Legendary Idol In Love

Legendary Idol In Love
Part 25 [Two Boys]


__ADS_3

Ia menapak, di jalanan sunyi, hanya diterangi lampu jalan. Ada satu tempat yang paling ia sukai ketika suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja, berdiri di ketinggian dan menatap kota Seoul yang dipenuhi kerlap-kerlip lampu.


Sejak kapan ia tidak sendirian? Tidak pernah, kan? Ia selalu sendirian bahkan di hari ulang tahunnya, di hari kelulusannya, dan saat ia sedih sekalipun. Hanya ada Hyung, yang sudah mengabdi kepada keluarga Kim secara turun-temurun. Tapi tentu saja, tidak sama. Ia juga ingin dekat dengan keluarga, seperti Hyung yang dekat dengan ayahnya dan sering bercanda tawa.


Kim Hyun Soo menarik napas, menghembuskannya berusaha hal itu mengurangi sesak di dadanya. Ia sudah menuruti segala keinginan pria itu sejak kecil, hanya karena masalah wanita, apa ia tidak boleh memilih ingin menyukai siapa? Rasa suka tidak bisa dibuat-buat kan, dia hadir dengan sendirinya bahkan terkadang tidak perlu alasan.


Saat ulang tahunnya, hanya ada ia sendiri di rumah beserta para pelayan rumah yang merayakan dan membuat kue untuknya. Menyajikan makanan sebaik mungkin sambil mengucapkan 'Selamat ulang tahun Tuan Muda'. Pasti mereka melakukannya karena alasan pekerjaan kan? Karena tuntutan pekerjaan, bukan karena mereka menyayangi Hyun Soo.


Saat hari kelulusan di sekolah, seluruh teman-temannya hadir bersama keluarga, saling berfoto dan tersenyum bahagia. Ia hanya sendiri, kalau saja Hyung tidak hadir saat itu. Rasanya menyedihkan, ia ingin hidup normal seperti anak seusianya. Ia juga tidak pintar bergaul dan tidak punya banyak teman.


Sekali lagi Hyun Soo menghela napas. Ia bersandar pada pembatas. Dari atas sini ia bisa melihat pemandangan kota Seoul yang diselimuti gedung pencakar langit. Ia bisa bebas berteriak saat ini tanpa ada yang mendengar, tapi untuk berkata apapun, kini ia tidak sanggup.


🌻🌻🌻


Alice menggerutu kesal sambil terus melangkah, menyusuri jalan sempit dengan sedikit menanjak. Hari ini lelah sekali. Setiap kali ia lewat, selalu ada staf yang menanyakan apa yang terjadi dengan tangannya, kenapa sampai di perban begini. Tetapi untungnya ada Marc, yang menjawab dengan cepat dan asal-asalan. Untuk kali ini Alice merasa sifat Marc yang suka asal bicara ada gunanya juga.


Lalu saat sampai di apartemen tadi, Krystal terus merecokinya tentang siapa yang sudah mencelakainya sampai seperti ini. Gadis itu tidak percaya ketika Alice katakan dia terluka akibat ulahnya sendiri. Astaga. Ia yakin gadis itu akan menghajar siapapun kalau memang diperlukan.


"Ah, sial sekali. Para bedebah itu. Ingin rasanya aku membalas- oh?" Alice mengangkat alisnya begitu mengenali seorang pria yang sedang bersandar dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku jaket. Dia menunduk, meskipun hanya bagian samping wajahnya yang terlihat, dan bagian atas wajah lelaki itu tertutupi poni, ia masih bisa mengenalinya.


"Hyun Soo?"


Pria itu mengangkat wajahnya dan menoleh.


"Oh, hai."


Alice akan mampir ke rumah ibu. Ibunya akan pindah ke apartemennya besok. Itu sebabnya ia datang malam ini untuk memastikan ibunya hanya membawa barang-barang penting saja. Tidak perlu membawa semuanya, karena rumah itu akan mereka jual sesegera mungkin.


Setelah dipikir ulang, akan lebih baik kalau mereka tinggal bersama. Meskipun jarak apartemen Alice dengan rumah ibunya tidaklah jauh, tapi tetap saja ibunya akan lebih aman kalau bersamanya. Setelah Alice melunasi semua hutang tahun lalu, kini masih banyak yang mencari-cari ibunya, untuk mengakrabkan diri karena mereka sudah punya banyak uang sekarang.


Ia hapal sekali sifat orang semacam itu. Mereka tidak tulus ingin akrab dengan ibu, mereka hanya ingin mengambil keuntungan.


"Kau juga tahu tempat ini, ya?" ucapnya, sambil mendekati tembok pembatas. "Memandang dari sini memang menyenangkan. Dulu saat jadwalku masih belum sesibuk sekarang, aku sering melihat dari sini.  Omong-omong, apa yang kau lakukan?"


Alice menoleh. Gadis itu bisa melihat ada yang aneh dari Hyun Soo. Ada guratan sedih di wajah pria itu. Biasanya kalau mereka berpapasan, pria itu selalu tersenyum ceria padanya dan menyapa dengan sopan. Ini pertama kali ia melihat Hyun Soo bertampang murung.


"Menghirup udara segar. Kakimu sudah sembuh?"


Alice mengangguk.

__ADS_1


"Kenapa sendiri lagi? Kan sudah kukatakan kalau kau keluar bawa pengawalmu."


"Tidak apa. Aku lebih suka sendiri, rasanya tidak nyaman diikuti kemanapun pergi, lagi pula-" ucapannya menyangkut di tenggorokan. Ia tidak bisa mengatakan apapun saat melihat Hyun Soo berjalan ke arahnya, hingga Alice mundur dan merasakan ujung kaki belakangnya sudah menyentuh pembatas.


Apa yang Hyun Soo lakukan? Kenapa sedekat ini? Kenapa pria itu...


Pluk!


Ujung sepatu mereka saling bersentuhan. Hyun Soo menjatuhkan kepalanya di bahu Alice, dengan posisi berdiri saling berhadapan. Alice tentu saja terkejut. Kenapa Hyun Soo tiba-tiba menempel padanya?


Ia tidak bisa mengatakan apapun untuk sepersekian detik. Hanya bisa merasakan bahu sebelah kirinya terasa lebih berat dari yang kanan. Ia mengerjap begitu merasakan aroma tubuh Hyun Soo yang... entahlah. Wanginya lembut dan tidak menyengat. Seperti aroma bayi.


"Aku lelah sekali," bisiknya lirih. "Sebentar saja."


Ia yakin saat ini wajahnya memanas. Maksudnya... posisi ini.. terlalu dekat. Ia bisa merasakan hembusan napas pria itu di sekitar leher dan telinganya, membuat Alice sedikit bergidik geli, namun berusaha tetap diam dan tidak bergerak.


Sepertinya pria ini sedang banyak masalah. Sebelah tangan Alice yang terkulai lemas di sisi tubuhnya, kini terangkat, ingin menepuk pelan punggung pria itu namun ia ragu. Apa boleh? Apa tidak apa-apa?


"Everything will be ok, Hyun Soo," akhirnya Alice menurunkan tangannya dan hanya mengucapkan hal demikian.


🌻🌻🌻


H-1 concert


"Ini aku."


"Aku tahu."


"Oh? Kau sudah menyimpan nomorku? Kututup"


Tut.


Alice menatap kesal ponselnya. Apa-apaan pria itu? Dia menelepon Alice hanya untuk mengatakan hal itu? Tidak penting sekali. Bukankah mereka sudah pernah saling bicara lewat telepon sebelumnya?


"Ada apa? Kenapa wajahmu begitu?"


Yu Ra yang sedang menata rambut Alice, tiba-tiba melihatnya dari cermin. "Oh, ya, omong-omong, ada seseorang yang menitipkan hadiah untukmu."


"Hadiah?"

__ADS_1


Yu Ra mengangguk, ia melirik Alice sekilas dari cermin sebelum kembali menata rambut. "Dia menyerahkannya padaku tadi. Seorang pria berjas, semacam bodyguard, katanya dari Tuan untuk nona Alice."


Dari Tuan untuk nona Alice? Terdengar aneh.


Sebelum Alice sempat memprotes, ponselnya berdering lagi. Kali ini panggilan dari orang yang sama seperti tadi. Matanya menyipit, ia tidak ingin mengangkat, tapi kemudian ia memilih mengalah mana tau itu adalah hal yang penting.


"Ada apa?" jawabnya ketus.


"Kau dimana?"


"Ruang rias."


"Aku hampir sampai. Ah, ini dia. Tunggu! Jangan tutup telponnya."


Ia menjauhkan ponsel dari telinga, kembali menatap layar dengan dahi sedikit berkerut. Apa maksudnya? Pria gila ini, apa sih yang sedang dia bicarakan dari tadi? Dia hanya ingin membuat kesal?


Kemudian pintu ruangan terbuka, membuat dua gadis yang ada di dalam, menoleh ke arah pintu.


Marc masuk, melangkah ke arah Alice setelah melihatnya duduk manis di depan cermin, meraih ponsel gadis itu yang masih digenggam, membuat sang empunya berteriak.


"Hei! Kembalikan!"


"Marc? Kau menamaiku begitu?"


"Memangnya aku harus menamaimu apa?" balasnya, masih dengan nada ketus.


Marc mengetikkan sesuatu di ponsel Alice, kemudian menyerahkannya.


"Aku baru meneleponmu dua kali. Berarti aku akan meneleponmu satu kali lagi."


"Kau ini dari tadi bicara apa sih?"


Marc tidak menjawab. Mungkin Alice tidak ingat. Hari di mana mereka digosipkan sedang menjalin hubungan kekasih. Saat itu Alice meneleponnya tiga kali dan Marc baru mengangkat pada telepon ke empat karena ponselnya kehabisan daya. Marc sudah mengatakan akan membalas gadis itu dengan meneleponnya tiga kali juga.


"Rehearsal akan dimulai lima belas menit lagi. Aku pergi dulu. Bye Nuna," ucap Marc menoleh pada Yu Ra sekilas.


Alice meraih ponselnya, merasa penasaran dengan apa yang diketikkan pria itu di sana. Kemudian matanya terbelalak kaget membaca dua kata yang menjadi nama kontak Marc sekarang.


My Marc.

__ADS_1


Apa pria itu sudah sinting? Kenapa dia membuat Alice menjadi bingung dan merasa... ah, tidak. Tidak!


Sedangkan Yu Ra, rasa penasarannya sudah membeludak. Ia sedari tadi sudah mengunci bibirnya agar tidak mengatakan apapun dan tidak ingin terlihat ikut campur. Tetapi rasa penasaran berhasil menggerogoti kepalanya. Akhirnya ia berjinjit sedikit, mengintip layar ponsel Alice, membulatkan matanya sebelum kemudian terbatuk-batuk.


__ADS_2