Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
46. Fauzan


__ADS_3

Mereka sedang mendengarkan ceramah dari seseorang. Anak-anak itu terlihat seperti diam, mereka mendengarkan dengan penuh keseriusan. Melihat itu Fauzan melemparkan bom asap diam-diam, membuat seluruh ruangan dipenuhi dengan asap tebal.


Menendang jendela dengan keras, dia masuk setelah menghancurkan jendelanya. Kemudian semua orang atau musuh menembakinya dengan senjata, tidak terkena satu peluru satupun. Fauzan menghembuskan napas, tugas semudah ini diberikan padanya.


Dia menghentakkan kakinya, kemudian kalung kristal di lehernya bercahaya kemudian peluru itu terkumpul dan berbalik ke arah kepada musuh. Senjata makan tuan.


Fauzan memandang anak-anak, "kalian kenapa bisa ada di sini ?"


"Serang..!!"


"Hah ?.. masih mau nyerang ?" Kata Fauzan sambil memegang bilah pedang. Dia bicara, "mainan seperti ini memangnya bisa melukai kami ?"


"Memang ya.. kalian Monster," jawab pria tua dengan sinis. Beberapa menit kemudian Fauzan membereskan semuanya, dia meringkus 15 orang dan membawa 27 anak kecil yang kehilangan orang tuanya, dijual orang tuanya, dan tidak tahu siapa dirinya. Entah apa yang terjadi.. tapi setelah ditanya mereka yang kehilangan ingatannya, dilatih khusus seperti mau melakukan sesuatu.


Hanya saja ini terlalu berlebihan jika hanya untuk menjadi pengganti seperti Vina, merasa ada yang tidak beres dia memanggil kepolisian dan memeriksa tempat ini. Setelah menelepon mereka, suara sirene terdengar membuat para penjahat ketakutan.


Fauzan mengetuk kaca mobil, "kalian akhirnya datang.. basa mereka dan anak-anak itu ke tempat kami, penjahatnya tinggal kalian penjarakan.. sesuai hukum."


"Baik!.. lalu, ada sendiri bagaimana ?"


"Saya mau mencari tahu tentang tempat ini.. lagipula agak aneh, jika melihat keadaan anak-anak itu."


"Apa perlu bantuan ?" Tanya polisi. Fauzan menggelengkan kepalanya, dia masuk kembali ke dalam dan melihat dengan matanya kalau ada banyak sekali hal yang aneh. Mereka dilatih seperti militer, kebanyakan perempuan akan menjadi pengganti dan mereka yang dihilangkan ingatannya seperti ingin agar berperan sesuatu.


Keluar kalung ada naga biru cerah dengan kata hijau di sampingnya Fauzan, tangannya mengelus kepalanya kemudian naga itu duduk.


Fauzan tersenyum masam, "k-kamu kenapa gak bantu aku ?"


"Tuan juga bisa menggunakan kemampuan mata saya, bukan ?"


"Akan lebih baik kalau kamu yang mencarinya," kata Fauzan sambil tersenyum. Naga itu menunduk kemudian melihat sekitarnya, mereka menghabiskan waktu berdua di tempat itu dan setelah beberapa detik melihat seisi ruangan naga itu terlihat heran.


Menunjukan kulkas Fauzan merasa heran. Namun, naga itu memintanya untuk menghancurkan pintu kulkas itu dan tentu saja Fauzan melakukannya.

__ADS_1


Dia menendangnya cukup keras hingga hancur, setelah mencabut pintunya dia melihat kalau ada tempat rahasia. Ruangan bawah tanah, Fauzan turun ke bawah kemudian mendapatkan sesuatu yang akan membuatnya panik apapun yang terjadi.


***


Fauzan keluar dari kulkas membawa sekotak botol dan sebuah laptop, dia tergesa-gesa keluar dari tempat ini dan melihat untungnya masih ada polisi. Dia mendatanginya kemudian memberikan sebuah surat, serta meminta sesuatu pada polisi.


Polisi terkejut, "mustahil! Kami tidak bisa melakukannya!"


"Sudahlah, lakukan saja.. kalian mau satu kota semua orang jadi korban ?"


"Tapi, anak-anak itu bagaimana ?"


"Sudah terlanjur, kita harus menyimpan mereka ke tempat yang aman dan jangan sampai mereka berubah."


"Sebenarnya, mereka ini siapa.. kenapa melakukan hal keji seperti ini."


"Tidak ada waktu untuk mengeluh, cepat lakukan!" Kata Fauzan sambil pergi. Dia naik ke gedung paling tinggi, sedangkan ada naga yang terbang di atas langit sedang memutari kota dan lihat keadaannya. Mereka terhubung satu sama lain, apa yang dilihat naganya juga bisa dilihat oleh Fauzan.


Karena keadaan sudah aman, dia menyiapkan sniper dan melihat keadaan sekolah yang hancur, memang ada banyak perlawanan tapi mereka akan kalah jika terus berada di sana. Karena yang paling bercahaya ada di bawah tanah, kalau dibiarkan begitu saja akan membuat kota hancur.


Fauzan memegang erat Earbuds di telinganya, "sudah terlambat... Selamatkan warga sebanyak mungkin! Jangan sampai menghirup asap hijau atau berwarna!"


"Fauzan ?! Ada apa ?!" Tanya Zaky dan Adly bersamaan. Keadaan begitu kacau karena warga sebanyak satu kota panik, mereka tidak bisa dikendalikan dan diminta evakuasi juga tidak mau hanya menganggap ini sebagai latihan saja.


Rani mengigit jarinya melihat kekacauan kota dan dia tersadar kalau musuh mereka memanfaatkan keadaan saat mereka sibuk untuk menambang.


Dia memukul meja, "sial!"


"Yah tenanglah, Fauzan nampaknya sudah tahu situasinya apa.. tapi, sebaiknya kita menyelamatkan warga sebanyak mungkin seperti perkataanya."


"Panggil ketua dan wakil grup Pembantai, ketua grup pengintai, dan ketua grup penghancur."


"Baiklah, nona."

__ADS_1


"Cepatlah!" Bentak Rani. Di dalam pikirannya dia tidak habis pikir, terlebih lagi dari tadi Vina belum saja kembali membuatnya khawatir dengan keadaannya. Dia duduk di kursi dan menundukkan kepalanya mengingat sesuatu.


Saat itu dia masuk ke dalam rumahnya, Ryan kelihatan sedang bermalas-malasan dengan kantung mata yang kelihatan. Gadis itu tidak sendiri ke rumahnya mereka berdua duduk di sampingnya Ryan, mereka bicara dan mengobrol bersama.


Tapi, saat setelah lelaki itu pergi Rani paham bagiamana tatapan mata sahabatnya ketika memandang Ryan. Bukan perasaan biasa saja, dua tidak tahu lagi harus apa dan bagaimana dengan Ryan yang sudah tiada itu.


Rani tambah kesal kemudian menendang meja yang ada di depannya. Tengah ada dalam kekesalan ada seseorang masuk ke dalam.


Zaky datang, "Adly sedang membasmi padukan, sedangkan ketua grup Pengintai sedang menuju kemari."


"Baguslah.. lalu di mana Fauzan ?"


"Dia juga sedang menuju kemari, dan soal Fauzan.. mereka saat ini sedang bertengkar."


"Jangan membawa masalah pribadi kemari, kau cepat habisi semua musuh saja! Sembari menunggu mereka datang!" Kata Rani memerintah. Zaky menghela napas, dia menggunakan topengnya lalu keluar dari tenda dan dia melihat kalau situasi di sini sudah sedikit terkendali.


Melemparkan sebuah pisau, benda itu melayang dan menusuk banyak musuh dalam sekejap mata. Matanya menoleh pada Adly yang sedang bertarung, dia menaiki kepala zombi dan menusuknya hingga mati lalu memenggal kepalanya.


Saat ada sekumpulan zombi mengarah padanya, seseorang datang dari atas dan menghempaskan mereka satu pukulan. Dengan gauntlet api di tangannya, dia bangkit dan melihat rekannya yang sudah lama.


Ezra tersenyum, "Yo! Bagaimana kabar kalian ?"


"Otak pukul cepat datang ke tenda atasan."


"Kau ini tidak bisa baca situasi atau apapun itu ?" Tanya Ezra sambil menggaruk kepalanya. Kemudian, Adly datang dan mereka bertiga berkumpul masuk ke dalam tenda. Sedangkan Fauzan dalam perjalanan ke sana, dia tidak bisa menggunakan teleport karena energinya habis.


"Ya, berapa banyak perut donat ?!"


"Ada banyak, bahkan ada yang di panggang!"


"Uoo! Bagus!"


"Kalian berdua hentikan! Hahhh.. beginilah kalau ada psikopat dan tukang ngerusuh kalau bersama."

__ADS_1


"Kalian bertiga diam!!" Bentak Rani. Tidak lama aga guncangan di sekitar mereka bertiga, Adly dan Ezra saling memeluk sedangkan Zaky terlihat kagum dengan kekuatan gadis ini. Mereka tidak bisa melihat kalau atasan mereka sedang kebingungan dana marah.


__ADS_2