
Jadwal pemotretannya baru selesai beberapa menit yang lalu. Kini setelah membersihkan semua make-up yang menempel di wajahnya, setelah membereskan isi tasnya, dan setelah ini ia tidak ada jadwal apapun kecuali pulang ke rumah, Alice menyempatkan diri untuk duduk sebentar di cafe Hyun Soo.
Ia sudah berdiri di depan pintu cafe pria itu yang tertutup. Sayang sekali, hari ini juga tertera close sign di sana. Sepertinya akhir-akhir ini pria itu sibuk. Sudah beberapa hari cafenya tidak buka, dan tidak ada tertulis tanggal berapa mereka akan membukanya. Sudah beberapa hari juga ia jarang mampir kemari.
Atau lebih tepatnya, sudah lama ia tidak bertemu sapa dengan Hyun Soo. Di mana pria itu? Apa dia sudah beralih profesi?
Meskipun mereka bertetangga, ia tidak pernah melihat Hyun Soo lagi sejak hari itu. Terakhir ia bertemu Hyun Soo ketika pria itu menyatakan perasaannya di koridor apartemen. Ah, tidak. Setelah itu ia bersama Marc sempat berpapasan dengannya di depan lift.
Apa setelah itu Hyun Soo menghindarinya? Kenapa? Apa mereka tidak bisa berteman seperti biasa, seperti sebelumnya? Sebelum ia menjalin hubungan dengan Marc, dan sebelum Hyun Soo menyatakan perasaannya.
Belakangan ini aneh sekali. Rasanya menyebalkan.
Marc setelah hari itu juga tidak meneleponnya lagi. Baiklah, mungkin Marc memang sesibuk itu. Tapi.. melihat foto-foto yang diunggah salah satu kru yang bekerja dengan agensi mereka, yang juga sempat bekerja dengan Alice, membuatnya kesal.
Ia pikir Marc sesibuk itu, tetapi begitu melihat foto tersebut, sepertinya pekerjaan mereka sudah selesai sehingga bisa mengambil break sebentar. Tapi Marc juga tidak menghubunginya.
Yang membuatnya bertambah kesal adalah, adanya seorang gadis yang duduk tepat di samping Marc. Siapa gadis itu? Dilihat sekilas gadis itu tidak asing, tapi ketika ia melihat foto-foto yang lainnya, yang kebetulan ditag sehingga ia bisa melihat akun sosial media gadis itu, ia benar-benar terkejut.
Dia adalah gadis yang menyukai Marc. Gadis yang mengejar-ngejar pria itu seolah ingin memangsanya di Amerika. Gadis yang menyusahkannya juga. Jadi sampai sekarang gadis itu tetap mengejar Marc bahkan kali ini sampai ke Paris sekali pun?
Apa dia mengidap penyakit psikopat nomor wahid?
Alice bersandar pada pintu cafe. Ia ingin secangkir espresso, buatan Hyun Soo, minuman yang sering ia pesan ketika ia merasa penat. Kenapa Hyun Soo belakangan ini juga berubah menyebalkan?! Kemana semua pria itu saat ia butuhkan?!
Alice melipat kedua tangan di depan dada dan menghentakkan kaki dengan kesal.
Lihat saja kau Marc Hyun Jo! Kalau kau tidak menjelaskan apapun padaku sepulang dari sana nanti, dan kalau kau berusaha menyembunyikan apapun dariku, aku akan mencabikmu sampai-
"Alice?"
Ia dengan cepat menengadahkan wajahnya, langsung bertemu tatap dengan mata gelap yang sudah ia kenali. Tatapan mata yang hangat, yang sedari dulu ditunjukkan padanya. Dulu ia kira tatapan itu tidak berarti apa-apa. Tapi ternyata...
"Kau.. menghindariku?"
Hyun Soo mengangkat alisnya dengan heran. Pria itu maju selangkah lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Aku tidak punya alasan bersikap begitu, kan?"
"Kenapa kau menyukaiku?"
__ADS_1
Jari-jemarinya membentuk genggaman. Alice menunduk, menyembunyikan wajahnya. Entah kenapa emosinya langsung berubah.
Apa yang sudah ia katakan? Kenapa ia berkata begitu? Kenapa ia mengeluarkan isi pikirannya? Kenapa ia harus bertanya sedingin itu? Dan kenapa di saat seperti ini?! Rasanya ia ingin memaki diri sendiri.
Seolah baru tersadar dari rasa canggung yang hadir di tengah-tengah mereka, merasa adanya keheningan yang menyelimuti, akhirnya Alice buru-buru membungkuk sebelum berlari ingin meninggalkan Hyun Soo.
Tapi pria itu, lagi-lagi tidak melepaskannya dengan mudah. Dia menangkap sebelah tangan Alice, dan menggenggamnya, sampai langkah kaki gadis itu terhenti.
"Aku tidak menghindarimu meskipun aku ingin," ucap Hyun Soo tanpa membalikkan tubuh. "Aku hanya tidak tahu harus bersikap seperti apa. Jadi aku memilih bersikap normal seperti biasanya."
"Hmm."
"Kau bertanya kenapa aku menyukaimu? Entahlah. Aku menghabiskan separuh hidupku hanya untuk mencari gadis kecil bernama Hyo Alice yang kutolong dulu. Aku menyukainya begitu saja," Hyun Soo terdiam sejenak lalu tersenyum.
"Tapi sepertinya dia sudah menemukan pangeran yang sesungguhnya sekarang."
Selanjutnya keheningan menyelimuti mereka. Sampai kemudian Hyun Soo sedikit menarik tangan Alice untuk saling berbalik dan berhadapan.
"Kau tahu, aku menahan diri untuk tidak merebutmu dari Marc. Tapi datang lah padaku kalau kalian sudah tidak bersama lagi nanti," kalimat terakhir Hyun Soo diucapkan dengan nada bercanda. Pria itu mengedipkan sebelah matanya, menampilkan cengiran lebar lalu tertawa kecil.
Alice balas tersenyum, tapi tiba-tiba sebelah tangannya yang bebas, ditarik dengan sekali hentakan sampai genggaman tangannya dengan tangan Hyun Soo terlepas.
Alice tersentak mendengar suara bernada dingin dan tajam. Punggungnya yang mendarat pada dada bidang seseorang, aroma tubuh yang sudah ia kenali, membuat Alice menoleh ke belakang dan menengadah.
Ia bisa melihat wajah Marc dengan rahang mengeras dan sorot mata tidak ramah memandang lurus ke depan.
"Marc..?" panggil Alice dengan suara berbisik.
"Aku memintamu menjaganya, bukan memegang tangannya."
Hyun Soo berdecih. Ia balas memandang Marc dengan sebelah alis terangkat. Kedua tangannya dimasukkan dalam saku celana, setelah ia sedikit mengusap rambutnya sendiri.
"Benarkah? Sepertinya aku melewatkan hal yang satu itu."
Mata Marc menyipit. Lagi-lagi ia memberi tatapan memperingatkan pada Hyun Soo. "Jangan memancing emosiku, Hyun Soo."
"Atau apa, Marc?"
__ADS_1
Alice dengan cepat melepaskan diri dari Marc dan berdiri di tengah-tengah mereka.
"Apa kalian akan bertengkar? Jangan kekanakan! Ayo pergi, Marc!"
Ia menarik tangan Marc dan menyeret paksa pria itu untuk meninggalkan tempat tersebut. Ia juga sempat berseru, "Sampai jumpa lagi, Hyun Soo!" sebelum kemudian benar-benar berjalan menjauh.
"Haahh.. Kau mengejutkanku, Marc."
Mereka sudah duduk di salah satu bangku panjang di samping gedung agensi. Alice menyodorkan minuman kaleng yang dibelinya melalui vending machine kepada Marc.
"Kau jahat sekali. Tidak memberitahuku kapan kepulanganmu dan tidak meneleponku setelah sampai. Kau muncul tiba-tiba begitu saja."
Marc membuka penutup minumannya, menenggak sampai separuh, sebelum menjawab Alice.
"Apa yang terjadi selama aku tidak ada?"
Alice menoleh. "Apa kau masih ingin membahas kejadian barusan? Itu tidak berarti apa-apa."
"Aku tahu. Aku mendegar percakapan kalian."
"Dan tidak terjadi apa-apa juga."
"Baguslah," sahutnya singkat kemudian meminum minumannya lagi.
Ada banyak yang ingin ia tanyakan pada Marc. Tapi ia tidak ingin bersikap seperti gadis yang pecemburu.
Ia harus percaya kalau tidak terjadi apa-apa di antara Marc dengan gadis itu. Ia ingin Marc menceritakan lebih dulu tanpa ia tanya. Dan ia juga tidak ingin berpikiran buruk tentang Marc, lalu menyimpulkan sendiri.
Alice beranjak dari duduknya. "Bagaimana kalau kita pergi makan malam bersama?" tanyanya sambil mendongak menatap langit yang sudah berubah warna. Seperti lukisan abstrak yang lebih banyak perpaduan warna merah, oranye, kuning, jingga, ketimbang biru.
"Bagaimana kalau kita menikah saja?" balas Marc tidak menjawab pertanyaan gadisnya.
"A-a-apa? Apa yang kau bicarakan?"
Melihat Marc hanya diam saja kemudian Alice tersenyum cerah. "Ternyata kau masih Marc yang sesukanya bicara. Aku merindukan itu."
"Bagaimana ya, princess?" ucap Marc, mengubah posisi duduknya dengan kepala menengadah menatap Alice yang berdiri di depannya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau aku menyetujui makan malam bersamamu dan kau menyetujui menikah denganku?"
Kemudian Marc menarik sebelah tangan Alice, membawanya ke bibir dan mengecupnya.