
Hyun Soo menutup ponselnya setelah membaca judul berita yang tertera. Kali ini entah rumor apa lagi yang menerpa. Memang bukan rumor tentang dirinya, tapi yang berkaitan dengan Park Hyo Alice, gadis yang sejauh ini masih ia sukai.
Omong-omong tentang Alice, beberapa hari yang lalu ia sudah menemui para gadis yang mengganggu Alice tempo hari. Mereka tentu tidak mengenalinya, dan menatap menyala begitu ia mencegat mereka.
Hyun Soo tidak sendiri, ia membawa pengawalnya agar para gadis itu tidak kabur. Lagi pula, ia selalu diikuti pengawal kemanapun ia pergi. Ayahnya selalu memberi pengawal untuk menjaganya walaupun mereka mencoba bersembunyi agar tidak diketahui. Ia tidak terkejut dengan fakta itu, sejak ia kecil lebih tepatnya ketika ibunya meninggal, ia selalu diawasi kemana pun pergi.
Mereka melapor setiap hari pada Ayah. Terdengar tidak normal sekali.
*Beberapa hari yang lalu
"Salah satu peraturan agensi ini adalah, saling mendukung dan menjalin hubungan dengan baik satu sama lain. Tidak dibenarkan melakukan tindak kekerasan apapun di area gedung agensi, baik secara berkelompok maupun individu. Barang siapa yang melanggarnya maka akan dijatuhi sanksi berat."
Ia berdiri tegak dengan kedua tangan dimasukkan dalam saku celana. Rambutnya terlihat rapi dengan setelan jas yang pas di tubuhnya. Sekilas ia memang terlihat mempunyai jabatan tertentu di sini, tapi sebenarnya ia tidak punya jabatan apapun selain anak dari pendiri K Entertainment.
Setelah menatap wajah para gadis di depannya satu per satu, ia berdeham lagi sebelum melanjutkan. "Park Hyo Alice. Dengan insiden di toilet. Masih ingat?" Ia tersenyum penuh arti.
Mereka saling memandang satu sama lain. Semuanya tersentak, kemudian mulai berbisik, menggeram dan melemparnya dengan tatapan tajam. Ada yang terang-terangan mencibirnya dan mengumpat pelan. Tapi tentu saja mereka tidak semudah itu mengakui.
"Insiden apa?" tanya si gadis berambut pirang dengan dahi berkerut tidak suka. "Kalau kau berbicara tanpa menjelaskan kejadiannya dan menunjukkan bukti apapun, lebih baik enyahlah. Kami tidak punya waktu meladeni orang yang berbicara omong kosong."
Rasanya Hyun Soo ingin mencakar wajah gadis itu hingga penggemarnya bahkan tidak akan mengenali wajah mereka lagi.
"Omong kosong? Benarkah?"
Sebenarnya tidak ada rekaman cctv di toilet yang bisa ia tunjukkan. Tetapi beberapa hari yang lalu, Marc menemuinya dan menyerahkan rekaman suara yang diambil dari toilet sebelah. Cukup jelas meskipun toilet itu dipisahkan oleh dinding pembatas.
Awalnya ia ingin menggunakan kekuasaan Ayahnya. Ia sudah bersiap mengaku kalah di hadapan Ayahnya, dan meminta sedikit kekuasaan ayahnya itu agar bisa ia gunakan. Tapi tiba-tiba Marc datang, membatalkan rencana Hyun Soo dan meminta bantuannya karena pria itu akan pergi ke Paris dalam waktu dekat.
Marc juga mempercayai Hyun Soo untuk menjaga Alice selama dia pergi.
Anehnya, ia menyetujui. Harus ia merasa sedikit terganggu akan hal itu, karena Marc secara jelas menyatakan padanya kalau Alice adalah milik pria itu.
Satu hal yang menjadi tanda tanya untuknya saat ini. Apa Marc tahu kalau ia menyukai Alice juga?
__ADS_1
"Apa yang kau inginkan?" tanya gadis yang lain, kali yang berambut pendek, dengan suara tertahan. "Kau ingin mengancam kami dengan itu?"
Hyun Soo mengangkat jari telunjuknya, kemudian menggoyangkan jari itu ke kiri dan ke kanan. "Bukan. Bukan itu," sahutnya masih dengan senyum menusuk. "Aku hanya ingin kalian meminta maaf dan tidak mengganggunya lagi."
"Cih, yang benar saja."
"Meminta maaf? Aku tidak akan melakukannya."
"Dia sudah gila."
"Kenapa kau membelanya? Memangnya kau siapa?"
Mereka secara terang-terangan memprotes dan menghujat dirinya. Tapi tidak apa-apa. Karena ada yang bertanya siapa dirinya, ia akan memberitahu mereka sekarang juga.
Hyun Soo tersenyum, masih dengan sorot mata elang menatap mereka semua sebelum menarik napas untuk mengatakan hal paling berat yang memang begitulah kenyataannya.
"Kim Hyun Soo. Anaknya Mister Kim."
"Hyun Jo, disini!"
Marc yang sudah berdiri di ambang pintu, langsung menghampiri meja di mana seorang pria melambai ke arahnya.
Sutradara dan beberapa kru yang sudah ia kenal duduk di sana, menikmati makan malam mereka. Syuting yang dijadwalkan seminggu ternyata selesai lebih cepat. Mereka hanya butuh empat hari untuk menyelesaikan syuting itu dan besok sudah bisa kembali ke Seoul.
Mereka berpikir awalnya akan banyak kendala dan beberapa adegan yang ditake berkali-kali. Tapi ternyata tidak. Sutradara cukup puas dengan akting artis pendatang baru kali ini.
"Ini Marc, makan yang banyak," sang sutradara menyumpit daging dan meletakkannya di piring Marc, lalu melanjutkan makan.
"Ah, terima kasih."
"Kau juga sudah bekerja keras di belakang kamera. Bagus sekali Marc. Aku senang kau menyetujui peranmu dan ikut membantuku disini."
Marc tersenyum sambil mengunyah makanannya. Ia menelan makanan terlebih dahulu sebelum memberi tanggapan. "Aku senang bisa membantu. Lagi pula sudah lama tidak kembali ke dunia akting, rasanya aku butuh belajar lagi."
__ADS_1
Marc menuang bir ke gelas sutradara, mereka semua dalam satu meja bersulang, namun tiba-tiba sang kameramen berseru.
"Wahh, Nana benar-benar datang kemari. Apa dia baru saja tiba di Paris?"
Sang sutradara mengibaskan tangan tanda tidak membenarkan. "Sudah beberapa hari yang lalu. Tapi dia memilih hari ini untuk bertemu kita."
"Siapa dia?" celetuk Marc pura-pura belum bertemu Nana.
Siapa sebenarnya Nana? Kenapa mereka mengenal gadis berbisa itu? Dari ucapan mereka seolah mereka sudah mengenalnya sejak lama. Apa selama ini hanya Marc yang tidak mengetahui siapa gadis itu? Atau ini karena efek ia sempat vakum sebentar dari dunia hiburan?
"Dia sponsor terbesar kita. Lebih tepatnya, ayahnya. Hanya saja Nana yang melaksakan di lapangan," jawab sang sutradara tepat sebelum Nana bergabung dengan mereka.
"Apa aku datang terlambat?"
"Tidak. Kami juga baru saja mulai," jawab kru yang lain dengan senyuman lebar. Sepertinya mereka semua tertarik pada ular berbisa yang satu ini.
Im Nana menyelipkan helaian rambutnya ke telinga. "Benarkah? Biar aku tuang minumannya."
Mereka semua kembali bercanda tawa dan menanyakan beberapa hal kepada Nana. Tapi dalam kesempatan itu, Marc bisa melihat Nana terus menerus mencuri pandangan untuk meliriknya.
"Wah ternyata idola legendaris juga datang kemari. Apa aku boleh duduk di sampingnya?"
Gadis itu menoleh penuh harap dengan senyum menawan dan kerlingan mata memohon pada sang sutradara yang duduk di samping Marc. Sang sutradara langsung mengerti dan beranjak dari duduknya untuk bertukar posisi dengan Marc.
Astaga. Dia benar-benar gadis licik penuh muslihat. Ia tentu tidak boleh lengah saat ada gadis ini di sampingnya. Tentu saja, ia akan membalas kalau Im Nana berani mengusiknya di depan semua kru saat ini.
"Bersulanggg!" seru gadis itu mengangkat gelas.
Marc tidak ikut mengangkat gelasnya, ia langsung menenggak habis terlebih dahulu tanpa memperdulikan kelakuan gadis itu, yang kini bahkan Nana menoleh padanya.
"Oh, ya, aku akan mengirim video singkat pada ayah, dan menunjukkan padanya kalau kita sudah bertemu."
Nana mengeluarkan kameranya, namun setelah itu Marc tidak memperhatikan lagi. Ia buru-buru beranjak untuk pergi ke toilet dan menghirup udara di luar. Duduk berdampingan dengan Nana hanya membuat emosinya naik dan moodnya turun drastis.
__ADS_1