
"Ini," Alice menyodorkan segelas minuman pada Marc. Marc masih duduk di sofa, memegang selimutnya dan pandangannya lurus menatap meja sebelum Alice menyadarkannya.
"Bagaimana keadaanmu? Apa sudah lebih baik?"
"Aku baik-baik saja. Itu hanya efek karena aku jarang minum. Tidak perlu khawatir."
Keadaan kembali hening. Alice sedikit tidak nyaman dengan ini. Sejak kapan ia dan Marc menjadi canggung? Bukankah setiap bertemu mereka selalu saling berdebat dan tidak mau mengalah? Apa yang membuat mereka menjadi seperti ini? Apa ini efek karena mereka sekarang saling bersikap baik?
"Baguslah. Aku tadi sempat merasa bersalah. Dan... sempat berpikir mungkin aku tidak akan mengajakmu minum-minum lagi."
Alice menoleh, dahinya sedikit mengerut. "Tidak. Tidak apa-apa. Tidak perlu merasa begitu, eh, maksudku..." Tunggu dulu. Kenapa aku harus meluruskan ucapan itu? Itu tidak berarti aku dengan senang hati mengatakan, 'ohya aku tidak keberatan kau mengajakku minum kapan saja' bukan?
Akhirnya Alice mengalah dan menghembuskan napasnya sebelum akhirnya bersandar pada sofa dengan kedua tangan terlipat di depan dada. "Apa yang kau lakukan disini? Kupikir kau sedang pergi mempromosikan album kita."
"Aku memang akan melakukan itu. Sejak kembalinya aku kesini mungkin aku perlu menyapa penggemar terlebih dahulu. Bagaimana pendapatmu?"
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, menampilkan sang penata rias yang wajahnya sedikit terkejut juga memerah. Seolah dia juga merasa bersalah karena memergoki mereka yang kini sedang duduk berdua dalam satu ruangan.
"Maaf aku mengganggu sedikit. Eh, bos memanggil kalian. Apa yang kalian lakukan dengan ponsel yang kalian miliki? Sulit sekali dihubungi."
••••
Seperti yang bisa diduga. Mereka akhirnya membahas kapan waktu yang tepat untuk melakukan promosi. Tentu saja promosi ini tidak akan dilakukan oleh Marc seorang, meskipun memang para fans diluar sana kebanyakan ingin bertemu dengan Marc ketimbang dirinya.
Mereka akan tampil di beberapa siaran televisi yang menayangkan acara musik. Kemudian sambil menandatangani beberapa album yang akan dibagikan kepada penggemar yang beruntung. Semacam album limited edition. Mereka juga akan melakukan poto berdua bersama sebagai postcard yang akan diikutsertakan pada album limited tersebut. Jadi yah... bisa dibayangkan kalau ia dan Marc belum benar-benar selesai.
Ia harus bertahan beberapa waktu lagi berada di dekat Marc. Karena setelah ini ia tidak berencana akan mengakrabkan diri lebih lama lagi. Sebaiknya memang tidak perlu terlalu dekat.
"Apa aku seharusnya tidak kembali?"
__ADS_1
Alice yang baru keluar dan menutup pintu langsung mengangkat alisnya begitu mendengar kalimat Marc. "Ada apa? Kau merasa tertekan?"
"Karena sepertinya kau tidak mau berkencan denganku."
Astaga! Ia harus jawab apa?!
Marc menghela napas. Kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celana dan pandangan matanya lurus menatap manik kecoklatan milik Alice yang tampak gelisah. "Aku menunggu jawabanmu dari kemarin, kemarinnya lagi dan kemarin kemarinnya lagi tapi kau tidak kunjung menjawab. Kupikir kau tidak mendengar ucapanku waktu itu tapi melihat reaksimu barusan sepertinya kau mengingatnya dengan jelas."
Pria ini kenapa berbicara seenaknya? Bertindak semaunya dan menyampaikan keinginannya dengan mudah. Dia bahkan tidak terlihat gugup sedikitpun. Marc berdiri dengan tegak, menatapnya lurus, dan benar-benar menunggu jawaban darinya.
"Kau menanyakan itu disini? Di depan pintu ruangan bigboss?"
Marc mengangkat bahunya acuh tak acuh. Dia menoleh sekilas ke sekeliling dan tetap merasa tidak peduli karena memang tidak ada orang lain selain mereka.
"Kau menyebutnya kencan. Itu terdengar seperti... kita sedekat itu dan melakukan hal yang menyenangkan."
"Aku tidak keberatan kalau kita melakukan hal yang menyenangkan. Misalnya seperti apa? Pergi ke taman bermain? Menaiki roller coaster, memasuki rumah hantu, melihat sunset diatas gondola, menikmati minuman hangat dan bermain ski? Atau kau suka menonton theater atau live music lainnya?"
"Aku akan menjemputmu nanti."
Tunggu. Apa?
"Nanti?"
"Ya. Nanti malam."
"Malam ini?" Oh Ya Tuhan. Ia terdengar seperti seorang gadis yang baru merasakan ajakan kencan pertama dalam hidup.
"Ya, malam ini. Kuharap kau tidak ada janji lain. Tidak perlu berdandan layaknya tuan putri. Karena kau memang sudah secantik itu, Alice."
__ADS_1
Oh, ya dan kuharap aku tidak menganggap serius ucapan terakhirnya.
••••
Ia memasukkan kata sandinya dengan cepat, mendengar bunyi bip dan memutar kenop pintu. Tidak ada hal lain yang ingin ia lakukan sepanjang sore ini selain mengistirahatkan diri. Rasanya... lelah sekali.
Ruangan yang gelap selalu menjadi pemandangan setiap hari yang ia lihat ketika ia pulang ke rumah. Tidak ada sambutan hangat, pesan singkat yang memberi kabar atau orang yang sekedar mendengarkan curhatnya sebentar. Ia sendiri. Oke... baiklah, selama ini ia menyukai momen saat sendirian. Profesinya menjadi artis yang banyak dikelilingi banyak orang membuatnya ingin punya jeda waktu untuk membuat space dan menyendiri. Setidaknya itulah yang ia rasakan beberapa tahun belakangan ini.
Sekarang entah karena alasan apa, ia sedikit tidak suka sendirian. Ia mulai merasa bosan, tidak menyenangkan dan seperti hampa.
Marc berdiri tepat didepan jendela kaca besar, yang langsung menyuguhkan pemandangan kota Seoul dengan gedung-gedung pencakar langit dan warna langit yang sedang dilukis abstrak dengan warna merah oranye kekuningan yang indah. Ia tidak bergeser meskipun cahaya matahari menyinari rambut kecoklatannya dan menggelitik kulit pipinya.
Apa sekarang yang ia cari? Ia sudah punya ketampanan, ketenaran dan kekayaan hingga ia tidak tahu ingin menghabiskan uangnya untuk apa karena uangnya tidak habis bila dilakukan sendirian. Ia tidak punya tanggungan ini-itu diluar menanggung dirinya sendiri.
Terkadang ia berpikir apakah ini saatnya ia untuk mencari seorang gadis dan menghabiskan waktu yang mulai terasa sepi ini berdua? Bohong kalau ia tidak ingin menikah diusia saat ini. Ia ingin hanya saja... peristiwa beberapa tahun yang lalu sedikit mengusiknya, ditambah dengan profesinya saat ini... ia tidak ingin gadisnya menjadi bahan untuk dikonsumsi publik. Lagipula ia juga... masih belum bisa membuka hati sepenuhnya untuk gadis lain.
Bukan karena ia masih mencintai seorang gadis di masa lalu, tetapi karena ia takut untuk ditinggal lagi. Merasa kesepian dan kehilangan salah satu sumber kebahagiaan. Menanggung rasa sakit dan sedih sendirian tanpa ada yang benar-benar mengerti apa yang ia rasakan. Ayah ibunya... tentu saja merasa sedih melihat Marc waktu itu.
Mereka tahu Marc juga merasa terpukul karena Soo Jin sudah tidak ada untuk menemaninya bermain piano lagi. Tapi itu... berlangsung tidak lama. Setelahnya ia harus kembali menuruti ucapan mereka yang menginginkannya begini dan begitu.
Marc lagi-lagi menghembuskan napas. Mengacak rambut depannya sebelum duduk bersandar pada sofa dan mentap langit-langit ruangan.
Ia tidak banyak mempekerjakan tukang bersih-bersih rumah. Hanya dipekerjakan tiga hari dalam seminggu dan tidak termasuk untuk memasak makanan. Ia tidak bisa menjamin sepenuhnya untuk memakan masakan orang lain karena ia sendiri sama sekali tidak pernah kerepotan mengenai makanan. Ia bisa dikatakan cukup makan teratur diluar rumah. Selalu ada manager yang bisa diandalkan dan ia juga bsa memasak sendiri bila diperlukan.
Omong-omong tentang pekerjaan, ia memang sudah kembali ke dunia entertainment setelah hiatus karena suatu peristiwa tetapi bukan berarti untuk jangka waktu yang lama. Ia sudah menandatangi kontrak untuk jangka pendek hingga membuat sang manager bertanya-tanya apa yang sudah ia lakukan. Bigboss juga menyuruhnya untuk berpikir ulang dan siap merobek kontrak itu bila Marc ingin membatalkannya.
Lalu sekarang, di sela-sela waktu kontraknya yang hanya sedikit itu ia malah berusaha mengganggu seorang gadis.
Alice tidak terasa asing ketika Marc pertama kali bertemu dengannya di gedung agensi. Tetapi yang membuat Marc kesal adalah gadis itu pura-pura tidak mengenalnya. Memangnya apa yang salah dengan Marc?
__ADS_1
Ia mengerti mengapa Alice menjauhinya seperti itu. Seorang wanita yang mengejar Marc dulu juga menjadikan Alice sebagai buronan untuk dilenyapkan agar tidak ada gadis yang dekat-dekat dengan Marc. Wanita gila itu membuat hidup Alice susah di negeri orang. Karena Marc lah, Alice ikut terseret dalam kesialan.
Marc melirik jam di pergelangan tangannya. Sekitar dua jam lagi ia akan pergi menjemput gadis itu di apartemennya. Bagaimana ini? Ia pasti sudah gila. Kenapa rasanya ia ingin terus mengganggu Park Hyo Alice dan membuat gadis itu jatuh hati padanya?