Legendary Idol In Love

Legendary Idol In Love
Part 28 [Touch Again]


__ADS_3

Hyun Soo bersandar pada dinding. Sebelah kakinya menyilang kaki yang satunya, menatap lantai dengan tatapan menerawang.


Alice pasti sudah membuka kotak itu, atau setidaknya dia sudah menerimanya. Ia payah sekali, bukan? Bahkan ia tidak bisa memberi kotak itu langsung kepada Alice. Padahal ada beberapa hal yang ingin ia sampaikan.


Lagi-lagi Hyun Soo menghela napas. Sepertinya ia sudah terlambat. Selama ini Alice berada di dekatnya, tapi ia telat menyadari bahwa Alice adalah gadis yang ia cari.


Gadis yang menangis tersedu, hampir tidak tertolong kalau saja ia tidak datang menyelamatkan, gadis yang ia rawat selama beberapa hari, gadis yang... ia sukai.


Saat itu ia memang masih kecil. Ia pikir itu hanya rasa suka anak kecil pada seusianya, tidak berarti apa-apa. Sampai ia menyadari, tidak ada gadis lain yang menarik minatnya, atau yang bersarang di kepalanya, kecuali gadis kecil itu. Kecuali Park Hyo Alice.


Hyun Soo menatap beberapa lembar foto di tangan. Foto beberapa gadis yang mengganggu Alice tempo hari, berani melukai gadis itu sampai tangannya diperban. Ia memang tidak bertanya langsung, karena ia lebih suka mencari tau sendiri.


"Tuan Muda, mereka adalah artis di bawah naungan agensi Tuan Besar."


Mendengar penuturan informannya, membuat darah Hyun Soo mendidih sampai ke ubun-ubun kepalanya. Ia akan meninju siapa saja, yang berani melukai Alice walaupun hanya seujung jari. Mereka tidak tahu seberapa takut gadis itu pada tangan besar yang menarik dengan kasar, memukulnya sampai tidak sadarkan diri, dan seberapa menyeramkan wajah-wajah tidak bersahabat itu.


Ketika mendengar cerita gadis itu yang sama persis seperti ceritanya sewaktu kecil, membuat Hyun Soo semakin yakin untuk melindungi Alice dari apapun, atau bahkan siapapun, termasuk ayahnya.


Ia tahu, para gadis yang telah mencelakai Alice, pasti juga suruhan ayahnya. Kenapa ayahnya tidak pernah membiarkan ia hidup normal sehari saja?


"Tuan Muda, saya..."


"Maaf, Kepala Jung. Kau pasti di posisi yang berat sekarang. Aku tahu kau sudah mengabdi lama pada Ayah, tapi tidak perlu khawatir. Aku akan bicara padanya."


Tidak akan ada yang bisa menghentikan perbuatan ayahnya, bahkan ia sendiri mungkin tidak bisa. Ayahnya berubah menjadi sangat protektif, sejak ibu meninggal seminggu setelah melahirkan Hyun Soo. Kegagalan para dokter yang menangani, begitu mereka mengatakannya. Meskipun sampai saat ini ia belum benar-benar mencari kebenaran terhadap hal itu.


Sebagai penerus keluarga Kim, Hyun Soo mengerti seberapa berat tanggung jawab yang harus ia pegang, tapi tolong, ia juga ingin hidup bebas dan bersama gadis yang ia sukai. Bukan gadis pilihan versi ayahnya.


Ia akan baik-baik saja. Ia hanya ingin ayah percaya padanya. Bukan mengusiknya seperti ini.


"Tapi Tuan Muda, apa Tuan Muda yakin ingin mengungkapkan identitas Tuan Muda sekarang?"


Satu perjanjian yang ia buat dengan ayahnya ketika ia menginjak sekolah menengah atas. Ia tidak akan mengungkapkan identitasnya ke publik, sebagai bentuk ketidaksudiannya sebagai penerus keluarga Kim. Sebagai bentuk kalau ia menentang ayahnya dan mencoret namanya sendiri dari daftar keluarga. Kalau ia mengungkapkannya, itu berarti bentuk pernyataan perang pada ayah. Dan sekarang ia baru saja memulainya.


Ia sudah biasa hidup sendiri, terpisah dari ayahnya, tidak pernah dikunjungi ayah, dan ia sudah biasa tidak dianggap sebagai putra konglomerat Mister Kim.


Kali ini, ia akan menggunakan sedikit kekuasaan ayah, untuk menyingkirkan para bedebah sial yang sudah mengusik Alice.


"Bukankah ayah akan senang? Itu berarti aku mengaku kalah."


"Tuan Muda, ada beberapa yang ingin saya sampaikan."


Hyun Soo membiarkan tangannya ditarik menuju sofa terdekat. Ia juga duduk dengan patuh sebelum menatap Mister Jung yang raut wajahnya sudah berubah.


"Tuan Muda tidak akan kembali ke rumah utama?"

__ADS_1


Hyun Soo mengedikkan bahunya. "Untuk saat ini, lebih baik begitu."


"Tuan Besar sudah semakin tua. Dia tidak ingin kehilangan Tuan Muda, itu sebabnya dia menjaga Tuan Muda sangat ketat. Saya memang tidak memiliki anak, tapi saya memiliki keponakan yang sudah seperti anak saya sendiri."


Hyun Soo tahu yang pria itu maksud. Hyung yang sering bermain bersamanya sejak kecil, adalah keponakan Mister Jung, sayangnya ayah Hyung sekarang sudah tiada, dan Hyung melanjutkan pekerjaan ayahnya yang terus mengabdi pada Keluarga Kim.


"Saya tidak berada di pihak Tuan Besar, tapi saya hanya ingin menyampaikan bagaimana perasaan orang tua terhadap anaknya. Kunjungi lah beliau sesekali, dia ingin Tuan Muda memperhatikannya. Hanya Tuan Muda yang dia punya."


Hyun Soo menjatuhkan kepala pada sandaran sofa, menatap langit-langit apartemennya dan menghembuskan napas berat. Apa yang harus ia lakukan?


"Mister Jung, aku menyukainya."


"Nona Alice?"


"Hhmm."


"Melindungi Nona Alice adalah tindakan yang benar, Tuan Muda. Tapi berperang dengan Tuan Besar, saya rasa bukanlah tindakan yang tepat."


••••


Alice berlari-lari kecil menuju lobi begitu melihat ibunya turun dari taksi, diikuti mobil pengangkut barang di depannya. Ternyata ia belum terlambat membantu ibu. Rasanya berat sekali untuk sampai kesini dan meninggalkan Marc Hyun Jo disana.


Pria itu masih harus banyak istirahat. Alice awalnya tidak ingin menanggapi serius ucapan Marc mengingat pria itu terkadang berbicara asal-asalan, tidak bermaksud apapun.


Dan... dan saat Marc menciumnya.. A-ah! Tidak, tidak. Itu tidak berarti apa-apa. Pasti tidak berarti apa-apa. Pasti... ugh! Kenapa wajahnya tiba-tiba memanas? Ia yakin tidak sedang mengidap demam seperti Marc.


Bagaimana bisa Marc membuatnya kacau balau hari ini? Ia tidak pernah membayangkan pria itu akan memperlakukannya seperti tadi. Maksudnya, dengan kelembutan. Sikap Marc sedikit melunak, dibanding hari-hari sebelumnya.


Sepanjang perjalanan ia terus berpikir bagaimana harus bersikap pada Marc besok. Rasanya sedikit canggung. Lalu bagaimana nanti tanggapannya terhadap ucapan Marc itu? Pasti memandang pria itu tidak bisa semudah sebelumnya.


Terlebih lagi, ia benar-benar malu. Tadi itu...


Marc menarik dagunya, mencium Alice tepat di bibir dan memagut pelan. Hanya sebentar, kemudian menjauhkan bibirnya dari bibir Alice. Ia benar-benar tidak berdaya ketika Marc kembali menatapnya.


"Alice," panggil Marc.


Ia tidak bisa menjawab pria itu. Jantungnya berdetak dengan cepat, dan suaranya menghilang entah kemana. Ia kembali menunduk untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya.


Tangan Marc yang berada di dinding kini beralih ke pinggangnya, melingkar disana dan menarik tubuh Alice mendekat hingga mereka menempel.


Ia sangat tidak berdaya dan kewarasan seperti sudah tidak melekat pada dirinya. Jadi yang bisa ia lakukan hanya meremas baju Marc, sambil berusaha menghirup oksigen sebanyak yang ia bisa.


"Kuanggap sebagai kau tidak menolakku."


Alice menepuk kedua pipi. "Singkirkan dulu tentang si legendaris itu sekarang. Aku harus fokus."

__ADS_1


Semakin dekat dengan tempat ibunya berdiri, Alice baru menyadari ada seorang pria yang bersisian dengan ibunya. Meskipun hanya melihat punggung pria itu, tapi ia yakin pria itu adalah...


"Ibu."


"Oh? Alice? Ibu sudah meneleponmu dari tadi, tapi kau tidak mengangkatnya."


Ia tidak bisa mengangkat telepon siapapun saat sedang dicium Marc.


Alice hanya tersenyum kemudian menoleh pada Hyun Soo yang juga balas menatap padanya.


"Ini ibuku, akan pindah hari ini. Dan ibu, ini Hyun Soo."


Ibunya langsung tersenyum bersemangat. "Kalian saling mengenal? Hyun Soo, terima kasih sudah mau membantu Bibi, dan juga menjaga Alice."


Apa? Ibunya tidak berpikir kalau ia dan Hyun Soo memiliki hubungan yang rumit dan berkomitmen, kan?


"Biar aku bantu bawa."


"Tidak apa-apa. Biar aku saja," jawab Hyun Soo tetap mengangkat dua box di tangan.


"Hyun Soo, apa kau juga berprofesi sebagai artis?"


"Oh? Tidak, tapi area kerja saya di dalam gedung agensi."


Mereka masih berjalan bersisian memasuki lift. Dan ibunya lebih mendominasi bicara disini.


"Benarkah? Berarti sering bertemu dengan Alice, ya? Bagaimana kalau sesekali kita makan bersama?"


Hyum Soo tersenyum ramah. "Tentu. Tidak masalah."


"Ibu..." panggil Alice setelah melirik Hyun Soo. "Jangan membuat Hyun Soo merasa tidak nyaman. Kan baru bertemu."


Ibunya tidak menggubris, malah lanjut mengobrol dengan Hyun Soo bahkan saat mereka keluar dari lift.


"Siapa tadi nama mu, Nak?"


"Hyun Soo. Kim Hyun Soo."


Ibunya tampak berpikir saat menggumamkan nama Hyun Soo. "Sepertinya nama itu tidak asing. Ah, benar! Alice, bukankah kau pernah bilang, anaknya CEO tempatmu bekerja adalah Kim Hyun Soo? Anaknya Mister Kim?"


Melihat Alice yang mengerutkan dahinya dengan bingung dan masih tampak berpikir, ibunya kemudian menoleh pada Hyun Soo.


"Apa kau anaknya Mister Kim yang itu?"


Bagaimana ia harus menjelaskan? Ayahnya, Mister Kim, yang sering diagung-agungkan orang, bukan hanya sekedar pendiri agensi entertainment, tapi juga dengan sederet perusahaan lain yang berpengaruh di negeri ini.

__ADS_1


__ADS_2