
Tidak peduli dengan apa yang terjadi Fauzan menyusup ke ruangannya pemimpin negara, dia sedang mempermainkan seorang wanita yang merupakan Sarah sendiri. Agak sedikit gelisah, karena pemimpin ini berbahaya apalagi pada seorang gadis cantik seperti dirinya.
Beberapa saat kemudian Adly menjilat darahnya yang menetes dari jarinya, kemudian.. waktu mulai melambat kecuali waktu Fauzan dan Sarah juga. Lelaki itu berkeringat dingin.
"Tahanlah sebentar.. bisa ?" Tanya Fauzan sembari tersenyum masam. Sudah jelas Adly cukup kesusahan untuk tidak melambatkan waktu untuk orang lain, jika memperlambat waktu semua orang lain mungkin saja dia takkan kesusahan seperti ini. Padahal dia bisa melakukannya sendiri tapi Fauzan kekeuh ingin.
Setelah mencari beberapa lama mereka tidak menemukan apapun di kamarnya ini, sekarang pemimpin negara keliatan mulai bisa bergerak normal lagi. Pergerakannya mulai normal lagi.
Saat terakhir, Sarah mengambil sebuah kartu memori dan satu surat yang tergeletak di atas meja..
"Baiklah! Aku dapat sesuatu yang bagus!" Sarah tersenyum. Fauzan yang mendengarnya ikut senang, mereka keluar dari ruangan dan langsung pergi memakai alat teleport. Sebuah cincin keluar di sekitar kaki mereka bertiga, mengeluarkan cahaya biru dan tubuh mereka berubah menjadi partikel.
Menghilang memudar dalam sekejap mata berpindah ke markas Belati Putih saat ini, mereka sampai di depan gedung disambut Ezra dan Zaky yang sudah bersiap. Jika saja mereka gagal dan ketahuan, maka akan dibantu oleh mereka.
Mendekati mereka, Adly langsung roboh dan terkapar di jalanan. Sedangkan istrinya sendiri sedang membersihkan fotonya bersama Adly saat baru menikah, tiba-tiba tangannya terasa licin dan foto itu terjatuh.
"..! Rasanya.. aku punya firasat buruk!" Widya mulai panik. Sekarang, Adly dibawa masuk ke dalam dan disandarkan pada kursi yang kosong. Memperhatikan wajahnya yang membiru itu, beberapa orang mulai panik kecuali bagi tiga orang yang sudah bersamanya sejak lama.
Orang ini sedang bermimpi buruk kalau wajahnya membiru seperti ini, bukannya kekurangan napas atau apa hanya saja dia butuh dibangunkan saja. Beberapa lama kemudian, seseorang datang dari luar bangunan dengan membawa koper.
Seketika Ezra langsung kaget dan dia terlihat cukup takut ketika melihat gadis itu, dia berambut putih agak merah dengan panjang sampai ke bahu tumpah ke bawah. Dia memiliki mata yang sama seperti warna rambutnya.
"Adly ?! Kau kenapa ?!" Ujarnya sambil dilanda kepanikan. "Ah, kamu siapa ya ?" Tanya Fauzan dengan heran.
Dia tidak menjawab dan malah mendekati Adly memberikan napas buatan untuknya, serentak semua orang kaget dan entah kebetulan atau sudah digariskan begini. Widya datang bersama Alia di sampingnya, dia tidak menyangka kalau suaminya akan dicium seseorang saat tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Melepaskan tangannya dari Alia, dia melesat membawa pedang dan hendak menebasnya tapi gadis itu menghindar. Menarik pedang dari sarungnya, dia ikut menebas dan sekarang pertarungan pun terjadi.
Ezra tersenyum masam dan menggoyangkan tubuhnya Adly dengan kepanikan, "Ibu kamu! Itu ibu kamu!! Bangunlah...! Oiii!!!"
"I-ibu ?!" Semua orang kaget. Memperhatikan perbedaan diantara mereka berdua, memiliki kesamaan yang begitu sama. Namun, saat ini Widya cukup begitu marah dengan apa yang dilihatnya sebelumnya.
Gadis itu memegang erat pedangnya dan keluar kelopak bunga dari bilah pedang itu, menyelimuti tubuhnya dengan cepat seperti pusaran air. Tidak lama keluar Widya dari sana melesat ke arahnya dan memukul pedangnya itu.
Lawannya memakai pedang untuk dijadikan sebagai tameng menahan pukulannya Widya yang terlihat aneh, dia melihat ke bawahnya kalau gadis ini tidak punya bayangan..
"Eh?! Di mana pedangnya ?!" Ucapnya dalam hati dengan kaget. Seketika, ada pedang melayang dari atas menusuk kakinya membuatnya kaget dan sekarang dia melihat ke atasnya. Gadis itu mau mulai menembak dengan senapan serbu itu.
Menebas bayangannya ini, dia hendak melemparkan pedangnya padanya tapi Widya sudah menarik pelatuknya. Peluru mulai gencar menembak.
Dengan pedangnya dia menebasnya dan mencoba untuk tidak terkena satupun, mungkin bagi banyak orang dalam anggota Belati Putih sudah biasa bertahan dari tembakan dengan pedang. Tapi, ini cukup sulit bagi orang yang tidak punya kekuatan Elentry sama sekali.
Langsung memeluk setelah didekatnya. Seperti memakai grappling hook saja, bisa mendekatkan musuh ke dekatnya ataupun pergi jauh dengan memakainya. Cara bertarung Alia sama seperti yang diajarkan ayahnya.
Alia menghembuskan napas dan membuka topengnya itu, "itu nenek.."
"Hah ?"
"Nenek.. ibunya ayah, apa ibu tidak tahu ?"
"Enggak, sama sekali tidak tahu kalau ayah kamu punya ibu dan kenapa dia mengatakan kalau dirinya tidak punya utang tua ?! Dan apaan tadi itu?! Dia ibunya, kan ?! Kenapa melakukan itu!!!" Teriak Widya dengan keras. Beberapa saat kemudian, Adly terbangun karena teriakan super keras itu.
__ADS_1
Matanya memperhatikan sekitar ada seorang wanita yang sedang berdiri di belakangnya ada dinding yang retak, walaupun daya tahannya itu di atas rata-rata manusia biasa. Tetap saja, Alia berlebihan seperti ayahnya saat di masa lalu.
Sadar kalau ibunya datang, dia berdiri dari tempat duduknya dan mendatangi ibunya.. dengan wajah yang memerah, dia memperhatikan ibunya dan wanita yang dianggapnya sebagai ibu menerjangnya seperti harimau pada mangsanya.
Sekali lagi, Widya mau mengamuk jikalau Alia tidak sampai menahannya...
Karena itulah Widya memulai dengan sedikit ancaman, "kalau gak lepasin ibu... Jatah uang saku buat kami dikurangin setengah."
"Jangan! Ok ok aku lepasin!"
"Baguslah .!"
"Widya tenanglah!" Teriak wanita itu. Hanya saja, saat menoleh padanya Widya bukannya tenang malah sangat cemburu walaupun dia anaknya seperti itu begitu membuatnya kesal. Frame kedua mulai terbuka, saat itu juga Adly melepaskan pelukan ibunya dan mendatangi istrinya yang sedang mengamuk.
Di depannya dia terlihat agak cemas dengan mandi keringat, mata gadisnya menatap dengan tatapan yang ingin membunuh. Memang dia terlalu banyak memadukan darah ke tubuhnya, tapi agak terlalu aneh ketika melihat perkembangan kekuatan Elentry dalam tubuh Widya saat ini.
Walau benihnya sama tapi jika tempatnya berbeda, tumbuhan dan buah yang tumbuh tidak terlalu mirip.
Adly menarik napas panjang, "Ok tenanglah! Kalau kamu maafkan ibu aku! Aku bakal turutin semua permintaan kamu!"
"... Oh begitu ? Ok, makasih~!" Ujarnya dengan nada yang sengaja diimutkan.
"Selamat tinggal hidupku yang damai!" Ucap Adhy dalam hatinya. Menoleh ke belakang ibunya terdiam dan memainkan matanya, dia terlihat biasa saja padahal anaknya ini sedang dalam keadaan yang begitu bahaya dan berat baginya.
Menerima ini dengan lapang dada, ini lebih baik dari pada yang kemarin hari. Entah mana yang lebih baik.
__ADS_1
Orang dari desa yang dihancurkannya datang dan meminta bantuan, bukannya meminta tanggung jawab atau apapun. Orang itu menerimanya dan memahami semua cerita mereka, itu cukup memuaskan baginya jujur saja. Tapi, dia tetap ingin bisa melihat dan bicara dengan orang tuanya lagi.