Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
77. Zaky


__ADS_3

Sudah beberapa hari semenjak rani koma dan berada di rumahnya, terkadang Zaky mengunjunginya dan melihat keadaannya. Dia masih bernapas, namun dia tidak bangun dari tidurnya ini. Dan juga keadaan mulai membaik, dengan data dan rencana yang ditinggalkan Rani pada sebuah dokumen membuat mereka bisa mengerti situasi yang ada.


Pertama, negara ini memiliki kekuatan militer yang kuat dan bahkan mungkin saja tidak akan terkalahkan. Mereka para petinggi ingin menyatakan perang, hanya saja dengan mengirimkan pasukan zombie pada negara-negara yang akan diserang.


Kedua, semua zombi memiliki tingkatannya sendiri dan Belati Putih membedakan mereka dari kekuatan dan pengalaman bertempur, banyak juga hal lainnya yang bisa membuat zombi bisa jadi level atas.


"Oh ? Zaky, kamu datang lagi.. bagaimana ?" Tanya seseorang dari belakang. Zaky menoleh ke belakang kalau ibu Rani datang, dia terlihat cukup cantik walaupun sudah tua begini itulah yang dipikirkan lelaki itu saat ini.


"Ah, ya keadaannya biasa saja tidak ada yang seluas selain tidak bangun."


"Begitu ya ... Tapi, Rani beruntung bisa mendapatkan rekan yang baik dan serba bisa seperti dirimu.. kenapa dia malah melakukan hal-hal gila karena Ryan saja."


"Ya kurasa dia sudah dibutakan cinta."


"Memang ya cinta itu menyeramkan!" Ibunya tersenyum masam. Menanggapinya Zaky tersenyum sembari menatap Rani agak lama, dia melepaskan kacamatanya dan menggosok matanya sedikit. Menghilangkan air yang hampir mengalir.


***


Dia pamitan pada ibu Rani dan meninggalkan rumah besar ini. Melangkah lagi, dia berpikir tentang atasannya yang sebelumnya alias ayah Rani yang masih dalam penjara saat ini. Dengan tuduhan yang berat Adly dan Fauzan menjebloskan dirinya ke dalam penjara, ya itu begitu berat.


Melihat ke sekeliling dia lihat kalau lumayan banyak orang yang menatapnya, sudah wajar dan biasa saja baginya. Sebagai salah satu orang yang berada di Belati Putih cukup membuat orang lain takut, ada juga yang menganggapnya sebagai pahlawan.


Hanya saja, saat ini Zaky mulai merasa heran dengan keadaan yang mulai sangat aneh ini..


"Apa ?!"

__ADS_1


"Benar, kami sudah memeriksanya kembali dan melihat kalau hampir 75% orang-orang yang telah mati karena heartlosive bangkit lagi dan menjadi zombi yang mulai menyerang! Kini banyak berita beredar tentang kejadian ini."


"Bagaimana ini, Zaky ?" Tanya Fauzan. Begitu juga Zaky bingung ingin menjawab apa. Dia hanya mengigit kukunya, "baiklah.. jika keadaan tambah gawat, maka tidak ada cara lain selain membuat pengumuman besar-besaran dan menjadi pengkhianat!"


Fauzan tersenyum menghadapi perkataannya ini apa yang dimaksudkan oleh Zaky adalah mengkhianati pemimpin negara. Awalnya mereka pikir ini akan menjadi kepanikan yang besar, tapi.. jikalau warganya mulai panik dan menuntut Belati Putih kembali pemerintah tidak punya pilihan lain selain menuruti apa yang diinginkan.


Itu juga kalau Belati Putih langsung dibubarkan oleh mereka semua, jujur.. mereka semua akan kalah jika melawan tentara. Kecuali, mereka sanggup membunuh semua pasukan itu.


"Oi Zaky! Apa itu kau!" Teriak seseorang dari belakang. Melirik dengan tatapan dinginnya, Zaky melihat ke suara itu ada teman semasa SMP-nya dan dia tersenyum dengan penuh kegembiraan. Dia menghampiri Zaky dan menepuk pundaknya.


Zaky membuka mulutnya memulai bicara, "apa kau sehat ?"


"Tentu.. dan ya, setelah lulus kau jadi keren ya.. hmm.. "


"Uh ? Ada apa ?" Tanya Zaky. Dia melihat tatapan temannya yang aneh, seperti sedang menilai penampilan Zaky dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Teriakan dari jauh di depan mereka terdengar keras, tanpa ragu Zaky berlari pergi meninggalkan temannya itu. Namun, dia meninggalkan sebuah kertas padanya tanpa disadari olehnya.


Temannya itu menghela napas, dia kemudian menyadari kalau ada sebuah keras ditangannya. Padahal sebelumnya dia tidak memegang apapun.. melihat isinya, ini adalah nomor telepon milik Zaky yang hanya beberapa orang saja yang bisa memilikinya.


Tapi, dia mulai tersenyum menyeringai dan memasuki sebuah gang.. menemui seseorang yang statusnya masih sebagai ayah di mata Zaky. Temannya atau mungkin robot yang memiliki wajah dan tubuh yang sama, dia memberikan kertas berisi nomor itu padanya.


Zyred terlihat meneteskan air matanya, dia menyekanya dan menyimpannya baik-baik dalam saku bajunya. Cukup banyak dosa yang telah dilakukan olehnya, tanpa sadari anaknya mulai menjauh darinya dan orang yang dicintainya juga sama halnya. Dia takkan bisa didapatkan lagi.


Dua tersenyum kecut, "andaikan kamu tidak mati, andaikan Zaky bisa menerima kematianmu, mungkin saja aku takkan bekerjasama dengan pria gila itu."

__ADS_1


Menghilang memudar dalam kegelapan bersama robot itu dia pergi dengan penuh penyesalan, sebagai ayah tentunya.


***


"Mundur! Kalau tidak, dia akan aku habisi!" Teriak seorang perampok. Menyandra seseorang agar Zaky tidak bisa melakukan apapun, bagi polisi mungkin saja itu cukup berat tapi orang yang diancam adalah anggota Belati Putih.


Zaky mengangkat tangannya setengah badan dan kemudian keluar bola kecil dari jarinya, menembak ke tangan perampok membuatnya langsung hendak menusuk lehernya sandra. Dengan cepat Zaky melesat, dia mengambil pergelangan tangannya dan membanting tubuhnya.


Dalam hitungan detik Zaky menendangnya hingga terpental jauh. Dia langsung tersenyum kecut, "eh ? Aku kelewatan..!"


"A-Anu.. terimakasih atas bantuannya.."


"Ah sama-sama, apa kau baik-baik saja ?" Tanya Zaky dengan senyum. Perempuan ini langsung menunduk, dia berterimakasih padanya dan saat melihat sebuah dompet Zaky mengambilnya melihat isinya ada KTP orang ini.


Mengembalikan ini kepada pemiliknya, dia melihat ke tempat temannya tadi sudah tidak ada. Menghembuskan napas, dia harusnya menyimpan alat pelacak pada tubuhnya saat sebelum pergi harusnya. Ayahnya.. dia sudah tidak kuat ingin segera bicara panjang lebar dengannya, bagaimana cara menebus dosa yang takkan terhitung lagi.


Membunuh banyak orang, dan banyak hal lainnya yang sangat gila.. bahkan mungkin dia takkan bisa memaafkannya sebagai manusia. Tapi, jauh dalam hatinya sebagai anak dia cukup bimbang jikalau harus menusuk ataupun menghilangkan nyawa ayah kandungnya sendiri.


Mengangkat wajahnya ke atas dia lihat kalau hari ini cukup cerah, dia takkan memikirkan hal semacam itu untuk sementara dan meliburkan dirinya dari pemikiran tentang ayahnya.


Saat itu Earbuds di daun telinganya berbicara, "apa sudah selesai ?... Zaky ?"


"Hampir..."


"Eh ?! Cepetan.. kau melakukan apa saja di kamarnya Rani ?! Cepetan!" Bentak Ezra terdengar sangat jengkel. Dalam benaknya Zaky dia pikir kalau Ezra cukup aneh, kalaupun dia ingin punya pacar juga mudah karena pasti akan ada banyak gadis yang datang padanya.

__ADS_1


Banyak orang yang ingin menjadi keluarganya dari keempat orang ini. Termasuk dirinya. Namun, Ezra cukup aneh tidak mendapatkan satupun gadis untuk menjadi pendampingnya. Sikapnya cukup baik, walaupun terkadang suka jadi tukang ngerusuh dia tetap jadi teman terbaik.


Mulai melangkah lagi, tujuannya ke penjara.. tempat ayah Rani dikurung saat ini. Membebaskannya cukup mudah baginya, kalaupun memberi tahu Adly ataupun Fauzan juga tidak perlu. Karena masalah ini sudah cukup untuk menjelaskan situasi pada mereka berdua, sebagai mantan orang yang mengurus Belati Putih harusnya dia memilih informasi yang berharga. Harusnya.


__ADS_2