
Sun Hye sepertinya sudah tidur, begitu melihat Alice keluar dari kamar anak mereka. Dia menghela napas. Mungkin kejadian yang didengarnya tadi sore masih menghantui pikirannya dan mengusik hatinya.
"Aku akan pergi ke sekolahnya besok," ujar Alice begitu melihat Marc berdiri di balkon, dengan punggung bersandar pada pembatas, dan menatapnya sejak tadi.
Marc tersenyum, sudah hapal dengan sifat istrinya yang satu itu.
"Dan mengomeli pelakunya?" tebaknya. "Kenapa tidak dibiarkan saja bagaimana Sun Hye akan menyelesaikannya? Anak-anak terkadang perlu menyelesaikan masalahnya sendiri."
Bukan. Bukan karena ia senang melihat anaknya menangis sampai keluar dari sekolah seperti tadi. Ia hanya merasa sedang melihat dirinya di dalam diri Sun Hye.
Mungkin benar, kalau Sun Hye mewarisi gennya sekali.
"Menyelesaikan sendiri?" tanya Alice tidak paham maksud Marc.
Bukankah anak-anak harus dididik dan diberitahu bagaimana sikap yang benar dan yang salah? Anak-anak menyelesaikan masalah sendiri bagaimana? Kalau seperti ini terus bisa-bisa mental Sun Hye terganggu sampai tidak ingin bersekolah.
"Aku melihat Sun Hye terlihat berbeda. Dia lebih dewasa."
"Lebih dewasa bagaimana? Dia menangis dan lari dari sekolah, Marc."
Marc menghela napas. "Tapi dia tidak mengadu padamu, kan? Dia bahkan tidak menceritakan secara detail. Hanya garis besarnya saja. Dan tidak menyalahkan teman-temannya di hadapan kita. Walau tentu saja dia tahu mereka salah."
Park Hyo Alice tidak sependapat dengan suaminya. Ia menghembuskan napas kasar, kemudian ikut bersandar pada pembatas balkon. Raut wajahnya masih merengut tidak suka. Ia bahkan tidak mengerti jalan pikir Marc.
"Bicarakan saja dengan gurunya baik-baik."
"Kau terlalu lembut pada anak-anak."
Marc terkekeh pelan. Pada dasarnya ia tidak lembut pada anak-anak manapun kecuali anaknya sendiri. Lagi pula dulu ia juga pernah mengalami yang dialami Sun Hye saat ini.
Dikucilkan oleh teman-temannya karena pendiam, tidak banyak bicara dan dianggap lemah. Mereka berkomplot untuk menjahatinya. Yang lain terlalu takut untuk menolong dan mengalami hal demikian.
Tadi Sun Hye hanya bercerita teman-temannya sengaja menabraknya dan menumpahkan air. Yang lain ikut tertawa, bukannya menolong. Sun Hye masih diam saja tidak membalas, sampai akhirnya anak-anak itu melihat ke arah gantungan kunci sailor moon miliknya dan menarik-narik kasar.
Ia sangat menyukai sailor moon dan apa pun pernak-pernik yang berkaitan dengan itu. Terutama gantungannya ini baru saja dibeli Marc beberapa bulan yang lalu. Ia menangis karena gantungannya dirusak, bukan karena dirinya diganggu.
__ADS_1
"Anggap saja begitu," sahut Marc kemudian merapatkan tubuh Alice pada tubuhnya sebelum mendaratkan bibir di dahi istrinya.
"Jangan terlalu mengomelinya dan jangan juga terlalu marah. Mereka masih anak-anak, wajar saja kalau bertengkar. Sunny pasti akan membela dirinya sendiri kalau sudah merasa terdesak. Jadi jangan terlalu khawatir, princess."
Alice menghembuskan napas.
"Oh ya, omong-omong, Hyun Soo berpesan tolong antarkan Krystal besok pagi konsultasi ke dokter. Dia tidak bisa karena ada rapat."
"Hmm, aku tahu. Krystal tadi meneleponku dan mengatakan hal itu."
"Aku juga tidak bisa mengantar Sunny ke sekolah esok karena harus pergi pagi-pagi sekali. Apa kita telepon saja Mister Yoon?"
Mister Yoon adalah pria paruh baya yang biasa menjemput Sun Hye pulang sekolah dan mengantar anak mereka ke tempat les piano. Mister Yoon tidak bertugas mengantar Sun Hye pagi hari karena Alice sendiri yang mengambil alih kegiatan itu.
"Tidak apa. Biar aku saja. Aku masih sempat mengantar Sunny terlebih dahulu baru mengantar Krystal. Lagi pula jadwalku kosong besok."
••••
Pagi ini Alice pasti harus berperang lagi menghadapi anaknya yang rewel karena ditinggal Marc pergi ke kantor. Yang lebih parahnya lagi, ia telat bangun. Sedangkan seperti biasa saja ia sudah terlambat, apa lagi telat bangun seperti ini pasti... Oh Tuhan!
Ia membuka pintu kamar, matanya langsung menatap liar ke segala penjuru ruangan mencari tuan putri rewel itu. Tapi ternyata Sun Hye sudah duduk manis di depan ruang televisi, lengkap dengan seragam sekolah dan semangkuk sereal di pangkuannya.
"Ibu?"
Ibu Alice menoleh. "Kau sudah bangun? Marc sudah pergi pagi-pagi sekali tadi."
Ah, ya. Sepertinya ibunya yang sudah mengurus Sun Hye pagi ini.
"Sunny tidak.. menangis?"
Ibunya tersenyum kemudian mengusap rambut cucunya. "Tidak. Marc berjanji akan menjemputnya nanti."
Alice mengangguk-angguk sebelum menghilang di balik pintu kamar mandi.
"Halmeoni," panggil Sun Hye mengalihkan pandangan dari layar televisi.
__ADS_1
"Kenapa Sunny tidak punya adik?"
Neneknya mengangkat alis kemudian tersenyum mendengar penuturan cucunya yang tiba-tiba. Sebelum ini Sun Hye tidak pernah menanyakan hal demikian.
Hanya dulu sempat bertanya di mana bayi aunty Krystal? Padahal dulu aunty Krystal sedang mengandung tapi bayinya kenapa tidak ada? Saat dijelaskan dengan menggunakan kata keguguran, Sun Hye mengerutkan dahi seolah baru saja diberi soal hitung-menghitung tingkat anak sekolah atas.
"Sunny ingin adik?"
Ia mengangguk dengan semangat. Matanya berbinar-binar lalu berkata, "Yang cantik seperti ibu."
Belum sempat neneknya menanggapi ucapan Sun Hye, tiba-tiba bel pintu rumah mereka berbunyi, wajah Krystal muncul di interkom sampai Sun Hye dengan bersemangat berlari membuka pintu.
"Aunty Yistal!" serunya pada gadis tinggi semampai. Wajah sedingin esnya menguap entah kemana diganti dengan senyum hangat begitu bertemu tatap dengan Sun Hye.
"Keponakan aunty sudah rapi sekali pagi ini."
Krystal dulunya sangat sering mengangkat tubuh Sun Hye dan menggendongnya. Tapi belakangan ini ia harus menghentikan hal itu karena tengah hamil besar.
"Aunty Yistal juga. Apa aunty Yistal akan pergi pagi ini?"
Krystal masuk terlebih dahulu sebelum menanggapi. "Aunty akan pergi ke rumah sakit. Ini aunty bawakan kue. Tadi malam aunty membuatnya dan sudah beku pagi ini."
Sun Hye mengambil kue itu dan membawanya ke atas meja. Ia sudah sibuk dengan kuenya, meninggalkan Krystal mengobrol dengan ibunya Alice.
Alice muncul tidak lama kemudian. Sudah berpakaian rapi dan siap mengantar anaknya ke sekolah. Hari ini ia tidak ada jadwal apa pun. Jadi ia akan pergi menemani Krystal untuk konsultasi dengan dokter, karena Hyun Soo ada rapat pagi ini.
"Oh? Kau sudah datang? Menunggu lama? Maaf sekali tapi aku telat bangun pagi ini."
"Tidak apa. Bukan masalah."
"Jo Sun Hye!" teriakan Alice terdengar begitu melihat tangan anaknya penuh dengan coklat.
"Astaga. Kita sudah terlambat, sayang. Ayo cepat cuci tangan."
Pagi ini benar-benar membuatnya sakit kepala.
__ADS_1