
Kau yakin dia memang Alice yang kau cari?"
Pria jangkung itu menoleh, pikirannya yang sempat berkelebat tiba-tiba buyar ketika temannya bersuara, tadi pandangannya tidak lepas dari pintu yang baru saja tertutup.
"Entahlah. Tapi Alice yang ini memang menarik," jawabnya enteng sekali lagi melirik pada pintu meskipun gadis itu sudah menghilang di balik sana.
"Kalau pun kau bertemu dengan Alice yang kau cari, apa menurutmu dia masih akan mengingatmu?"
"Benar juga. Pasti sudah tidak ingat ya?" sahutnya lagi. Kali ini Hyun Soo bersandar pada meja, bibirnya terbuka sedikit sebelum tersenyum konyol begitu menyadari entah apa yang dilakukannya beberapa tahun ini. Ia masih berusaha menemukan gadis yang ia cari padahal bisa saja ia sudah tidak mengenali wajah gadis itu lagi. Atau bisa saja gadis itu sudah tidak mengingatnya karena mungkin ia bukan orang yang patut dikenang.
"Tidak apa-apa. Aku memang mencarinya tapi bila Alice yang ini bukanlah gadis yang sama dengan yang kucari, tidak masalah. Itu berarti takdir hanya mempertemukan kami sebentar saja, bukan?"
Wajah seseorang akan berubah seiring bertambahnya usia. Ia bahkan menyadari perubahan drastis pada wajahnya setelah dewasa saat ini. Bagaimana lagi dengan gadis itu? Dia juga pasti sudah berubah. Ditambah kalau dipoles make-up dan berganti style Hyun Soo pasti sudah tidak mengenalinya lagi.
"Omong-omong, apa yang akan kau lakukan kalau bertemu dengan gadis itu?"
Wajah Hyun Soo terangkat. Senyum semakin lebar namun tidak mengatakan apa-apa.
••••
"Kau benar-benar datang menjemputku!" Alice menatap Marc sambil tersenyum tidak percaya karena lelaki itu memang dengan sukarela datang menjemputnya.
"Tentu saja. Ah, berarti aku berhasil selangkah malam ini."
__ADS_1
Dua jam yang lalu Alice masih sibuk mengacak isi lemarinya untuk menemukan baju yang pas. Ia tahu udara malam sudah mulai dingin mengingat musim gugur akan datang sebentar lagi. Ia juga tidak ingin tampil berlebihan seperti gadis yang ingin tampil maksimal di depan pacarnya. Ini hanya ajakan jalan biasa oleh sesama rekan. Setidaknya itu istilah yang dipakai Alice ketimbang harus menyebutnya sebagai kencan.
Marc sendiri juga tampil kasual. Berbaju turtle neck merah ditimpa jaket hitam dengan bulu di sekitar leher dan juga celana panjang hitam. Rambutnya dibiarkan berantakan dan tidak repot-repot untuk menyisirnya dengan jari meskipun sudah bolak-balik tertiup angin malam.
"Dimana aksesoris menyamarmu?" tanya Alice ketika mereka hampir keluar gedung apartemen.
"Ah, apa itu perlu?" tanyanya bingung. "Aku yakin mereka bisa mengenaliku meskipun aku menutup separuh wajahku."
Benar juga. Bahkan penggemar di luar sana bisa mengenali hanya dengan melihat punggung sang idola. Darimana mereka dapatkan bakat seperti itu?
"Aku akan menutupi wajahku dengan ini," ujar Alice lagi dengan memegang baju turtle necknya untuk menegaskan. "Kalau kau?"
"Aku bawa kacamata," jawabnya setelah berhasil merogoh tas tangan dan menemukan kacamata hitam.
"Memangnya kenapa kalau kita ketahuan?"
"Apa? Kenapa seperti itu?"
"Kau kan si legendaris itu."
"Jadi? Hey, aku menjadi legendaris bukan berarti aku tidak bisa jalan dengan para gadis, kan?"
"Itu dia masalahnya. Kau bisa jalan dengan para gadis tapi tidak dengan seorang gadis."
__ADS_1
"Kenapa? Apa maksudmu? Aku tidak mengerti."
Marc menghentikan langkahnya dan menoleh pada Alice yang kini juga ikut berhenti. Astaga. Kemana arah pembicaraan mereka saat ini? Kenapa bisa sampai ke sini? Ia dari tadi tidak bermaksud membuat topik pembicaraan mereka ke arah hal-hal seperti ini.
Alice menarik napasnya dalam-dalam. Mungkin Marc masih belum mengerti. Ia saja sudah mulai mengerti dengan tatapan mata para juniornya di agensi. Mulai dari saat masih syuting ketika mereka bergerombolan datang hanya untuk memberikan Marc hadiah, menyemangati pria itu dan menyapanya tetapi tidak dengan Alice.
Kemudian saat berpapasan di depan lift, mereka juga hanya memfokuskan pada Marc dan tidak pernah padanya. Ia mengerti. Marc milik semua orang. Begitulah anggapan gadis-gadis di luar sana.
"Karena semua gadis menyukaimu."
Karena. Semua. Gadis. Menyukaimu.
Oh Tuhan. Tunggu dulu.
Marc terdiam. Sorot matanya masih sibuk menelisik mata Alice yang terlihat semakin gelap di malam hari. Marc tidak bisa mendengar suara-suara lain meskipun mereka tengah berdiri di bagian jalan untuk para pejalan kaki yang berlalu lalang. Ia seperti tersihir oleh kalimat Alice barusan. Pikirannya berkabut dan hatinya tidak karuan sekarang.
"Apa kau baru saja menyatakan kalau kau suka padaku?" tanya Marc setelah pikirannya fokus kembali.
Bibir Alice terbuka sedikit. Ia hendak menyangkal tapi pikirannya masih sibuk mencerna makna dan apa yang barusan ia katakan. Nah, apa-apaan itu?
"A-a... apa ucapanku barusan bermakna seperti itu?" tanyanya dengan bingung.
"Hhmm... bermakna seperti itu."
__ADS_1
"Aku tidak-"
"Jangan cepat menyangkalnya, Alice," sela Marc cepat. Kali ini wajahnya tersenyum dan ia mulai menemukan berbagai ide di kepalanya. "Atau kau harus menarik ucapanmu itu suatu hari nanti."