Legendary Idol In Love

Legendary Idol In Love
Part 49 [Heartfelt]


__ADS_3

"Kerja bagus. Sampai besok semuanya," Marc meraih tasnya dan melambai.


Para staf dan juga artis di bawah naungannya membungkuk dengan senyum lebar. "Sampai besok, Mister."


Marc melonggarkan dasinya begitu berhasil menutup pintu. Ia masih menunduk namun langkahnya perlahan berhenti begitu melihat sepasang kaki dengan sepatu bertapak lima senti berdiri di hadapannya.


Ia mengangkat wajah dan bertemu pandang dengan Alice.


Gadis itu mengenakan baju putih berlengan panjang dengan rok hitam yang menempel tepat di pinggangnya sampai lutut. Mencetak jelas lekukan pinggang rampingnya dan maha seksi.


Tidak lupa, Alice juga mengenakan selendang bulu yang tersampir di kedua bahu. Dia menyunggingkan senyum kecil begitu Marc terdiam dan bertatapan.


Pada detik selanjutnya Marc ikut tersenyum, melanjutkan langkah dan meraih tangan Alice untuk ia bawa dalam genggamannya.


"Rasanya seperti kencan dulu," bisik Alice. "Aku sering menunggumu menyelesaikan pekerjaan sebelum kita pergi makan bersama. Atau terkadang kau datang ke lokasi syutingku dan menggemparkan para staff."


Marc terkekeh. Dulu ia memang sering datang ke lokasi syuting Alice meski jauh sekalipun. Terkadang membawakan makan siang untuk mereka dan terkadang mengirimkan truk coffee.


Kemudian mereka akan berlomba-lomba meledak Alice maupun Marc. Mereka akan menggoda dan tertawa karena ia dan Alice menunjukkan kedekatan. Rasanya seperti baru terjadi kemarin. Karena ia masih merasa sesenang itu sampai saat ini.


"Kenapa kau datang ke sekolah Sunny tadi? Kau tahu, aku bisa menyelesaikannya sendiri."


"Aku tahu," balas Marc. "Hanya ingin melihat putriku saja. Dia bilang ada pentas seni di sekolahnya besok. Aku akan menghadirinya."


"Pentas seni?" Alice mengulang. Ia mengerutkan dahi sedikit lalu berkata lagi, "Dia tidak memberitahukannya padaku."


Lengan Marc merangkul Alice, membuat jarang di antara mereka semakin dekat. "Mana mungkin dia memberitahu ibunya yang sedang berapi-api begitu."


"Hei!"


Marc tertawa mendengar nada protes dalam suara istrinya. Alice sudah pasti merengut lagi, tapi tentu tidak berlangsung lama karena ia tidak bisa berlarut-larut marah dengan Marc.


"Mau makan malam denganku?" tawar Marc ketika mereka memasuki pelataran parkir.


Sebenarnya setelah memiliki anak, mereka selalu merasa tidak enak jika harus makan bersama di luar berdua. Sun Hye pasti di rumah sedang menunggu dan merasa sendirian.

__ADS_1


Walau tentu saja terkadang gadis itu sedang sibuk mengerjakan tugas sekolahnya sambil menonton siaran televisi yang menayangkan sailor moon. Atau Sun Hye akan menyalakan film lain yang sengaja Marc koleksi.


"Restoran jepang?"


"Baiklah," Marc mengangkat bahu dan tersenyum. "Aku juga akan membelikan cake stroberi untuk Sunny."


Alice tersenyum lebar dan menghembuskan napas. "Tentu. Sunny menyukai yang satu itu."


***


Hyun Soo berdiri di balkon dengan memegang ponsel. Tatapan matanya bukan memandang ke bawah sana yang langsung menampilkan jalan dengan kendaraan berseliweran.


Sorot matanya jatuh pada foto-foto Krystal yang memenuhi galeri. Kalau diingat lagi, ia tidak menyangka bisa menaruh hati pada gadis berwajah dingin itu.


Meski berwajah dingin, sejak dulu ia tahu Krystal adalah gadis yang hangat. Memiliki senyum memikat dan sulit untuk membencinya walau sering menjawab singkat.


Ia paling suka kalau tatapan gadis itu terlihat panik, mengerjap dengan malu-malu dan semburat merah tercetak di sana. Dia akan menggigit bibir bawahnya dan dahi sedikit berkerut. Ciri khas istrinya sekali.


"Kenapa belum tidur?"


Sedikit merasa kedinginan, gadis itu menyilangkan lengannya dan memeluk dirinya sendiri. "Kau sedang apa?"


"Aku akan tidur sebentar lagi. Kau terbangun?"


"Hhmm. Aku tadi menunggumu dan ketiduran."


Hyun Soo melangkah lalu menarik Krystal untuk masuk ke dalam. Ia tidak akan membiarkan ibu hamil merasakan udara malam yang tidak sehat, apalagi dengan baju setipis ini.


"Kau harus tidur cepat malam ini. Besok kita akan pergi ke sekolah Sunny."


Ia mengangkat alisnya, tidak mengerti. "Kenapa?"


"Ada pentas seni. Aku ingin melihat bagaimana pentas seni anak-anak. Lagi pula Sunny sendiri yang meminta kita untuk hadir. Kau besok sibuk?"


Hyun Soo membuka lemari es dan mengambil asal minuman kaleng di sana.

__ADS_1


"Jam berapa? Aku akan menjemputmu."


"Kalau kau menjemputku akan semakin lama, Hyun Soo. Kantormu kan sangat dekat dengan sekolah Sunny. Aku akan pergi bersama ibunya Alice."


Tentu saja besok Marc dan Alice harus berangkat kerja terlebih dahulu seperti biasa. Karena di rumah hanya ada neneknya Sunny maka Krystal akan pergi bersama beliau. Baiklah, tidak apa-apa. Asalkan Krystal tidak pergi sendirian.


Hamil istrinya sudah semakin besar dan mendekati melahirkan. Ia tidak ingin terjadi apa-apa.


"Mereka menyelenggarakan apa?"


"Kudengar ada tarian balet," Krystal mengambil sepiring waffel yang disodorkan Hyun Soo padanya. Mereka duduk di meja mini bar yang terlihat remang. "Sunny akan menampilkan permainan pianonya."


"Wah! Benarkah?" tanyanya takjub. Selama ini ia hanya mendengar kalau Sun Hye les piano, tapi belum pernah benar-benar melihat permainannya.


"Hhmm. Aku tidak sabar menantikannya besok. Dia pasti sehebat ayahnya. Aku ingat sekali klip video musik yang dimainkan Marc dan Alice dulu. Aku benar-benar menyukai permainan pianonya."


Ah, masa-masa itu. Hyun Soo menunduk lalu tersenyum dengan pandangan mata menerawang. Ia ingat sekali. Waktu itu... ketika dirinya masih jatuh hati pada Alice. Ketika ia selalu menyemangati gadis itu dan tidak berani mengungkapkan perasaan.


Ketika ia sudah terlambat. Karena Marc sudah selangkah lebih maju di depannya. Kala itu ia merasa sakit dan tidak tahu harus berbuat apa. Bersaing dengan Marc juga bukan gagasan yang bagus.


Apalagi ketika ia menyaksikan sendiri bagaimana cara Park Hyo Alice menatap Marc Hyun Jo. Tatapan yang tidak akan pernah ia lihat ditujukan untuknya. Tatapan mendamba dengan senyum malu-malu.


Begitu pula sebaliknya. Ia melihat betapa keras usaha Marc untuk mendekati Alice walau awalnya hanya ingin mengganggu gadis itu.


Rasanya seperti baru terjadi kemarin. Tapi ternyata mereka sudah melewati banyak hal untuk sampai pada titik ini.


Apakah ia menyesal?


Sudah tidak lagi. Ia jauh lebih bahagia sekarang. Ayahnya juga demikian. Lega sekali karena kini keluarganya baik-baik saja.


"Jam berapa besok? Aku akan datang dan menyemangati little sun."


Itu adalah julukan yang diberikan Hyun Soo untuk Sunny. Baginya gadis kecil itu terlihat seperti matahari. Senyumnya cerah dan ceria, walau kadang-kadang punya tatapan mata tajam.


Mungkin ia sudah sangat dekat dengan Sunny seperti putrinya sendiri.

__ADS_1


"Aku akan membawakannya buket bunga dan coklat," ucap Krystal dengan senyum lebar.


__ADS_2