
Alice bersandar pada salah satu pilar. Ia celingak-celinguk tapi tidak menemukan yang dicari. Akhirnya ia mengeluarkan ponsel dan mengetuk-ngetuk disana.
Apa Marc terlambat? Sepertinya dia bukan tipe pria yang sering telat dari jadwal janji. Apa terjadi sesuatu? Atau terjebak macet?
Ia menghembuskan napas. Sorot matanya jatuh memandang sepatunya dengan tumit setinggi lima senti. Untuk pergi ke acara kencan ini ia menghabiskan banyak waktu hanya untuk sekedar memilih pakaian.
Sepanjang malam kemarin ia benar-benar mengobrak-abrik isi lemari. Mencoba dress ini dan dress itu. Ia ingin tampil anggun tapi tidak ingin memakai dress mengembang.
Ingin terlihat cantik tapi tidak mau menghabiskan waktu dengan bermake-up. Kalau hanya mengenakan kaos dibalut celana jeans, rasanya seperti outfit yang sering ia gunakan ketika pergi bersama teman.
Ia ingin tampil beda. Tapi tetap menunjukkan diri apa adanya.
Setelah berhasil membuat ranjangnya penuh dengan pakaian, melelahkan diri sendiri dengan mencoba beberapa kali, akhirnya Alice memilih memakai ini.
Baju selutut yang tidak mengembang. Berwarna gelap dengan motif bunga kecil-kecil di bagian atas, berlengan panjang dengan pita disepanjang lengan. Terlihat lebih simple diantara baju-bajunya yang lain.
"Sudah menunggu lama?"
Suara itu menyentakkan Alice. Ia buru-buru mengangkat wajah dan bertemu tatap dengan manik gelap Marc. Ia butuh waktu sepersekian detik sebelum kesadarannya kembali.
"Oh? T-tidak," sahutnya tergagap lalu menggigit bibir bawahnya.
Kenapa hanya melihat wajah Marc saja sudah berhasil membuat detak jantungnya tidak karuan? Menghentak-hentak tanpa aturan. Rasanya semakin mabuk saja ketika aroma Marc menyumpal saluran pernapasannya.
"Ayo!"
Tangannya ditarik begitu saja. Anehnya, ia langsung menurut dan mensejajarkan langkah dengan Marc. Degup jantungnya belum juga berkurang, malah semakin menjadi karena pria itu masih memegang tangannya hingga detik ini.
"Mau pesan yang mana?"
Alice menatap daftar menu kemudian menunjuknya asal. Ia tidak benar-benar membaca menu tersebut. Jarinya terangkat dan menunjuk tanpa tahu arah.
"Pesan dua ukuran large."
Kenapa ia secanggung ini, huh? Padahal bukan kencan mereka yang pertama. Saat dulu Marc menyebutnya kencan, ia tidak merasa segugup ini.
__ADS_1
Apa bisa juga diakibatkan status Marc yang sudah naik drastis dan berubah pesat? Kini Marc.. calon suaminya.
Huh. Baiklah. Dipikirkan berapa kali pun, walau mengucapkan kata 'calon suami' itu hanya di dalam hati, tetap saja berhasil membuat isi kepalanya kacau-balau. Membuat sel-sel disana berjumpalitan dan seperti benang kusut saja.
"Terimakasih sudah mau menonton ini bersamaku."
Ia menoleh lalu tersenyum kecil. "Bukan masalah. Mungkin aku juga perlu menonton genre action. Belakangan genre romance sudah banyak sekali."
"Kau suka menonton romance? Kebanyakan wanita sepertinya menggemari genre yang satu itu."
"Lebih suka membaca, sebenarnya. Tapi aku tidak punya waktu berjam-jam untuk membaca novel. Saat jadwalku sudah padat, di sela-sela waktu yang berkisar sepuluh menit saja kugunakan untuk tidur."
Ah, benar. Marc juga sering mengalaminya. Ia pernah tertidur sambil dirias, saat break sebentar karena makan siang, atau pada saat dirinya bergantian dengan yang adegan orang lain.
Untungnya, ia bukan orang yang kesulitan untuk tidur. Ia bisa tidur di mana saja asalkan tidak berbau. Tidak peduli tidur di kursi dengan posisi duduk atau di sofa dengan separuh badan keluar.
"Kalau ada sela-sela waktu lagi, luangkan buatku saja. Bagaimana?" tawar Marc dengan kerlingan mata itu lagi. Ia sudah hapal sekali.
Mata Marc yang berbinar tanda dia menggoda Alice, kerlingan nakalnya yang menyiratkan pesan penuh arti.
"Kalau kukatakan tidak mau?"
Selanjutnya Marc mengalihkan pandanga dan hanya terfokus pada layar lebar. Alice juga melakukan hal yang sama. Tapi.. pada sepuluh menit pertama saja.
Dalam berbagai genre yang tersedia, ia paling tidak suka genre horor. Berbau hantu apa pun ia akan menghindarinya. Untuk apa menonton hal menyeramkan sampai mengganggu waktu tidur?
Di posisi kedua, ia tidak suka genre fantasi. Isi kepalanya yang pas-pasan ini hanya bisa menerima sebatas simsalabim.
Jadi ketika Marc memilih film action, ia masih bisa memaklumi. Tapi hanya pada menit-menit awal. Pada menit selanjutnya, ia yakin tidak fokus lagi.
Suara pedang, tinju-meninju, sudah mulai terdengar. Ditambah teriakan masing-masing lawan untuk menyerang. Astaga. Adegan tusuk-menusuk ini berhasil membuat darahnya berdesir dan bulunya berdiri.
Karena pernah mengalami siksaan, Alice sebenarnya juga kurang menyukai genre action. Namun saat sang pahlawan muncul, entah kenapa ada yang membara di dalam hatinya dan langsung bersemangat.
"Bagus juga," komentar Alice sambil mengunyah.
__ADS_1
"Ini film action terbaik beberapa tahun belakangan ini."
"Pantes saja. Epik," komentarnya lagi.
Karena mendengar komentar Alice demikian, ia pikir gadis itu ikut menonton di sampingnya. Ternyata ketika ia menoleh lagi setelah beberapa menit adegan menegangkan itu berganti, ia melirik gadisnya.
Kepala Alice bersandar dengan mata terpejam. Kedua tangannya terkulai lemas di lengan kursi. Napasnya terdengar teratur seolah dia sudah nyenyak sekali.
***
"Maaf. Aku ketiduran. Maaf ya."
Ia merasa bersalah sekali. Rasanya tidak enak membuat pria itu merasa bersalah karena mengajaknya menonton film yang membosankan.
Dari awal Alice memang sudah mengatakannya tapi bukan berarti ia akan tertidur secepat itu. Bahkan tidak ada jalan cerita yang ia ketahui kecuali awalnya saja.
"Aku tidak mempermasalahkan, Alice. Bisa saja aku juga melakukan hal yang sama kalau diajak menonton film romance."
"Hahh, aku ini payah sekali."
Marc meliriknya kemudian menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Mau coba makan itu tidak? Katanya baru buka minggu lalu."
Alice membaca nama tempatnya dan mencium adanya aroma daging.
"Wah! Sepertinya enak."
"Omong-omong, kau juga jarang mengunjungi pusat belanja begini, tidak? Aku jarang sekali pergi kalau bukan karena diajak teman."
"Aku seperti wanita pada umumnya. Menyukai belanja. Jadi tentu saja tempat ini menjadi favoritku dan Krystal hampir setiap weekend. Meski kami tidak selalu libur di akhir pekan."
Marc mengangguk membenarkan. "Sehabis dari sini kita fitting baju pengantin, kan? Ibu terus merecoki ku tentang yang satu ini."
Belakangan Marc memang sangat sibuk. Bahkan untuk acara pernikahan yang sudah dekat, mereka belum melakukan fitting. Wajar saja kalau ibunya mengomeli Marc setiap hari.
"Iya. Kuharap berat badanku tidak naik agar bajunya bisa muat."
__ADS_1
Mendengar hal itu membuat Marc menoleh kemudian mengamati tubuh Alice. "Lebih berisi lagi juga tidak masalah. Kau seringan itu, tahu."
Belum sempat Alice membalas, tiba-tiba seseorang memanggil Marc. Dia tak lain dan tak bukan adalah... Im Nana.