
Marc memandang Alice dari jendela kaca besar. Ia tadi pergi sebentar untuk mencuci muka dan menormalkan debar jantungnya. Sejak kapan senyum gadis itu bisa mempengaruhi debar jantungnya?
Alice masih duduk di tempat semula. Kali ini tidak hanya ditemani oleh Yu Ra tetapi juga staff lain yang sepertinya sudah ikut mengucapkan selamat ulang tahun kepada gadis itu. Mereka saling berfoto bersama, tertawa dan terlihat mengobrol dengan gembira.
Kontraknya dengan Alice akan selesai sebentar lagi. Setelah konser ini, dan mengisi beberapa konser lainnya, mereka akan kembali sibuk dengan rutinitas masing-masing. Mungkin lain kali, kalau ia mendapat kontrak bekerja sama dengan gadis itu lagi, ia akan menerimanya.
"Hyun Jo oppaaa~"
Marc mengerjap, menoleh ke belakang asal sumber suara yang memanggilnya dengan semangat. Mereka pasti juniornya, meskipun ia tidak tahu berasal dari grup yang mana, dan siapa saja namanya. Jujur saja, ia merasa semua wajah mereka mirip.
"Oh, hai," balas Marc dengan senyum tipis.
"Kami senang sekali Hyun Jo oppa sudah kembali," ucap si pirang yang Marc tidak tahu namanya.
"Hyun Jo oppa semangat! Kami akan selalu mendukung oppa."
Astaga yang benar saja. Ia tidak tahu harus menjawab apa selain tersenyum seramah mungkin dan menjawab sekedarnya. Selama ini ia tidak pernah benar-benar dekat dengan juniornya, terlebih lagi perempuan.
"Kalian baru selesai latihan?" Akhirnya ia bertanya balik, merasa tidak enak kalau mengabaikan juniornya begitu saja.
Sebelum menjawab Marc, tiba-tiba gadis berkuncir satu berseru, "Bukankah itu senior Alice?"
Mendengar nama Alice disebut tentu saja berhasil mengalihkan perhatian Marc. Ia menoleh, Alice lewat di samping mereka dengan tersenyum tipis. Hanya begitu? Gadis itu tidak mau mengatakan apa-apa padanya? Atau menyapanya? Hah, memang apa yang kau harapkan Marc Hyun Jo?!
"Senior Alice berulang tahun hari ini," ucapnya. Entahlah. Ia tidak tahu kenapa ia memberitahu pada mereka.
"Benarkah?" tanya si rambut hitam terlihat tidak terlalu kaget. "Pantas saja ada banyak hadiah yang dikirim ke agensi pagi ini."
Ah, ya. Gadis itu pasti menerima banyak hadiah, pikir Marc.
__ADS_1
"Kami akan pergi mengucapkan selamat ulang tahun pada Senior Alice. Iya kan teman-teman?"
Yang lain mengangguk setuju dengan ucapan si rambut pendek. Entahlah, memang perasaannya saja atau senyum para juniornya ini terlihat aneh. Seperti ada yang ganjil dari raut wajah mereka. Seolah menyiratkan sesuatu yang Marc tidak yakin apa.
Sekali lagi ia melirik ke balik bahu gadis-gadis itu dan melihat Alice berbelok masuk ke dalam toilet.
"Oh, tentu saja. Kalian harus memberinya selamat."
"Baiklah, sampai jumpa Hyun Jo oppa~ Kami akan datang ke konsermu."
Ia tersenyum lagi sampai para gadis itu membalikkan badan berjalan menuju arah toilet, kemudian menyipitkan matanya. Tidak ada salahnya kan kalau ia pergi mencari tahu?
••••
Alice menghembuskan napas. Ia baru saja mencuci tangan dan wajahnya. Rasanya akhir-akhir ini aneh. Marc bersikap baik padanya, tapi hal itu malah membuatnya menjadi bingung. Apakah Marc memang ingin bersikap baik padanya atau pria itu punya alasan yang lain. Bukankah dari awal dia memang berniat menyingkirkan Alice?
Sebagian tubuh Alice bersandar pada wastafel, ia masih berpikir sebentar sebelum tiba-tiba pintu toilet terbuka dan segerombol wanita masuk, berhasil mengenyahkan pikiran Alice barusan.
Apa? Apa maksudnya?
Mereka diam sesaat, hanya ada bunyi 'Klik' yang menandakan pintu toilet dikunci oleh salah seorang dari mereka yang berdiri paling belakang. Aneh sekali. Mereka mau apa?
Alice menatap mereka satu per satu dan meyakini tidak ada satupun yang ia kenal. "Ada apa?"
"Kau masih belum mengerti juga ya. Kenapa kau mendekati Hyun Jo oppa?"
Hyun Jo? Marc Hyun Jo?
"Wah," Alice melipat kedua tangan di depan dada. Sebelah alisnya naik dan ia menatap dengan tatapan menantang. "Kenapa fans Marc menyerang seperti ini? Kalian iri?"
__ADS_1
"Dasar gadis sialan! Kau mengacaukan semuanya! Kami menunggu kedatangan comebacknya Hyun Jo oppa tapi kau merusaknya!"
"Tunggu dulu biar kuingat-ingat," ucap Alice pura-pura berpikir. "Sudah sejauh mana ya hubunganku dengan Marc? Atau lebih tepatnya, sudah sampai mana kami bersentuhan. Kalian iri tidak bisa menyentuh Marc seperti aku, kan?"
Alice menyulut amarah mereka. Tanpa perlu mendengar Alice berbicara lebih jauh lagi, mereka sudah menyerang dari segala arah. Ia bisa merasakan rambutnya ditarik sekuat tenaga, kakinya diinjak, dan dari arah lain mereka mencakar tangannya.
Ia berhasil menepis tangan sialan itu dari rambutnya, ia menggerakkan kaki sebisa mungkin dan menyerang tanpa berpikir akan mengenai siapa. Alice berhasil menjatuhkan satu orang dengan meninju perutnya menggunakan lutut, setelah sebelah kakinya bebas, ia melayangkan satu tendangan ke gadis yang lain sekuat tenaga.
Sialan. Rasanya tangannya tidak bisa digunakan karena ada banyak sekali cakaran sampai ia meringis kesakitan.
Tapi serangan ini tidak berlangsung lama, karena tiba-tiba ada yang mengetuk pintu toilet.
Si gadis berambut hitam menggeram kesal. "Brengsek!" ucapnya berusaha menahan suara.
Pintu dibuka setelah mereka memperbaiki penampilan sekilas. Tapi tentu saja semuanya terkejut dan kaku di tempat begitu melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.
Marc Hyun Jo?
"Kau lama sekali," protes pria itu setelah melirik jam di pergelangan tangan. "Kita akan mulai pemotretannya sebentar lagi. Apa kau sakit perut?"
Demi apapun, apa yang sedang Marc ocehkan? Mereka tidak ada jadwal bersama selain mencoba kostum untuk konser dua hari lagi. Apa pria ini sedang... berakting?
"Oh, y-ya. Maaf, perutku sakit," ucapnya dengan susah payah.
"Sudah selesai mengucapkan selamat ulang tahunnya?" tanya Marc kali ini beralih menatap junior mereka. "Sayang sekali aku tidak menyakiti perempuan. Tapi kalau ada yang menyakiti gadisku, aku pasti akan membalasnya."
Mereka diam, saling melirik seolah berkata, habislah kita!
Hah, rasakan itu! pikir Alice. Mereka ini kenapa menyerangnya tiba-tiba begitu hanya karena ia terlihat dekat dengan Marc? Memangnya apa yang ia lakukan? Ia dan Marc hanya menjalankan pekerjaan, lalu mereka cemburu karena hal itu? Karena rumor itu?
__ADS_1
Marc mendekatinya, menggenggam pelan tangannya sebelum menarik keluar dari toilet. Ia bisa melihat ada guratan marah di wajah pria itu. Tapi ia tidak mengatakan apa-apa dan menbiarkan dirinya dibawa oleh Marc.
Nanti ia akan berterima kasih pada pria itu karena telah menyelamatkannya hari ini. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya kalau Marc tidak datang tepat waktu, kalau Marc tidak datang menolongnya. Mungkin ia akan cedera lagi seperti dulu.