
Saat ini ia sedang berusaha untuk tidak mengerutkan dahi dan memancarkan tatapan tidak suka. Alice menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Tidak salah lagi. Dia memang Im Nana.
Gadis bertubuh molek dengan lekukan sempurna itu, yang sekarang dibalut pakaian yang mencetak bentuk tubuhnya, adalah mantan tunangan Marc. Setidaknya begitu cerita yang diakui Im Nana.
Padahal Marc sudah berusaha keras menolaknya. Atau lebih tepatnya, sudah berkata kasar agar wanita itu paham. Karena sepertinya kepala batu gadis itu tidak bisa menerima ucapan baik-baik.
"Lama tidak berjumpa!"
Baiklah, Alice. Kau harus mengerahkan seluruh kemampuan aktingmu saat berhadapan dengan iblis betina satu ini. Ia harus bisa memainkan peran malaikat di depan dan setan di belakang. Karena sepertinya Im Nana bukan lawan yang mudah.
Suaranya yang terdengar dibuat ceria itu, benar-benar berhasil menyulut darahnya. Ditambah senyuman yang terukir di bibirnya, tidak akan membuat Alice tertipu. Apa pun yang keluar dari mulutnya, pasti suatu kebohongan.
"Yo," sahut Marc dengan kedua tangan dimasukkan dalam saku celana.
Dia melewati Nana begitu saja meski sudah melihat wanita itu berjalan ke arah mereka. Sebelah tangan Marc keluar dan menarik tangan Alice menuju meja terdekat.
Sepertinya Im Nana tidak suka dengan perlakuan Marc yang seperti itu. Karena pada detik berikutnya gadis itu menarik sebelah kursi Marc yang kosong dan mendudukkan dirinya di sana. Membuat Alice yang ada di seberang meja, terperanjat.
"Begini ya, Marc Hyun Jo sang idola legendaris," mulainya dengan tubuh menyamping dan tangan kanan menopang sebelah pipi. Tatapan mata Nana menusuk ke arah Marc.
Entah karena Marc sedang menahan emosinya atau memang dia setenang itu, yang pasti Marc tidak terlihat terusik dan mengabaikan Nana untuk beberapa detik.
Dia justru memanggil pelayan, menyebutkan pesananannya, lalu menoleh ke arah Alice, "Princess mau pesan apa?"
"Ah?"
Saat itu lah Alice tersadar dari lamunannya. Ia mengangkat wajah dan bergumam, "Sama saja denganmu."
"He? Apa-apaan itu?" gerutu Nana kali ini tertuju pada Alice. "Kau mau berlagak kalau kalian mempunyai selera yang sama di hadapanku?"
Alice sudah bersiap-siap akan membalasnya, namun Marc berkata lebih dahulu.
"Kalau, ya, kenapa?"
Wajah Nana sudah sedikit memerah. "Kau apa tidak bisa baik padaku sedikit?!"
__ADS_1
"Kau gila?" Marc tidak menoleh.
Ia bersandar pada kursinya dan melipat tangan. Ia pikir kencan hari ini akan berjalan lancar, tapi dimana pun pasti selalu ada pengganggu. Rasa kesalnya sudah memuncak kalau ia tidak menekannya ke titik paling rendah.
"Apa alasanku bersikap baik padamu?"
"Oh, begitu," Nana menaikkan sebelah alisnya. Aura gadis itu terkesan mencekam dan tatapannya mematikan. Ia seolah ingin menerkam Marc hidup-hidup. "Kau tidak takut aku mengadukanmu? Atau menggulingkan popularitasmu?"
Lagi-lagi Marc menghembuskan napas. Kali ini matanya terpejam namun ia berkata dengan tegas di setiap kata.
"Jangan mengusikku, Im Nana."
"Atau apa, Marc?" tantangnya.
Senyum miring Marc tercetak. Meski pria itu menunduk dengan mata terpejam, tapi Alice bisa melihat wajah Marc yang mengerikan.
"Kau mungkin lupa atau benar-benar tidak tahu siapa diriku?" desisnya. "Apa karena ayahmu sebagai sponsor kau sudah merasa tinggi? Sayang sekali, Im Nana."
Marc kemudian menoleh dan menatap lurus manik gadis itu dengan pupil mata yang mengecil. Rasa takut menghampirinya mulai dari ujung kaki sampai ujung tangannya terasa dingin.
"Keluarga Jo bisa membuat keluargamu tidak baik-baik saja hanya dalam tiga hari. Kau sudah siap untuk susah seumur hidup?"
Selama ini tidak banyak orang yang tahu kalau Marc berasal dari keluarga sekaya itu. Sejak dulu secara turun-temurun mulai dari barisan kakek-kakeknya adalah konglomerat.
Ayah Marc saja yang tidak ingin berkecimpung dalam dunia itu dan lebih memberikannya pada saudaranya yang lain. Tapi bukan berarti mereka tidak berusaha membuat Marc agar terjun ke dunia itu juga. Ia hanya tidak ingin karena tidak tertarik.
Nana menelan salivanya dengan susah payah lalu berdecih. Sebelum akhirnya ia beranjak dari kursinya dan berbalik pergi.
"Apa tidak apa-apa?" tanya Alice dengan khawatir. Sepertinya Marc sudah membuat gadis itu merasa kalah dan malu sekali.
Marc tidak langsung menjawab karena pesanan mereka datang. Ia bahkan tidak ingin mengancam Nana semacam itu. Tapi ia sangat kesal. Kenapa Nana selalu hadir dan seperti mengklaim bahwa ia adalah milik gadis itu?
Apa yang membuat gadis itu sangat percaya diri? Dia pikir Marc akan luluh lantak hanya karena dia punya body yang menggiurkan? Hanya sebatas itu?
"Tidak perlu cemas. Kau tahu sendiri tipe gadis seperti apa Im Nana."
__ADS_1
"Tapi.. apa tidak terlalu kejam? Dia terlihat ketakutan sekali."
Marc tidak bersungguh-sungguh akan melakukannya sekarang. Ia akan memberi gadis itu hukuman jika dia sudah kelewat batas. Atau kalau dia berani menyentuh Alice seujung kuku saja.
"Kau mencemaskan lawanmu sendiri?" tanya Marc balik dengan alis terangkat heran.
Alice menggigit bibir bawahnya lalu mengangkat bahu sebagai jawaban. Ia bukan mencemaskan Nana. Hanya sepertinya ia bisa mengerti apa yang gadis itu rasakan. Mungkin ia tidak terlalu membenci gadis itu.
"Omong-omong, kenapa kau tidak jadi menungguku hari ini? Bukankah kau bilang akan datang ke agensi dan menungguku selesai?"
Ia mengaduk-ngaduk minumannya dengan gerakan lambat. "Itu.. aku ketiduran. Sepertinya aku terlalu lama memilih baju dan berdandan."
Marc terkekeh pelan. "Bukankah aku sudah pernah bilang pada kencan kita sebelumnya? Kau tidak perlu berdandan layaknya tuan puteri, karena kau memang secantik itu, Alice."
Ya, ia ingat itu. Dan ucapan Marc saat ini berhasil membuat semburat merah di pipinya. Rasanya sudah lama sekali kejadian saat mereka berkencan dulu.
"Apa semua gadis seperti itu?"
"Seperti itu bagaimana?"
"Berusaha tampil cantik saat kencan?"
Ia menyeruput minumannya sekilas sebelum menjawab. "Kurasa, ya. Tapi tidak hanya saat kencan. Semua gadis pasti ingin tampil cantik."
Marc diam sejenak, lalu meletakkan sumpitnya. Ia menatap lurus ke arah Alice dan bisa melihat pantulan dirinya sendiri di manik kecoklatan gadis itu.
"Kalau aku memintamu hanya berdandan untukku saja, boleh tidak?"
"A-apa?"
"Maksudku, kau hanya boleh tampil sangat cantik kalau pergi bersamaku saja. Hanya untukku. Apa boleh?"
Ia yakin ada yang meledak-ledak di kepalanya sampai merasa tidak bisa berpikir dengan normal. Apa Marc sudah gila? Kenapa tiba-tiba meminta seperti itu?
"Terserah kau saja," sahutnya dengan pipi merona.
__ADS_1