Legendary Idol In Love

Legendary Idol In Love
Part 50 [Seduced]


__ADS_3

Sebelah tangan Alice berada di sisi kepalanya. Denyutan di kepala langsumg menghantam dengan hebat begitu ia membuka mata di pagi hari. Seharusnya pagi ini ia menghirup udara segar, mendapat pelukan dari suami maha tampan dan menikmati aroma tubuh Marc yang memabukkan.


Tapi itu semua hanya angan-angan belaka. Ia harus membuang jauh-jauh hal itu dari kepalanya kalau tidak mau menambah satu penyakit lagi.


Pagi ini, seperti pagi-pagi sebelumnya ketika ia pertama kali menjadi seorang ibu, rumahnya selalu berantakan. Misalnya seperti saat ini. Mainan Sun Hye terpampang nyata dari ujung lantai dekat televisi dan melintang sampai balkon.


"Akh, ya Tuhan," gumam Alice merasakan denyutan kepalanya semakin parah.


Putrinya itu, entah karena faktor usia atau memang memiliki hobi, sering tidak menyimpan kembali mainannya selesai bermain. Biasanya ia akan mengomel terlebih dahulu sebelum suaranya naik satu oktaf hingga Sun Hye menciut. Kalau sudah seperti itu Sun Hye akan memeluk kakinya dan berkata dengan nada manis.


"Jo Sun Hye!" pekik Alice.


Suara menggelegar itu bukan membangunkan putrinya. Suara pintu terbuka disusul aroma Marc yang sudah sangat ia kenali membuat leher Alice berputar.


Rasanya seperti mendapat air di gurun sahara. Marc baru saja membuka pintu kamar mereka, menampakkan pria itu yang baru selesai mandi dengan rambut basah dan bathrobe yang melekat.


Bibir Alice terbuka. Ia seperti mendapat terpaan angin sejuk yang berhasil mengusir pusing kepalanya, berhasil memadamkan amarahnya dan menyegarkan akal sehat. Kenapa Marc Hyun Jo tetap mempesona seperti itu meski sudah menjadi seorang ayah?


Wajahnya masih sama seperti dulu. Tanpa terlihat tua sedikit pun. Hanya gaya rambutnya yang sudah berubah. Tapi perasaan Alice setiap kali melihatnya masih sama. Perasaan mendamba, seperti melihat pangeran dari negeri dongeng bersama kuda putihnya yang gagah.


Ah, apa ia sudah larut dalam cerita dongeng ibu peri milik anaknya? Kenapa ia seperti remaja ingusan yang masih dimabuk cinta?

__ADS_1


Marc menaikkan alisnya melihat Alice yang termangu di tempat. "Kenapa kau berteriak seperti itu? Terjadi sesuatu?"


Kini tangan Alice bukan lagi memegang kepala. Tapi sudah turun menuju daerah dadanya. "Ah, ya. Jantungku."


Marc mengerjap. Ia memandang Alice dari atas sampai bawah lalu kembali pada wajah istrinya. "Jantungmu? Kau baik-baik saja? Sakit?"


Ia mendekat dengan wajah cemas. Kedua tangannya menangkup pipi Alice lalu meneliti wajah istrinya. Tapi.. tidak ia temukan guratan wajah kesakitan. Justru Alice memejamkan mata dengan senyum lebar.


"Ah, astaga. Apa-apaan itu?" tanyanya setelah mengerti. Aneh sekali. Apa Alice baru saja menamatkan drama para oppa ganteng itu? Hingga membuat kepalanya sedikit miring dengan komposisi tidak seimbang.


"Menyilaukan," gumam Alice dengan telapak tangan mengarah pada dada bidang Marc. "Aroma sehabis mandi yang memabukkan. Tetesan air dari ujung rambut yang mengalir ke leher. Wajah fresh dengan bibir kemerahan. Dan.."


Ia berlalu meninggalkan istrinya dengan gelengan kepala. Mungkin Alice terlalu banyak minum tadi malam sampai efek mabuknya masih terasa. Atau dia baru saja menamatkan satu novel roman picisan dan berhasil meracuni otaknya dengan kata-kata itu. Mengerikan.


Kalau Sun Hye nanti sudah beranjak dewasa, Marc tidak akan membiarkan putrinya itu membaca novel dengan karakter pria seorang CEO berhati dingin dan wajah turunan dewa yunani. Astaga. Tidak bisa ia bayangkan kalau Sun Hye dimabuk pria seperti itu. Marc akan merebus tulang sang pria sebelum dia berhasil menyentuh Sun Hye.


"Kau membuat jantungku berdebar tidak karuan, Marc."


Bukannya pergi atau merapikan mainan Sun Hye yang berserakan, Alice malah mengikuti suaminya yang berjalan menuju pintu kamar putri mereka. Ia berdiri di belakang punggung Marc dan melingkarkan lengannya pada pinggang pria itu.


"Ayolah, kau tahu? Aku jarang memandangmu seperti ini berlama-lama. Kau sering pergi pagi-pagi sekali dan pulang malam hari. Aku bahkan mendapat jatah di malam hari, sudah tidak pernah lagi di pagi hari."

__ADS_1


"Park Hyo Alice," panggil Marc setelah menghembuskan napas berat. Kini kepalanya yang berdenyut hebat.


"Yes?"


Marc berbalik. Ia sudah menekan emosinya jauh-jauh. Sekarang yang terpampang adalah wajah penuh senyuman dan menawan. "Persiapkan dirimu, princess. Kita ke sekolah Sunny pagi ini. Acara pentas seni, masih ingat?"


Bukannya menjawab, Alice justru mengangkat jari telunjuknya dan menempelkan pada dada bidang Marc. Bibirnya membentuk ucapan 'waw' tanpa suara.


Kalau sudah begini, maka hanya ada satu cara.


Wajah Marc menunduk. Bibirnya berjarak satu senti dari telinga Alice. Ia meniupnya sebentar hingga membuat gadis itu bergidik dan fantasi liarnya bekerja. "Jangan menggodaku. Atau kau akan merasakan dirimu tidak berdaya di bawah kuasaku, Alice."


Senyum Alice mengembang. "Baiklah. Acara pentas seni, ya. Aku harus tampil cantik memukau. Hah. Ibu-ibu kemarin pasti akan datang, kan?"


"Kalau kau ingin membalas mereka, tampil memukau hari ini dan gandeng aku."


Alice terkekeh. "Katakan saja kalau kau ingin aku gandeng sepanjang acara pentas seni."


"Ah, ya. Anggap saja begitu. Jadi.. satu.. dua.."


Selanjutnya Alice sudah melesat pergi dan menghilang di balik pintu. Senyum Marc mengembang. Kalau ia tidak menahan diri dan mengingat hari penting ini, maka ia sudah menyerang Alice sejak tadi.

__ADS_1


__ADS_2