
Ia melambaikan tangan kepada Marc karena jalan pulang mereka berseberangan arah. Tentu saja Marc menawarkan diri akan mengantarnya, seperti yang sudah terjadi belakangan ini, Marc bersikap semakin baik meskipun Alice tidak tahu apa alasannya. Alice tidak ingin merepotkan pria itu, lagi pula jarak apartemennya dengan minimarket tidaklah jauh.
Oh ya, omong-omong tentang album baru mereka, minggu depan akan digelar konser sekalian acara meet and greet Marc setelah kembali ke dunia entertainment. Alice tidak benar-benar tahu apa yang membuat pria itu kembali. Yu Ra bilang dulu ada gosip yang mengatakan bahwa Marc menghilang sementara untuk membersihkan nama baiknya. Ada yang bilang juga ia tertimpa penyakit mental semacam depresi atau entahlah. Ia mendengar banyak sekali gosip simpang siur.
DrrtttDrrrrttt
Alice merogoh saku jaketnya. Tulisan 'ibu' tertera di layar yang membuat alis Alice sedikit terangkat, bukankah ia sudah bertelepon dengan ibunya tadi pagi.
"Halo, Bu. Oh? Aku sedang di luar. Tidak..tidak, sama sekali tidak sibuk. Aku hanya belanja sedikit untuk makan malam. Apa terjadi sesuatu dengan ibu?"
Ia menoleh sekilas ke lampu penyeberangan yang sudah berubah warna. "Benarkah? Baguslah... Hhmm, iya. Aku baik-baik saja. Ini... eh.."
Ia sedikit bingung ketika ada suara yg berteriak memanggilnya. Fokus Alice terhadap ucapan ibunya pecah begitu saja saat ia menoleh ke samping dan melihat pengendara motor melaju dengan cepat. Lampu pengendara itu tentu menyilaukan penglihatan Alice, ia ingin menghindar tetapi sepertinya gerakannya terlalu lambat hingga seseorang dengan kasar menarik lengannya hingga badan Alice mundur ke belakang dan bertabrakan dengan seseorang.
"Kau tuli?! Kenapa tidak mendengarku?!"
O-oh? Astaga! ia hampir saja mati.
Alice dengan masih sedikit linglung, berusaha berdiri tegak tanpa ada yang menopang. Ia berbalik, berhadapan dengan pria berwajah Asia yang sudah tidak asing. Matanya membulat, bibirnya tidak terkatup ketika berhadapan dengan Kim Hyun Soo yang memasang ekspresi panik, khawatir, takut dan... marah.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya lagi, kali ini suaranya lebih rendah seperti yang biasa Alice dengar. Raut wajahnya mulai membaik setelah pandangan mereka bertemu.
Ia mengangguk. "Terima kasih."
Pria itu tidak mengatakan apa-apa. Hanya memasukkan kedua tangannya ke saku jaket dan melirik sekilas lampu penyeberangan yang sudah kembali merah. "Apartemenmu yang itu?"
"Hhmm."
"Aku juga tinggal disana."
Alice mendongak dengan alis terangkat.
"Aku baru saja pindah. Omong-omong, kenapa kau sendirian? Kukira artis selalu dikawal kemana pun pergi."
"Aku hanya ke minimarket sebentar. Kupikir aku bisa sendiri."
Mendapatkan satu lagi fakta bahwa pria di hadapannya ini tinggal di apartemen yang sama dengan dirinya, membuat Alice semakin curiga. Bagaimana bisa seseorang yang bekerja di kafe setiap hari bisa tinggal di apartemen mewah di Seoul? Atau dia punya bisnis yang lain? Atau memang berasal dari keluarga kaya raya? Jujur saja yang bisa tinggal di apartemen itu hanyalah orang-orang berpenghasilan banyak seperti artis terkenal, pejabat dan pebisnis sukses.
"Wah, aku yakin kau pasti bukan barista biasa."
Pria itu memandangnya dengan sebelah alis terangkat sebelum melirik kembali ke depan yang menunjukkan lampu penyeberangan berubah warna. "Ayo."
Alicemerasakan dirinya ditarik pelan tapi justru ia kesulitan berjalan. "Aduh!"
"Ada yang sakit?"
Ia meringis. "Sepertinya terkilir sedikit."
Malu-maluin saja! umpat Alice di dalam hati seperti baru saja memerankan drama percintaan anak remaja bak dongeng-dongeng kerajaan. Ia tadi tidak merasakan apa-apa, kenapa sekarang baru terasa?
"Apa tidak apa-apa kalau aku menggendongmu di punggung?"
Alice lagi-lagi mendongak, kali ini kerutan di dahinya terlihat jelas karena sungguh apa ia tidak salah dengar?
__ADS_1
"Turunkan topi wolmu maka tidak akan ada yang mengenalimu."
Oke.. baiklah, untuk kali ini saja ia akan menyerah dan membiarkan pria ini menggendongnya. Tidak untuk lain kali... tidak pula untuk pria yang berbeda.
"Rasanya de javu..." bisik Alice di balik punggung Hyun Soo. Ia berkata sangat pelan hingga ia rasa Hyun Soo pasti tidak mendengarnya, tetapi sepertinya ia salah.
"Hm? Maksudmu... kau pernah digendong mantan kekasihmu?"
Mantan kekasih?
"Sayang sekali aku tidak punya."
Hyun Soo yang awalnya melangkah dengan teratur kini berhenti. "Apa? Kau... tidak pernah pacaran?"
Alice menarik lebih ke bawah topi wolnya. "Hmm.. tidak. Aku tahu pasti terdengar aneh."
"Oh, tidak-tidak," kini ia kembali melangkah. "Itu luar biasa. Kau mengendalikan diri dengan cukup baik rupanya."
Mengendalikan diri dengan cukup baik? Entahlah. Apa kejadian itu bisa dikatakan membuatnya menjadi lebih baik atau malah sebaliknya. Pasti menyenangkan kalau bisa punya kekasih yang menyayangi setulus hati, yang bisa mengerti, menghabiskan waktu bersama dan... ah, astaga. Ia belum pernah merasakan semua itu.
"Sewaktu aku kecil, ada seorang anak lelaki yang menggendongku. Dia benar-benar penyelamat."
Hyun Soo tanpa sadar tersenyum karena sepertinya komunikasi mereka berjalan dengan baik. "Kenapa? Saat itu kau tidak bisa berjalan seperti saat ini?"
"Hh-mm," akunya. "Badanku saat itu memar. Telapak tanganku berdarah dan rambutku berantakan sekali. Penuh dengan goresan di kaki dan aku tidak bisa melihat dengan jelas akibat tertutup air mata. Saat itu menyakitkan lalu dia datang menolongku."
Alice masih terus berceloteh ketika Hyun Soo menekan tombol lift. "Dia pria dengan bola mata hitam pekat yang meneduhkan. Saat itu aku hanya bisa melihat matanya saja karena sepertinya aku tidak mampu menoleh ke arah manapun. Tubuhku sakit semua kukira aku bakal tidak tertolong lagi."
Masih dengan menggendong Alice, Hyun Soo tetap mendengarkan dan fokus berjalan di koridor. "Dia membawaku ke istananya. Rumahnya memang bak istana. Dia merawatku dengan baik asal aku berjanji tidak akan berisik di sana. Ah, aku berhutang budi. Kapan aku bertemu dengannya lagi agar aku bisa melunasi hutangku?"
Hyun Soo berhenti tepat di depan kamar Alice ketika cerita gadis itu berakhir.
"Oh? Sudah sampai. Terimakasih Hyun Soo! Aku akan mentraktirmu lain kali. Bagaimana?"
Pria itu menatap manik Alice dalam-dalam seolah ia memastikan sesuatu. "Apa aku boleh menanyakan sesuatu?"
"Tentu."
Sesaat Hyun Soo terlihat ragu. Ia menunduk sebelum kemudian menatap Alice kembali. "Kenapa saat itu kau memar-memar?"
Alice terdiam. Ia menjadi serba salah untuk menjawabnya. Ia juga tidak ingin mengarang cerita. Sampai akhirnya Hyun Soo berkata lagi, "Obati lukamu dan langsung tidur. Aku akan pergi setelah kau masuk."
Gadis di depannya tersenyum, memasang wajah terima kasih sekaligus merasa bersalah karena tidak menjawab pertanyaan Hyun. Soo. Setelah pintu tertutup ia masih berdiri di tempat. Tidak bergerak sesenti pun karena saat ini pikirannya sedang pergi jauh ke masa lalu.
Sekarang ia yakin bahwa ialah anak lelaki itu.
Dulu sekali sewaktu umurnya baru menginjak awal belasan tahun, ada seorang anak gadis yang kelihatannya masih duduk di sekolah dasar, badannya habis dipukuli dan darah mengalir dari hidung, telapak tangan dan pelipisnya. Pipi gadis itu memar seperti habis dipukul, lututnya lecet
dan tidak bisa berjalan dengan benar. Kemudian ia merawat gadis itu beberapa hari tapi sayangnya setelah itu dia malah pergi melarikan diri dengan menulis kata terimakasih di secarik kertas yang ditinggalkan. Di sana tertulis 'dari Hyo Alice'.
••••
H-2 concert
__ADS_1
"Selamat ulang tahun."
Alice sedang duduk dengan tangan bertopang dagu. Ia baru saja selesai mencoba gaun untuk acara konsernya bersama Marc nanti. Saat ini yang ada di pikirannya adalah ingin makan karena demi apapun ia belum makan pagi ini.
Ia menoleh mendengar suara Marc. "Kau tau?"
Pria itu juga sudah melepas jas yang dicobanya tadi. Kini hanya berbaju kaos berlengan panjang yang terlihat hangat. "Aku tau kau belum sarapan, ini short cake birthday untukmu. Aku membuatnya sendiri."
"Waahh," mata Alice berbinar. Kue buatan Marc terlihat cantik dengan bentuk yang mungil. Dia membuat tiga kue dengan berbagai rasa dan warna. Kue rasa stroberi, kiwi, bluberry dengan toping buah yang terlihat segar. "Ini benar kau yang membuatnya? Terimakasih ya!"
Dag.. dig.. dug.. deg..
Pandangannya tidak bisa lepas melihat wajah tersenyum Alice. Perasaan apa ini... Apa yang terjadi padamu Marc Hyun Jo ?! Astaga! Marc memaki diri sendiri di dalam hati.
Meskipun sedang tidak memegang cermin, tapi ia tau wajahnya memerah sekarang. "H-hei tunggu dulu," ucap Marc dengan panik melihat Alice sudah mengulurkan tangan untuk mengambil kuenya.
"Aku belum menyalakan ini." Marc merogoh saku celananya dan mengeluarkan tiga batang lilin kecil kemudian menancapkannya di kue Alice. Pria itu lagi-lagi merogoh saku yang satunya dan mengeluarkan pemantik.
"Itu pemantik rokokmu ya?"
"Apa? Aku tidak merokok." Jawabnya setelah selesai menghidupkan lilin. "Nah pegang ini biar kufoto."
Ia hanya mengenakan baju kasual ditambah make up tipis, tapi baiklah ia akan membiarkan Marc memotretnya untuk kue pertama yang ia terima langsung pagi ini. Tentu saja saat inipun sudah banyak kue dari fans yang dititipkan pada manager.
"Apa wajahku terlihat bagus? Aku hanya mengenakan make up tipis dan baju kasual."
Marc yang sedang fokus di balik ponselnya, kini memiringkan sedikit wajah sebelum menatap Alice.
"You are always beauty no matter how you look."
O-oh. Rasanya ada yang bergejolak aneh di dalam tubuhnya. Sesaat seperti ada desiran yang menggelitik jantungnya hingga memicu detakan menjadi lebih cepat dan tidak terkendali. Ia sudah terbiasa dengan ucapan Marc yang terdengar asal-asalan. Tapi untuk sepersekian detik tadi rasanya...
"Aku akan menghitung jadi tersenyumlah. Satu.. dua.. tiga."
Klip!
Marc dan Alice otomatis menoleh mendengar ada suara dari kamera lain selain ponsel Marc. Ternyata Yu Ra berdiri tidak jauh dari mereka dengan senyum merekah dan matanya berkilat gembira.
"Kenapa hanya Alice yang difoto kau ini bagaimana. Berdiri di sampingnya aku akan memotret kalian."
"T-tapi nuna.."
"Ah tidak ada tapi-tapi. Cepat berdiri sana," Wanita itu dengan semangat mendorong bahu Marc hingga berdiri sejajar di samping Alice. Mereka bertatapan sekilas dan tersenyum canggung di wajah masing-masing.
"Ayo lebih dekat! Aku mulai menghitung ya. Satu.. dua.."
Klip!
Kemudian Alice menghampiri Yu Ra untuk melihat hasil fotonya. Mereka tersenyum dan tertawa karena ternyata Yu Ra tidak hanya memotret sekali. Wanita itu juga sudah memotret dari kejauhan membuatnya Alice merasa malu dan tertawa melihat ekspresinya sendiri.
Marc berdiri diam. Ia menunduk sambil berusaha meredam gejolak aneh apapun yang timbul setiap kali ia berada di dekat gadis itu.
Apa artinya ini?
__ADS_1