
Flashback on
Marc menumpukan dua siku pada pembatas balkon. Ia membiarkan rambutnya ditiup angin, membiarkan udara malam menggelitik kulitnya hingga ujung hidungnya terasa dingin. Ia lebih baik menghirup udara segar dari pada berlama-lama duduk di sana.
Ia tidak berniat membenci Im Nana, tapi sepertinya wanita itu membiarkan dirinya secara sukarela untuk dibenci orang lain. Ia lebih baik beradu tinju dengan sesama lelaki, dari pada berhadapan dengan gadis ular berbisa.
Bukan ia tidak bisa membuat gadis itu pergi jauh-jauh dari sisinya. Ia hanya ingin menjaga reputasi, menjaga Alice agar terhindar dari rumor buruk yang berkaitan dengan dirinya. Ia tidak suka jika media memasukkan asumsi yang tidak-tidak.
"Jadi kau disini."
Tanpa menoleh pun, ia sudah tahu siapa pemilik suara itu.
Marc hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menghembuskan napas, sama sekali tidak ingin menoleh lalu meladeni omongan gadis itu.
"Menyebalkan sekali. Aku kan tunanganmu."
Suaranya terdengar semakin dekat diikuti ketukan tapak sepatu. Ia tahu sekarang gadis itu sudah berdiri di sisi lain ujung balkon.
Marc melirik sekilas melalui sudut matanya. Ia terlalu lelah menanggapi kata tunangan yang begitu mulus keluar dari bibir wanita di sampingnya.
Ia harus pakai cara kasar apa agar gadis berkepala batu ini mengerti? Andaikan saja memukul perempuan bukan hal yang memalukan, ia sudah melakukannya sejak awal.
"Kau mendadak bisu?"
Marc berdecak. Ia mengubah posisi berdirinya menjadi sedikit menyamping. "Kau tidak punya kerjaan selain mengikutiku?"
"Aku kan tunanganmu!"
"Sejak kapan aku bertunangan denganmu?" tanyanya setelah tersenyum meremehkan.
Wajah gadis itu terlihat kesal. Dia mencibir sebelum menjawab Marc.
"Bukankah sudah jelas? Orang tua-ku dan orang tua-mu, menjodohkan kita. Mereka mengatakan mulai sekarang aku adalah tunanganmu," ucapnya dengan jelas diikuti nada protes.
"Ternyata kepalamu tidak hanya diisi dengan batu tapi juga dengan sampah."
"Apa?!"
Percaya lah teriakan gadis itu terasa seperti menerjang gendang telinganya, sampai Marc harus menutup kedua telinganya. "Aku hanya akan mengatakannya sekali jadi dengarkan baik-baik."
Gadis itu tidak mundur sedikit pun ketika Marc perlahan bergerak maju mengikis jarak di antara mereka.
"Aku bukan tunanganmu. Kalau masalah orang tua, aku akan mengatakan pada mereka. Bagaimana bisa kalian menentukan tunangan tanpa membicarakan denganku terlebih dahulu?"
__ADS_1
Itu kalimat paling panjang yang pernah ia lontarkan pada Nana. Sampai mata gadis itu membesar. "Apa kau sudah punya orang lain yang kausukai?"
Marc mengedikkan bahu. "Sebenarnya itu bukan lah urusanmu. Tapi, ya, punya."
Marc mencondongkan tubuhnya, lalu memberi tatapan mematikan pada Nana diikuti bibirnya yang membentuk seulas senyum miring. "Jadi berhenti lah mengikutiku."
"Begitu."
Gerakannya yang sudah berbalik hendak pergi, terhenti.
"Seharusnya kau tidak kabur sejak awal, agar aku bisa tahu-"
"Kau pikir sikapmu itu benar?" ada nada tidak suka dalam suara Marc. "Siapa yang tidak kabur kalau dikuntit seperti itu. Seharusnya sejak awal kau mendatangiku dan mengatakan dengan jelas tujuanmu."
"Aku-"
"Diam lah," ia merendahkan suaranya namun memberi penekanan dalam setiap kata. "Jangan berbicara denganku lagi."
Lalu kakinya berjalan menjauh dari tempat gadis itu berdiri.
Flashback Off
***
Yu Ra menggeser kursinya mendekati Alice yang sedang berada di ruang ganti. "Kau akan menikah dengan Marc?"
Alice mengangkat kedua alisnya, kedua tangan gadis itu otomatis terangkat ketika Yu Ra mulai mencondongkan tubuhnya dari kursi.
"Dari mana asal rumor yang kudengar itu?" tanya Yu Ra mengintimidasi dengan mata disipitkan. Padahal tanpa disipitkan pun, mata gadis itu sudah segaris sejak lahir.
"Hei anak baru, apa kau juga mendengar rumor itu?"
Yu Ra berkata lagi saat tatapannya tidak sengaja bertemu dengan gadis bertubuh kecil. Sepertinya Alice baru pertama kali melihatnya.
"Ah? B-belum."
Kemudian Yu Ra kembali melirik Alice dengan tatapan curiga. "Kalian ini tidak perlu malu-malu. Aku tahu Marc pasti menyukaimu. Selama aku bekerja disini, dia belum pernah mendekati gadis mana pun. Meski tentu saja terkadang dirumorkan sedang menjalin hubungan dengan lawan mainnya."
"Apa di media tertulis seperti itu?"
Yu Ra tidak langsung menjawab. Ia meraih ponselnya yang berada di atas meja, membuka salah satu laman berita sebelum menunjukkannya pada Alice.
"Marc tidak membantah saat ditanyai di acara variety show. Dia hanya tersenyum malu. Membuat semua orang berpikir-"
__ADS_1
"Apa kau juga berpikir begitu?" selanya cepat sebelum Yu Ra menuntaskan kalimatnya.
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka, serta aroma parfum yang langsung menyeruak dan menarik perhatian orang di dalam.
"Baru saja dibicarakan, pangeranmu langsung datang."
Ia akan memprotes ucapan pangeranmu itu nanti. Sekarang ia tidak bisa berpikir dengan jernih dan bibirnya mendadak kelu begitu melihat Marc berdiri di ambang pintu dengan ponsel terapit di antara bahu dan telinga.
"Princess, apa kau sibuk?" tanya Marc masih belum melepas ponselnya.
Alice buru-buru beranjak. "Kenapa? Ada yang bisa kubantu?"
Marc menjauhkan ponsel dari telinganya, menutup dengan salah satu telapak tangan lalu menunduk agar bisa berbisik pada Alice.
"Ibuku baru tiba hari ini. Dia ingin bertemu denganmu."
Marc tidak akan bertanya dari mana ibunya tahu tentang Alice. Berita tentang mereka berdua sudah tersebar hampir di seluruh media. Tapi bukan itu yang menarik minat ibunya. Tapi Marc yakin, Im Nana sudah mengatakan sesuatu pada keluarganya.
"Apa?!" balasnya dengan berbisik juga.
Marc menjauhkan wajahnya dari Alice dan kembali berbicara di ponsel. Tidak lama setelah itu sambungan telepon mereka selesai.
"Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba ibumu ingin bertemu denganku?"
"Akan kuceritakan nanti."
Marc berjalan mendekati kursi yang tadi diduduki Alice. Meraih tas gadis itu beserta ponselnya sebelum kemudian menarik tangan Alice meninggalkan ruangan.
Mereka tidak menyadari kalau sedari tadi orang-orang yang ada di dalam ruangan menyaksikan mereka dengan diam, saling bertukar pandangan seolah bisa membaca pikiran masing-masing. Satu kata yang membuat mereka meyakinkan sesuatu. 'Princess?'
***
"Jadi dia dari awal memang mengejarmu? Bukan karena.. kupikir dia.. sudah kehilangan akal sehat."
Alice memandang lurus ke depan begitu juga dengan Marc yang berkonsentrasi menyetir setelah menceritakan garis besarnya pada Alice.
"Orang tua kami saling kenal. Itu sebabnya dia bisa mengikutiku seperti itu. Tidak heran kalau dia tahu kemana aku pergi."
"Tapi, bukankah orang tuamu tidak tinggal di Korea? Apa mereka selalu mengawasimu?"
Marc menggeleng. "Manager. Mereka pasti menelepon pria itu demi mengetahui kabarku atau apa kegiatanku."
Alice mengangguk pelan dengan tatapan menerawang. Bagaimana ini? Apa yang harus ia lakukan saat bertemu nanti? Apa yang harus ia katakan? Apa ini sudah waktunya?
__ADS_1
"Tidak perlu khawatir. Kau hanya perlu menjawab yang sejujurnya nanti," ucapnya menggenggam tangan Alice.