
Sun Hye mengikuti kelas seperti biasa. Ia bukan anak yang malas tetapi barisan duduknya memang suka paling belakang. Ia memiliki alasan sederhana. Bisa memandang ke luar jendela saat guru sedang tidak memperhatikan.
Anak-anak jahat yang suka mengganggu itu duduk di barisan belakang seberang sana. Mereka duduk berderet seolah berkomplot untuk menjahatinya.
Kalau kata uncle Hyun Soo, mereka bukan benci. Mereka hanya ingin ia ikut bergabung dan menjadi kumpulan anak-anak jahat. Tapi Sun Hye jelas tidak mau.
Mereka sering membicarakan seberapa kaya orangtua masing-masing, topik pembicaraan lebih sering ke menu makanan yang biasa bibi mereka masakkan. Sun Hye mendengus mendengar hal itu.
Bibinya memasakkan makanan setiap hari? Mereka memakan masakan bibi setiap hari? Sebenarnya mereka anak bibi atau anak ibu?
Ia juga punya ibu yang sibuk. Tapi ibunya tidak meninggalkannya begitu saja dengan pekerja rumah. Ibunya selalu menyempatkan diri di sela-sela waktunya untuk mengurus dirinya. Sedangkan anak-anak jahat itu merasa bangga karena diurus oleh bibi yang dipekerjakan.
Hah. Apa dunia memang sudah gila? Dia pikir hanya orangtuanya, satu-satunya di dunia ini, yang bisa membayar pekerja rumah? Apa sebangga itu?
Lagi-lagi Sun Hye menghela napas. Sebelah tangannya memainkan pena dan menekan-nekan ujungnya. Ia melirik sekilas ke anak-anak jahat itu yang hari ini tampak diam saja.
Apa yang terjadi? Kenapa kelihatan murung begitu?
Untuk pertama kali selama ia bersekolah, baru ini orangtuanya datang karena ia bertengkar dengan teman. Ibunya sudah cukup sibuk dan ia tidak ingin menambah kesibukannya. Ayahnya justru lebih sibuk dari ibu sampai ia hanya bisa bertemu di pagi hari sebelum bangun dan di malam hari sebelum tidur.
Tapi anak-anak jahat itu, apa merasa senang? Mereka juga pasti mengalami hal yang serupa, kan? Kenapa terlihat bangga sekali punya rumah yang megah tapi terasa sendirian di dalamnya?
Pagi ini ibu akan mengantar aunty Yistal terlebih dahulu sebelum datang ke sekolah. Aunty Yistal yang galak itu pasti akan membantu ibu dan merasa berapi-api, tapi karena dia sedang hamil, sepertinya aunty akan berusaha menahan mati-matian.
Ia tidak suka mengadu pada ibu. Ia lebih suka menangis saja dan menyelesaikan masalahnya sendirian. Bukan menangis karena anak-anak jahat itu. Tapi karena mereka merusak barang kesukaannya.
Meski ayah bisa membelikan yang baru, tapi tentu berbeda. Bukan perkara barang baru atau lama yang ia maksud.
"Kau baik-baik saja?"
Anak yang duduk di depan Sun Hye menoleh ke belakang. Sun Hye mengerjap sebelum mengalihkan tatapannya.
"O-oh."
"Kudengar dari ibu," anak itu berbisik lalu menoleh sekilas ke depan untuk memastikan guru masih menulis di papan dan tidak melihat ke arah mereka. "Orangtua mereka datang hari ini," lanjutnya.
__ADS_1
Sun Hye lupa nama gadis di depannya. Tapi ia tahu, gadis dengan kacamata bertengger di hidung dan rambut yang dikepang, adalah gadis baik yang tidak pernah ikut menjahatinya.
Justru gadis ini terkadang menawarinya makanan, mengajak mengobrol dan membantunya.
"Orangtua mereka juga?"
Ia pikir hanya orangtuanya saja karena yang dicap bersalah di sini adalah Sun Hye. Ia kabur dari sekolah, melanggar aturan yang berlaku.
Gadis itu mengangguk. "Ibuku bilang begitu."
***
Marc turun dari mobilnya dan menatap gerbang sekolah. Alice pasti sudah sampai lebih dulu. Alice saja cukup sebenarnya, ia tidak perlu ikut datang kemari dan meninggalkan pekerjaan.
Ia masih berdiri di samping mobil tapi sepertinya sudah menjadi pusat perhatian. Kenapa mereka semua menoleh padanya menatap seperti itu?
Marc mengenakan kemeja gelap dipadukan coat biru navy. Ia mengenakan kacamata hitam dan rambutnya di sisir rapi. Tidak ada yang salah dengan dirinya tapi mereka semua seolah ingin memangsa sekarang juga.
Setelah menghembuskan napas, Marc berjalan memasuki sekolah namun tatapannya berhenti pada segerombolan anak-anak yang tampak bermain. Tidak jauh dari sana, Sun Hye duduk di pinggiran pembatas yang rendah dengan wajah menunduk.
Belum sempat ia berpikir lebih jauh, seorang gadis kecil yang terlihat lebih pendek dari Sun Hye, berlari ke arahnya lalu ikut duduk di samping. Mereka tampak mengobrol, atau lebih tepatnya anak berkacamata itu yang berceloteh dengan tangan bergerak-gerak.
"Ini semua ulahmu! Kau pasti mengadu! Tukang mengadu!"
Segerombolan anak yang berkumpul itu tiba-tiba mendekati Sun Hye dan gadis berkacamata. Mata Marc menyipit tidak suka sebelum ia menarik napas dalam-dalam untuk menekan emosinya.
Salah satu di antara mereka mendorong-dorong bahu Sun Hye sampai nyaris terjatuh. Kalau sampai terjadi apa-apa pada putrinya, kalau sampai anak-anak itu membuat Sun Hye terjatuh di depan matanya, lihat saja apa yang akan ia lakukan pada para bedebah itu.
Sun Hye balas mendorong dengan satu tangan dan membuat anak jahat tadi tersungkur sebelum merintih kesakitan. Saat itu lah Marc mengerjap dan melangkah panjang-panjang mendekati mereka.
"Sunny," panggilnya setelah melepas kacamata.
"Ayah!"
Tatapan anak-anak itu teralihkan. Mereka terperangah dalam beberapa detik begitu melihat Marc yang tersenyum kecil menghampiri putrinya.
__ADS_1
Mungkin Marc Hyun Jo tidak sadar atau pura-pura mengabaikannya, tapi anak-anak itu seolah melihat pangeran dari negeri dongeng yang sangat tampan. Yang sempurna. Yang mempesona dan membuat nyaris gila.
Ayah Jo Sun Hye setampan itu.
"A-ayah?" bisik mereka saling melempar pandangan.
Marc mensejajarkan tinggi tubuh, lalu berdeham setelah pelukannya dengan Sun Hye terlepas.
"Di mana ibu?"
"Di dalam ruang guru," sahutnya dengan wajah lesu.
"Kau," tunjuk Marc pada gadis berambut pendek yang masih terduduk di tanah. "Siapa namamu?"
Wajah anak itu tampak mengernyit. "Kata ibu tidak boleh memberitahu nama pada orang asing."
Sebelah alis Marc terangkat lalu ia terkekeh. "Ah, ibumu pasti tidak akan berkata begitu kalau bertemu denganku. Kalian tidak ada yang mau memberitahu namanya?" tatapan mata Marc jatuh pada gadis berkacamata yang masih menatap dalam diam.
"Ah Ri," jawab gadis berkacamata. "Seo Ah Ri, Paman."
Yang lain tampak mendelik dan melemparkan tatapan kesal pada gadis itu.
"Dan namamu?"
Dia tersenyum, matanya tampak menyipit lalu berkata lagi, "Kim Anna."
"Seo Ah Ri, apa aku perlu melapor pada guru dan mengatakan kalau kau baru saja mendorong Sun Hye?"
"Sun Hye yang mendorong sampai terjatuh!"
"Atau Seo Ah Ri lebih suka kalau aku memberitahu pada ayahmu?"
Anak itu tidak menjawab. Wajahnya terlihat lebih kusut dan hampir menangis. Marc meraih tangan putrinya lalu berdiri.
"Ayo," ucap Marc lalu menarik anaknya.
__ADS_1
Suara tangis terdengar. Anak tadi menangis hebat tapi justru membuat Marc tersenyum lebar.