
Bibir wanita itu terbuka, sebelum akhirnya akal sehat menyadarkannya dengan tangan wanita itu menarik kenop pintu kembali dan menutupnya dengan sangat hati-hati. Oke, aman. Setidaknya rasa lega membanjiri tubuhnya karena tidak menimbulkan efek suara apapun meskipun tentu saja rasa terkejutnya belum hilang.
Itu tadi... ia tidak salah lihat kan? Itu memang Marc Hyun Jo dan Park Hyo Alice. Tapi, beberapa hari yang lalu mereka bilang... tidak pacaran. Tidak dekat. Tidak akrab. Pokoknya mereka tidak terjebak dalam love affair. Apa sekarang sedang tren saling suka tanpa status apapun?
Apa mereka... OH TUHAN!
Matanya langsung terbelalak kaget ketika membalikkan tubuh dan berhadapan dengan seseorang. Rasa terkejutnya belum pulih diakibatkan oleh dua insan yang ada di dalam, sitambah otaknya terlalu sibuk berpikir, mencerna dan menduga-duga, tanpa menyadari sedikitpun kehadiran seseorang di balik punggungnya.
Ia tentu tergagap. Meluncurkan kata sumpah serapah apapun hingga bibirnya komat-kamit tanpa suara. "A-a-a-apa yang k-kau lakukan d-disini?"
Gadis didepannya menaikkan sebelah alisnya. Perasaan bingung bercampur curiga tertera jelas di wajah dingin itu. Sebenarnya ia sudah terbiasa, tapi tetap saja setiap kali berhadapan sedekat ini, ia selalu merasa terintimidasi.
"Kenapa terkejut?"
"T-t-tidak a-apa-apa."
Astaga. Payah sekali. Sepertinya ia memang bukan orang yang pintar menyembunyikan sesuatu hingga tergagap begini.
"Aku mau masuk."
Tidak boleh! Jangan!
Ia masih bersandar pada pintu untuk menghalangi siapapun yang akan masuk. Sebelah tangannya menghalangi pintu dan sebelah lagi terangkat agar Krystal segera mundur dan pergi.
"Alice bilang... eh, d-dia ingin tidur. M-m-maksudku... dia terlihat lelah. Hmm, mungkin kurang tidur? Dia berpesan... dia... tidak ada yang boleh mengganggu."
Krystal masih menatapnya dengan ekspresi sulit dimengerti. Kemudian Yu Ra buru-buru menambahkan untuk meyakinkan. Ia tidak boleh menyerah sampai disini.
"Sebentar saja! Ya, dia bilang sebentar saja. Mungkin setengah jam?"
"Baiklah," jawab Krystal akhirnya menyerah setelah berpikir sebentar.
__ADS_1
••••
Cafe yang ada di lantai paling bawah adalah tempat favorit Alice sejak pertama kali ia mengunjunginya. Cafenya tidak terlalu luas, didominasi dengan warna serat kayu, temanya berganti sesuai dengan hari istimewa yang dirayakan kebanyakan orang. Seperti tema merah muda di hari valentine, tema hari natal, dan empat musim.
Ia baru saja mendorong pintu cafe, menimbulkan bunyi cring seperti biasa, dan tersenyum ketika pandangan matanya bertemu dengan sepasang manik gelap yang berdiri dibalik mesin pembuat kopi. Senyum pria itu mengembang, memberi isyarat tunggu sebentar kepada Alice yang dibalasnya dengan anggukan mengerti.
"Kupikir kau tidak akan datang."
"Itu tidak akan terjadi. Aku kan sudah berjanji. Lagi pula aku tidak menolak cookies gratis," ucapnya dengan nada bergurau.
Pria itu tersenyum lebar menampilkan deretan giginya yang rapi. "Ada beberapa masakan yang akan kami masukkan ke menu baru. Aku benar-benar butuh bantuan seseorang untuk dimintai pendapat tentang tekstur, rasa dan penampilan penyajiannya. Menurutku, kau sebagai pelanggan tetap kami adalah orang yang tepat."
Alice menjentikkan jarinya dengan bersemangat. "Kau memilih orang yang tepat."
Ia mencicipi cookies coklat berbentuk pohon natal yang terkesan lucu. Masih banyak bentuk lain seperti bentuk boneka salju disertai hiasan mata dan bibir diatas cookies, bentuk santa, dan ada yang berbentuk kado natal. Melihat bentuknya yang lucu-lucu membuat Alice tidak tega untuk menggigitnya.
Ia juga mencicipi sup. Sup tulang sapi menjadi makanan favorit Alice saat musim dingin. Dan sup itu benar-benar enak di bar ini. Ia mencicipi menu sup baru dengan kuah yang pedas. Bentuk mie yang lebar dan panjang bercampur potongan daging, bawang, dan kimchi yang membuatnya hampir meneteskan air liur.
Ada dessert untuk musim dingin yang Alice sukai. Ia baru saja mencicipinya beberapa menit yang lalu. Bawahnya dilapisi kue dengan tidak menggunakan cream tetapi ice cream dengan bagian atas ditutupi oleh puding buah yang menyegarkan. "Kau harus menambahkan semuanya. Semuanya terasa lezat," Ia mengacungkan dua jempolnya dengan bersemangat.
"Terimakasih telah menunjukku untuk mencicipinya. Aku bersedia jika kau menunjukku lagi di kesempatan berikutnya."
"Benarkah?"
Ia mengangguk masih dengan senyum gembira sebelum tiba-tiba teringat sesuatu. "Berbicara denganmu membuatku merasa kalau kita seperti sudah kenal lama. Tapi bahkan aku tidak tau harus memanggilmu apa."
"Kim Hyun Soo. Itu namaku."
••••
Flashback on
__ADS_1
Beberapa jam sebelumnya...
Sudah jam berapa ini? Ia tidur nyenyak setelah beberapa hari terakhir tidak bisa tidur dengan benar. Ia merenggangkan tubuh, baru merasakan bahwa kepalanya sudah tidak berdenyut seperti tadi pagi. Ia pasti tadi ketiduran karena tidak sanggup menunggu Marc yang sedang membelikan obat. Omong-omong tentang obat... pandangannya jatuh pada meja di depannya. Ada plastik kecil disana dengan lambang apotek yang sudah ia kenali. Jadi Marc benar-benar membelikan obat untuknya ya.
Ia menyibak selimut, menapak pada lantai tapi gerakannya terhenti saat tangannya dengan tidak sengaja menyentuh sesuatu.
"M-M-Marc... Hyun Jo?!"
Marc tampak pulas. Matanya tertutup sempurna tanpa guratan apapun di wajahnya. Helaian rambut yang menutupi dahinya jatuh ke samping karena posisi Marc yang sedikit miring. Tanpa sadar Alice mendekat, memperhatikan lekuk wajah sang legendaris dari jarak sedekat ini. Dan... yah, wajahnya memang dipahat sempurna.
Rambutnya, dahinya, hidungnya, rahangnya, bibirnya... Hah! Mikir apa kau Park Hyo Alice?!
Ia menggeleng kuat dengan memukul pelan kepalanya sendiri. Ia pasti sudah gila. Lebih baik ia beranjak dari sini sebelum ada yang melihat mereka. Terlebih lagi sebelum Marc bangun dan membuat suasana menjadi canggung.
Pelan-pelan.. pelan-pelan...
Greebb!
Pergelangan tangan Alice lagi-lagi diselimuti oleh telapak tangan besar yang hangat itu.
"Kau mau kemana?"
Ke... entahlah. Aku bahkan tidak bisa berpikir dengan benar sekarang.
"Kau sudah sembuh? Sudah minum obatnya?"
Tadinya sudah sembuh. Tapi sekarang sepertinya sakit lagi karena pikiranku mendadak lumpuh dan jantungku berpacu.
"Alice?"
"Oh? Y-ya.. baik-baik saja. Aku haus."
__ADS_1
Aku. Haus. Bodoh sekali. Apa ia tidak bisa membuat alasan lebih bagus dari itu?
Kemudian Marc melepaskan genggamannya, membiarkan Alice berjalan menuju lemari es dan meneguk air sampai habis.