Legendary Idol In Love

Legendary Idol In Love
Part 38 [Lovely Day]


__ADS_3

"Waaahh."


Bola mata Krystal berkilat-kilat takjub. Ia tidak bisa berhenti menatap kesekeliling untuk memanjakan penglihatannya. Dengan tangan yang saling bertautan di depan dada, tatapan yang mendamba, dan bibir yang tidak terkatup rapat.


Ia seperti orang udik saja, padahal nyatanya Krystal adalah artis papan atas yang sudah mengadakan konser di beberapa negara, beradu akting di film besar meskipun bukan pemeran utama. Tetapi tetap saja, saat melihat dekorasi gedung tempat menikah Marc dan Alice, ia tidak bisa berhenti memuji.


"Apa kau sesuka itu?"


Setelah mendengar suara orang yang sejak tadi setia berdiri di sampingnya, baru lah Krystal mengalihkan pandangan.


"Suka sekali!" serunya. "Seandainya aku juga bisa menemukan pangeran berkuda putih yang melamarku-"


Hyun Soo terkekeh pelan menampilkan deretan giginya yang rapi dan lesung pipi yang tercetak jelas, serta lengkungan matanya tertarik membentuk senyuman.


"Ternyata kau juga bisa berkata seperti itu. Gadis yang dingin sekali pun tetap mempunyai sisi yang hangat ya," ucapnya lurus menatap manik Krystal.


Ia yakin untuk sepersekian detik tadi, pipinya memanas, dan tenggelam dalam mata gelap milik Hyun Soo. Pria itu setelah ia perhatikan, meskipun memiliki tatapan mata yang tajam, tapi terlihat indah.


Sepertinya akan lebih berbahaya jika ia menatap mata itu terlalu lama.


"Apa kita datang terlalu cepat?" tanyanya mengedarkan pandangan. "Masih terlihat sepi."


"Bukan sepi," sahut Krystal. Ia menatap ke bawah dari balkon. "Orang-orang masih berkumpul di bawah."


Bagian samping gedung memang dihiasi oleh taman-taman bunga dan air mancur. Membuat para tamu merasa nyaman untuk mengobrol lebih lama, saling berfoto sebelum memasuki ruang utama.


"Kalau aku tidak mengajakmu, kau berencana pergi dengan siapa?"


Hyun Soo bersandar. Ia sekali lagi melirik ke seluruh ruangan, menanti hadirnya Alice atau beberapa orang yang ia kenal. Sebenarnya ia tidak kenal siapa-siapa, hanya sesekali pernah berpapasan.


"Pergi sendiri, walaupun sudah tahu pasti akan mati kebosanan."


"Kenapa tidak mengajak orang lain?"


Hyun Soo mengalihkan pandangannya, kini tertuju pada Krystal. Gadis dingin yang ia kenal beberapa bulan terakhir, gadis dengan raut wajah datar dan tatapan tajam. Gadis yang bisa meledak sewaktu-waktu kalau berani mengusiknya sedikit saja.


Tapi hari ini ia mengetahui beberapa hal. Krystal bukan gadis yang tidak ramah. Dia hanya tidak tahu cara bersikap ramah yang sepertinya tidak cocok dengan wajahnya. Namun kemarin, gadis itu tidak segan-segan mengajaknya pergi ke pernikahan Alice bersama-sama.


Dia ramah dengan caranya sendiri.


"Mungkin karena aku belum memasukkan siapa pun itu ke dalam daftar 'orang lain' tersebut," sahutnya enteng sambil mengedikkan bahu.


Ia menghela napas, lalu ikut melihat-lihat. Rasanya haus sekali. Sepertinya ia harus pergi ke meja seberang sana untuk mengambil minuman. Tadi ia hanya berhasil menelan dua potong kue sebagai sarapannya.

__ADS_1


Ia tidak sempat makan dengan benar karena terlalu sibuk dirias.


Jujur saja ia puas dengan hasil riasan stylist langganannya. Rambut lurus panjang, dihiasi bunga-bunga kecil, disampirkan di bahu sehingga memamerkan kulit bahunya yang putih bersih dan lekukan sempurna.


"Sepertinya mereka melambai kemari," Hyun Soo menggerakkan dagunya.


Di seberang sana, beberapa meter di sebelah meja hidangan, Yu Ra beserta kru lain yang sering bekerja dengannya, melambai.


Awalnya ia tidak mengenali gadis berpenampilan anggun itu, tetapi setelah melihat senyumnya baru lah Krystal tahu dia adalah Lee Yu Ra, sang penata rias.


Ternyata tangan gadis itu memang seperti sihir. Bisa menyulap siapa pun menjadi luar biasa. Yu Ra yang biasa ia lihat adalah gadis periang, blak-blakan, menggemaskan dan tidak ada anggunnya sama sekali, hari ini terlihat berbeda.


Ia tanpa sadar menarik tangan Hyun Soo dengan semangat. "Ayo kukenalkan pada teman-"


PLUK! HUH!


Krystal mengerjap. Langkahnya yang terlalu bersemangat membuatnya hampir tersandung gaun sendiri.


Pasti akan menjadi tontonan para tamu dan terjatuh memalukan kalau saja Hyun Soo tidak menggenggam tangannya dan menahan pinggang gadis itu.


Lalu... ada sensasi aneh yang menyetrum sudut hatinya.


"T-terima.. kasih."


••••


Kemudian suara ketukan pintu terdengar diikuti kenop pintu yang diputar.


Marc mengangkat alisnya begitu tatapan mata mereka bertemu. Dia menggerakkan jemarinya membuat para penata rias itu membungkuk sebelum pergi meninggalkan mereka.


"Aku boleh mengatakan sesuatu?" tanya Marc.


"Seperti.. 'kau terlihat cantik?'" balas Alice.


Marc terkekeh pelan lalu menggeleng. "Bukan. Biar kuralat."


"Hmm?" tantangnya dengan sebelah alis terangkat. Ia sudah hapal sifat Marc yang satu ini. Pria itu pasti akan mencomot kosakata paling bagus yang sudah tertanam di dalam kepalanya.


"Bukan terlihat cantik. Tapi kau pengantin paling cantik yang pernah aku temui."


Alice tersenyum lebar sebelum tertawa kecil. Ia maju beberapa langkah dan menggamit lengan Marc. "Sepertinya aku memilih calon suami yang pintar bicara."


"Dan tampan," tambah Marc penuh percaya diri.

__ADS_1


Proses pernikahannya tidak berlangsung lama. Mereka mengucap sumpah dan janji disaksikan oleh para hadirin yang sudah menanti sejak tadi.


Ada yang terharu bahagia, ada yang bertepuk tangan sangat gembira, dan ada yang.. mencoba untuk berlapang dada.


Hyun Soo menghembuskan napas lalu mundur beberapa langkah ingin menjauh dari kerumunan.


Meski ia sudah mencoba meyakinkan diri dari kemarin, tetapi nyatanya hari ini ia hampir saja tumbang. Sepertinya ia butuh udara segar.


Ia juga tidak menyadari kalau Krystal memutar lehernya dan menatap punggung Hyun Soo. Setelah beberapa detik tampak berpikir, akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti pria itu.


••••


"Aku sudah pernah bilang, bukan?" Marc memulai sambil meriah pinggang Alice untuk berdansa.


"Bilang apa?"


"Aku tidak akan hanya memegang tanganmu."


Dahi Alice masih berkerut tidak mengerti. Ia berusaha mengingat-ingat. Kalau tidak salah, ia pernah mendengar kata-kata itu.


"Ah, itu," gumamnya. Ia ingat Marc pernah mengatakannya dulu.


Marc memutar tubuh Alice dua kali, kemudian meraih pinggangnya istrinya lagi dengan sempurna. Alice akan bergerak melanjutkan dansa, namun Marc menghentikan gerakannya.


Pria itu menundukkan wajah hingga bibir Marc terasa hampir menempel di telinganya, kemudian berbisik.


"Tapi juga menjadikanmu milikku."


Baiklah. Seluruh panca inderanya mulai detik ini harus terbiasa dengan gerakan Marc yang tiba-tiba, ucapan pria itu yang melambungkannya sampai sejajar dengan langit, wangi tubuh pria itu yang mengisi paru-parunya dan.. tatapan mata pria itu yang melumpuhkan sel saraf otaknya.


Ia harus terbiasa kalau tidak ingin menjelma seperti penggemar Marc yang menggilai pria itu di luar sana.


"Aku mulai memikirkan balasan yang tepat untukmu."


"Balasan?"


"Ya, seperti..."


Marc masih belum menjauhkan wajahnya. Ia menatap Alice dari samping dengan tatapan tidak mengerti.


Setelah beberapa saat menunggu lanjutan ucapan Alice, tiba-tiba tuksedonya ditarik sedikit, dan bibir Alice mendarat tepat di atas bibirnya.


"Seperti ini."

__ADS_1


__ADS_2