
Sepertinya ada batu besar yang menghantam kepala Marc saat ini. Sebelah tangannya terangkat memegang sisi kepala, langkahnya terhenti ketika denyutan hebat itu datang lagi.
Ia benar-benar tidak mengerti kenapa tempat dengan penuh wahana mengerikan disebut taman bermain. Di mana letak makna bermainnya?
Yang ada dunia Marc terasa berhenti sebentar setelah mengalami guncangan hebat. Wahana-wahana itu nyaris membunuhnya. Astaga.
Tanpa melirik pun, ia sudah tahu Alice kini tertawa di sampingnya. Gadis itu pasti akan terguling-guling jika tidak ada orang di sini. Lihat saja pembalasanku nanti, Park Hyo Alice! gerutunya.
Karena sudah tidak bertenaga, ia membiarkan dirinya ditarik oleh Alice menuju bangku panjang yang kosong dan mendudukkannya di sana.
Marc meluruskan kaki, kepalanya dibiarkan menengadah dengan mata terpejam. Kali ini kulit wajahnya digelitik semilir angin, rambutnya ditiup dan bergerak-gerak bebas.
Ia membiarkan rasa tenang itu menghampirinya. Sampai entah hitungan ke berapa, denyutan di kepalanya mulai berkurang.
"Sudah lebih baik?"
Langit sudah berubah warna. Meski warna biru masih mendominasi, tapi di sebelah sana sudah mulai tampak gelap. Entah karena hujan akan turun sebentar lagi atau memang hari sudah mulai sore.
"Hhmm," gumamnya.
Mereka benar-benar mencoba hampir semua wahana. Mulai dari yang menanjak sampai diturunkan dengan kecepatan tinggi, atau ada juga yang diterbangkan kencang-kencang sampai Marc harus berpegangan erat.
Semuanya tidak ada yang benar. Isi perutnya seolah diaduk, kepalanya berputar dan kerongkongannya kering karena hampir menjerit setiap saat. Baiklah, untuk hal yang satu ini saja, Alice lebih unggul darinya.
"Wajahmu memucat. Jangan bilang ini pertama kalinya kau..."
"Ini pertama kalinya," sela Marc dengan nada tidak sabar. "Bagaimana bisa kau baik-baik saja setelah diterbangkan tidak masuk akal begitu?"
Alice lagi-lagi tertawa. Masih dengan kepala yang berdenyut saja, bibir Marc tahu benar cara mengomel dan protes di saat bersamaan. "Entah lah. Aku memang menyukai ketinggian."
Pria itu membesarkan mata dengan kedua alis terangkat. Ia baru tahu kalau ada orang yang menyukai hal tidak masuk akal begitu. Memangnya dia pikir, dia punya berapa nyawa, huh?
Tapi tidak perlu heran. Park Hyo Alice yang ia kenal memang jenis wanita langka. Sedikit tidak waras dan memiliki selera yang unik. Terkadang Marc tidak bisa menebak apa yang gadis itu pikirkan.
"Apa saja yang kau lakukan sejak kecil sampai tidak pernah ke taman bermain?"
Mata Alice menyipit, lalu dengan wajah curiga ia berkata lagi, "Ah, aku tahu. Kau pasti dulunya adalah pria penakut. Tidak ingin diajak teman-temanmu ke taman bermain dan langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur, lalu-"
__ADS_1
"Kalau kau berkata lagi, aku bersumpah akan menciummu."
Bibir Alice buru-buru terkatup mendengar penuturan Marc yang diucapkan dengan nada mengancam. Hal itu justru membuat senyum Marc mengembang.
Oh, tidak. Seharusnya ia tidak memercayai ucapan Marc Hyun Jo begitu saja. Pria itu kan sangat suka asal bicara, menjahili Alice dan membuat dirinya kebingungan.
"Kau hanya mengancam-"
Pada detik selanjutnya, bibir Alice sudah terkatup lagi. Kali ini bukan karena otot bibirnya yang bergerak, tapi karena Marc yang membungkamnya.
Bibir mereka menempel sempurna.
Mata Alice membesar saat berhadapan dengan wajah Marc yang sangat dekat. Kedua manik indah pria itu terpejam. Tunggu. Ini memang bukan first kiss-nya. Tapi..
Tapi setiap kali melakukannya bersama Marc, seperti ada yang memicu jantungnya untuk berpacu lebih cepat. Ada yang mengisi rongga dadanya sampai terasa penuh sesak. Perlahan-lahan neuron-neuronnya terasa berbelit dan ia bisa melihat bintang-bintang berputar di atas kepalanya.
Beberapa detik seperti beberapa menit bagi Alice. Hingga Marc melepaskan tautan bibirnya dan tersenyum penuh arti pada Alice dengan kerlingan mata tajam.
Saat itu juga Alice ingin bumi menelannya saja. Karena pasti pipinya sudah merona tanpa tahu malu, merangkak-rangkak sampai ke telinga yang mulai memanas. Kemudian Marc akan menertawainya.
"Kau sengaja ya?" tanya Marc penuh curiga.
"A-apa?"
"Ternyata kau benar-benar ingin aku menciummu? Makanya kau melanjutkan pembicaraan."
Satu pukulan keras mendarat di lengan kanan Marc. Pria itu merintih kesakitan sambil mengusap-usap lengannya yang terasa perih.
"Dalam mimpimu, Marc!"
"Begini ya, princess," ia mengubah posisi duduk menjadi sedikit menyamping. "Kau hanya perlu memintanya dan aku akan menciummu dengan senang hati."
"Apa hanya itu yang ada di kepalamu?"
Alice memasang raut wajah yang terlihat disabar-sabarkan. Ia bahkan sudah mengangkat sebelah alis dan memandang tunangannya dengan sorot mata galak.
"Untuk saat ini, ya, kurasa," akunya.
__ADS_1
"Sepertinya sakit kepalamu sudah sembuh."
Setelah berkata demikian, Alice beranjak dari duduknya, meninggalkan Marc di belakang. Pria itu tentu saja melangkah lebar-lebar untuk mensejajarkan langkahnya dengan Alice.
"Kau tidak boleh marah."
"Siapa bilang?!" sungutnya.
"Jadi kau marah?"
"Tidak marah!"
"Aku tidak mungkin bertanya begitu kalau kau tidak terlihat marah. Tahu, tidak? Aku pernah menonton satu film genre romantis. Sang pria bertanya kenapa, tapi gadisnya menjawab tidak apa-apa. Padahal kan kalau tidak apa-apa tidak mungkin ditanya kenapa."
Mendengar ocehan Marc yang panjang lebar, berhasil menghentikan langkah Alice. Ia berbalik dengan cepat dan ingin menghujam pria itu lagi dengan tatapan mematikan ketika Marc malah mendekat dan menggerakkan tangannya.
Untuk beberapa saat seperti ada yang kembali meracuni isi kepalanya dan melemahkan sel saraf Alice. Hingga ia membeku di tempat dengan tangan Marc yang menyentuh helaian rambutnya.
"Ada daun jatuh," ucap Marc dengan ibu jari dan jari telunjuk yang menjepit daun kecoklatan.
"Alice? Kenapa wajahmu memerah begitu?"
Hah! Sialan!
Ia ingin menjawab tidak apa-apa tapi kemudian balik lagi mengingat serentet kata yang baru saja dilontarkan Marc beberapa saat yang lalu. Akhirnya ia menelan kembali kata-katanya dan berbalik pergi.
"Apa aku melakukan kesalahan lagi? Atau siklus bulananmu sedang datang?" tanya Marc setengah berteriak karena tunangannya sudah berjarak beberapa meter darinya.
Ia mengacak sekilas rambutnya dan dahinya mengernyit. Apa emosi wanita memang labil seperti ini? Yang dilihatnya tadi memang rona merah karena malu, kan? Bukan wajah merah padam karena marah? Lalu, kenapa detik selanjutnya Alice terlihat mengamuk kembali?
Sepertinya ia harus banyak berlatih mulai sekarang dan untuk seterusnya. Ia akan mulai mengingat-ingat apa saja yang gadis itu sukai dan apa saja yang membuatnya marah.
Tapi Alice tidak marah karena ia menciumnya, kan? Semoga saja tidak. Karena kalau iya maka...
"Marc Hyun Jo! Kau ingin diam saja disitu?" seruan Alice terdengar.
...maka ia bisa gila.
__ADS_1