Ledakan Jantung

Ledakan Jantung
53. Adly, Zaky


__ADS_3

Seminggu setelah persiapan kini Adly yang memulai pertandingan, memakai senjata lengkap dan dia sudah memakai topeng hitam sebagai penambah intimidasi. Walau banyak orang tidak yakin dengan kemampuan intimidasi miliknya bisa mempengaruhi robot, tapi mereka tidak bisa meragukan kekuatannya.


Sebuah robot seukuran pria dewasa ada di hadapannya. Adly menatap mesin itu, memiliki banyak senjata yang terlihat mengerikan. Melihat juri yang ingin memulai pertarungan, Adly segera melompat ke belakang menjaga jarak dari robot itu.


Suara bel terdengar, kemudian semuanya terdiam dan keheningan memuncak. Seketika Adly melesat begitu cepat, menebas kaki robot itu dengan sigap menangkisnya dan menendang tubuh musuhnya. Terlempar jauh tubuh Adly membanting tembok. Kalau orang biasa mungkin akan pingsan, tembok itu retak dan Adly muntah darah.


Zaky menghela napas, "mereka tidak bisa diremehkan. Kekuatannya melebihi manusia biasa."


"Zaky, lihatlah dulu Adly melakukan apa."


"Apa maksudmu ?"


"Kita lihat saja kelanjutannya," Rani memukul pundak Zaky agak keras. Lelaki itu tidak paham, sudah jelas sekali kalau Adly kalah dengan sekali tendangan. Namun, pemikiran Zaky terpatahkan ketika ada kawat yang melilit kedua kaki robot itu.


Muncul sambaran petir pada benangnya dan robot itu tidak bisa bergerak, mengambil kesempatan Adly menembak dengan pistolnya. Dengan cepat robot menggunakan perisai, ada celah di kakinya tentu Adly menembaknya ke sana.


Robot jatuh bertekuk lutut dengan listrik yang terus keluar dari tubuhnya. Kemudian, bahunya mengeluarkan sebuah lubang melancarkan misil pada Adly yang sedang diam. Lelaki itu menarik benangnya membuat keseimbangan robot tidak karuan dan jatuhlah, dia kabur dari tempatnya hanya saja misil itu mengejarnya.


Robot mengeluarkan cahaya dari mulutnya dan bicara, "pembakaran maksimal!"


"Hah ?! Seriusan woi ?!" Ucap Adly kaget. Melihat api yang begitu besar, seperti sebuah meteor yang sangat gede. Misil sebelumnya sudah dia belah jadi dua, sekarang api ini bagaimana cara dia menghadapinya sungguh keterlaluan. Tidak ada cara lain, dia mengambil kristalnya dan membuka frame satu.


"AI.."


"Iya ?"


"Buka frame satu."


"Baik, setelah penggunaan selama 30 menit akan menguras seperempat energi, apakah diizinkan ?"


"Ya tentu."

__ADS_1


"Melepaskan pengaman pada senjata dan perlengkapan, apakah diizinkan ?"


"Ya tentu! Banyak omong sekali kau!"


"Frame satu terbuka!"


"Bagus!" Kata Adly sambil tersenyum jahat. Dia menatap robot yang sedang menyiapkan api, sedangkan dia menatap jam yang ada ditangan kanannya ada hitung mundur 30 menit. Kemudian, ada dua katana muncul di depannya.


Memiliki warna berbeda, Adly tersenyum dan api menyembur ke arahnya. Seketika asap menyebar membuat semua orang tidak bisa melihat arena, saat ada angin yang menghilangkan asap itu Adly sudah tidak ada di tempatnya. Seketika api yang awalnya membara kini menghilang tanpa jejak.


Lelaki itu ada dihadapan robot dan dia menusuknya, melakukan serangan bertubi-tubi hingga membuat musuhnya tidak bisa bergerak. Hanya saja ada gergaji mesin berputar di dada robot, robot itu ingin memeluk Adly dan Adly melompat ke belakang.


Adly tersenyum, "tidak ada yang boleh memeluk diriku selain istriku, kau tahu!"


"..."


"Oh ya kau robot tidak bisa jawab!" Kata Adly lagi. Gencar peluru melesat padanya, lelaki itu menggunakan dua pedang membelah semua yang datang padanya. Dia menghentakkan kakinya, ada duri-duri keluar dari tanah dan menusuk robot itu namun tidak membuatnya hancur.


Memotong kedua kakinya, lalu menembak dadanya tidak berefek apapun. Setelah dia tidak bisa bergerak karena kedua kakinya terpotong, Adly menembakan grappling hook ke atap dan naik ke sana.


Dia berdiri di atap seperti ninja, "yah kurasa sebaiknya akhiri saja.. AI."


"Iya ?"


"Kenapa suaramu seperti perempuan ?"


"Pertanyaan tidak masuk akal."


"Tidak masuk akal gimana ? Ah, lupakan... Aktifkan teleport bebas."


"Baik, setelah pengaktifan Anda bisa berpindah tempat terus menerus sampai energi habis, apakah diizinkan ?"

__ADS_1


"Tentu!"


"Akan ada jeda setelah beberapa kali berpindah, apakah diizin---"


"Cepat lakukan!" Bentak Adly dengan keras. Earbuds miliknya tetap melanjutkan, dia menjawab pertanyaan dari AI terus menerus tentang keamanan. Karena mendengarkan suara robot perempuan membuatnya jengkel, dia melemparkan tiga kotak hitam dan terjatuh mengelilingi robot.


Mengeluarkan rantai dan mengikatnya kuat, Adly menghembuskan napasnya.. setelah teleport bebas aktif dia bersiap dan berpindah ke depannya menebas lehernya. Dengan dua pedang membentuk X dia menebasnya, terus dan terus sampai hancur berkeping-keping.


Mengira kalau sudah selesai Adly bernapas lega, namun kepalanya terbang dan mengeluarkan senapan. Sekarang seperti sebuah Drone yang menyerangnya, walau hanya beberapa peluru saja jika salah maka akan fatal.


Adly menghentakkan kakinya dan seketika muncul kristal mengurung Drone itu, lalu mencengkramnya dengan kuat. Adly teringat saat melakukan ini jika yang dicengkeram adalah mahkluk hidup, saat dibuka akan meledak serta berhamburan darahnya.


Setelah dibuka dia kecewa karena yang keluar hanyalah besi-besi saja, Adly mengangkat tangannya dan semua dari organisasi bersorak-sorai padanya. Kecuali pihak lawan yang terlihat kesal, tapi orang yang mengendalikan robot menyeringai.


Serpihan-serpihan kecil robot itu membentuk kembali hanya saja bentuknya terlihat hancur, Adly tahu kalau belum waktunya untuk bersorak kemenangan. Dia mengambil gauntlet dan berlari ke arahnya, memukulnya dengan sekuat tenaga membuatnya terpental jauh ke belakang.


Berteleport ke belakangnya dia memukulnya lagi, berpindah ke atasnya dia memukulnya lagi. Terus dan terus, sampai energinya habis namun robot ini tetap kembali pulih.


Adly jengkel, "apa kalian menguji kesabaran ku ?"


"Adly! Semangat!" Teriak Widya dari kursinya. Adly melihat ke arah suara kemudian membalasnya dengan senyuman, dia mencengkram leher robot yang sudah hancur dan mengeluarkan intimidasi tingkat akhir. Seketika tubuhnya bergetar hebat.


Semua orang terheran-heran dengan apa yang dilakukan olehnya, hanya saja Rani tahu sesuatu yang agak mustahil. Gadis itu tersenyum, "mengaktifkan frame kedua tanpa perintah ke AI sungguh hebat!"


"Huh ? Apa maksudmu ?" Tanya Zaky yang mendengar suara Rani di sampingnya. Karena gadis itu tidak menjawab, dia kembali melihat ke arena dan seketika muncul bongkahan kristal merah membentuk naga. Naga itu mengaum lalu menggigit robot hingga hancur. Dengan kakinya mahkluk itu menginjaknya dan membakarnya dengan api hitam.


Adly tersenyum menatap semua musuhnya. "Entah dia hilang kendali atau apa," kata Rani sambil menatapnya. Dia tahu kalau keempat orang yang ada dalam organisasi mereka itu spesial, bahkan orang yang ada disampingnya saat ini terlihat kuat. Dari kuat ataupun dalam.


Namun, melihat kepercayaan diri dari musuh mereka sebelumnya itu membuat Rani tersenyum jahat sama seperti Adly yang sedang tengah bertarung. Semua orang menatap Adly, hanya saja Widya tidak tahan memotret Adly walau dilarang untuk memotret atau apapun. Dia tidak bisa menyangka kalau suaminya bisa sekeren ini di medan pertempuran.


"Ibu kenapa ?" Tanya Alia. Widya menjawab, "gak! Ibu cuman seneng dapetin ayah kamu!" Ucapnya sambil kegirangan. Entah apa yang dipikirkan Widya saat ini, hanya saja Alia sebagai anak dibawah umur tidak boleh mengetahuinya sebelum dewasa.

__ADS_1


__ADS_2