
"Hey! Kau bisa bermain piano tidak?"
Suara melengking dengan nada menghardik itu menembus gendang telinga Marc hingga ia butuh mengerjap sebelum memulihkan kesadarannya.
Mereka di atas panggung, yang kali ini didekorasi warna serba putih yang terlihat bersih. Tetapi entah kenapa ia justru semakin takut melihat warna bersih seperti itu. Bagaimana kalau tiba-tiba warna putih itu diselimuti warna merah? Warna merah darah yang bercucuran membentuk pola abstrak, menyebar diatas lantai mengkilap dan menodai baju Marc.
Lalu ia pasti dengan bodohnya akan mengulang kembali kejadian di masa lalu dengan bersikap bodoh dan tidak berguna. Sibuk mencerna yang sedang terjadi sampai lupa menjauhkan diri sendiri seandainya tidak ada yang memegang bahunya atau menarik lengannya untuk menjauh.
Marc membasahi bibirnya, mengangkat kepala dan langsung dihadapkan dengan raut wajah kesal bercampur bingung milik Alice yang kini berdiri di depannya dengan tangan di pinggang.
Gadis itu berkacak, melotot galak dengan bola mata coklatnya yang nyaris terlihat gelap. Untuk kali ini, dengan alasan yang tidak jelas, ia lebih suka mengamati mata Alice daripada menyadari bahwa pikirannya berlari kesana kemari.
"Apa katamu?"
Sepertinya ia salah berucap, karena setelah itu Alice semakin kesal dan seolah disabar-sabarkan saat berbicara dengannya.
"Kau si legendaris paling payah yang pernah agensi ini punya."
Dari sudut mata Marc, pria itu bisa menangkap bahwa semua kru menatapnya. Seakan mereka menanti jawaban atas diamnya Marc beserta piano yang tidak kunjung dimainkan. Jarinya bergetar hebat sebelumnya tetapi ia berusaha mengepalkan tangan agar gemetarnya tidak terlihat.
Setelah menghembuskan napas, berusaha hal itu sedikit mengangkat beban yang menghimpit dadanya, Marc menarik Alice dengan pelan, menjatuhkan gadis itu pada sisi kursi yang kosong disampingnya sambil berbisik, "Maaf."
Amukan dan rasa kesal yang sudah meluap-luap hingga nyaris menyembur dari kepalanya tiba-tiba padam. Bisikan Marc dengan nada lembut, tepat di telinganya, dan seolah tadi untuk sedetik itu ia merasakan bibir Marc menempel di helaian rambutnya, berhasil Alice membisu seperti baru saja disetrum sesuatu dengan listrik tegangan tinggi.
"Berkonsentrasi lah, Alice. Dan setelah ini, jangan terpesona padaku."
Baru saja ia akan membalas ucapan Marc, ketika ia menoleh dan terdiam lagi melihat Marc dari sudut pandang sebelah sini.
Duduk di sampingnya, menatap salah satu sisi wajahnya yang bahkan dari samping pun terlihat sempurna, ia mengakui bahwa Marc layak disebut sang legendaris. Dia... luar biasa dengan bonus wajah tampan tentunya. Bukan, bukan karena pahatan wajah Marc yang membuat Alice mengakuinya. Tetapi dia memang memiliki bakat yang hebat.
__ADS_1
Suara dentingan piano terdengar. Marc memainkannya dengan penuh perasaan hingga ekspresi itu tercetak di wajahnya.
Sampai sekarang Alice tidak mengerti apakah Marc orang yang baik atau malah sebaliknya.
Tetapi tidak tahu dorongan dari mana, melihat helaian rambut kecoklatan Marc yang jatuh melewati dahinya, tatapan mata pria itu yang berkonsentrasi memandang tuts, aroma tubuh pria itu, dan suasana yang hening seakan Alice tidak bisa mendengarkan hal lain selain suara detak jantungnya yang mulai berpacu dan dentingan tuts piano Marc yang sempurna.
Hal ini seperti memicunya, tidak tahu pasti karena alasan apa, untuk bernyanyi semaksimal yang ia bisa. Seperti ada semangat baru dalam dirinya yang bahkan belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Apa katamu tadi, Marc? Jangan jatuh terpesona padamu? Kuharap aku bisa, karena kalau tidak maka aku tidak akan berani membayangkan kehidupanku selanjutnya.
••••
Lampu ruangan memang tidak dinyalakan sepenuhnya. Hanya dua lampu diatas pintu yang menjadi penerangan Alice saat ini. Tapi tidak apa-apa, itu cukup baginya.
Setelah memasukkan barang-barangnya yang sempat berantakan di atas meja, Alice mendesah lega. Rasanya seperti ada beban berat yang baru saja terangkat dari pundaknya. Dan sekarang ia berhasil melalui hari-hari sulit yang sempat terbersit di pikirannya bahwa ia tidak bisa melalui ini tanpa masalah.
Kolaborasinya dengan Marc untuk project video musik dan soundtrack drama berakhir dengan sempurna. Sang sutradara juga merasa sangat lega setelah projek beberapa hari ini selesai, sehingga dia bisa pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda disana.
Alice menoleh, alisnya sedikit terangkat melihat penata riasnya berdiri di ambang pintu yang balas menatapnya dengan bingung.
"Barangku berantakan. Kakak sendiri sedang apa disini? Kukira kalian pergi minum-minum."
Yu Ra melangkah masuk, merenggangkan otot-otot tubuhnya dan menguap pelan sebelum ikut membereskan barang-barangnya yang juga berserakan di atas meja.
"Kami memang berencana begitu. Tapi rasanya tidak seru tanpa kehadiran peran utamanya."
"Marc...?"
Yu Ra menggeleng penuh kekecewaan. "Bocah itu malah langsung menghilang sebelum kami sempat mengajaknya. Kukira dia pergi bersamamu."
__ADS_1
"Apa yang kakak bicarakan? Kami tidak sedekat itu."
Alice mengancingkan tasnya dan berbalik bersiap-siap untuk melangkah pergi. Sepertinya ia akan naik kereta terakhir, tidak ada pilihan lagi.
Hari sudah hampir menginjak tengah malam, ia pikir hari ini bisa pulang cepat karena pekerjaannya hanya menuntaskan video musik yang berdurasi beberapa menit. Ternyata dugaannya meleset. Ada sedikit kesalahan teknis dan kejadian tidak terduga dengan datangnya pemilik agensi ini.
"Kalian tidak pacaran?"
Pertanyaan tidak tahu asal-usulnya dari mana itu, melesat keluar dari bibir Yu Ra begitu saja. Didukung dengan raut wajah herannya yang membuat Alice bertanya-tanya darimana asumsi itu berasal.
"Aku melihat kalian," masih dengan menggantungkan kalimatnya, Yu Ra memiringkan sedikit kepalanya dan berusaha mengingat. "Kau tinggal di apartemen GreenLand bukan? Waktu itu aku pergi menginap di apartemen temanku dan melihat Marc berdiri di depan pintu apartemenmu."
A...apa?!
Ia yakin sudah mengecek terlebih dahulu sebelum membiarkan Marc masuk ke apartemennya. Bagaimana bisa di situasi gawat seperti itu ada orang yang memergokinya?
"Lalu Marc masuk ke apartemenmu... lalu kalian..." Yu Ra melirik ke arah Alice dengan mata berbinar-binar.
Oh, tidak! Bukan seperti itu!
Masih dengan senyum lebar dan mata berkilat-kilat, Yu Ra mengibaskan tangannya sambil tertawa pelan.
"Tidak usah malu. Aku tahu Marc memang sepanas itu, bukan?" ucapnya diakhiri kedipan mata nakal yang membuat Alice semakin salah tingkah.
"Ah, usia muda memang menyenangkan. Aku rindu berumur dua puluhan dan merasakan cinta yang menggebu-gebu."
Ini salah paham terbesar yang pernah ia alami dalam hidupnya. Ia sudah berusaha menjelaskan bahwa kejadiannya tidak seperti itu dan bukan seperti apa yang dipikirkan Yu Ra. Tapi tetap saja wanita itu tidak percaya dan malah mendukung aksi pacaran diam-diam Alice.
Haahh, apanya yang pacaran diam-diam. Ia bahkan saat ini ingin mencakar wajah Marc sampai ibunya sendiri tidak akan bisa mengenali wajah putranya.
__ADS_1
Tapi ia juga tidak bisa menjelaskan kepada Yu Ra kalau alasan Marc datang ke apartemennya karena pria itu meminta maaf atas kissing tidak sengaja itu. Tidak mungkin ia membocorkan hal yang satu ini kepada orang lain, kan.