
"Tunggu."
Alice menahan Hyun Soo yang sudah melangkah menjauhi pintu apartemennya.
"Kupikir kita harus membicarakan sesuatu. Tentang-"
"Sambil jalan saja," Ia memotong ucapan Alice, menutup pintu, dan berjalan tepat di samping gadis itu.
Alice melirik pria di sampingnya, merasa ragu namun ia tidak ingin memendam lebih lama. "Itu.. kadomu.. Maksudku, apa kau adalah anak lelaki yang menolongku dulu?"
Ia menemukan secarik kertas yang sudah lusuh, dengan goresan pena yang ia kenali sebagai tulisan tangannya sendiri, sebelum kemudian pikirannya melayang jauh menggali ingatan masa lalu yang sudah buram. Kecuali ingatan yang satu itu. Ketika ia ditagih hutang, dan mereka berniat membawanya dengan paksa.
Mungkin untuk dijadikan budak atau bisa juga untuk dijual. Yang manapun itu bukanlah pilihan yang bagus.
"Apa luka-luka itu meninggalkan bekas?" tanyanya sama sekali tidak menjawab pertanyaan Alice.
Ia menunduk. "Tidak. Kau mengobatiku dengan baik," Ia menoleh lagi pada Hyun Soo, meskipun pria itu tetap lurus menatap ke depan. "Aku senang ternyata pria yang menolongku dulu sudah tumbuh besar menjadi pria tampan dan tetap baik hati. Sejak dulu aku sangat ingin bertemu dengannya lagi dan mengucapkan terimakasih. Sekarang karena orangnya sudah ada disini, jadi..."
Alice meraih siku Hyun Soo hingga langkah mereka terhenti.
"Terima kasih, Kim Hyun Soo."
Tepat pada saat itu ia yakin ada yang memicu jantungnya hingga berdebar cepat. Ia terperangah, dengan bibir tidak terkatup rapat, menyaksikan senyum bahagia Alice yang ditujukan padanya. Selanjutnya diikuti perasaan hangat yang berhasil masuk tanpa permisi untuk menyelimuti hatinya.
Hyun Soo tersenyum, menarik sebelah tangan Alice yang bebas, ke dalam dekapannya.
Ia melingkarkan sebelah tangan di pinggang Alice, dengan sedikit menundukkan tubuh agar bisa berbisik di telinga gadis itu.
"Tanda terima kasihnya bisa diganti dengan menjadi kekasihku, tidak?"
Tubuh Alice menegang. Ia menggerakkan tubuhnya untuk menjauh sedikit dari tubuh Hyun Soo tetapi pria itu tidak melepaskannya dengan mudah.
Hembusan napasnya yang menggelitik daerah telinga Alice beserta bibir pria itu yang sepertinya menempel pada helaian rambutnya, berhasil membuat pipi Alice memerah.
"A-a-apa m-maksudnya?"
"Aku menyukaimu, Park Hyo Alice. At the first sight."
Isi kotak merah itu, selain secarik kertas, adalah sebuah gaun dengan sepatu kaca layaknya cinderella beserta setangkai white rose yang membuat asumsinya tidak mungkin salah.
Alice meremas kemeja Hyun Soo di bagian siku. "Kenapa baru sekarang?"
"Apa aku terlambat?"
__ADS_1
"Ya, sedikit."
Hyun Soo melepaskan dekapannya, menatap Alice yang kini juga menatapnya. "Sayang sekali. Marc Hyun Jo sudah mencuri start rupanya."
Mereka diam untuk beberapa saat, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya Hyun Soo menyandarkan punggung pada dinding, memasukkan kedua tangan dalam saku celana, dan memasang senyum seperti biasa kepada Alice.
"Jadi young lady, ada lagi yang ingin dibicarakan denganku?"
Seakan baru teringat sesuatu, Alice merogoh saku bajunya dan mengeluarkan selembar tiket konser.
"Ini. Datanglah kalau kau tidak sibuk."
"Alright, young lady."
••••
H - Concert
Ia kira akan canggung bertemu dengan Marc. Tapi ternyata pria itu mengendalikan diri dengan cukup baik, bersikap seperti biasa hingga menciptakan atmosfer layaknya tidak terjadi apa-apa diantara mereka.
Marc tetap menjahili Alice, menjawab asal-asalan dan bercanda dengan para staff. Dia juga sudah terlihat membaik dibanding kemarin.
"Rasanya senang sekali akan melihat kalian berdiri bersama di panggung. Aah, aku sudah lama tidak melihat Marc bernyanyi di acara seperti ini," celoteh Yu Ra seperti biasa sambil menata rambut Alice.
"Ini juga pertama kalinya aku melihat Marc berkolaborasi dalam mengisi soundtrack drama. Selama ini dia hanya bernyanyi solo, kecuali di event-event tertentu maksudku. Dulu mendengar kalian akan berkolaborasi, aku sangat yakin kalau kalian memang serasi."
Kalau dipikir, rasanya seperti baru kemarin ia bertemu dengan pria itu di Amerika. Mengutuk pria itu habis-habisan karena mendatangkan kesialan padanya. Ia bahkan hampir tidak bisa kembali ke Korea, akibat wanita gila itu yang membuat Alice untuk pertama kali merasa dikuntit, dijadikan buronan semacam ia sudah melakukan dosa besar saja.
Kemudian rasanya juga seperti baru kemarin ia bertemu lagi dengan Marc. Berharap kesialan itu tidak membuntutinya selama ia berada dalam jarak dekat dengan pria itu. Ia lebih baik pura-pura tidak mengenali Marc, daripada ketimpa sial lagi.
Dulu ia kira ia tidak akan sanggup melewati hari bersama Marc. Kini mungkin, meskipun sedikit malu, ia ingin mengakui sepertinya ia tidak akan sanggup melewati hari tanpa Marc.
Entah sudah berapa lama ia melamun dan memperhatikan Marc melewati cermin, sampai pria itu mungkin baru menyadari bahwa ada yang sedang meliriknya, dan membuat tatapan mata mereka bertemu. Marc mengedipkan sebelah matanya, membuat Alice gelagapan dan merona.
"Jari Nuna sepertinya memang terlahir untuk membuat gadis manapun menjadi lebih cantik ya."
Yu Ra menoleh pada Marc yang sudah berdiri di dekatnya. "Dari dulu kau memang pintar bicara, Hyun Jo."
"Tapi tetap saja di mataku Alice yang paling cantik."
"Apa kau sedang merayunya?"
"Aku memujinya, Nuna."
__ADS_1
••••
Konsernya berjalan lancar. Tiket sudah terjual habis dan ia bisa melihat seberapa bahagianya mereka melihat kembalinya Marc Hyun Jo, sang legendaris di panggung.
Ini kali pertama ia merasakan euforia luar biasa yang diciptakan oleh para penggemar Marc bersama penggemarnya dalam konser. Kebanyakan penggemar Marc, tentu saja. Banner besar dengan wajah Marc dan tulisan Welcome Back beserta I Love You Marc terpampang di seluruh penjuru bangku penonton.
Meskipun Marc belum pulih sepenuhnya, tapi pria itu melakukan performa terbaik dan memukau. Dia sepertinya memang memiliki bakat untuk membuat para gadis terpana oleh pesonanya.
Dan saat beberapa kali Alice menangkap Marc sedang menatapnya dengan hangat, menggenggam tangannya di atas panggung, ditambah sorak-sorai para penggemar, membuat rona merah itu muncul dan menghiasi wajahnya kembali.
Ia bisa melihat Hyun Soo, Krystal beserta ibunya duduk di barisan depan. Ikut bernyanyi bersama dan bersorak untuk menyemangatinya.
"Marc," panggil Alice ketika menghampiri pria itu di ruang ganti.
Marc menoleh pada pintu, tetap melanjutkan kegiatannya melepas kancing baju tanpa merasa terganggu dengan adanya Alice di depan pintu.
"Hey, princess."
"A-aku keluar saja," ucapnya tergagap langsung membalikkan badan begitu melihat Marc membuka baju.
"No," balas Marc menghentikan gerakan Alice yang sudah memegang kenop pintu. "Kenapa mencariku?"
"T-tidak. Hanya.. ap-apa setelah ini kau mau minum-minum?"
Astaga. Ia seperti berbicara pada pintu dengan posisi menghadap pintu seperti ini.
Lalu ia tersentak melihat sebelah tangan Marc terulur dari balik tubuhnya, dengan telapak tangan Marc kini menyentuh pintu, beserta badan pria itu yang menempel pada punggung Alice.
"Kalau lebih dari minum-minum bagaimana?"
Ia yakin tengkuknya meremang begitu merasakan hembusan napas Marc dari balik punggungnya, membisikkan sesuatu dekat telinga.
"W-why y-you always have fun of me? Pervert."
Marc tidak menjawabnya, hanya tersenyum penuh arti sebelum kemudian menarik dagu Alice, memiringkan posisi tubuh tanpa sepenuhnya berhadapan, lalu menyatukan bibir mereka.
Tapi tidak berlangsung lama, karena setelah itu sayup-sayup terdengar suara dari luar yang seakan mencari keberadaan keduanya.
"Sebaiknya aku keluar sebelum ada yang.. memergoki kita."
Tidak peduli dengan ucapan Alice, lagi-lagi Marc menarik tangan gadis itu, dan mendekatkan wajahnya kembali.
"Tidak masalah, Alice. Karena aku tidak berniat menyembunyikan ini," ucapnya sebelum mencium Alice lagi.
__ADS_1
Gerakan Marc berhenti sebentar karena tiba-tiba pintu terbuka dan suara manager melengking seketika.
"Apa yang kalian lakukan?!"