Legendary Idol In Love

Legendary Idol In Love
Part 44 [Flashback-3]


__ADS_3

"Marc melamarmu?"


Suara melengking Krystal menerjang gendang telinga Alice. Meski di dalam apartemen ini tiada orang selain mereka, tapi tetap saja Alice menempelkan jari telunjuknya ke bibir.


"Kau serius? Bukan karena..." ucapan Krystal menggantung namun ia lebih memilih tidak melanjutkannya.


"Bukan," sela Shin Hye cepat. "Dia serius."


"Oh my God!" Krystal mengangkat sebelah tangannya menutupi bibir. "Tapi.. bukankah dia.. maksudku, hanya.."


"Hanya mengerjaiku?" sambungnya. "Kurasa sudah berubah menjadi menyukaiku," tambahnya. Alice berdeham berusaha tidak terlihat seperti gadis yang penuh percaya diri.


Alice mengunjungi apartemen Krystal setelah gadis itu menyelesaikan manggungnya di beberapa tempat hari ini. Belakangan gadis itu sangat sibuk.


"Tunggu. Sebentar.. ini.."


Seumur hidupnya ia belum pernah melihat Krystal begitu bingung. Dia diam sesaat seolah mencerna setiap kata yang diucapkan Alice namun otaknya seperti menolak fakta itu.


"Lalu Nana yang kau ceritakan itu bagaimana?"


Alice meletakkan bantal dipangkuannya lalu menopang wajah dengan siku. Ia menarik napas dalam-dalam karena berusaha mengingat wanita sialan itu. Si Im Nana yang mengaku-ngaku tunangan Marc.


"Marc tidak tertarik. Kurasa."


Padahal tidak ada alasan bagi pria itu untuk tidak tertarik. Im Nana gadis tinggi semampai, dengan lekukan maha seksi dan mengencang di bagian-bagian tertentu. Wajahnya cantik, terlihat elegan walau bibirnya tahu benar cara membuat Marc naik darah.


"Jadi kau menerima lamarannya?"


Ia mengangguk. Sesungguhnya ia tahu kalau menikah bukan hal sepele, tapi.. walau ada sedikit keraguan di hatinya, Alice tidak bisa memungkiri kalau ia membutuhkan Marc di sampingnya.


Mungkin Marc memang terkesan menyebalkan. Sampai terkadang Alice harus super bersabar dan tidak menanggapi seluruh tingkah ajaib Marc. Tapi.. hatinya seolah sudah berlabuh pada pria itu.


"Aneh sekali, bukan?"


"Apa?"


"Bagaimana bisa aku jatuh hati pada si bedebah itu."


"Bukankah cinta memang seperti itu?" gumam Krystal. "Aku juga belakangan ini merasakan hal yang sama."


Leher Alice berputar cepat. Ia tidak salah dengar, kan? Apa Krystal baru saja mengaku bahwa ada orang lain yang sedang dia sukai?


"Kau... Apa?"

__ADS_1


Awalnya Krystal terlihat ragu. Ia menggigit bibir bawahnya lalu berkata, "Menurutmu, Hyun Soo pria seperti apa?"


Bola mata Alice berputar ke atas. Ia berpikir dan berusaha mengingat-ingat. "Orang yang baik dan tulus. Pria yang bisa diandalkan, ramah dan sopan. Mungkin terkadang dia terlihat pendiam, tapi aku yakin bukan karena dia merasa tidak nyaman. Tapi justru sebaliknya."


"Begitu."


Melihat reaksi Krystal barusan, Alice kemudian bertanya. "Memangnya ada apa? Apa pria itu menceritakan sesuatu padamu?"


Krystal menggeleng. "Aku merasa aneh dengan diriku sendiri. Aku seperti penasaran dengan kehidupan Hyun Soo. Seperti ingin mengenalnya lebih jauh."


"Menurutku tidak ada yang aneh," Alice mengubah posisi duduknya kemudian kembali fokus pada Krystal yang masih menanti kelanjutannya. "Wajar saja. Hyun Soo memang pria menarik."


"Dia juga menyetujui begitu saja ajakanku. Padahal sebelumnya aku dan Hyun Soo jarang sekali mengobrol. Kami juga tidak punya waktu yang tepat selain sering tidak sengaja berpapasan di lift."


"Dia memang baik, Krys. Aku juga yakin pasti dia sudah mempertimbangkan ajakanmu. Lagi pula Hyun Soo itu juga tahu kalau kau murni hanya mengajaknya karena tidak ada teman. Bukan ada sesuatu dibaliknya."


Hening sejenak. Baik Krystal maupun Alice sudah sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga akhirnya suara dehaman Krystal terdengar.


"Kau.. tidak pernah tertarik dengan Hyun Soo?"


"Tertarik dalam arti... ingin memilikinya?"


"Mungkin?" jawab Krystal tidak yakin.


"Jadi kau tidak menyukainya?"


Sudut bibir Alice tertarik ke atas membentuk senyuman. "Kurasa kau tahu jawabannya."


Tentu saja tidak pernah. Bagaimana ia bisa menyukai Hyun Soo kalau ada seorang pria yang bergentayangan di benaknya setiap hari? Kalau ada pria yang terus mengganggunya sampai ia tidak sempat memikirkan pria lain selain... Marc Hyun Jo.


••••


Yu Ra melambai dengan semangat begitu tatapan mata mereka bertemu. Hari ini Alice ada jadwal iklan aksesoris. Ia hanya perlu dipotret beberapa kali dan dirias sedikit.


"Aku tadi sempat khawatir tidak ada yang kukenali disini," celotehnya setelah berhasil mendudukkan diri tepat di depan cermin.


Tidak bisa dipungkiri terkadang ia sedikit canggung jika berhadapan dengan orang baru. Pekerjaannya terkadang memang menuntutnya untuk bisa cepat beradaptasi dengan banyak orang.


"Ini pertama kalinya kau bekerjasama dengan pihak ini, ya?"


"Hmm. Tidak ada yang kukenali tadi."


Yu Ra mulai merias wajahnya dan berbicara panjang lebar tentang pekerjaannya beberapa minggu terakhir. Dia juga sudah menonton video musik yang sempat melibatkan dirinya dulu dan merasa sangat puas dengan hasilnya.

__ADS_1


"Rasanya seperti baru kemarin. Ah, senang sekali kalau kita bisa reuni lagi. Omong-omong, aku sudah mendengar kabar itu."


"Kabar apa?"


Senyum Yu Ra bertambah lebar. "Jangan pura-pura tidak mengerti. Aku tahu kalian akan menikah sebentar lagi. Benar-benar pasangan serasi. Aku sejak dulu ngeship dengan kalian."


Alice terkekeh pelan. Ia tidak mengerti mengapa Yu Ra bisa ngeship seperti itu padahal dirinya dan Marc hampir berdebat setiap kali bertemu.


"Bagaimana kabar, Marc?"


"Dia sibuk ingin menjadi produser. Padahal banyak orang yang selama ini menanti comebacknya. Mereka pasti sudah ingin mengoleksi kembali album-album Marc. Tapi sepertinya Marc tidak ingin memperpanjang kontrak."


"Benarkah?" Yu Ra terdengar terkejut. "Sayang sekali. Padahal aku termasuk golongan orang yang menyukai Marc di depan kamera. Dia terlihat tampan dan seksi disaat bersamaan."


"Terdengar seperti kau penggemarnya."


Yu Ra tertawa. "Tentu saja."


••••


"Bukankah kau bilang tadi hanya sebentar?"


Alice baru saja keluar dari studio dan berjalan di parkiran ketika Marc sudah bersandar pada bagian belakang mobilnya.


Pria itu mengenakan kemeja abu-abu dengan bagian lengan digulung hingga siku. Wajahnya terlihat lelah seperti dia sudah bekerja keras dan jadwalnya penuh seharian ini. Kedua tangannya dilipat dan memandang Alice lekat-lekat.


"Kau menungguku?"


Marc menghampiri Alice, kemudian mengangkat paper bag di tangannya. "Aku bawakan makanan. Kau sudah makan, belum?"


"Wah! Kau penyelamatku!"


Marc membuka pintu penumpang dan mempersilakan Alice masuk sebelum ia membuka pintu kemudinya sendiri.


"Terima kasih. Kau tahu saja kalau aku menyukai pizza dengan keju yang banyak."


Ia membuka kotaknya dan mengambil satu lalu menggigitnya. "Kau sendiri sudah makan, belum?"


"Aku berniat mengajakmu makan di apartemenku. Tapi aku takut kita sampai terlalu lama dan mati kelaparan."


"Aaa~" Alice memperagakan buka mulut seperti orang yang akan disuap dengan menyodorkan satu potong pizza tepat ke depan bibir Marc.


Pria itu melirik sekilas sebelum menggigitnya dengan wajah memerah.

__ADS_1


__ADS_2