
Sudah beberapa menit berlalu sejak ia duduk di kursi bar bersama gadis penguntit ini. Gadis dengan rambut gelap, mengenakan kacamata hitam yang menutupi hampir separuh wajahnya, wangi parfum menyengat, pakaian minim yang mencetak jelas lekuk tubuhnya beserta warna lipstik menyala.
Dia terlihat modis dan mencolok. Tapi sayang sekali bukan tipe Marc.
Ia tidak bisa melihat wajah gadis itu dengan jelas, ditambah otaknya berpikir sedikit lebih lambat dari biasanya. Tapi sekilas tadi, ketika ia menatap mata gadis itu, ada yang mengusik benaknya. Ia seperti pernah melihat tatapan itu entah dimana.
Mereka masih diam meskipun duduk berdampingan. Marc menikmati minumannya dan tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Ia tentu tidak boleh minum banyak malam ini mengingat besok pagi harus syuting.
"Apa kau tidak ingin menanyakan apapun padaku?"
Marc tidak menggubris. Hanya terkekeh pelan dengan senyum miring tercetak di wajahnya.
"Ternyata kau tidak penurut seperti yang mereka katakan."
Mereka siapa? Orang tuanya?
Di mana orang tuanya bertemu dengan ular berbisa ini?
Ia memang belum mengenal wanita ini dengan baik, tapi biasanya ia jarang salah menilai seseorang. Lagi pula ia tidak pernah tertarik dengan wanita agresif. Ia lebih suka wanita yang menantang seperti Alice dan menggemaskan di saat bersamaan.
Astaga. Sepertinya ia memang merindukan gadis itu.
"Biar kuberitahu kau, Marc Hyun Jo. Kita ini memang ditakdirkan bersama. Aku sudah lama menyukaimu kemudian orang tuamu menginginkan-ku menjadi tunanganmu, dan bukankah kita sudah pernah bertemu? Tapi kau selalu kabur dariku."
"Oh, ya?" balas Marc sebelum menuang minumannya lagi.
"Apa kau tidak ingat?"
Dia menyentuh lengan Marc, yang membuat pria itu menoleh dengan terpaksa. Dan saat itu lah Marc mematung. Saat gadis itu melepaskan kacamatanya dan tersenyum penuh arti menampilkan deretan giginya yang rapi.
"Sudah ingat?" tanyanya riang. "Kau tidak perlu terpana begitu," lanjutnya diikuti kerlingan mata penuh muslihat.
Senyum Marc melebar kemudian ia tertawa. Terpana? Yang benar saja! Justru ia ingin lari secepat mungkin kembali ke kamar hotelnya.
Percaya diri sekali.
__ADS_1
"Jadi kau yang selama ini mengikutiku kemana pun aku pergi?"
Sekarang ia ingat wajah wanita gila itu. Yang mengikuti kemana pun ia pergi, yang muncul di event-event tertentu bersamanya, yang mengejar-ngejar Alice seperti buronan.
Wanita begini yang dijadikan tunangannya? Tidak ada yang lebih buruk dari ini?
"Tepat. Tapi kenapa kau selalu kabur dariku, Marc?"
Tidak hanya memegang lengannya, kini tangan wanita itu sudah turun menggapai tangannya dan menggenggam pelan. "Aku menyukaimu. Apa kau tidak bisa melihat seberapa besar usahaku?"
Marc menunduk, senyum miring tercetak di bibirnya. "Nuna tahu artinya itu?"
"Hhmm? Arti apa?"
"Apa Nuna tahu siapa yang sedang Nuna sukai ini?"
"Marc Hyun Jo-"
Marc meraih tangan gadis itu yang masih berada di atas tangannya, dengan cepat beranjak dari kursinya dan membalikkan posisi hingga gadis itu membentur pembatas meja dengan kedua tangan menyatu di tangan kiri Marc.
"Lalu apa yang akan kudapatkan dari Nuna? Sentuhan mendamba dan menggoda di kulitku? Apa Nuna tau seberapa besar gairahku?" tanyanya tajam dengan lengkungan mata setengah tersenyum.
Im Nana, entah siapapun namanya itu, membuat darahnya mendidih sampai ke ubun-ubun. Ia sudah cukup sabar dari tadi, tapi gadis ini tidak mengerti.
"Nuna tahu benar cara menyentuh orang tanpa permisi."
Marc mengeratkan genggamannya sampai wajah gadis itu mengernyit menahan sakit. Kemudian Marc mendekatkan wajahnya dan membisikkan sesuatu tepat di telinga gadis itu.
"Apa Nuna bersedia melayani-ku di sini, sekarang? Kalau tidak siap, jangan menyentuhku sembarangan. Atau Nuna akan menyesal mengetahui service seperti apa yang kuinginkan. Mengerti?"
Setelahnya Marc mencampakkan tangan gadis itu sampai terlepas. Dia tentu memekik kesakitan dan mengumpat pelan sebelum menatap Marc dengan menyala dan penuh dendam.
Ia tidak peduli. Sudah ia katakan kalau ia akan bersikap kasar pada gadis manapun jika diperlukan. Sepertinya wanita gila ini tidak jera mengejarnya dari dulu. Entah apa yang ia inginkan.
Apa dia hanya menginginkan tubuh Marc atau dia memang benar menyukai setulus hati. Tapi sepertinya sikap gadis itu yang seperti ini tidak bisa dikatakan menyukai setulus hati. Dia hanya terobsesi dan menginginkan lebih bagaimana pun caranya.
Setelah melangkah lebar-lebar meninggalkan bar, baru lah Marc bisa bernapas lega. Ia menghembuskan napas, menikmati kota Paris yang masih terang benderang malam ini.
__ADS_1
Seakan teringat sesuatu akhirnya Marc merogoh saku coatnya dan mengeluarkan ponsel.
••••
Alice mengerutkan alis sebelum mengerang pelan. Ia terlalu berat membuka mata di pagi buta begini. Siapa yang meneleponnya di jam yang tidak normal ini?
Masih dengan mata terpejam, tangannya meraba sisi yang lain tempat tidur, lalu berhasil menyentuh ponselnya. Seolah sudah hapal, ia menekan ikon hijau tanpa melihat.
"Ha..lo.." jawabnya dengan suara parau.
"Pagi, princess. Di sini masih malam."
Apa? Sepertinya ia tidak menyewa jasa pemberi kabar waktu pagi siang dan malam.
"Apa kabar, kekasihku?"
Tepat pada saat itu Alice berhasil membuka matanya. Seluruh neuron sensorik dan motoriknya langsung bekerja. Dan tanpa bisa ia cegah, senyumnya mengembang begitu saja.
"Kalau kukatakan aku sedang merindukanmu, apa kau akan langsung terbang kemari?"
"Hhmm," jawab Marc lalu tertawa kecil. "Aku ingin meneleponmu lebih cepat. Tapi pekerjaanku banyak sekali tadi. Omong-omong, kau masih ingat wanita yang kita temui di Amerika itu?"
Menyadari arah perubahan topik pembicaraan secara tiba-tiba dan pembahasan yang jauh dari perkiraannya, membuat Alice terdiam sejenak sebelum membenarkan.
"Tentu. Kenapa? Ada masalah?"
Hening sejenak. Sepertinya Marc sedang berpikir di sana, sampai Alice memanggil namanya baru lah Marc menjawab dengan tergagap.
"Oh? Ah.. t-tidak apa-apa."
Mungkin sebaiknya ia tidak usah memberitahu gadis itu sekarang. Bukan masalah besar. Ia bisa mengatasinya sendiri.
"Hanya.. tiba-tiba teringat saja. Oh, ya, princess."
"Hmm?"
"Aku juga merindukanmu."
__ADS_1