Legendary Idol In Love

Legendary Idol In Love
Part 30 [She is Cute]


__ADS_3

"Apa yang kalian lakukan?!"


Marc berbalik. Ia menemukan wajah managernya memerah di sana. Belum sempat Marc menjawab, suara lain terdengar dari balik punggung manager.


"Kenapa kau berteriak begitu?"


Hah! Ya Tuhan!


Alice buru-buru bersembunyi di balik punggung Marc begitu mengenali suara ibunya. Ia merapikan tatanan rambut beserta pakaiannya, kemudian mengintip dengan cemas dari balik punggung pria itu.


"Oh? Alice? Sedang apa di situ?"


Suara ibunya terdengar lagi. Sepertinya memang tidak ada waktu baginya untuk lari dan tiada tempat untuk bersembunyi.


Tunggu. Kenapa pula ia harus merahasiakan hubungannya dengan Marc?


"I-ibu? Itu.."


"Alice mengajakku minum bersama, eommonim," Marc menjawab lebih dulu dengan mengerahkan seluruh pesona mematikannya itu.


Dia berjalan ke arah pintu sambil mengacing kemejanya dengan benar. Tidak lupa memasang senyum memikat yang bisa meluluhkan hati ibu-ibu sekalipun.


Marc meraih tangan ibunya, membawanya ke bibir pria itu dan mengecupnya singkat. "Senang bertemu dengan Anda, eommonim. Saya Marc Hyun Jo. Apa saya boleh minum dengan putri Anda malam ini, eommonim?"


Demi seluruh dewa-dewa Yunani yang maha tampan beserta kekuatannya, apa yang sedang Marc lakukan?!


Isi kepala Alice sudah pasti mencak-mencak tidak karuan saat ini. Ia buntu, tidak bisa berpikir. Setelah ini pasti manager dan ibunya akan melemparkan segala macam bom pertanyaan bertubi-tubi hingga rasanya ia ingin bumi menelannya saja.


Manager dan Alice masih terpaku di tempat dengan bibir sedikit terbuka. Mereka terlalu terkejut dengan sikap Marc yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.


Ibunya tersipu malu, lalu sambil memegang lengan Marc, dia berkata, "Ah, jadi ini Marc Hyun Jo idola legendaris itu? Ternyata kau dengan putriku berteman dekat ya?" Ibunya tersenyum lebar kepada Marc dan menatap pria itu dengan hangat.


Apa ibu tanpa sepengetahuannya, merupakan penggemar Marc?


Marc balas tersenyum dengan raut wajah tersipu malu. Tapi tentu saja Alice tidak akan tertipu. Pria itu hanya berakting sedikit, untuk mencairkan suasana. Karena sepertinya ibu tidak melihat adegan mereka barusan selain manager.


"Tentu saja kalian harus merayakan sedikit keberhasilan konser hari ini. Ya ampun, kau benar-benar pria tampan dan sopan, Hyun Jo. Bukankah begitu, manager?"


Jangan memujinya berlebihan, ibu. Dia itu human di depan, devil di belakang. Pasti saat ini jiwa devilnya sudah bersorak penuh kemenangan karena berhasil menarik hati ibu.


Leher Marc berputar sedikit ke arah Alice, lalu ia mengedipkan mata padanya dengan penuh arti.

__ADS_1


Lihat, kan? Dia itu... benar-benar!


Ia tidak tahu bagaimana akan menghadapi semua ini ke depannya. Tapi mungkin ia bisa menjelaskan pelan-pelan pada ibu. Meskipun sebenarnya ia tidak yakin apakah hubungannya dengan Marc memang seserius itu, atau hanya... entahlah.


Apa terlalu cepat jika ia mengatakan pada ibu tentang hubungan yang sedang ia jalin bersama Marc? Atau ia perlu memastikan seberapa dalam perasaan Marc padanya terlebih dahulu?


Semakin dipikirkan semakin bikin pusing saja. Omong-omong, ia juga belum tahu banyak tentang Marc selain beberapa bagian dari masa lalu pria itu.


"Aku akan mengantar ibumu pulang. Jangan khawatir."


Alice, Hyun Soo, beserta ibunya sudah berdiri di lobi menunggu mobil menjemput mereka. Sedangkan Marc ditahan oleh manager untuk diinterogasi.


"Tolong ya, Hyun Soo."


Pria itu mengangkat bahu. "Tetangga harus saling membantu, bukan?"


Ya, benar. Hyun Soo adalah tetangganya. Mereka tinggal di gedung apartemen yang sama dan floor yang sama pula. Apartemen Alice berada di ujung koridor, sedangkan apartemen Hyun Soo berada di ujung koridor yang satunya.


"Aku mungkin akan pulang terlambat jadi ibu tidur saja duluan dan jangan menungguku."


"Iya, ibu mengerti. Putri ibu sudah besar sekarang. Lain waktu ajak Hyun Jo makan malam dengan kita, ya."


••••


Sebenarnya mereka hanya akan makan malam dan minum soju sedikit sebelum pulang. Para staff sudah bekerja keras untuk mensukseskan konser hari ini, dan Marc sedang bermurah hati ingin mentraktir semuanya. Padahal tadi Alice hanya mengajak Marc untuk minum berdua saja.


"Bersulaaaanggg!" Yu Ra mengangkat gelasnya dan berseru penuh semangat. Wanita itu selalu ceria dan menebar aura positif berada di dekatnya.


Marc duduk tepat di depan Alice, sedang bertopang dagu dan menatapnya sambil tersenyum.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? That's embarrassing," ucapnya dengan rona merah di pipi. Ia tahu bukan waktunya untuk blushing di saat seperti ini, terlebih lagi di hadapan banyak orang.


Blush. Blush. Blush.


Ia berusaha mengabaikan Marc dengan menenggak habis sojunya. Ia juga makan dengan lahap, menenggak sojunya lagi, dan melakukan cheers berkali-kali dengan Yu Ra. Baru ia ketahui kalau wanita itu ternyata kuat minum.


Saat Alice mengangkat gelasnya lagi, Marc menghentikannya.


"Cukup. Tidak boleh minum lagi."


"Hey, Marc. Kau.. ah! Berikan padakuuu! Aku.. tidak mabuk. Haha, cepat berikan!"

__ADS_1


Marc berdecak. Ia bangkit dari kursinya ketika Alice sudah meracau dan mengucapkan serentet kata yang tidak ada ujung pangkal. Sampai akhirnya kepala gadis itu tertunduk dan terjatuh di atas meja dengan tidak berdaya.


"Aku akan mengantarnya pulang."


••••


Tentu saja Marc tidak mengantar Alice ke apartemen gadis itu dalam kondisi mabuk seperti ini dan di jam tidak normal, sudah lewat tengah malam.


Mereka baru tiba di apartemen Marc, Alice sudah berlari-lari ke kamar mandi untuk muntah, tentu saja.


Marc menggendong Alice ke ranjangnya dan menyelimuti gadis itu, tapi tetap saja Alice meracau tidak jelas.


"Haahh, bagaimana ini? Kau pasti akan marah padaku besok pagi dan tidak mendengarku. Jadi yah, baiklah. Aku akan menunjukkan bukti besok pagi," Marc meraih ponselnya kemudian menyalakan kamera.


"Princess, apa kau mabuk?"


"Iyaaa! Aku mabuk!" jawab Alice penuh semangat dengan wajah memerah dan tidak sadar sepenuhnya.


"Princess, aku akan memotretmu"


"Baiklah! Potret akuuu~"


"Princess, you are cute."


"Terimakasiiihh!"


Kemudian Alice mulai memejamkan matanya, namun sesekali masih berusaha untuk menatap wajah Marc. Pria itu duduk di sisi ranjang, mengusap kepala Alice.


"Marc..Hyun.. Jo."


"Hmm?"


Alice menarik bajunya, membuat Marc mencondongkan tubuh hingga wajah mereka berdekatan. Tapi kemudian Alice menariknya lagi, sampai bibir gadis itu menempel di pipi Marc.


"Good..night, Marc."


"Jangan bersikap manis di depanku Alice, atau aku tidak akan sanggup menahan diri lagi," gumamnya.


Tentu saja Alice tidak mendengar karena setelah itu dia memejamkan mata dan melepaskan cengkeramannya pada baju Marc. Dan sebaiknya ia juga jangan berlama-lama di dalam kamar ini, kalau tidak mau pertahanan dirinya runtuh.


Astaga. Park Hyo Alice benar-benar membahayakan debar jantungnya.

__ADS_1


__ADS_2