidak enak itu berasal dari dirinya.